
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.55.
Yang lain sudah pulang karena harus bersiap menghadapi latihan ujian besok.
Kini tinggallah Rafi dan Clara di dalam satu ruangan.
"Kak." Panggil Clara pelan menghentikan gerakan tangan Adam yang tengah mengupas buah apel.
"Ada apa?" Tanya Adam tulus.
"Ayu udah balik ke Prancis?"
"Belum, dia lagi di perjalanan menuju kesini, besok dia kembali ke Prancis."
"Ohh,,, "
Hening sejenak....
"Clara.." panggil Adam menatap kedua mata milik Clara lalu secepat mungkin memutuskan pandangannya seraya beristighfar.
"Ih, ka Adam ko tiap liat aku langsung syahadat terus sih, emangnya Clara setan apa." Sewot clara.
"Istighfar, bukan syahadat."
"Ohiyah lupa."
"Clar, bagaimana dengan keputusan kamu mengenai khitbahan saya?"
Tanya Adam dengan ekspresi tak terbaca.
"Em kak, Clara belum menemukan jawaban yang tepat, Clara takut salah mengambil keputusan."
__ADS_1
Jujur Clara.
"Saya tidak apa-apa jika kamu akan kembali dengan Rafi, insyaallah saya ikhlas."
"Tunggu Clara istikharah dulu ya kak." Pinta Clara yang di angguki Adam.
"Makasih kak sudah mengerti dan menghargai keputusan Clara."
"Sama sama cantik." Ucap Adam menggoda tak disangkanya Clara menjawab...
"Iya ganteng, eh pak eh om eh kak maksudnya iyah itu kak maksud nya."
Clara merutuki bibirnya yang kelewat jujur itu.
"Emm kak, boleh Clara bertanya?"
"Silahkan."
"Emm kok kakak bisa milih clara untuk kakak khitbah?!.," Tanya Clara sedikit ragu takut pertanyaan nya malah menyinggung.
Adam tersenyum dengan senyuman mautnya lalu menjawab. " Di dunia ini ada dua hal yang nggak bisa kita tentukan. Yaitu takdir dan cinta, kita gaakkan tau apa yang akan terjadi
Pada diri kita satu detik dari sekarang. Dan kita juga gaakan tau pada siapa akhirnya kita akan jatuh cinta, seperti saya yang tidak tau kenapa pilihan saya jatuh di kamu, tapi saya hanya yakin dan percaya pada Allah kalau semua yang terjadi pada diri kita itu sudah di rancang dengan baik oleh-Nya."
Jawab Adam seperti biasa dengan senyuman mautnya.
"Ayu, abang titip Clara yah, abang mau harus pulangdulu, nanti tante Isti dan om Bara sebentar lagi sampai." Pamit Adam lalu meninggalkan Ayu dan Clara di dalam ruangan.
.
.
__ADS_1
.
"Ayu.."
"Kenapa Clar."
"Emm tipe cowok yang kamu suka yang kaya gimana sih?" Tanya Clara to the point.
"Emm laki-laki yang berani menyatakan cintanya dengan niat mengkhitbah aku di hadapan ayah, bunda dan Abang."
Jawab Ayu seraya tersenyum dibalik cadar biru langitnya.
"Kalo laki-laki nya gak baik gimana yu?"
"Insyaallah Clar, ingat apa kata ku bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hambanya." Jawaban Ayu mendapat anggukan setuju dari Clara.
"Terus, kenapa kamu memutuskan buat pake hijab serba tertutup gini, kamu kan cantik yu, pasti banyak yang suka dan nawarin kamu jadi model, jangan gak pake hijab, pake pakaian hampir tertutup semua aja banyak yang kejar-kejar kamu."
Lagi-lagi Ayu senyum menjawab pertanyaan-pertanyaan Clara.
" Clar, selain menutup aurat, hijab juga merupakan perhiasan dan sebuah kewajiban bagi setiap wanita yang mengaku dirinya sebagai muslimah. karena sejatinya, setiap perempuan adalah perhiasan dunia yang jika tidak dijaga dengan baik, akan rusak dan menjadi fitnah."
"Kamu mau berhijab?" Tanya Ayu pada teman kecil nya itu.
"Aku belum siap yu, sifat ku yang urakan kaya gini gak cocok kalau berhijab." Jawab Clara dengan nada putus asa.
" Akhlak yang tidak baik tidak mengubah pernyataan bahwa menggunakan hijab hukumnya adalah wajib bagi setia muslimah." Jelas Ayu dengan senyuman yang hampir mirip dengan senyuman yang di miliki Adam.
"Aku mau berhijab yu, insyaallah. Bimbing aku yah." Ucap Clara sungguh-sungguh.
"Subhanallah Alhamdulillah, bismillahirrahmanirrahim ya Clar, aku bimbing kamu pelan-pelan." Syukur Ayu seraya dengan tangisan harunya melihat sahabatnya mantap ingin berhijab.
__ADS_1
"Besok aku mau beliin kamu baju gamis sama hijabnya." Janji Ayu penuh semangat.