
KLEK..
Suara pintu terbuka dari ruangan tempat Clara di rawat membuat Isti, Bara dan Ayu berdiri serempak.
"Bagaimana dok keadaan Clara?" Tanya Isti tak sabar.
"Pak, bu saya belum bisa memastikan penyakit apa yang di idap Nn. Clara, saya harus menunggu Nn. Clara sadar lalu melaksanakan cek laboratorium langsung, supaya hasilnya lebih akurat." Jelas sang dokter yang menangani Clara.
"Apa Clara sudah boleh di jenguk dok?" Tanya Bara.
"Boleh, silahkan kalian jenguk, apabila Nn. Clara sudah sadar segera panggil saya, supaya tes laboratorium nya segera di laksanakan." Ucap sang dokter yang mendapat anggukan Isti, Bara dan Ayu.
.
.
.
Waktu menunjukkan pukul setengah enam pagi, tapi sejak dari mobil di perjalanan menuju ke rumah sakit Clara masih pingsan dan belum sadarkan diri sampai sekarang.
Mendapat kabar dari Ayu kalau Clara masuk rumah sakit lagi, ketiga sahabat Clara di tambah Amel langsung menyusul kerumah sakit.
Disusul Rafi dan Adam beserta kedua orang tua nya yang datang bersamaan kerumah sakit.
Lagi-lagi mereka dibuat pilu melihat keadaan Clara yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan selang infus yang melilit di tangan kanannya, juga beberapa alat bantu medis yang terpasang di tubuh Clara.
"Ngghh.." Rintih Clara membuat pusat perhatian padanya.
"Alhamdulillah sayang akhirnya kamu sadar juga nak." Ucap Isti syukur.
__ADS_1
"Mih, ngh kaki aku mih, pih, kaki aku kenapa gak bisa digerakkin, aku gak bisa ngerasain apa-apa." Semua panik mendengar ucapan Clara.
"Sayang tenang nak, mungkin kaki kamu cuman kebas aja karena kelamaan terbaring." Ucap Isti menenangkan Clara padahal dirinya sendiri juga panik.
Bara segera keluar memanggil dokter.
Saat dokter masuk, Clara langsung dibawa ke ruang laboratorium untuk mencari tahu penyakit apa yang di idap Clara.
.
.
.
Clara tengah termenung sendiri di ruangannya, sementara teman-temannya dan juga Adam sudah pergi ke sekolah dan akan kembali setelah jam pulang sekolah usai.
Saat seorang suster masuk keruangan nya untuk mengantarkan makanan,
"Sus, boleh minjem buku sama bolpoin gak?" Tanya Clara yang tiba-tiba ingin menulis sesuatu.
Suster pun memberikan apa yang Clara inginkan lalu meninggalkan Clara kembali sendiri.
Setelah menuliskan beberapa surat, Clara menyimpan nya di laci nakas yang ada di samping tempat tidurnya.
.
.
.
__ADS_1
Ruang rawat Clara kembali dipenuhi orang-orang yang menyayangi nya.
Sesekali mereka tertawa menghibur Clara yang tampak hancur karena kakinya masih belum bisa di gerakkan.
Hingga tibalah sang dokter dengan secarik kertas di tangannya.
"Begini pak, bu semuanya. Saya sudah memegang hasil laboratorium Nn. Clara, dan hasilnya adalah..
Dokter menjeda ucapannya seraya menarik nafas dan menghembuskan nya secara perlahan.
"Hasil laboratorium menyatakan bahwa Nn. Clara mengidap penyakit tumor otak stadium 3, dan itu menyebabkan beberapa organ tubuh nya tak berfungsi alias lumpuh." Jelas sang dokter membuat Clara terisak-isak.
"Gak, dokter mungkin salah dok, selama ini kan Clara sehat-sehat saja."
Sergah Isti mencoba tak percaya.
"Tumor otak primer terjadi akibat perubahan genetik pada sel di jaringan otak, yang menyebabkan sel tersebut tumbuh tanpa terkendali. Itu sebabnya tumor di otak Nn. Clara baru terdeteksi sekarang dan langsung masuk stadium tiga."
Jelas sang dokter.
' astagfirullah ya Allah kuatkan hamba ya Allah ' lirih clara dalam hati.
Isti memeluk anak semata wayangnya memberi support untuk Clara.
Sera, Sia, Alika, Ayu dan Amel menahan tangisnya mencoba kuat di hadapan Clara.
Rafi dan Adam merasa hancur hatinya melihat gadis pujaan mereka mendapat kenyataan pahit seperti ini.
Jika saja bisa di tukar, Rafi maupun Adam dengan senang hati memberikan posisinya mengganti kan Clara agar gadis pujaan mereka tidak perlu berjuang melawan penyakit ganas itu sendirian.
__ADS_1