
"Heh pak, ko bapa mau sih disuruh mamih nemenin gue." Tanya Clara setelah meletakkan nampan yang berisi minuman dan makanan ringan.
"Ga kenapa-kenapa, saya hanya ingin membantu tante Isti." Jawabnya singkat seraya meminum minuman yang tadi diberikan oleh Clara.
"Yaudah deh, gue mandi dulu, kalo bapa butuh apa-apa lakuin sendiri aja yah, kan udah gede oke." Pamit Clara melenggang dari tempatnya menuju singgasana nya.
Melihat tingkah Clara, Adam hanya menghela nafas seraya beristighfar.
.
.
.
"Yaamplop gue lupa, gue belum beli gitar buat latihan lomba."
Ingatnya dengan tepukan dijidatnya.
Secepat kilat Clara berlari masuk ke kamar mandi dan menjalankan ritual mandi ularnya alias mandi cepatnya.
Setelah siap dengan pakaian santainya, Clara turun dari kamarnya untuk segera pergi ke toko alat musik.
"Clara, kamu mau kemana?" Tanya Adam melihat Clara memutar-mutar kunci motor dengan pakaiannya yang sudah sedikit rapih.
"Gue mau ke toko alat musik." Sahut Clara.
"Biar saya antar." Tawar Adam.
"Whatever sih, ayo aja." Setuju Clara.
Akhirnya mereka pergi menggunakan mobil Adam.
Saat mereka berhenti di lampu merah, tatapan Clara berhenti pada motor sport hitam yang setahunya adalah motor milik Rafi.
Tapi yang mengganjal disini adalah, Rafi membonceng wanita yang memakai jaket Rafi dan memeluk Rafi posesif.
__ADS_1
"Ah engga-engga kayanya gue salah liat." Ucapnya seraya menggeleng kan kepala kekanan dan kekiri.
"Kamu kenapa?" Tanya Adam kebingungan melihat Clara yang tiba-tiba berbicara sendiri.
"Engga papa, udah ijo tuh lampunya, lanjut jalan aja."
.
.
.
DI TOKO ALAT MUSIK...
"Pak saya beli gitar yang ini aja yah." Ucap Clara sambil menyerahkan kartu ATM nya.
"Udah?" Tanya Adam setelah melihat Clara masuk ke mobil nya.
Clara memang menyuruh Adam menunggu di mobil.
"Udah." Jawab Clara singkat.
Clara menimang-nimang pertanyaan Adam, 'kalau di fikir-fikir gaada salahnya kan ngopi sebentar, lagian dirumah juga bakalan bosen'.
Batin Clara.
"Yaudah deh ayo." Kata Clara menyetujui ajakan Adam.
Setelah mobil Adam terparkir di halaman cafe itu, Clara dan Adam memilih duduk di pojokan dekat jendela.
ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR....
"Alhamdulillah, sudah ashar." Ucap Adam seraya membaca doa sesudah adzan.
"Clara, kita pulang sekarang yah, saya mau sholat di rumah kamu." Ajak Adam.
__ADS_1
"Yaudah yuk."
"Eh tunggu-tunggu." Cegah Clara refleks menahan lengan Adam dan langsung ditepis Adam.
"Astaghfirullah Clara." Ucap Adam seraya terus membaca istighfar.
"Iya-iya sory, lagian gue bukan setan kali gak perlu lo syahadat in," kata Clara cuek bebek.
"Istighfar bukan syahadat." Tegur Adam mengingatkan.
"Iya itulah maksudnya."
"Kenapa nyuruh berhenti." Tanya Adam.
Clara tak menjawab Adam, tatapannya fokus ke arah meja yang di duduki Rafi dan..
"Sera.." lirih Clara dengan mata yang mulai memanas.
Bagaimana mana tidak, dihadapan nya dia melihat kekasihnya menggenggam tangan sahabat nya Sera.
'jadi ini yang lo sebut ada urusan dan biarin gue pulang sendirian raf.'
Batin Clara dengan air mata yang mulai bercucuran.
"Clara, kamu gak papa?" Tanya Adam.
Bukannya menjawab, Clara justru berlari kencang menuju mobil Adam.
'lo tega Ser sama gue, lo tega raf, lo udah hancurin kepercayaan gue.'
Lirihnya dalam hati dengan mata yang mulai sembab.
Melihat Clara seperti itu, Adam sungguh merasa kasihan. Wanita yang ia kagumi menangis karena laki-laki lain.
"Clar jangan menangis terus, gak baik buat kesehatan kamu."
__ADS_1
Nasihat Adam, namun tetap tak ada tanggapan dari Clara.
Adam mulai mendapatkan cara agar menghilangkan kesedihan Clara, cara yang biasanya Adam lakukan saat dirinya sedang merasa sedih, senang ataupun kecewa.