
Di sisi lain
Erick dan Wulan tidak pernah hidup damai, setiap hari mereka selalu bertengkar.
Wulan yang banyak menuntut agar Erick berubah dan hal itulah yang selalu menjadi permasalahan mereka.
Sekarang mereka tinggal satu rumah bersama orang tua Erick, karena rumah yang mereka tempati sudah di jual oleh Erick di saat perusahaan mereka hampir bangkrut. Dengan terpaksa wulan menyetujui dan ikut tinggal bersama Mirna.
Wulan baru saja pulang dari kantor, tubuh nya lelah. Tanpa di sengaja ia mendengar suara dari kamar mertua nya.
"Apalagi sih, setiap hari tidak pernah ada kedamaian di rumah ini. Andai kan bukan karena harta saya tidak sudi untuk tinggal di rumah neraka ini" batin Wulan sambil berjalan cepat untuk segera melihat apa yang terjadi di kamar Mirna.
Setelah beberapa saat ia membuka pintu kamar Mirna dengan kasar, sehingga terlihat dengan jelas perempuan paruh baya sedang berusaha untuk bangun dari kursi roda. Ia tadi ingin mengambil gelas minum akan tetapi tangannya gemetaran sehingga membuat gelas yang berisi air jatuh dan pecah.
"Astaga apalagi ini, bisa nggak sih satu hari saja nggak membuat kepala ku pusing. Di sini ada pelayan bisa panggil mereka, aku sudah pusing dengan orang-orang yang ada di rumah ini, tidak ada satu orang pun yang mengerti ku. Aku sudah capek bekerja pulang ke rumah ingin mendapatkan kedamaian" Wulan berkata sambil mengeratkan giginya, ia sudah puyeng dengan keadaan nya untuk saat ini. Dulu ia sangat yakin bahwa ia akan hidup bahagia bersama Erick jika Shafira pergi meninggalkan Erick tapi nyatanya itu tidak terjadi. Malah hidup nya semakin sengsara, Erick sudah tidak pernah memperlakukan nya dengan baik. Bahkan perlakuan kasar sering ia terima.
Setelah berkata seperti itu, Wulan kembali meninggalkan Mirna yang masih terdiam tanpa sepatah kata pun.
Minta juga mengalami stroke karena perusahaan yang di pimpin oleh Erick hampir gulung tikar, dan hal itu membuat nya kaget.
__ADS_1
Setelah kejadian itu ia juga sering mendapatkan perlakuan kasar dari Wulan.
"Andaikan Shafira yang menjadi istri Erick, pasti dia tidak akan pernah memperlakukan aku dengan cara seperti ini. Bahkan meninggikan suaranya pun ia tidak pernah. Maafkan aku Shafira, semoga kebahagiaan selalu menyertai mu. Biarkan keluarga ku mendapatkan karmanya dengan apa yang telah aku perbuat terhadap mu, bahkan Erick telah membuat mu kehilangan kedua orang tua mu" batin Mirna, karena pada saat ini ia hanya mampu bicara dalam batin.
Keadaan nya semakin hari semakin memburuk, tidak ada perhatian dari anggota keluarga nya juga membuat Mirna merasakan sendirian dan tidak ada yang perduli terhadap dirinya.
Keluarga Mirna sungguh berantakan, bahkan di sisa usia nya tidak mendapatkan kebahagiaan sedikit pun. Kehidupan Erick pun semakin tidak karuan, bahkan anak itu tidak memikirkan apapun selain bersenang-senang bersama perempuan penghibur di luar sana.
Sudah tidak ada lagi kedamaian lagi di rumah ini, bahkan rasanya sudah seperti di neraka.
Sudah cukup lama, Mirna membatin dan mengingat semua kesalahan nya yang pernah di lakukan oleh nya terhadap Shafira, tidak terasa air matanya menetas ingat dengan semua kesalahan yang di perbuatanya.
...****************...
Di tempat lain.
Riyan dan Shafira sedang duduk di suatu tempat, mereka sedang berlibur dengan anak-anak mereka.
Kedua anak kecil itu sedang asik bermain, dan mereka hanya mengawasi nya.
__ADS_1
Antara Shafira dengan anak-anak Riyan juga sudah semakin dekat, bahkan kedua anak kembar itu memanggil Shafira dengan sebutan ibu.
Dan Shafira pun tidak menolak akan hal itu.
"Mereka sangat sayang sama kamu, bahkan dia tidak bertanya bagaimana keadaan ku meskipun nggak pulang satu minggu. Tapi mereka selalu bertanya kapan kamu akan bertemu dengan mereka, jadi sudah seharusnya kita tinggal satu rumah dan mengakhiri semua jadilah kita sebuah keluarga yang saling membutuhkan dan melindungi. Kita sudah bukan saat nya, lagi terus dalam hubungan yang tidak pasti ini. Aku ingin menjadikan mu istri dan ibu dari anak-anak ku" Riyan berkata sambil menatap lekat dengan penuh cinta, ia sangat menyayangi Shafira dengan sepenuh hatinya.
"Apakah kamu bersedia menerima setiap kekurangan yang ada, pada diriku. Karena aku hanyalah manusia yang tidak memiliki kelebihan bahkan orang tua pun aku tidak punya. Bahkan aku tidak memiliki pendidikan yang cukup untuk menjadi istri dari seorang dokter hebat seperti mu, apakah itu tidak membuat mu malu bersanding dengan orang seperti ku? " Shafira balik bertanya terhadap Riyan yang masih menatap nya.
"Jika aku menginginkan mereka yang berpendidikan tinggi, maka aku tidak akan pernah memilih mu untuk menjadi pendamping hidup ku. Kita hanyalah dua manusia yang mempunyai kekurangan masing-masing, jadi kita bersama untuk saling melengkapi. Apapun yang terjadi kita akan selalu bersama dalam ikatan suci pernikahan" jawab Riyan sambil memegang tangan Shafira.
Hal ini membuat Shafira terharu dengan apa yang di katakan oleh pria itu, ia tidak menyangka bahwa hatinya akan jatuh di pelukan Riyan, awal nya mereka kenal hanya sebagai dokter dan Pasien. Kala itu Riyan hanya prihatin dengan keadaan Shafira yang baru saja kehilangan calon buah hatinya.
Ternyata semesta punya cara untuk membuat mereka bersatu, dan akhirnya Shafira merasakan kenyamanan saat bersama Riyan.
Ia juga tidak pernah melupakan jasa sahabat nya yaitu Ardan, sekarang Ardan juga sudah mempunyai calon istri dan mereka juga akan segera menikah dengan perempuan pilihan nya yaitu Kinanti yang di kenal nya lewat Essan.
Shafira juga ikut prihatin dengan keadaan keluarga mantan suami, mungkin itu semua jawaban dari semua do'a Shafira di masa lalu.
Sekarang ia hanya ingin hidup tenang dan bahagia menata masa depan dengan orang yang ia pilih untuk menjadi pendamping hidupnya di masa depan karena bagi Riyan dan Shafira masa depan adalah yang terpenting di banding dengan terus berada di antara bayang-bayang masa lalu.
__ADS_1
"Terimakasih telah menjadi laki-laki yang sabar menunggu ku, dan selalu membuat ku semangat dan berani melangkah ke depan. Ingatkan aku jika membuat kesalahan, bimbing lah aku jadi perempuan yang patuh terhadap suaminya. Dengan restu dari semesta aku bersedia menjadi istri dan ibu dari anak-anak mu" jawab Shafira dengan air mata berlinang, tidak pernah terbayang kan sebelum nya bahwa ia akan di diperistri oleh seseorang yang sangat terkenal, bahkan bermimpi pun ia tidak pernah untuk mendapatkan calon suami seperti Riyan yang kesabaran nya sangat luar biasa.