
Di kamar aku sudah dalam keadaan memakai celana dengan bertelanjang dada.
Aku duduk dipinggir ranjang dengan perban serta obat-obat luka ada di ranjang.
Aku dari dulu selalu bertindak sendiri karena papa besar selalu mengatakan untuk tidak cengeng ataupun tergantung dengan orang lain.
Aku berusaha membuka perekat pada pembalut lukaku karena terasa lembab aku harus menggantinya.
Aku tidak ingin merepotkan gadis itu.
" Tok... tok... "
Pembalut dalam lukaku satu lapis sudah terbuka tapi satu lapis lagi rekatan plasternya ada di bagian pungguku jadi susah.
Karena susah tidak kulanjutkan, aku lebih memilih membukakan pintu.
" Sudah selesai " dia melihat seluruhnya dan dia tau apa jawabannya.
" Aku akan ganti kasa yang membalut lukamu, dimana obat dan kasanya "
" Aku bisa sendiri " jawabku
" Heiii... Aku tidak suka menolong orang dengan setengah-setengah, dimana obat-obatanmu " dia memandang kamarku seluruhnya dan tepat tatapannya ada pada ranjangku.
" Dapat juga " dia mengambil semua obat dan kasa.
" Ayo, Kris " menarik tangan yang tidak luka dengan lembut tapi bertenagah.
Aku duduk di sofa dan dia tepat disampingku, dia menarikku hingga aku sedikit menyerong hingga tepat menghadap dia.
Dia membuka kasaku lalu melihat lukaku masih ada darahnya yang memang belum kering sepenuhnya.
" Aku akan bersihkan " aku hanya mengangguk tanda setujuh.
Dia membersihkan dengan pelan-pelan mukanya seakan meringis kesakitan menyipitkan mata dengan terus membersihkan pelan-pelan.
" Kenapa mukamu itu, gue yang terluka kenapa kok kau yang meringis kesakitan "
" Ini benar-benar luka mengerikan, pasti sakit sekali aku saja yang membersikannya sampai-sampai merinding " sahutnya yang mulai membalut dengan kasa.
" Aku ajah biasa ajah, kenapa dia malah yang menderita. Dasar cewek "
membatin
" Oke udah selesai, aku mau panasi bubur dulu baru itu nanti kamu makan " di pergi meninggalkanku.
" Rumah kosong ini seakan hidup seperti rumah tempat keluarga berkumpul, sudah berapa lama iya aku tidak merasakan ini. Seperti di panti dulu walaupun tidak sedarah tapi kami saling mendukung dan melindungi " membatin.
__ADS_1
"Kris... Sini makan udah aku siapi "
Aku pun langsung ke meja makan, satu kata saat aku melihat yaitu males.
Iya gimana enggak dia memberiku bubur, sudah enek aku makan bubur beberapa hari di rumah sakit dan sekarang juga.
" Gue gak suka bubur, gak mau makan " Jola menatapku tajam dan menyodorkan bubur yang tadi ku geser dari hadapanku sekarang ada di hadapanku.
" Makan Kris, ini buburnya berasa kok. Enak aku jamin tambah tumis kecap telur ini sangat bagus untuk penyembuhan lukamu " walau tatapannya mematikan tapi sekarang kata-katanya sangat lembut.
"Iya gue makan, awas kalau gak enak " aku mulai memakannya dan benar saja tidak begitu buruk.
" Woyy... Gue lapar " gerutut Tinto yang baru datang tidak mengetok pintu atau mengucap salam langsung merebahkan diri di sofa.
" Rielll... Pesen onlien " dengan nada manja Adipati sama lesunya.
" Gak usah aku udah masakkan telur sambal balado sama sayur capcay, ayo makan kalian pasti capek habis ngampus "seru Jola sambil menyiapkan makan di meja makan.
" Ngampus " dengan nada bicara.
Bodohnya Tinton sama Adipati gak bisa apa otaknya berpikir, aiiiss nanti ketahuan kalau Adriell bohong sama Jola.
" Kalian ini baru ajah pulang ngampus udah lupa, apa kalian sebelum pulang main dulu " jawabku memberi kode kepada mereka berdua.
" Iya kami tadi habis kampus langsung ngumpul-ngumpul terlalu seru jadi lupa tadi ngampus " seru Adriell yang baru masuk dan langsung memberi pelototan dengan temannya ini.
" Iya... Iya kamu lupa " disertai tawa kikuk mereka.
" Kenapa hanya telurku yang kecap sedangkan mereka sambal balado "
" Ayolah Kris kau masih sakit "
Aku melihat dia mengambil tasnya, mau kemana dia ? Itulah yang ada di pikiranku.
" Mau kemana lo Jola "
" Aku gak kemana-mana mau ngecek chat ajah, soalnya nanti jam 2 aku ada kelas " aku melihat jam sudah jam 13:25 siang.
" Setelah makan aku akan mengantarmu ke kampus " seru Adriell
" Baiklah " dia membereskan makananku yang batu selesai.
" Gue ajah yang nyuci " kataku yang merasa tidak enak seperti dia pembantu gue ajah.
" Gak papa Kris lo kan lagi sakit " serunya sambil senyum rama.
" Kita juga dong " seru mereka bertiga
__ADS_1
" Ehhhhh kalian punya kaki sama tangan cuci sendiri " dia memang cocok banget jadi seorang istri mereka bertiga langsung diam setelah mendengar suara tinggi dan cuek Jola.
Tapi walaupun begitu Jola lah yang mengerjakannya kami berempat ngobrol.
" Ting... ting... " notifikasi chat masuk aku langsung melihat
No tidak dikenal
" Ternyata lo masih hidup, memang gak pernah salah papa melihara seorang mesin pembunuh " Aku geram melihat chat yang masuk ini aku sudah bisa tebak pasti salah satu anak kandung papa besar
Mukaku sangat emosi sampai yang lain menyadari perubahan mimik wajahku.
" Siapa yang mengirim pesan " seru Adriell yang langsung merebut ponselku.
" *******, ini gak bisa di biari Kris " marah Adriell juga tak bisa terbendungkan lagi.
" Ada apaan sih kalian ini " kali ini Adipati yamg merebut ponselku dari tangan Adriell
" Ternyata lo masih hidup, memang gak pernah salah papa melihara seorang mesin pembunuh " Adipati membacanya dengan keras inilah kebedohan temanku satu ini
Sesaat setelah itu aku melihat Jola sudah ada di belakang Adriell yang mengarah ke arah kamar mandi.
Kami kikuk karena melihat Jola.
" Apakah Jola dengar, tapi dia diam saja " membatin aku terdiam sesaat
" Kalian kenapa diam kegitu " Jola membuka pembicaraan yang kini raut mukanya senyum tidak seperti yang tadi.
" Ka... u mendengarnya Jola " kataku sedikit kagok aku harus tau.
" Mendengarkan apa, tadi kalian hanya diam saja " serunya yang kemudian berjalan ke arah rak piring untuk meletakan piring yang sudah bersih.
" Kalau membahas ini jangan disini kalau lagi ada Jola, oke "seruku setelah Jola menjauh dari kami.
"Iya, iya sorry keceplosan soalnya jarang ada seseorang yang main kesini kecuali kita-kita " seru Adipati yang merasa bersalah
" Sudahlah yang penting dia tidak dengar " seru Tinton melerai
.
Jola
Aku sangat terkejut saat aku ke luar dari kamar mandi.
Kalimat yang membuat aku seketika terdiam tanpa berkutit.
" Ternyata lo masih hidup, memang gak pernah salah papa melihara seorang mesin pembunuh "
__ADS_1
Mereka melihatku dan mematung aku gak bisa menghadapi situasi ini, Ayo berpikir... berpikir...
" Kalian kenapa diam kegitu " ini adalah kalimat paling aman aku gak boleh mempercayai sesuatu yang belum tentu kebenarannya, itu hanya chat itulah yang terus kukatakan pada diriku agar aku berani