
Jola
Malam itu jam 7 aku pulang, ada yang aneh saat aku pulang ada koper serta tas yang sudah stay di ruang tamu.
" Bapak... Ibu.... " panggilku syok melihat sekeliling mencari sosok mereka berdua.
" Eneng apo toh duk, kok teriak-teriak gitu " seru ibu
" Iki tas siopo buk ?" seruku
" Tas Ibu karo bapak "
" Ibu karo bapak mau kemana? " seruku terkejut
" Duduk dulu " ibu menuntunku duduk di sofa
" Bapak sama ibu akan pergi kerumah bulekmu. Bapak sama ibu udah gak sanggup hidup di kota besar ini duk, penghasilan sakin merosot " seru ibuku menjelaskan panjang lebar
" Aku ikut buk " seruku mulai sedih
" Orah Iso kue kan kuliah, jadi bapak karo ibu aja yang kesana kamu disini selesaikan kuliah dulu baru nyusul bapak sama ibu "
" Tapi aku pengen ikut bu "
" Bapak sama ibu akan kirim uang bulananmu dan sering menghubungimu. Kita ini orang miskin duk jadi jangan sia-sia kesempatan kamu kuliah harus kamu selesaikan " aku menangis sejadi-jadinya sampai-sampai senggugukan.
.
Keesokkan harinya aku mengantar ibu dan bapak pergi ke stasiun kereta air mataku tidak bisa terbendung lagi terus menetes dengan derasnya.
" Hati-hati disini, jaga kesehatan, jaga diri dan yang rajin belajarnya iya duk " aku hanya mengngguk sambil terus menangis.
" Udah toh jangan nangis, dilihati orang " ucap bapak mengelus rambutku.
" Hati-hati pak... Bu... " seru ku melihat mereka masuk kereta.
Adriell
Aku dan yang lain ke kampus termaksud Kris.
Dia sudah membaik walaupun lukanya belum sembuh 100 %.
" Dimana Jola iya gak kelihatan " seruku melihat segala penjuruh tempat
" Bener tuh, gue kangen masakkannya " seru Tinton dapat tatapan tidak sukaku
Aku melihat Jola yang terlihat lesu dan seperti pandangannya kosong.
Aku mendekatinya " Hei " dengan nada pelan tapi dia kacangi aku terus jalan.
Aku langsung menarik pergelangan tangannya.
" Adriell... " Jola sepertinya terkejut dengan kehadiran Adriell
" Baru sadar ini aku, kenapa kau bengong seperti itu "
" Maaf Riell, aku lagi pengen sendiri aku ke sana dulu " dia melanjutakan langkahnya menujuh kelas sedangkan aku tidak mau menggangunya karena sepertinya dia ada masalah.
" Kenapa Riell.... " Adipati menghampiriku yang terlihat seperti di tolak.
" Sabar bro, terkadang cewek itu memang kejam " Tinton berkicau
__ADS_1
" Udahlah, bacok kalian yok ke kelas "
.
Kelas sudah usai aku tidak berniat kemana - mana tapi saat kami keluar kelas di luar sudah ada Chasye.
Yang lain sudah cabut duluan mereka pasti tidak menggangguku kalau urusannya dengan Chasye.
Chasye
" Kau menungguku "
Adriell
" Iyalah masa aku nunggu dosen " dia tersenyum padaku tapi bagiku bila dia tersenyum pasti ada yang tidak beres.
Adriell
" Kenapa kau tersenyum begitu, sangat menakutkan "
Chasye
" Heiiii.... Senyumku ini manis banyak yang tergila-gila dengan senyumku "
Adriell
"Oke... Oke... Sekarang apa maumu menungguku " bahasku to the poin .
Chasye
" Ayo jalan, aku sangat bosan lama-lama di kampus ini " Menggandeng tanganku.
Adriell
Chasye
" Aku maunya bersamamu, ayo... ayo... " dia merengek-rengek tidak jelas.
Akhirnya kami jalan aku mengajaknya ke arah areah balap untuk menonton.
Chasye
" Seru banget nonton ke gini, sama kamu lagi "
Adriell
" Gue pikir lo benci panas-panasan gini "
Chasye
" Kenapa gue benci, mau gue panas-panasan yang pasti gue akan tetap cantik "
Adriell
" Terserah lo lah " kembali memperhatikan balapan.
Ditengah ke asikan ada yang membekap mulut kami lalu menarik kami dari kerumunan.
Orang tidak ada yang memperhatikam karena saat itu sedang seru-serunya untuk menentukan siapa yang menang.
Bukan cuma itu setelah kami ditari ke belakang jauh dari kerumuna kami pingsan karena sapu tangan yang mendekap mulut kami ternyata ada obat tidur.
__ADS_1
Aku mulia sadar walaupun kepalaku rasanya sangat berat, pandangan mataku gelap dan tangan ku diikat kebelakang.
"Apa... Apaan ini, Woy.... lepasi gue... " sesaat setelah aku berkata itu penutup mataku dibuka dan terlihat sosok siapa yang menculikku.
" Bang Pras... " Aku belum lama kenal dengan orang ini dan setauku aku tidak pernah berurusan dengan geng preman ini.
" Hay, Adriell "
" Kenapa lo yulik gue " seruku geram
" Gue gak nyulik lo, gue cuma mau berunding sesuatu " kami duduk berhadapan
" Woy... Gak dengan cara gini bang, cewek gue mana " mencari disekitaku dan benar saja dia tidak jauh dari tempatku sekarang.
" Tenang cewek lo gak gue apa-apai tapi ada syaratnya " aku kaget sepertinya ada yang tidak beres ini.
Terdengar suara yang sangat keras seperti suara Chasye sepertinya dia sudah sadar.
" Ini gue kenapa, Tolong.... Adriell... " teriak dengan histeris dan membuatku panik.
" Lepasi dia... Cepet lepasi dia... " aku berusaha memberontak ikatanku.
Tapi bang Pras itu melangkah ke Chasye dan menutup mulutnya dengan lakban hitam kini hanya terdengar
"Mmmmnnnppppmmmmmm....... " suara tidak jelas.
Aku tidak tega melihat Chasye seperti itu, ini semua karena kesalahanku coba Chasye gak ikut pasti dia gak akan okut diculik sama gue.
" Oke apa mau lo ?"
" Begitu dong, kan gak ada yang tersakiti. Langsung ajah gue pengen mintak bantuan lo, banyak anggota gue lagi sakit sedangkan besok adalah perang perebutan wilaya gue sama blok raja hitam, gue pengen loe bantu gue " aku sangat bingung kenapa harus aku sih.
" Kenapa, kenapa lo minta bantuan gue "
" Karena lo kuat dan juga karena lo temennya Adipati yang nempunyai anak geng sekolahan bbrandal itu cukup banyak berpartisipasi dan gue yakin menang " dengan sombong.
" Kenapa lo gak minta bantuan Adipati ajah secara langsung "
" Gue lihat Adipati lebih menghormati lo, sekalian teman-teman lo cukup berguna "
" Gue bisa bantui tapi ini yang terakhir gue berurusan sama geng preman, gue pengen tenang "
" Oke Adriell... Gak masalah gue jamin "
" Jangan lo ingkari, ingat itu. Lepasi Chasye cewek gue " dia langsung melepas ikatanku dan ikata Chasye.
Chasye yang sudah bebas langsung berlari ke arahku memelukku dengan tatapan ketakutan serta tubuh yang bergetar.
" Maafkan aku nono, sepertinya kau sangat takut " mencondongkan mukanya untuk mengintip wajah Chasye yang sudah terbenam di dadaku
" Sudahlah aku akan mengurusnya " aku memeluk Chasye ke arah samping dan keluar dari tempat ini.
" Riell, aku takut banget "
" Gak usah takut, aku ada disini lo udah aman disamping gue " sahutku mengelus rambutnya lembut mencoba menenangkannya.
Aku mengantar Chasye pulang agar dia lebih tenang.
Di jalan aku terus berpikir kalau aku masih bertahan dengan Chesya ke jadian yang tadi bukan tidak akan terjadi lagi, karena hidupku cukup liar berhubungan dengan balapan walaupun aku tidak ingin berurusan dengan para pereman tapi kenyataannya aku harus membantu mereka.
Apa yang harus aku ambil agar dia tidak masuk kedalam masalah yang tidak pernah dia alami.
__ADS_1
Membuatku semakin bingung tapi untuk kebaikan Chasye lebih baik aku putus dengannya.