
Adriell
Aku melihat sosok laki - laki bermuka khas asia itu tersungkur baloknya masihlah ada di tangannya.
Lalu aku melihat siapa gerangan orang yang menerjang laki - laki itu dan pupil mataku bertemu dengan sosok itu yang sedang tersenyum ke arahku.
Aku bukan terpesona dengan senyumannya yang buat aku terpesona orang yang melakukan itu adalah gadis lugu yang bernama Jola.
Aku terperangak antara heran dan takjub.
" Kau masih saja Redo kerjaanmu membuat masalah " serunya ke arah laki - laki yang bernama Redo itu
" Aku tidak akan membuat masalah kalau bukan Si banjingan Adriell ini yang membuat aku naik pitam " berusaha berdiri sedikit sulit pasalnya salah satu kakinya sedang sakit.
" Lebih baik kau menyingkir " Redo menatap Jola dengan sangat tajam seakan siap menyayat lawan bicaranya.
" Apa kau mabuk Redo. Kau sangat ngelindur " Jola ini memang sudah berubah 180 derajat bukannya takut tapi terlihat binar menantang dari pupil matanya yang coklat tua itu.
" Terpaksa aku harus singkirkan kau dulu " Dia melayangkan tangannya ke arah Jola aku langsung menangkup dengan tanganku lalu aku puntar ke belakang.
" Aaahhhhttt... " Dia hanya menggerang mencoba meraiku di belakang dengan sebelah tangannya yang masih bebas.
Aku tendang kakinya yang sakit itu hingga geramannya semakin menggema.
" Aaaggghhhh... Aaaggghhhh... Lepasi pengecut " dia mengguman hal - hal yang bersifat memprovokasih
Aku dekatkan wajahku ke arah telingannya.
" Lo belum cacat boy, masih tidak bersyukur apa perlu gue beri hadia kedua kaki lo gue pastikan gak akan bisa di gunakan lagi " berbisik sambil tersenyum agar Jola tidak curiga.
" Jangan... Jangan.... " Dia sedikit gentar raut wajah serta suara sudah berubah menjadi takut
" Lebih baik lo pergi, gue sangat cepat berubah pikiran " melepas cengkraman tanganku dari tangannya.
Dia memegang tangannya yang terlihat merah lebam akibat aku cengkram dengan sangat kuat.
" Hitungan sampai 3 . 1 ... 2... ." aku lihat dia buruh - buruh kabur dari hadapanku dengan susah payah menyeret kakinya yang sedang cidera itu.
Jola hanya melongok, aku heran apa yang dipikirkan gadis ini.
" Jola... Apa yang sedang kau pikirkan " menyentuh pundaknya agar dia tersadar dengan lamunan panjangnya itu
" Aku heran... Dia kuterjang dengan sangat susah payah masih saja melawan sedangkan kau hanya memutar tangannya ke belakang dia sudah menyerah dan pergi terbirit - birit seperti itu " masih dengab tatapan heran atau tabjuk, itu terlihat sangat menggemaskan.
" Sudahlah. Aku harus bekerja lagi " ujarku yang mulai duduk lagi di taman itu tempat semula.
" Bekerja apa duduk seperti itu " posisinya masih berdiri hingga ku harus menengada untuk melihatnya yang ada di hadapanku.
" Mencari sesuatu di situ internet, siapa tau ada " kataku menatapnya lalu menatap hpku lagi.
" Apa yang kau cari? " kini dia duduk di sampingku dan sedikit mengintip arah ponselku ku lihat rasa ingin tahunya sangat besar.
Tapi nanti dulu sejak kapan kami semakin dekat seperti ini dan sekarang dia tanpa malu mendekatkan diri padaku.
" Assss... Kalau tidak aku sedang sibuk aku akan bermain dengannya tapi sayang kali ini yang terpenting adalah Kris " Membantin lalu menghela nafas lembut.
__ADS_1
" Aku mencari cara untuk mendapantakan Transferan dari mana saja? " Aku masih sibuk memainkan ponselku
" Untuk apa? " dia masih setia memperhatikanku
" Temanku kecelakaan dia membutuhkan darah secepatnya "
" Apa golongan darahnya? " sahutnya yang memang belum berhenti rasa keponya
" B+"
" Aku bisa, aku mempunyai golongan darah B+ " dengan nada santai tapi sesaat aku langsung melihatnya
" Kau serius "
" Iya aku serius "
" Ayo kita ke rumah sakit "
.
Singkat cerita kami sudah ada di rumah sakit. Aku mengabari Tinton bahwa aku sudah dapat pendonornya.
" Sus saya mambawah pendonornya "
" Baik, ikut dengan saya " aku tidak mengikutinya.
" Di " lo udah makan? " duduk di samping Adipati.
" Belum "
" Makan gih... Gue yang akan jaga Kris dan gue titip roti dan susu siap minum " memberikan uang pada Adipati
" Bukan untuk gue, untuk cewek itu tadi gue lihat di internet kalau seseorang selesai donor darah akan mengalami lemas "
" Benarkah, Gue baru dengar. Gue pergi "
Tak perlu menunggu lama akhirnya dia keluar
Mukanya sedikit pucat tidak sesegar tadi.
" Sudah selesai " dia hanya mengangguk lalu duduk di kursi tunggu.
" Emmmhh... " dhemm yang begitu keras mengalihkan pandangan ke arah sumbernya.
" Chasye... Lo datang sini " aku berdiri menyambut sosok cantik yang telah ada di sampingku dengan membawah keranjang buah beserta buah.
" Iya, gue mau menjenguk Kris " tersenyum ramah.
" Oh... Kris belum bisa di jenguk jadi kita harus nunggu di luar dulu "
Dia duduk disampingku. Aku duduk ditengah - tengah dihapit dengan dua perempuan cantik ini.
Datanglah Adipati membawah satu bungkus besar.
" Ini " menyerahkan padaku dan mereka berdua melihatku seakan bertanya apa isi plastik yang besar itu.
__ADS_1
Aku mengambil susu serta roti ku berikan pada Jola.
" Ini Jola makan dulu agar tenagah lo kembali lagi " dia menerimanya tapi aku merasa hawa lain seakan menatapku dengan tajam dan benar saja orang yang sebelahku menatapku dengan tatapan membunuh.
Beruntungnya roti dan susu yang di beli Adipati tidak hanya satu jadi aku mengambil susu dan roti juga memberikan pada Chasye
" Chas ini " dia hanya mengambil susu tidak mengambil rotinya
" Gue duet, jadi susunya ajah " dia memalingkan mukannya.
Buset deh kalau ke gini mah kayak punya bini dua.
Dokter keluar dari ruang Kris aku segera menghampirinya.
" Bagaimana dok keadaan saudara saya? " dokter itu menatapku lalu tersenyum
" Pak Kris sekarang sudah dalam keadaan baik - baik saja, hanya perlu istirahat. Bila ada sesuatu hal silakan panggil suster yang berjaga " dokter itu melangkah meninggalkan kami.
" Syukurlah dia sudah tidak papa " aku menghebus nafas pelan tanda merasa lega.
Aku akui Kris adalah laki - laki hebat, dia mengeluarkan peluruh dalam tubuhnya tanpa pertolongan medis dan bisa bertahan selama kurang lebih 8 jam.
Jika bukan karena pengalamannya hidup sebagai gamaster dia mungkin sudah mati sebelum kami membawahnya ke rumah sakit.
Kami masuk semua ke ruangan Kris dengan tentram dan diam karena kami tidak mau mengganggunya.
Terlihat infus, serta alat - alat medis hidup didekatnya serta mulut dan hidungnya di beri seperti oksigen.
Mukanya diam terlihat sangat damai walaupun Kris orang yang pendiam tapi kali ini diamnya karena dia tidak berdaya.
" Sepertinya kita keluar saja jangan mengganggu tidurnya " mereka semua melihatku lalu mengangguk menandakan setuju lalu perlahan keluar dari ruangan itu.
Chasye meletakan buahnya di atas nakas disamping tempat tidur Kris.
Keadaan di luar
" Chasye lo naik apa kesini? "
" Naik mobil "
" Baiklah ayo gue antar "
" Tidak usah, gue akan ke kampus. Gue bisa sendiri " dia lalu pergi, aku tau dia khawatir denganku makanya sekarang dia cukup mandiri.
Aku melihat Jola masih duduk di kursi tunggu.
" Jola, ayo gue antar pulang " ada dihadapannya
" Aku tidak ada kegiatan aku ingin disini menemani kalian menjaga Kris, bolehkah? "
" Bolehlah, asalkan tidak merepotkanmu " duduk kembali di samping Jola
Datanglah Tinton
" Gimana Bro keadaan Kris " ucapnya terlihat wajah khawatir
__ADS_1
" Baik Ton, tapi belum sadar ini kami sedang menunggu " ucap Adipati.
Mata Tinton terarah pada Jola mungkin dia bingung siapa perempuan ini pasalnya Tinton belum bertemu secara langsung seperti ini.