ADRIELL

ADRIELL
Adriell Episode 12


__ADS_3

Bagaimana ini dia bertanya apa pendapat ku tentang dirinya. Pasalnya bagiku dia adalah orang yang baik dan orang yang sangat tampan tapi aku sangat gugup bila harus mengatakan secara langsung.


" Iya kau seperti mahasiswa yang lain cukup baik dan ramah " memalingkan pandangan setelah mengatakan hal itu


" Aiiisss...  Pandanganmu secara umum padaku, sudahlah lupakan " Adriell menggarut kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


Sebenarnya dia berharap pujian yang terlontar pada mulut wanita yang ada di hadapannya ini.


( Makan bersama yang menyenangkan )


" Ayo aku antar kamu pulang " di balas Jola dengan anggukan.


Tepat di depan rumahnya


" Sampai jumpa besok " senyum Adiell 


" Iya Bhe..... "


.


.



Chasye



Angel



Adriell


Malam ini sesuai janji aku pergi menjemput Chasye dan berdandan cukup rapi pasalnya dia akan mengenalkanku pada temannya.


" Udah datang,,  ohhh kau sekarang cukup terlihat seperti manusia " aku membelalak mempertanyakan apa maksud gadis manja ini


" Lalu kau kira aku selama ini apa, Serigala " Menatapnya dengan memutar bola mata


" Kau tak sadar selama ini kau lebih mirip brandal " bibirnya monyong ke depan dengan nada mengejek


Aku mendekatkan diri disampingnya menatapnya sangat pekat dari samping yang bibirku hampir menempel dengan pipinya aku sampai mendengar suara dia menelan ludah dengan sulit.


Lalu aku beralih pada telingnya


" Seberandal apapun aku, disini kau masih berstatus pacarku jadi kata - kata tajammu sebaiknya kau rem" aku menggigit kecil telinganya


Diterkejut, badanya sontak bergerak saat aku menggigit telinganya kecil lalu aku segera lepasnya.


" Sekali - sekali jangan cuma kau terus  yang nenyosor menciumku " masuk ke mobil dia masih mematung


" Kau...  Mengatakan itu seakan aku yang menggodamu terus " muka sebal lalu ikut masuk ke mobil.


Kami sampai di sebuah restoran mewah


Disana sudah ada beberapa teman - temannya dan termaksud sosok yang aku kenal.


" Alex...  Waauu.. I miss you "


Chesye  berpelukkan lalu mencium pipi kanan serta kiri kalau kata orang zaman sekarang cepiki - cepiki.


" Alex..  my boyfrend name Adriell" menggandeng tanganku


"Ouuhhh...  My Prince Angel " kami saling tersenyum.


" Hai Angel karena disini ada Angel yang akan membantu kita menterjemahkan percakapan ke Alex, maaf merepotkan My Prince nya  Alex " seru Chasye penuh senyum muslihat.


" Tidak masalah nona Chasye " senyum manis Angel


Makan berjalan sukses dan menyenangkan.


Aku menyondongkan tubuh ke arah Chasye lalu berbisik tepat disela - sela rambutnya.


" Aku akan keluar merokok " dengan sangat lirih


" Kau tidak bisa menahannya " dia juga sama lirihnya

__ADS_1


Dia memandangku pekat lalu kubalas dengan pandangan memohon sambil menunjukkan bungkus rokok di bagian bawah tertutup meja makan.


" Baiklah " katanya akhirnya.


" Permisi,  gue keluar dulu angkat telpon.  Enjoy ajah " mereka mengangguk dan ada yang tersenyum ramah.


Di luar aku menghisap rokokku menatap pemandangan gelapnya malam yang dihiasi lampu jalanan serta luluh lalangnya kendaraan yang seakan belum habis - habisnya.


" Emmmhh...  " suara deheman keras mengalihkan pandanganku


" Angel..  " dia berdiri disampingku masih ada jarang yang luas antara aku dan dia.


Aku menyodorkan bungkus rokok yang terbuka bermaksud menawarkannya


" Aku gak ngerokok,  aku hanya minum " serunya lalu memandang pemandangan yang aku pandang tadi.


" Sorry..  gue kira loe merokok "


" selo ajah "


Kami diam dan masih asik dengan pandangan yang didepan serta pikiran kami.


" Adriell "


" Mmmhh "


" Loe kan udah tau gue punya cowok, apa loe gak ada pertanyaan gitu " serunya melirikku sekilas


" Apa yang perlu gue tanyai, loe juga tau gue punya cewek dari awal kita jalan " menghembuskan asap putih pekat


" Gue yakin alasan kita pasti sama gak mau ngecewai orang tua kita " aku membalas kata - kata itu dengan senyuman pahil pasalnya sangat benar yang di katakannya.


" Jadi kita harus gimana nih "


" Kita jalani ajah, mengikuti alur " dia tersenyum percaya diri.


" Oke " aku membalas senyumannya.


Acara hari ini sudah selesai aku mengantar Chasye jam sudah menunjukkan jam 11 malam


" Gila ajah loe,  lihat jam jangan sampai gue di dikeroyok sama keluarga loe dikira gue nyulit anak gadis orang " seruku masih menujuh tempat yang sama yaitu rumahnya.


" Aiisshh orang tua gue gak pulang "


Aku membuang nafas pelan


" Walaupun ke gitu, gak baik cewek berkeliaran tengah malam dikira kunti nanti " aku menyunggingkan senyum kecil


" Kunti sama gue cantikan gue kali "


Berdebatan kami masih lanjut hingga sampai di rumah Chasye


Chasye langsung mau keluar dari mobilku tapi aku cegah dengan menggenggam pergelangan tangannya.


" Apa lagi " serunya nyolot


Aku condongkan tubuhku mendekat padanya. Tanganku membelai rambutnya beberapa kali dengan lembut dan tersenyum padanya


" Mimpi indah iya " dia masih sedikit linglung keluar dari mobilku.


Setelah dia keluar aku melambaikan tangan bergaya da... da...  Lalu pergi melajukan gasku.


Malam ini aku langsung pulang karena aku sangatlah lelah. Tapi tentunya pulang ke baskem bukan ke rumah.


Tempat ini seperti rumahku dan juga tempat pelarian.


Kris dan Adipati tau kalau aku diner dengan Chasye jadi mereka tak menggangguku dan aku tidak tau mereka sedang sibuk apa.


Ku benamkan lelahku menujuh mimpi indahku iya berharapnya.


" My Love "


Suara nada dering menggema membangunkanku dari tidur padahal matahari belumlah muncul.


" Kris "


Panggilan itu selesai sebelum aku angkat dan nama itu yang terterah

__ADS_1


" Apaan sih Kris,  masih jam 4 pagi dia nelpon gue " aku menelpon balik padanya sampai tiga kali alhasil tidak di angkat.


" Sialan loe Kris,  ngerjai gue ini pasti lagi mabuk mereka " aku kembali tidur kembali.


.


Keesokan hari aku ke kampus jam 7: 58 pagi karena kali ini dosen kiler.


" Saat aku datang aku melihat Adipati dan Tinton tapi tidak dengan Kris "


Aku menghampiri mereka.


" Mana Kris, sial kalian ini ganggui gue tadi malam " mereka menatap gue bingung.


" Kita gak lihat dia dari kemaren dia ngomongnya ada urusan kantor jadi gak bisa gabung " sahut Tinton.


" Sial " ucapku dan langsung berjalan meninggalkan mereka.


" Loe mau kemana?  Gue ikut " ucap Adipati sambil ngikuti gue.


" Gue juga " sahut Tinton yang mau berdiri.


" Gak usah lebih baik loe cari cara ngabseni kami bertiga " seruku kembali berjalan.


" ***** loe Riel,  giliran yang susah gini loe ngasih ke gue " muka masem


" Gue serahi ke loe bro " Adipati teriak sambil cengingisan.


Di dalam mobil aku langsung memutar stir mobilku menggas ke depan lalu ke belakang dengan cepat dan membanting setir hingga berbelok dengan cepat untuk membebaskan dari parkiran yang penuh dan padat ini.


" Kok buru - buru banget Riel,  kita mau kemana? " rengek Adipati disampingku


Aku langsung tancap gas dengan kecepatan penuh terkadang kalau ada halangan aku langsung mengklakson agar semua penghalang dengan cepat menjauh.


"Tadi malam jam 4 Kris nelpon gue.  Gue kira dia masa kalian mabuk gak sengaja nelpon gue " masih fokus nyetir


" Mungkin dia sama rekan bisnisnya  "


" Gue telpon lagi gak bisa di angkat,  kita sama dia beda "Di"  dia dulu gamster jadi musuhnya bertaburan "


" Oke - oke gue tau " seakan dia tau kalimat apa yang akan gue ucapakan selanjutnya.


Tak beberapa lama kami sampai di kediamannya yang sekaligus tempat bisnisnya.


" Kita berpencar " Di " " di jawab anggukan dan langsung menyusuri ruangan


" Kris....  Kris....  " panggilku kuat sambil menyusuri ruangan yang tak kunjung mendapat jawaban.


Hingga di ruangan tempat latihan tembaknya aku melihat pintu tertutup dan terkunci tidak bisa aku buka yang lebih membuatku semakin tak tenang di lantai ada darah seperti bekas diseret.


Aku langsung memberi ancang - ancang untuk persiapan mendobrak


Bguuuuukkk...  Belum berhasil


Bgruuuukk...


Bguuukkk...  Yang sangat keras hingga lengan sebelah kiri Adriell sakit karena memaksakan mendobrak pintu itu tapi tidak sia - sia pintunya terbuka.


Saat masuk dia melihat Kris duduk dengan pucat pasih seakan menyerupai mayat beserta disekitarnya ada pisau,  pistol darah yang nenggenang ada sebagian yang sudah kering di lantai serta beberapa kasa yang berantakan.


Bau darah sangat menyengat tapi yang ku pedulikan adalah sosok manusia yang aku saja tak tau dia masih hidup apa sudah mati.


Aku menghampirinya menarik kerah bajunya.


" Kris....  Kris...  Loe jangan mati Kris...  " teriakku


" ******** loe Kriss...  "


" Gue mohon jangan mati Kris...  " sahutku sangat keras dan dari belakang datang seseorang tak lain Adipati yang langsung panik melihat kami.


" Kris...  kenapa Riell " serunya mulai medekat dengan perlahan.


" Krisss.... " Sahut kami berdua bergantian dengab suara menggema serta bergetar


" Be... ri.. sik " sahut Kris sangat pelan tapi itu menyadarkan kami hingga kami langsung diam sunyi.


" Brengsek loe Kris,  gue kira loe udah mati " rengekku yang memang air mataku sudah menetes.

__ADS_1


__ADS_2