
“Shafira! Apa kamu sudah bosan mijit kaki Mama? Menantu macam apa kamu, hah?” bentak Miran saat Shafira kembali berdiri hendak ke toilet karena ingin muntah.
“Maaf, Ma! Saya mual, rasanya mau muntah sepertinya saya masuk angin!”
“Alasan!” kata Mirna seraya bersungut-sungut.
“Tapi Ma, sa—“ ucapan Shafira terputus.
“Ada apa, Ma?” tiba-tiba Wulan ikut bersama dengan Muran yang masih duduk di sofa, sementara kedua kakinya tetap berada dalam wadah rendaman air hangat.
“Oh, itu Shafira, dari tadi bolak-balik terus ke kamar mandi katanya pengen muntah karena mual padahal dia belum selesai mijitin kaki Mama!” kata Mirna memberi penjelasan mengapa dirinya membentak Safira. Ia kesal karena untuk kesekian kalinya, menantunya itu menghentikan memijat kaki, dengan alasan ingin pergi ke kamar mandi.
“Oh, iya Ma, itu cuma alasan saja, padahal dia malas!” kata Wulan dengan raut wajah cemberut sambil mencibir ke arah Shafira.
“Oh, ya! Kamu sudah selesai makan?”
“Sudah, Ma!”
“Nah, ya sudah sini, sekalian dipijitin juga sama Safira!”
“Oke, Ma!”
Wulan duduk dengan manis mengikuti perintah Miran dan memasukkan kedua kakinya, ke dalam wadah berisi air hangat yang sudah disiapkan Shafira sesuai perintah ibu mertuanya.
Wanita itu melirik ke arah Shafira yang menunduk sambil berlutut di hadapan Ibu mertuanya. Tangannya terlihat lincah terus memijat kaki Miran yang berada dalam rendaman.
Dalam benaknya memikirkan ucapan Ibu mertuanya bahwa, Safira terus saja bolak-balik ke toilet dengan alasan mual. Selama ia menikmati sarapannya bersama Erik tadi, ia pun melihatnya. Namun, baru sekarang ia menduga jika kemungkinan Shafira hamil. Kalau memang saingan cintanya itu akan memiliki anak, maka akan menjadi penghalang besar bagi hubungannya dengan Erick.
Oleh karena itu ia memikirkan bagaimana caranya agar wanita itu pergi jauh dari sisi suaminya.
Wulan memalingkan muka dengan senyum menyeringai licik di balik wajah cantiknya. Lalu, ia melirik pada Erick yang masih duduk di meja makan. Ia ingin tahu bagaimana perasaan Erick pada Shafira.
Ia memiliki sebuah rencana.
Erick diam-diam memperhatikan semua yang terjadi di ruang tengah, antara kedua istrinya dan mamanya. Satu istri bersikap layaknya seorang istri yang sesungguhnya. Sementara satu istri yang lain seperti pembantu mereka.
Hatinya tiba-tiba miris melihat hal itu. Namun keegoisannya jauh lebih besar dari rasa sayang yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
“Sudah sana! Pijit kaki Wulan saja!” perintah Mirna beberapa saat kemudian.
Shafira pun mengikuti perintah ibu mertuanya, dan mulai memijit kaki Wulan, sama seperti saat ia memijat kaki Mirna. Wajahnya semakin pucat pasi dan telinganya berdengung sangat keras, karena ia menahan muntah sekuat tenaga.
__ADS_1
“Akh! Sakit!” tiba-tiba bulan berteriak sangat keras sambil memegangi kakinya.
Semua orang di yang ada di ruangan itu terkejut termasuk Shafira.
“Wulan, kamu kenapa, Nak!” kata Mirna.
“Sayang, ada apa?” tanya Erick panik ia segera mendekat dengan tergesa-gesa dan melihat ke arah kaki Wulan yang ditutupi oleh tangannya.
Sementara Shafira bingung karena tidak ada yang terjadi dengan kaki Wulan itu saat ia memijatnya.
Wajah Wulan meringis, terlihat jelas kalau wanita itu menahan sakit yang luar biasa. Begitu Erick duduk di sisinya Ia pun langsung menangis keras di dada suaminya.
“Sakit, Sayang! Lihat!” kata Wulan.
Baik Erick maupun Mirna terkejut saat melihat kaki Wulan, di sana terlihat luka bekas cakaran yang begitu jelas. Luka itu berasal dari kuku yang sangat tajam yang sudah menggoresnya hingga berdarah.
“Apa yang kamu lakukan pada Wulan, hah?” kata Erick dan Mirna hampir bersamaan.
“Tidak Mas, aku tidak melakukan apa-apa!” sanggah Shafira dengan bersungguh-sungguh air mata sudah menetes di pipinya.
“Kamu bohong kalau memang tidak melakukan apa-apa kenapa kaki Wulan bisa berdarah begini?” tandas Mirna, sambil mencubit bahu Shafira dengan sangat keras hingga perempuan itu merintih kesakitan. Namun, ia tetap tak berdaya karena tidak ada orang yang akan menghiburnya.
“Sungguh Ma! Aku memijat kaki Wulan seperti memijat kaki Mama!” ucap Shafira.
“Tidak, Ma! Aku ti—“
“Shafira!” bentak Erick dengan suara yang menggelegar hampir memekakkan telinga. Suaranya memutuskan ucapan Shafira. Sementara Wulan melirik sinis ke arah saingan cintanya itu, dengan penuh kemenangan.
“Apa Kamu marah sama Wulan karena aku menikahinya dan kamu mau balas dendam?” seru Erick sambil memeluk erat Wulan di sampingnya.
“Tidak begitu, Mas!” kata Shafira.
“Apa kamu masih mencoba mengelak ini sudah ada buktinya!” sahut Mirna sambil menunjuk ke arah kaki Wulan yang terluka.
Sementara Shafira heran mengapa luka itu bisa tiba-tiba ada di sana padahal Ia tidak melakukan apa-apa. Kuku jari-jari tangannya pun tidak sepanjang kuku milik Wulan.
“Wulan! Apa Kamu sengaja melukai dirimu sendiri untuk memfitnahku sebenarnya apa maksudmu?” tanya Shafira seraya menatap tajam ke arah Wulan.
Wulan merengek seperti anak kecil sambil berkata, “Shafira, gimana kamu bisa tega? Aku tidak pernah berbuat apa-apa padamu! Aku mencintai Erick, apakah itu salah? Kenapa kau dendam padaku dan menyakitiku seperti ini?”
“Wulan! Kamu—“
__ADS_1
“Cukup!” Ucapan Shafira kembali terputus oleh bentakan Erick.
“Shafira, kamu sudah boleh tinggal di sini, bisa bebas makan apa saja, seperti permintaan ibumu agar aku mengurus mu, dan kamu tidak tinggal seorang diri! Apa kamu tidak puas? Apa aku salah mencintai Wulan? Aku sudah melakukan kewajiban yang diminta oleh ibumu dan kamu masih dendam padaku? Kamu keterlaluan sekali Shafira!”
“Mas! Aku tidak melakukan apa pun pada istrimu dan aku tidak dendam, tuduhan macam apa itu!” Shafira mencoba membela diri karena tidak tahan terus-menerus di pojokkan oleh istri kedua suaminya itu.
Byurr!!
Tiba-tiba Mirna menyiramkan air dalam wadah bekas rendaman kakinya ke tubuh Shafira hingga wanita itu basah kuyup.
Erick terbelalak dengan perbuatan mamanya, tetapi ia tidak melakukan apa-apa. Hatinya masih kesal begitu melihat kaki Wulan yang terluka akibat perbuatan Shafira.
Sementara Wulan menutupi mulutnya karena ia ingin berteriak girang, tetapi ia tidak mungkin menampakkannya.
“Mama ...! Kasihan dia kan Ma kalau disiram kayak gitu?” katanya dengan suara memelas dan memohon.
“Wulan, kamu ini terlalu baik, Nak, dia sudah melukaimu, tapi masih saja kamu bela?” kata Miran, sambil mengusap lembut bahu menantunya itu.
“Sudahlah, Ma! Biar aku urus Shafira!” kata Erick pada akhirnya, “Sayang, istirahatlah di kamar saja, dan obati lukanya sendiri ya, bisa kan?”
“Tentu saja, Sayang!” kata wulan sambil mencium pipi Erick. Ia kini tahu jika Erick berpihak padanya. Jadi, ia tidak perlu khawatir, apabila Shafira menggoda Erick karena suaminya itu tetap akan mencintainya.
“Ayo sini! Mama bantu obati kakinya!” kata Mirna.
Dua wanita itu pun berjalan bersamaan ke lantai dua di mana kamar Erick berada.
Sementara itu Erick menarik tangan Shafira dengan keras ke ruang kerjanya lalu pria itu mendorong tubuh istrinya itu dengan kasar ke sofa.
Ia melihat wajah Shafira yang pucat pasi dan sesekali menghapus air matanya. Bahkan, ia sudah melihat pemandangan itu sejak iya memulai sarapan tadi.
“Mas! Aku benar-benar tidak mencakar kaki Wulan!” Shafira masih berusaha membela dirinya. Ia takut bila Erick melakukan kekerasan, sementara ia merasa sangat tidak enak badan.
“Diam dan duduklah di situ! Kamu juga sepertinya butuh istirahat!” kata Erick sambil duduk di kursi kerjanya ia menyibukkan diri dengan beberapa dokumen.
Sementara Shafira, tak berdaya melihat suaminya mengabaikan dirinya. Ia diam karena tidak ingin menambah kemarahan Erick, ia sudah bersyukur laki-laki itu tidak melakukan apa-apa. Namun, karena kelelahan akhirnya ia tertidur di sofa.
Tidak lama setelah itu, Shafira terbangun karena kedinginan, dan ia tidak melihat Erick berada. Oleh karena itu, ia pun bergegas pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian.
Setelah selesai ia kembali melihat rumah yang sepi, hal ini pun dimanfaatkannya untuk melakukan apa yang ia inginkan. Namun, dengan rasa takut, Shafira pergi ke luar untuk membeli alat tes kehamilan. Sekedar memastikan apa yang ia rasakan pada saat ini.
Akan tetapi saat ia hendak melangkah kan kaki untuk keluar rumah, ada seseorang yang tiba-tiba memegang tangannya.
__ADS_1
“Mau ke mana kamu, hah?”