
Ayu tengah menjaga Clara yang masih tertidur karena efek dari obat bius yang di berikan dokter saat Clara menangis histeris tadi.
Sementara yang lain sedang melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah, akhirnya karena Ayu sedang tidak shalat jadilah dirinya yang menunggu Clara.
"Aws..
"Clara kamu udah sadar?" Tanya Ayu melihat Clara yang mulai mengerjakan matanya.
"Ayu, yang lain pada kemana?." Tanya Clara melihat ruangan yang tadinya ramai tinggal Ayu seorang.
"Mereka sedang shalat Dzuhur berjamaah."
Jawab Ayu yang di mendapat anggukan dari Clara.
"Ayu.." cicit Clara.
"Ada apa Clar" sahut Ayu.
"Gue mau nitip ini." Ucap Clara seraya menyodorkan paper bag berwarna coklat pada Ayu.
"Apa ini Clar?"
"Itu di dalam nya ada surat, buat lo, Sera, Sia, Alika, Amel, Mamih, Papih, kak Adam, Rafi. Di bagian depan suratnya udah gue kasih nama kok, jadi gue minta tolong lo kasih suratnya kemasing-masing orangnya yah." Pinta Clara.
"Tapi kenapa gak kamu kasih langsung aja Clar?" Tanya Ayu bingung.
"Gue gak punya banyak waktu yu." Lirih Clara.
"Gak boleh mikir yang macem-macem, pokonya kamu harus sembuh dan punya semangat yang tinggi, banyak orang-orang yang sayang sama kamu yang pengen liat kamu sembuh." Ucap Ayu tak henti-hentinya dia memberi semangat pada Clara.
"Makasih yu." Ucap Clara seraya memeluk Ayu posesif seperti dirinya tak akan pernah bertemu lagi dengan Ayu.
__ADS_1
Kedatangan orang tua Clara beserta sahabat dan Rafi juga Adam membuat mereka mengurai pelukkannya.
"Lagi ada apa nih, kok peluk-pelukkan gitu." Goda Isti yang mendapat senyuman dari Clara.
Semua merasa damai melihat wajah indah Clara yang seperti bercahaya dibalut hijab instan berwarna biru langit warna favorit Clara yang menambah kecantikan gadis itu.
"Mih, pih." Panggil Clara.
"Iya sayang." Sahut Isti.
"Boleh gak kalau Clara minta di peluk kalian secara bersamaan." Pinta Clara yang langsung di turuti oleh Bara dan Isti.
Bara memeluk Clara dari kanan dan Isti dari kiri.
Sia merasa momen ini perlu di abadikan, dirinya langsung mengeluarkan ponsel dan memotret adegan harmonis yang diimpikan Clara selama ini.
"Kita foto bareng yu." Ajak Alika yang disetujui semuanya dan mulai mengambil posisi masing-masing.
"Mih, pih." Panggil Clara.
"Iyah sayang?" Sahut Isti seraya mengusap kepala Clara yang tertutupi hijab, sementara Bara masih setia mendekap putri nya itu.
" Makasih, karena kalian udah mau bersatu lagi dan mewujudkan impian Clara, makasih udah jadi orang tua yang selalu sayang sama Clara, Clara minta maaf kalo Clara harus nyerah."
Lirih Clara yang membuat seisi kamar rawat nya mulai berderai air mata.
"Hush sayang, anak mamih kuat yah." Ucap Isti menguatkan dengan memeluk kembali Clara.
"Iyah, katanya Clara mau kuliah di Korea jadi Clara harus sembuh yah." Dukung Bara.
"Tapi mih, pih ini terlalu sakit, Clara gak kuat nahannya. Clara terlalu lemah mih, pih." Rintihnya tepat di telinga Isti dan Bara.
__ADS_1
"Papih dan mamih nuntut kamu untuk kuat sayang." Ucap Bara juga berbisik.
" Tapi sakit pih." Ucap Clara menangis seraya mencengkeram erat tangan Isti dan Bara secara bersamaan meluapkan rasa sakit yang dia rasakan.
Semua orang yang ada diruang an itu mendekati Clara memberikan dukungan untuk Clara.
"Maafin Clara semuanya, kalau Clara harus nyerah, makasih mih pih udah jadi orang tua yang the best buat Clara, bilang sama semuanya jangan tangisin kepergian Clara. Soalnya Clara pasti akan ikutan sedih ngeliatnya, Clara pamit semuanya. Clara udah gak bisa nahan."
" Allahu Akbar, laa illahaillallallah, waa asyhaduanna muhammadarosulullah."
Tiiiiiiiiiit...............................
Suara pendeteksi detak jantung mengeluarkan bunyi mengerikan, dan menampilkan garis lurus dilayarnya.
Semua pandangan menatap ke arah Clara yang masih dalam dekapan Isti dan Bara dengan matanya yang sudah tertutup dan mungkin tidak akan terbuka lagi.
Isti dan Bara merebahkan tubuh Clara secara perlahan, satu persatu orang-orang yang ada diruang an itu mendekat dan memeluk tubuh Clara dan kini terdengar suara tangis semuanya.
Dokter yang mendengar suara tangis itu langsung mengambil alih untuk memeriksa keadaan Clara.
" Clara Anastasya Bara Agung, tanggal kematian 09 Agustus 2020, pukul 14.00 WIB."
Ucap dokter itu membuat amukan Rafi meledak-ledak.
" Dok, coba diperiksa sekali lagi, siapa tau Clara masih hidup dok ." Dokter hanya tertunduk lemah mendengar rintihan Adam.
"Asya sayang bangun sya, aku cemburu kalau kamu di ambil Allah terlebih dahulu, bangun sya." Teriak Rafi frustasi.
Semua tertunduk menangis melihat Clara si gadis cantik berumur 18 tahun sudah terbaring di tutupi kain putih.
Seorang gadis pintar, kuat, selalu ceria, tidak pernah mengeluh walaupun keadaan nya sedang terpuruk.
__ADS_1
Kini sudah pergi untuk selama-lamanya.