
Clara pergi meninggalkan rumahnya, Clara memilih menggunakan mobil sport milik mamihnya.
.
.
.
Siapapun yang melihat keadaannya, pasti akan berfikir bahwa Clara adalah orang sakit jiwa.
Dengan penampilan masih menggunakan seragam yang kusut dan sangat kotor, wajah memerah dan sembab, rambut yang acak-acakan juga dengan mulutnya yang meracau tidak jelas.
" Papih, Adam, Rafi semuanya jahat."
Racau Clara dengan mengeratkan cengkraman di setir mobil.
Clara menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Segera dia berlari ke arah wanita paruh baya yang kesusahan berjalan di tengah jalan, Clara berlari untuk menyelamatkan wanita itu.
Namun naas, keberuntungan bukan dipihaknya. Ketika tangannya menarik tangan wanita itu, Clara malah kehilangan keseimbangan sehingga melempar wanita yang dia tolong ke pinggir jalan, dan melemparkan tubuhnya ke bagian depan truk besar yang seharusnya menabrak tubuh wanita paruh baya itu.
BRUK.
"Aaaaaaa...."
Teriak histeris wanita paruh baya itu.
"Nak bangun nak."
__ADS_1
Darah yang keluar dari mulut dan kepala bagian belakangnya membuat perhatian para warga yang melihatnya iba dan dengan senang hati menawarkan mobil mereka untuk mengantar Clara ke rumah sakit.
.
.
.
Sesampainya di rumah sakit, Clara langsung di tangani di ruang operasi karena terlalu kehilangan banyak darah.
Pihak rumah sakit mencoba menelfon nomor terakhir yang Clara hubungi di handphone nya.
Nomor telepon yang pertama dihubungi adalah nomor Rafi, namun tidak aktif lalu selanjutnya adalah nomor milik Adam.
Secepat mungkin, Adam kerumah sakit setelah memberi kabar pada Isti.
Seharusnya dia senang melihat Clara kecelakaan karena itu mungkin dendam nya pada keluarga Clara akan terbalas kan.
"Bu Renata."
Panggil seorang suster pada Renata.
Ya, wanita paruh baya yang di tolong Clara adalah Renata ibu dari Amel.
"Iyah sus?"
" Ibu Renata istri dari pak Boy Geoffrey korban bunuh diri itu ya?" Tanya suster memastikan.
__ADS_1
"Bu-bunuh diri dok? Bukannya suami saya itu di tabrak yah?"
Suster itu tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
"Tidak bu, pak Boy bunuh diri dengan menabrakkan dirinya ke mobil yang di setir wanita paruh baya, suami ibu sendiri yang menceritakan kronologi kejadian nya, dan beliau juga menitipkan sebuah surat untuk ibu, dua bulan yang lalu saat saya mau memberikan titipan pak Boy saya mendadak di pindah tugaskan keluar kota, jadi maaf kalau saya baru bisa memberikan nya sekarang." Terang suster itu seraya memberikan amplop berwarna cokelat lalu melenggang pergi meninggalkan Renata.
Dibuka amplop itu, lalu Renata menarik sebuah surat didalamnya.
*Untuk istriku Renata.
Maaf aku harus menyerah, aku terlalu lemah menerima kenyataan.
Memang aku mencintaimu apa adanya.
Tapi aku tidak cukup kuat saat aku mengetahui bahwa Amel bukanlah Putri kandung ku, melainkan putri dari pria malam yang kamu temui di club.
Tadinya aku akan menerima itu, jika kamu melakukannya sebelum menikah denganku, tapi pria mana yang tidak sakit hati melihat dan mengurus istrinya yang tengah mengandung anak dari pria lain.
Aku terlalu mencintaimu sehingga rasa sakit hati ku tak bisa ku luapkan padamu.
Aku terlalu lemah jika harus menerima kenyataan itu dari penuturan mu sendiri.
Maaf aku mengakhiri semuanya dengan cara keji seperti ini.
Jangan salahkan siapa pun untuk kematian ku, aku yang menginginkan kematian ini.
Aku mencintaimu, Sekarang dan selamanya.
__ADS_1
**Dari Boy Geoffrey***.