2 Hati 1 Cinta

2 Hati 1 Cinta
24. KHADIJAH DAN MAD TABI'I


__ADS_3

Shalawat merdu yang Ayu lantunkan di iringi dengan tabuhan marawis menjadi hiburan tersendiri bagi Clara.


Clara sudah dinyatakan sembuh dan boleh pulang ke rumahnya.


Isti mengadakan syukuran untuk kesembuhan Clara sekaligus merayakan kembalinya keharmonisan keluarga nya.


Suasana haru menyelimuti hati para tamu, melihat perubahan Clara yang sangat cantik dengan gamis putih yang menjuntai membalut tubuhnya dan hijab lebar putih bersih menutupi kepala hingga menutupi dada dan punggung nya.


Ditambah dengan cadar putih yang yang menutupi sebagian wajah yang menyisakan kedua matanya saja yang terlihat.


'Subhanallah bidadari surga ku, semakin mantap niat saya untuk mengucapkan janji di hadapan papihmu dan tentunya di hadapan Allah.'


Batin Adam dengan senyuman mautnya.


'Asya, kamu sangat cantik maaf kalau aku belum bisa menjadi laki-laki yang bisa membimbing kamu kesyurga Allah.' batin Rafi sendu namun tetap menerbitkan senyumannya.


.


.


.


Acara syukuran selesai, para tamu undangan sudah pulang ke rumahnya masing-masing.


Tinggallah ketiga sahabat Clara, Adam, Ayu, Rafi, kedua orang tua Adam juga kedua orang tua Clara.


Mereka berkumpul di ruang keluarga.


Dewi yang semula duduk di samping Bima tiba-tiba berpindah ketempat duduk di samping Clara.


"Clara sayang."


Panggil Dewi.


Tidak hanya Clara, semua yang duduk di ruang keluarga ikut menoleh kearah Dewi.


"Iya bunda?"


"Emm,, gimana sama keputusan kamu?"


"Hah? Keputusan apa bunda?"


Clara melirik ke arah mamih dan papihnya meminta bantuan untuk menjawab, tapi mereka juga sepertinya tidak tau apa yang dibicarakan Dewi.


"Soal khitbahan Adam, kamu bersediakan menjadi istri Adam."

__ADS_1


DEG.


Sontak semua kaget, Clara melirik ke arah Rafi yang mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan amarah yang kapan saja bisa membludak.


"Maaf bunda, Clara merasa kurang pantas bersanding dengan Kak Adam."


Jawab Clara lirih.


"Loh memangnya kenapa dengan Adam, apa dia bukan tipe kamu? Atau ada sifat buruk Adam yang gak kamu sukain?."


Cerca Dewi cemas, karena Clara adalah menantu impiannya. Sikap Clara yang apa adanya tidak muluk-muluk seperti beberapa gadis yang berusaha mendekati anaknya hanya untuk mengincar harta keluarga Ardiansyah.


" Eng-enggak kok bunda, bukan gitu, tapii..."


Adam yang mengerti akan keraguan Clara.


"Clara." Panggil Adam yang kini mulai angkat bicara.


Clara tidak menjawab, namun Adam tau jika Clara mendengar panggilan nya.


" Clara, mungkin memang saya tidak bisa sesempurna Rasulullah, tidak sesabar Utsman bin Affan, dan tidak seromantis Ali bin Abi Thalib. Saya hanyalah hamba Allah SWT yang ingin memiliki seorang istri Solehah hingga ke Jannatul Khuld  kelak."


Tutur Adam penuh kesungguhan.


Wanita mana yang tak tersentuh hatinya dengan ucapan lembut dari laki-laki Soleh yang selalu sabar membimbing wanita yang awalnya tidak mengerti agama sampai wanita itu mengerti dan faham akan ilmu agama.


"Maaf kak, Clara gaakan bisa jadi Khadijah untuk kakak, lagian insyaallah Clara mau fokus dulu buat kuliah, Clara mau lanjutin kuliah di Korea. Maaf semuanya Clara pamit istirahat duluan."


Tidak menunggu jawaban lawan bicaranya, Clara bangkit pergi ke kamarnya untuk menenangkan fikiranya.


Sesampainya dikamar, Clara melepaskan cadar dan hijabnya.


"Astaghfirullah, ya Allah gimana ini. Clara bingung."


TOK...TOK..TOK...


"Sebentar."


Clara menggunakan kembali hijabnya tanpa cadar, lalu membuka pintu kamar.


"Rafi."


"Asya, boleh aku masuk?" Ijin Rafi mencoba menghargai pemilik kamar sebelum memasuki nya.


"Boleh, ayo masuk, kita ngobrol di balkon aja yah."

__ADS_1


Jawab Clara yang di angguki Rafi.


.


.


.


"Asya." Panggil Rafi setelah mereka terduduk di bangku yang ada di balkon kamar Clara.


"Iya Raf."


"Jadi Adam pernah ngelamar kamu?" Tanya Rafi membuat Clara bingung sendiri.


"Iya Raf, maaf aku gak sempet cerita sama kamu. Karena masalah kita waktu itu." Jelas Clara.


"Iyah gapapa, tapi kenapa kamu gak nerima dia?" Tanya Rafi hati-hati takut menyinggung Clara.


Clara tersenyum mendengar pertanyaan Rafi.


Rafi memang selalu mementingkan kebahagiaan Clara dibandingkan dengan kebahagiaan dirinya sendiri.


"Memangnya kamu terima aku nantinya menikah sama Adam?"


" Clar, semua yang datang pasti akan pergi. Entah pergi dengan sendirinya atau di ambil manusia lain." Jawab Rafi seraya tersenyum walaupun sebenarnya hatinya amat terluka melihat gadis yang ia cintai di lamar pria lain di hadapannya sendiri.


"Emangnya kamu gak cemburu?"


" Kalo cemburu pastinya ada sya, karena menurut dari buku tajwid yang pernah aku baca, rasa sayang aku sama kamu itu seperti mad thabi'i dalam Al Qur'an,."


Clara mengernyitkan keningnya, bingung dengan ucapan Rafi.


"Kok bisa?"


Rafi memperbaiki duduknya sedikit menghadap Clara seraya berkata.


" Karna rasa sayang aku ke kamu itu buanyaaaakk banget."


Clara terkekeh mendengar gombalan pria yang selalu mencintai nya ini.


"Tapi kamu gak boleh cemburu ya kalo yang ngambil aku itu Allah."


Seketika tawa Rafi terhenti, dia merasa ucapan Clara seperti sayatan pisau belati di tubuhnya.


"Clar kamu bicara apa sih, gausah ngomong yang aneh-aneh. Udah mendingan sekarang kamu tidur, istirahat yang cukup biar badan kamu fit lagi, besok kan kamu udah mulai sekolah hem."

__ADS_1


Rafi mencoba tetap tenang berbicara pada Clara walaupun dirinya sedikit kesal dengan ucapan Clara tadi.


"Iyah, kamu kalo pulang hati-hati yah, jangan kebut-kebutan." Ucap Clara seraya berjalan beriringan mengantar Rafi keluar kamarnya.


__ADS_2