
Sampai di backem sederhana ini aku langsung tertidur lemas menahan rasa mual yang terus menyiksaku, mukaku semakin pucat . Aku tak jadi ke hotel karena jarang Backem ini lebih dekat dari hotel.
Aku tak bisa lebih lama menyetir dalam keadaan begini. Tapi baguslah, beskem ini sepi juga jadi aku bisa istirahat.
" Tok...... Tok.. ... "
" Masuk " dengan suara lemah.
Pintu dibuka dan terlihat 3 brandal itu
" Ini Kopi hangat, kami tadi meminum itu membuat mendingan " Kris meletakan kopi hangat di meja.
Aku dengan lemas meraih kopi itu perlahan aku seduh.
" Kau pasti tidak biasa minum banyak " Tinton duduk dan meletakkan Kakinya di atas meja dengan santai.
" Bagaimana sudah mendingan kan mualmu " Adipati juga ikut duduk dihadapan Tinton dan diikuti Kris duduk di samping Adipati.
" Gimana lo udah ngurus Redo brengsek itu "
" Belum,,, apa di masih buat masalah sama lo "
" Sejak kapan nak tengik itu buat masalah sama lo " tanya Tinton yang memang awalnya tak tau apa-apa.
" Gue gak suka lihat dia terlihat sangat berkuasa, itu ajah " sesaat Adipati dan Kris memandangku dan saling melirik satu sama lain, dia mulai paham dengan situasiku.
" Oh... Iya aku setujuh denganmu. Dia terlihat sangat berkuasa tak karuan " menjawabku lalu mulai memejamkan matanya yang masih posisi tidur kakinya dinaikkan meja.
" Gue kembali ke kamar, kepala gue masih sakit " berpamitan dengan Adipati dan Kris dan beranjak menujuh kamar.
" Oke " jawab Adipati sedangkan Kris hanya mengangguk.
-
-
Aku menatap pemandangan taman didepan lewat jendela kamarku.
" Tok... Tok... "
" Masuk.. "
Masuklah Kris berjalan mendekat kearahku.
" Sedang apa kau berdiri disitu? "
" Memandangi taman gersang itu "
" Jangan berbohong,,, pasti ada yang kau pikirkan "
" Kau sangat mengenalku Kris "
Kris tersenyum tipis sedangkan pandangannya masih memandang taman gersang didepan.
" Jelas aku tau, aku terus coba memahamimu setidaknya aku harus coba sebisa mungkin membantumu untuk membalas hutang nyawaku "
Aku melingkarkan satu tanganku ke lehernya dengan kasar.
" Ayolah... Kitakan kawan. Dalam pertemanan saling membantu itu bukan hutang " tersenyum lebar menatap Kris dan Kris membalas tatapanku disusul dengan senyum tipis khas Kris.
" Adriell... Riell " semua orang tau yang paling berani dan bertindak teriak-teriak disini yang pasti ratunya Adriell siapa lagi kalau bukan Chasye.
__ADS_1
" Datang tuh ratu lo " menaikan satu alisnya dan tersenyum kecil dengan tatapan mengejek.
" Jangan kau tatap aku dengan tatapan menjijikan itu Kris " aku mengacak-acak rambutku dan berjalan keluar.
" Ada apa? " seruku yang sudah ada dihadapannya.
" Kenapa kau tak ke kampus " mukanya kesal namun ku akui dia sangat imut.
" Aku mabuk, habis minum kemaren malam " aku duduk di sofa lalu mengambil sebatang rokok berniat menyalakannya lalu menghisapnya.
" Ini makan untukmu, kurangilah minum dan rokokmu itu " aku merasa heran kalau ratu yang sangat cuek ini bisa jadi begitu perhatian.
" Kenapa kau sangat peduli padaku? " menatapnya dengan dalam.
" Heyyy... Aku tak mau kau cepat mati, nanti aku tak dapat meminjam uang lagi darimu " aku mendengar itu tersenyum lalu menghisap lagi rokokku.
" Kau mau minum apa ? Aku ambilkan" dia duduk jauh dariku.
" Memangnya ada apa, ditempat kecilmu ini " inilah yang aku suka dari cewek ini kata-katanya pedas namun jujur.
" Bir, soda dan jus " pergi ke arah kulkas yang tak jauh dari tempat ruang tamu.
" Soda " duduk sambil memainkan hpnya.
Aku meletakan air minum soda berbentuk kaleng ke meja dihadapannya.
" Tumben kau kesini " duduk kembali ke tempat dudukku semula.
" Kenapa ? Tak boleh? " lagi ekspresi kesal namun sangat imut.
" Boleh, tapi kau tak biasa sering mengunjungiku "
" Jadi apa maumu Chasye sayang " aku paling tak bisa melihat mukanya itu semakin gunda.
" Temani aku nanti malam makan malam dengan temanku dan mengenali kau dengan mereka " dia kembali menatapku dengan sedikit semangat.
" Baiklah, nanti aku jemput "
" Dan ini, aku bayar setengahnya " meletakkan uang ke meja.
" Kenapa begitu cepat kau membayarnya "
" Kalau tak aku bayar, mana bisa aku meminjam padamu lebih banyak lagi " menggendong tasnya kalu meminun minumannya lalu berdiri.
" Cup " Dia mencium pipiku dengan mencondongkan tubuhnya kearahku yang masih duduk, aku kaget namun seperti ini sangat manis.
" Aku pergi.... Dahh... " dia pergi keluar, dia memang cewek manja, cantik dan seksi.
" Aku juga gak tau. Ohhh iya mana Adipati dan Tinton "
" Adipati sedang mengurus Redo kalau Tinton ada urusan "
" Oh baiklah, kalau lo..... " menatap Kris
" Aku kan bos, terserah aku "
"Baiklah bos, aku mandi dulu mau ke kampus lagi "
" Mau bertemu cewek itu "
" Iya " berlalu pergi kekamar mandi.
__ADS_1
" Siapa sih yang ada di hati lo tu Riell, ratu lo atau selir lo "
Beberapa saat setelah mandi dan siap-siap.
" Lo mau keluar gak ? " berdiri sudah siap mau pergi.
" Aku mau disini dulu " Melempar kunci.
" Ingat kau menguncinya walaupun tak ada barang berharga tetap saja aku tak mau dimasuki dengan orang aneh kecuali yang ku ijinkan " pergi keluar.
.
.
.
Pas banget aku melihat gadis itu sedang menunggu taksi.
" Ayo masuk " dia melihatku
" Gak usahlah "
" Hey ayolah, jam segini bus sudah tak ada tasksi juga sepi " dia melihat jam dan menatapku lagi.
" Kau benar ini sudah larut sore " dia berjalan menujuh mobilku dan duduk disampingku.
Diperjalananku perutku berbunyi astaga sumpah malu tapi memang karena rasa mual itu aku tak makan apapun kecuali minum kopi tadi.
" Aku lapar " aku menggerutut bibirku menatapnya.
" Lalu mau ku apakan " menatapku balik.
" Temani aku makan, aku selalu makan sendiri aku sangat bosan " dengan tatapan sedih.
" Baiklah, ayo kita makan " aku langsung putar balik arah tujuan dan pergi ke restoran.
" Ini restoran mewah " dimenatapku dan memegang baju bagian tanganku.
" Ini enak, aku sudah biasa kesini " aku menarik tangannya hingga kami pergi bersama.
Dia melihat sekitar dengan sedikit bengong aku siapkan kursi lalu aku tuntun dia duduk.
" Aku rasa untuk makan disini aku harus menjual satu ginjalku "
" Janganlah kau membayangkan hal seperti itu. Pelayan " Datanglah pelayang kami diberi menu makanan dan tertera harganya.
" Aku pilih ini.. ini... inj..., kalau kau makan apa Jola " aku melihatnya lalu melihat pelayan.
" Aku hanya air putih" aku tersenyum melihat tingkahnya karena aku tau ini pasti karena harganya.
" Yang aku pesan tadi masing-masing 2 porsi "
" Baik tuan " pelayan itu pergi meninggalkan kami.
" Enakkan tempat ini, aku sangat suka tempat ini " menatapnya dia langsung menatap sekitarnya.
" Iya seperti nuansa mewah namun cukup sederhana dan juga sepi hingga kita bisa nyaman menikmati hidangan " lalu menatapku lagi.
" Kau cukup pintar menilai, kalau kau menilaiku bagaimana? " tatapanku sangat pekat padanya karena aku juga sangat penasaran penilaiannya padaku.
__ADS_1