
Jola lebih tenang dan merasa aman berada disamping laki-laki yang belum lama ia kenal ini.
"Lo bisa tinggal dulu di sini untuk sementara sampai lo dapati tempat baru yang lebih aman." Duduk cukup jauh menatap Jola.
Terlihat Jola lebih tenang tapi tidak bisa tersembunyikan ada perasaan cemas terlihat sangat jelas di wajahnya.
"Tenang ! Disini ada dua kamar kamu pake kamar Kris itu yang di sana sedangkan gue sebelah situ." Menunjuk kamar Kris lalu menunjuk kamarnya sendiri.
"Bagaimana dengan Kris ?" Jola tak mau menjadi batu sandungan bagi persahabatan mereka.
"Kris sudah kembali ke rumahnya. Lo bisa istirahat, gue mau keluar dulu. Kalau ada apa-apa lo bisa hubungi gue, kunci pintunya nanti kalau gue udah pulang gue ngabari lo." Jola hanya mengangguk mengerti.
"Riel.... " Adriell menoleh dan melihat gadis itu.
"Ini sudah malam, apa tidak berbahaya pergi selarut ini." seru Jola ragu-ragu.
Aku lupa dia kan belum tau kalau kelakuan aku seperti ini. Adriell membatin sambil menggeram.
"Gue udah janjian nonton bola sama anak-anak. Tenang ajah deket kok di sini. " Adriell dengan cepat mendapat alasan yang tepat.
"Hati-hati." Mengantarnya sampai pintu lalu menutup pintu rapat.
Adriell
Saat sampai ke lingkungan balapan di sana sudah ada Adipati dan Tinton yang sedang nonton.
"Gimana udah minta maaf ke Jola? " sahut sahabatnya Adipati.
"Dia dapat masalah! Hampir diperkosa di rumahnya makanya lama kami tadi ke polisi." Menjawab sesuai fakta.
"Terus gimana para ******** itu." Lagaknya Tinton seakan dia laki-laki baik-baik.
"Gaya lo Tinton..., lo ajah 11 12 kayak mereka." Ejek Adipati.
"Heii..., beda iya para gadis dengan sukarela bukan dengan paksaan sampai seperti itu, intinya suka sama suka bro." sungut Tinton tidak terima dengan temannya itu.
Kris terlihat baru datang dan langsung bergabung dengan kami.
"Udah di sini ajah lo!" Kris mengambil rokok yang ada di kantongnya karena melihat ada barang itu Tinton, Adipati serta Adriell langsung mengambil tanpa meminta izin.
Begitulah persahabatan mereka milikmu juga milikku tapi iya tidak dengan istri ataupun pacar karena masing-masing mereka belum menempatkan hatinya untuk satu gadis.
__ADS_1
"Jadi gimana Jola? Lo antar pulang?" Masih setia asap mengepul disekitar mereka dan sebatang rokok ada diantara jari telunjuk dan jari tengah.
"Dia tinggal sama gue" Sontak mereka kaget bertiga kaget menatapku.
" Gila lo, udah tancap gak ajah. Kasihan dia baru dapat masalah lo mala ngambil kesempatan" seru si Tinton yang pikirannya sangat kotor.
"Gila lo, gue gak ke gitu iya. Dia gak ada tempat tujuan, ayah, ibunya gak ada di Jakarta." jawab Adriell enteng masih mengisap benda kecil panjang dan mengeluarkan asap beracun itu.
Mereka masih menatap Adriell dengan tatapan curiga.
"Ehhh..., kalian itu pikirannya cuma bisa mesum ajah, gue omong gak iya nggak." Menghampiri pemenang balapan hari ini.
Kalau bukan karena insiden itu pasti dia yang disoraki.
"Tumben lo gak ikut boy." Gadis cantik dan seksi yang memegang aba-aba garis star dan finis.
Dia membelai pipi Adriell mendapat perlakuan begitu dia menghindari kepalanya jauh agar tidak dibelai lagi.
"Dia gak akan tergoda sama cewek bar-bar ke lo." Adipati mencoba menyelamatkan temannya itu.
"Iya udah gue goda orang lain ini yang menang, dia lebih ganteng anak baru lagi." Dia melenggokkan kakinya dengan seksi menoleh sedikit ke Adriell lalu menghempas pandangan ke depan dengan sombong.
Adriell hanya tersenyum tipis terlihat tak ada ketertarikkan sama cewek itu.
"Gue gak bisa, gue mau pulang! Jola di rumah gue kan masih kelihatan kayak orang baik." Adriell mengatakan dengan enteng.
"Lo juga pura-pura baik, biarkan dia kenal lo apa adanya kali. Apa lagi Jola gak juga seistimewa itu sampai lo capek-capek jadi orang lain." Tinton memang playboy tapi dia adalah orang jujur dan apa adanya.
"Gak tau Tin, ngalir ajah gue berperan sok baik di depan dia."
"Tinton ada benarnya, gak salahnya loh nunjuki diri lo yang sebenarnya." Kris setuju dengan apa yang di katakan Tinton.
"Nanti gue pikiri lagi, gue cabut! Pusing gue." Adriell pergi dari tempat itu sedangkan teman-teman tertawa dengan sikap Adriell yang bertingkah kayak anak puber.
"Kris..., Lo sok bijak ajah, gue tanya lo udah punya pacar emangnya?" Tanya Tinton memojokkan Kris karena Tinton tau Kris orangnya sangat kaku apa lagi dengan perempuan.
"Heiii..., lo jangan yuduti gue dengan kelemahan gue dong, gue juga cabut." Kris pergi dengan muka datar khasnya Kris.
"Tinto..., Lo ini bisanya buat orang emosi ajah. Lo kan tau Adriell memang gak ngerti soal cinta walaupun dia dekat dengan perempuan dan apa lagi Kris paling minim soal wanita gak ke lo keluar masuk sangkar." Geram dan meninggalkan Tinton.
"Waahhhh..., kok suka benar lo ngomong, Di." Tawa keras terdengar lalu mengikuti Adipati dari belakang.
__ADS_1
Adriell sudah sampai ke baskemnya tepat jam 3 pagi.
Dia ngetok pintu pelan dia merasa bersalah mengganggu tidurnya Jola. Sebenarnya dia berniat tidak pulang untuk malam ini nanti saat pagi baru dia akan pulang tapi karena Tinton yang sudah menghancurkan moodnya semua rencana itu hangus.
Tak lama Adriell mengetok pintu Jola membukakan pintu itu.
Saat Adriell masuk.
"Maaf iya, gue ganggu tidur lo." Menggaruk belakang kepala yang tidak gatal.
"Gak ganggu, ini kan rumahmu aku di sini hanya menumpang. Santai ajah, Mau aku buati kopi atau minuman apa?"
"Jola..., lo di sini bukan pembantu tapi lo teman gue jadi anggep ajah ini rumah lo, jangan ngomong ke gitu atau lo perlakukan gue kayak majikan lo, jujur kata-kata lo tadi menyinggung gue pada hal gue tulus bantu lo." Tatapan Adriell terlihat kecewa dan itu membuat Jola merasa bersalah.
"Maafi Aku Riell, pada hal kamu udah bantu aku tapi aku malah menyinggung perasaanmu." Menundukkan kepala.
Adriell memegamg kedua lengan Jola dengan kedua tangannya.
"Jola..., gue tulus bantu lo, jadi jangan merasa terbebani. Setiap manusia itu memang wajib saling membantu itu demi rasa kemanusiaan, oke sekarang lo kembali tidur ajah lo pasti capek dengan yang terjadi hari ini." Adriell tersenyum tulus lalu berjalan ke kamarnya.
Saat di kamar.
"Astaga, kenapa sih dia sampai-sampai bertingkah gitu. Semoga dia ngerti kalau dia di sini bukan pembantu tapi teman gue." Adriell mengela nafas berat pertanda dia sangat lelah hari ini.
Sedangkan Jola merenungi sesuatu.
"Jola..., seharusnya kau bersyukur karena telah di kirimkan orang seperti Adriell yang terus membantumu, dia adalah penolongmu saat di jalan waktu itu aku saja baru sadar saat peristiwa itu, Aku harus coba balas budi dengannya dan jangan sampai menyinggung perasaannya seperti tadi." Jola merebahkan diri karena dia merasa hari ini sangatlah panjang.
Harapannya hari esok menjadi hari yang lebih baik.
Beralai pada keadaan Tinton.
Saat dia sudah berpisah dengan rombongannya dia pergi ke alun-alun dan dia melihat cewek yang sedang di perlakukan kasar pada laki-laki.
"Pergi kau..., tidak usah sentuh tangan kotormu dengan anakku." laki-laki.
"Dia juga anakku, aku ingin menggendongnya." Laki-laki itu mendorong keras perempuan itu.
"Lo jangan seperti itu dengan wanita dong." Tinton membantu perempuan yang jatuh itu.
"Zurah...." Tinton tampak terkejut dengan sosok yang dia lihat.
__ADS_1
- Happy Reading -