
Merasa bosan dengan suasana perpustakaan, Clara memilih memasuki ruangan seni dan dengan asal memetik senar gitar.
Sampai akhirnya petikan asal itu berubah menjadi alunan indah ditambah dengan suara merdunya.
*Mencintai dalam sepi
Dan rasa sabar mana lagi
Yang harus kupendam dalam
Mengagumi dirimu
Melihatmu genggam tangannya
Nyaman didalam pelukannya
Yang mampu membuatku
Tersadar dan sedikit menepi
Kau yang pernah
Singgah disini
Dan cerita yang dulu
Kau ingatkan kembali
Tak mampu aku
Tuk mengenang lagi
Biarlah kenangan kita
Pupus di hati
Tak ada waktu kembali
Untuk mengulang lagi
Mengenang dirimu diawal dulu
Ku tahu dirimu dulu
Hanya meluangkan waktu
Sekedar melepas kisah sedihmu
Mencintai dalam sepi
Dan rasa sabar mana lagi
Yang harus kupendam dalam
Mengagumi dirimu
__ADS_1
Melihatmu genggam tangannya
Nyaman didalam pelukannya
Yang mampu membuatku
Tersadar dan sedikit menepi
Tak ada waktu kembali
Untuk mengulang lagi
Mengenang dirimu diawal dulu
Ku tahu dirimu dulu
Hanya meluangkan waktu
Sekedar melepas kisah sedihmu
Mencintai dalam sepi
Dan rasa sabar mana lagi
Yang harus kupendam dalam
Mengagumi dirimu.
Melihatmu genggam tangannya
Nyaman didalam pelukannya
Yang mampu membuatku
Mencintamu dalam sepi
Dan rasa sabar mana lagi
Yang harus kupendam dalam
Mengagumi dirimu*.
Di bait terakhir, tak terasa Clara menjatuhkan air matanya.
PROK..PROK..PROK..
"Bagus sayang." Puji seseorang yang tiba-tiba sedang duduk di bangku samping panggung musik.
"Rafi." Panggil Clara seraya turun dari panggung mendekati Rafi.
"Sayang, kamu nangis?" Tanya Rafi dengan raut khawatir dan mengusap air mata di pipi Clara.
"Asya sayang, aku gak ngijinin kamu nangis, kecuali nangis karena bahagia oke." Ucap Rafi seraya mengecup kening Clara.
Asya adalah panggilan kesayangan Rafi untuk Clara, hanya Rafi dan Rudianto ayah Clara yang memanggil nya dengan sebutan asya, diambil dari nama tengahnya Clara AnastASYA.
__ADS_1
'please raf, berhenti bersikap manis sama gue kaya gini. Kalo pada akhirnya lo bikin gue sakit hati' lirih Clara dalam hati dan segera menepis tangan Rafi di pipinya.
"Aku ada kelas, duluan." Ucap Clara meninggalkan Rafi yang kebingungan.
"Sayang kamu kenapa" lirih Rafi pelan.
.
.
.
"Lo aja sono."
"Ih lo aja deh, kan lo paling deket Sii sama Clara."
"Sera aja deh, gue juga takut nanya dia kalo dia lagi ngambek begitu, yang ada dipelintir leher gue."
Sedari tadi mereka hanya saling tuduh untuk bertanya pada Clara yang terus diam sejak pagi tadi.
KRING...KRING...
Clara hendak bangkit dari duduknya untuk segera pulang.
Namun tangannya di cekal oleh seseorang dari belakang.
"Clar, lo mau kemana." Tanya sera setelah melepaskan cekalannya.
"Balik." Jawab Clara singkat.
"Lo lagi ada masalah?" Tanya Sia.
"Iyah, lo kok ga cerita sih kalo lagi ada masalah." Tanya Alika bergabung.
"Gue gapapa, cuman lagi BT aja, gue balik duluan." Ucap Clara lalu pergi tanpa menunggu jawaban dari teman-teman nya.
.
.
.
Sesampainya di parkiran Clara melihat Rafi sedang menyenderkan tubuhnya di motor sport miliknya.
"Clara" panggil Rafi melihat Clara melewati nya begitu saja.
"Clar, clara, asya sayang." Panggilnya frustasi karena Clara sama sekali tak menggubris panggilan nya.
Clara langsung memasuki mobil jemputan nya. Karena tadi Clara sempat meminta mamihnya menjemput kesekolah.
' maafin gue raf, mungkin dengan kaya gini gue bisa mengobati rasa sakit hati gue, sebelum gue tau yang sebenernya terjadi antara lo sama Sera.'
Batin Clara.
Clara berniat menjauhi Rafi dan teman-temannya dulu, karena dia fikir, dia butuh waktu untuk memperjelas semuanya.
__ADS_1