
KRING ... KRING...
"Yes akhirnya balik juga" ucap Sera meregangkan otot-otot nya.
"Eh gue balik duluan yah soalnya udah janji ke toko alat musik sama Rafi." Pamit Clara yang di angguki yang lainnya.
.
.
.
"Raf." Panggil Clara melihat Rafi menyalakan mesin motor nya.
" Sayang, maaf yah aku ada urusan jadi aku gak bisa anter kamu ke toko alat musik."
Ucap Rafi dengan penuh penyesalan.
"Ohh yaudah gapapa, nanti aku naik taxi aja. Kamu hati-hati di jalan jangan kebut-kebutan oke." Ucap Clara tulus.
Rafi sungguh-sungguh merasa sangat bodoh sebagai laki-laki tidak bisa menjaga hubungan yang sudah ia jalin selama kurang lebih 2 tahun itu.
Tak di sangka oleh Clara, Rafi turun dari motornya dan berhambur ke pelukan Clara seraya berkata.
"Maafin aku sayang, maaf." Katanya dengan nada putus asa.
Sementara Clara bingung dengan apa yang dilakukan Rafi.
"Sayang, kamu kenapa sih, maaf apa? Aku gapapa kok kalo kamu gak bisa nganter aku ke toko alat musik, yang penting kamu hati-hati aja di jalannya oke." Kata Clara menenangkan Rafi walaupun dirinya sendiri sedikit merasa kurang mengerti.
"Yaudah aku berangkat yah, kamu juga hati-hati, love you sayang." Pamit Rafi menaiki motornya kembali setelah mencium singkat kening Clara.
Clara senyum-senyum dibuatnya.
"Makin sayang deh gue." Ucapnya seraya berjalan menuju halte depan gerbang sekolah.
.
.
.
"Aduh nih gaada taxi sama sekali apa, mana batre handphone gue abis lagi." Ucap Clara frustasi melihat jam tangan yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul 14.23 itu artinya dia sudah hampir satu jam menunggu taxi disini.
Kalau saja motornya tidak hilang karena di parkir kan di belakang sekolah, mungkin kini dirinya sudah duduk manis di kamar kesayangannya itu.
TIN..TIN...
Tampak mobil sport merah mendekat ke arah Clara berdiri.
__ADS_1
"Eh mobil siapa tuh, waduh jangan-jangan penculik lagi." Ucap nya menakut-nakuti diri sendiri.
Saat kaca mobilnya terbuka, munculah sosok pria dengan senyuman yang berhasil membuat Clara terpaku.
"Elo?!" Beo Clara menunjuk Adam yang tengah mengernyitkan dahinya.
"Saya Adam bukan elo." Ucap adam dengan muka datarnya.
"Eh maksudnya bapa, ngapain bapa disini." Tanya Clara.
"Nanti dulu nanya nya, kamu naik aja dulu saya antar kamu pulang." Ajak Adam. "Emangnya boleh?" Tanya Clara yang belum sepenuhnya percaya pada Adam.
"Ayo Clara, keburu hujan nanti." Jengah Adam melihat Clara yang tak berkutik sama sekali.
"Iya iya." Dengan malas Clara masuk ke mobil Adam.
.
.
.
"Pa, emang bapa tau rumah gue dimana?" Tanya Clara membuka percakapan.
" Tau." Jawab Adam singkat.
Rafi saja kekasih nya belum tau tepat dimana rumah Clara, karena setiap Rafi mengantar Clara pulang Clara selalu meminta nya berhenti di depan gerbang kompleks.
Merasa pertanyaannya tidak di gubris Adam, Clara mulai berfikir mencari topik pembicaraan baru.
"Oh iyah, nama bapa sebenarnya Adam atau Ardiansyah sih?" Tanya Clara dengan sangat penasaran.
"Nama saya Adam Nasution Ardiansyah." Jawabnya tetap fokus dengan jalanan di hadapan nya.
" Terus gue panggilnya Adam atau Ardiansyah?" Tanya Clara kembali.
"Kepo sekali kamu ini." Jawabnya sedikit kesal karena wanita di sisinya itu terlalu banyak bertanya pikirnya.
"Ish cuman nanya, ya jelas aja gue kepo, abisnya lo ngenalin diri ke yang lain Ardiansyah sementara ke gue Adam, kan bingung gue jadinya."
Jelas Clara dengan tampang cemberut nya.
"Ardiansyah itu nama keluarga saya, jadi orang-orang biasa memanggil saya Ardiansyah, kalo Adam itu nama panggilan buat orang-orang terdekat saya saja." Jelas Adam sedikit keceplosan.
"Hah? Jadi maksud lo-"
"Ayo turun sudah sampai."
belum sempat Clara menjelaskan pertanyaan nya.
__ADS_1
"Hah?" Sungguh Clara kaget dibuatnya.
" Ayo cepet." Ucap Adam seraya bangkit dari kemudinya dan masuk ke pekarangan rumah mewah Clara.
Dengan cepat Clara mengejar Adam.
"Paa , bapa beneran tau rumah gue?" Tanya Clara sesudah berada di samping Adam.
"Memang nya tampang saya ada tampang bercanda?" Tanya Adam dengan nada dingin.
"Engga sih." Jawab Clara sangat pelan namun masih bisa di dengar Adam.
TING..TONG...
Setelah Adam memencet bel yang kedua kalinya, pintu pun terbuka dan keluarlah Isti dengan pakaian kantornya.
"Loh nak Adam, apa kabar?" Sambut Isti antusias langsung di salami Adam dan membuat Clara yang melihat nya bergidik geli.
"Baik tante, tante apa kabar?" Tanya balik Adam.
"Loh mamih kok kenal sama pak Adam?" Tanya Clara.
"Yaiyalah kenal, orang dia ini anaknya tante Dewi temen mamih." Jawab Isti membuat Clara ber 'oh' ria.
"Yaudah masuk dulu yu." Ajak Isti yang mendapat anggukan dari Adam.
.
.
.
"Adam, tante boleh minta tolong ga? "
Tanya Isti merapikan pakaiannya.
"Minta tolong apa ya tante?"
"Tante harus ketemu sama klien, tapi gak lama kok, cuman tanda tangan berkas aja. Nah para pembantu juga udah pada pulang jadi kamu mau ga nemenin Clara disini sampe tante pulang?" Kata Isti penuh harap.
"Ihh mamih apa-apa an sih, biasanya juga aku sendirian di rumah, lagian si pak guru ini pasti lagi sibuk iya kan pa?" Buru-buru Clara menengahi dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Adam meminta bantuan agar sedikit bekerja sama.
"Oh engga kok, saya gak sibuk tante berangkat aja, Adam nanti nungguin Clara sampai tante pulang."
Putus Adam membuat Isti senang namun tentu tidak dengan Clara.
"Yasudah tante pergi dulu yah, Clara mamih berangkat dulu yah dah.. assalamualaikum." Pamit Isti.
"Walaikumsalam" jawab Adam dan Clara serempak.
__ADS_1