
Adriell
Aku sudah mengantar Jola walaupun dia bersikeras mau menemani menunggu Kris yang tidak kunjung bangun.
Kini tepat pukul 3 malam kami bertiga masih setia menunggu di ruangannya yang kini sudah pindah ruangan VIP.
Aku yang melihat pergerakan tangan dan melihat dia mulai sadar aku sangat senang.
" Kris... Akhirnya loe bangun juga " mendengarku Adipati dan Tinton langsung mendekat.
" Gue baik-baik ajah, gak secepat itu gue mati " mukanya masih pucat.
" Gue akan panggil dokter " sahut Adipati keluar dari ruangan.
"Loe seharusnya ngomong kalau ada masalah " Tinton sudah ada di samping Kris yang bersebrangan olehku.
" Gue juga gak tau, nanti gue ceritai gue pengen istirahat dulu tenaga gue udah habis " kami langsung diam ternyata kami mempersulit Kris karena Kris baru sadar keadaannya belum pulih.
Kami bertiga nginep di rumah sakit untuk menemani Kris.
Pagi itu....
" Gimana keadaan lo " aku melihat alat oksigen dan alat medis yang lain sudah di copot kecuali infus.
" Udahlah, gue Kris ini mah gampang bagi gue " tersenyum kecil.
" Anjing lo, hampir mati gitu lo omong gampang. Kalau gak lagi sakit ajah udah gue kasih tendangan kayang di mukanya yang nyebeli itu " aku membatin menahan emosi karena dia sempat-sempatnya tertawa.
" Siapa pelaku yang membuat kau begini? " sahut Adriell yang mulai serius
" Pistolku Riel... " terbesit raut wajahnya yang khawatir.
" Kau lebih khwatir dengan pistolmu dari pada nyawamu? " membatin lalu memutar bola mata malas.
" Sudah aku bereskan semua, polisi tidak mencium masalah ini " seruku akhirnya setelah terdiam sebentar.
" Sepertinya suruhan saudara tiriku, mereka tidak mau aku hidup. Mereka sangat berniat menungguku didepan latian itu, aku pikir itu orang yang mau berlatihan malam-malam ternyata tidak mereka malah memukulku saat ada kesempatan aku langsung lari kedalam pas di ambang pintu bahuku tertembak " jelas Kris panjang kali lebar.
" Bagaimana kau bisa lolos " pernyataanya masih belum tuntas
" Bahuku yang tertembak bukan kakiku jadi aku masih dengan cepat lari masuk ke ruangan itu, selagi terpencil juga disitu ada alat medis yang akan membantu, aku menguncikan diri dari dalam disaat itu aku tidak bersuara. Mereka mencariku di mana-mana sampai ada suara mobil polisi partoli dan kurasa mereka pergi. Disaat itulah aku mengambil peluruh di bahuku dengan pisau lipat aku sudah menyiram dengan alkhol untuk tetap steril "
" Apa tidak sakit? " seru Adipati menatap ngeri sama denganku seakan tidak percaya.
" Itu amat peri dan sakit makanya aku menelpon Adriell sekali itu saat aku belum mengeluarkan peluruh namun tak kunjung kau angkat akhirnya aku melakukannya karena hal itu darah yang keluar banyak dan sakitnya benar-benar menguras tenagaku. Aku tidak punya tenaga barang hanya mengangkat panggilanmu aku harus mengontrol kesadaranku dan menekan luka tembakku ini "
" Sepertinya kau sudah berpengalaman " seruku dengan hati-hati.
" Iya aku dirawat oleh ayah angkatku untuk jadi pembunuh dan pembantaian itu bukan pengalaman pertamaku terkena tembakan"
" Sudahlah, kalian jangan mengajak dia berbicara terus. Ingat dia pasien kalau dokter melihat kalian akan kena peringatan " seru Tinton duduk di sofa.
Adriell dan Adipati mengindahkan kata-kata Tinton menjauhi Kris duduk disamping Tinton.
__ADS_1
" Tok... tok... "
Pintu ruangan rawat ini di ketuk serentak mereka berempat menoleh ke arah pintu.
" Masuk "ujarku
Terlihat Jola dan temannya yang waktu itu aku bertemu tapi aku lupa siapa namanya.
" Maaf aku mengganggu, aku hanya mau menjenguk Kris "
Kris menatap seakan tidak percaya pasalnya dia tidak kenal ataupun dekat dengan perempuan itu tapi kenapa dia mendapat kunjungan.
" Aku baik-baik saja " seru Kris saat melihat muka dua gadis disamping ranjangku.
" Kris kau pasti belum dengan Jola. Perkenalkan ini Jola yang menyelamatkanmu " menunjuk dengan kelima jari seakan sedang memepersilakan.
Kris sepertinya kaget dengan kata menyelamatkan.
" Dia mendonorkan darah untukmu, lalu yang ini ..... Siapa namamu? " sesaat Adipati, Tinton serta Kris memandang dengan heran.
" Sakura... Riell " jawab gadis berparas cantik itu
" Sakura teman Jola. Dan Jola, Sakura ini Kris dan itu Tinton dan Adipati "
Menatap mereka secara bergantian
" Hallo Jola... Sakura " sahut Tinton dan Adipati secara bergantian
.
.
" Tring.... " sondtreak lagu notifikasi yang memberitahu ada sebuah panggil yang terterah dengan nama Mom ❤ serta foto cantiknya.
" Mama " Adriell langsung keluar dari ruangan itu mencari tempat yang sepi.
" Iya Hallo mam "
".... "
" Iya Angel cantik "
"...."
" Aku belum tau cocok apa tidak padanya, kami baru sekali bertemu, beri kami waktu saling mengenal baru aku bisa mengatakan kalau aku cocok atau tidak padanya "
"...."
" Ayolah mam, urusan hati itu sulit di jelaskan "
" ...."
" Iya udah mam, aku tutup "
__ADS_1
" Kenapa sih mama mendesakku seakan terburu-buru sekali umurku masih mudah masa aku menikah muda " seruku membatin sambil memeras rambutku dengan acak.
" Emmmhh... Kau tidak ke kampus? " seru seseorang yang sudah ada dihadapanku.
" Jola... Tidak, aku akan bolos sampai Kris baik-baik saja dan diperbolehkan pulang "
" Jangan begitu Riell, bagaimana kita gantian jaga Kris, kebetulan hari ini aku tidak ada kelas nanti siang jam 2 baru ada "
" Astaga selain alasan yang tadi alasanku juga karena aku malas masuk kampus tapi kalau aku ngomong ke gitu jelek deh reputasiku " membatin dengan pikiranku sendiri
" Rielll... Adriell.. "
" Ahhh... Iya "aku sedikit terkejut karena terlalu asik dengan pemikiranku.
" Gak usahlah, aku gak mau lebih ngerepoti kamu, apalagi kamu yang bantui aku donori darah "
" Baiklah kalau gitu "
" Ayo masuk lagi "
Saat aku dan Jola masuk di sofa sudah duduk mereka bertiga. Adipati dan Tinton sedang makan.
" Riell, makan yok " Adipati menawarkanku yang masih tersisa satu bungkus nasi padang.
" Jola, Sakura gak makan? "
" Kami udah makan, kamu makan ajah dulu " jawab mereka secara bergantian
" Riell.... Kalian jahat banget akukan pengen makan makanan gitu gak makanan rumah sakit yang gak ada rasanya " seru Kris dengan nada manjanya dia kepingin makan seperti Adipati dan Tinton.
Tapi karena dia habis operasi tidak diperbolehkan makan makanan dari luar rumah sakit.
" Makanya jangan sakit " seruku cuek di balas tatapan tidak suka dari Kris dan langsung tidur menutup semua tubuhnya
" Haaaahhahaha... " Ketawa kami melihat tingkah Kris yang baru pertama mereka lihat.
" Agar kau cepat sebuh Kris, aku akan belikan yang banyak kalau kau sudah sembuh " sahutku menenangkan
" Kau bodoh atau bagaimana ? Kalau aku sembuh aku tidak butuh kau teraktir aku punya banyak uang apalagi hanya membeli itu, yang aku butuhkan sekarang " masih mendekap dalam selimutnya.
" Biarkan saja, dia sekarang lagi sensitif nanti juga dia kembali jadi cowok pendiam " sahut Tinton di pandang heran oleh para gadis itu.
.
.
"Mau aku antar? " menawarkan diri ke Jola dan Sakura ikut keluar.
" Tidak uasah, lebih baik kau istirahat gunakan waktumu sebaik-baiknya jangan sampai nanti kau sakit bukannya menjaga tapi di jaga " senyum manis mengarah padaku.
" Benar kata Jola, kami akan pergi sekarang permisi "
" Iya... Makasih kami permisi " mereka perlahan semakin menjauh dan tak terlihat
__ADS_1