Air Mata Shafira

Air Mata Shafira
Bab 44


__ADS_3

Waktu bergulir begitu cepat, Satu tahun telah berlalu.


Setelah pertemuan itu, Riyan dengan sabar mendekati Shafira meskipun perempuan itu tetap seperti biasa. Iya belum yakin atas hubungan yang akan di jalaninya bersama Riyan, mereka juga sering liburan bareng anak-anak. Mereka terlihat semakin dekat.


Mereka masih tinggal di kota yang berbeda, akan tetapi Riyan selalu menyempatkan diri untuk datang ke tempat Shafira jika ada waktu senggang.


"Ayok cepetan! katanya mau pergi ke boutique... kenapa masih di situ" Riyan berkata saat menunggu Shafira terlalu lama, malah masih asik bermain ponsel sambil duduk santai di teras.


Padahal waktu sudah siang, Shafira meminta Riyan untuk menjemput nya saat masih pagi. Setelah satu jam Riyan menunggu, dan hasilnya perempuan itu masih bermalas-malasan untuk pergi.


"Kenapa tiba-tiba jadi malas pergi, padahal hari ini ada pertemuan dengan klien baru. Dia ingin di rancangkan gaun pengantin" jawab Shafira yang masih enggan bangkit dari tempat duduk nya.


"Ayok, temui dia dulu dan setelah itu kita bisa pergi ke tempat lain yang membuat kita happy. Aku tahu tempat yang bagus di kota ini" kata Riyan membujuk Shafira agar tidak bermalas-malasan hari ini. Riyan sudah jauh-jauh datang masa berakhir di teras rumah.


"Baiklah, aku ambil tas dulu! " Shafira langsung bangkit dari duduknya, lalu melangkahkan kakinya untuk segera masuk ke dalam rumah dan mengambil tas kecil miliknya.


Setelah beberapa saat Shafira sudah kembali, dan mereka pun pergi ke boutique milik Shafira yang awalnya hanya toko kecil sekarang sudah berubah menjadi Boutique terkenal di kota ini. Dan hanya orang-orang tertentu yang mampu membeli rancangan nya Shafira.


Perjalanan yang mereka tempuh tidak terlalu jauh, kendaraan pun sudah terparkir sempurna di halaman boutique milik Shafira. Keadaan boutique sudah di buka karena sekarang ia sudah memiliki beberapa karyawan yang membantu dirinya.


Akhirnya Shafira dan Riyan turun dari kendaraan yang mereka tumpangi, lalu berjalan perlahan untuk segera masuk ke dalam boutique.


Setelah sampai di dalam Shafira bertanya pada salah satu karyawan nya, ia menanyakan bahwa orang yang berjanji dengan nya sudah datang atau belum. Dan ternyata belum datang, hal itu membuat hati Shafira sedikit lega.


"Mau tunggu di sini atau ikut ke ruangan ku, dan melihat-lihat gambar pakaian yang telah aku desain! " kata Shafira sambil menatap wajah laki-laki yang masih setiap berdiri di sampingnya.


"Aku lah, masa di tinggal di sini. Sekalian penasaran dengan ruangan ibu bos" jawab Riyan sambil tertawa kecil.


"Mulai deh ngeledek" Shafira berkata sambil mengerucut kan bibir nya, sungguh ia tidak suka jika di panggil ibu bos meskipun sama karyawan nya sendiri apalagi sama Riyan.

__ADS_1


Shafira pun berjalan beriringan dengan Riyan untuk segera masuk ke dalam ruangan pribadinya, tidak terlalu luas tapi cukup nyaman.


Setelah berada di dalam, Riyan melihat ke sekeliling dan ternyata selera Shafira cukup bagus dalam mendekorasi ruangan yang tidak terlalu luas tapi sangat nyaman untuk di tempati.


Setelah beberapa saat Riyan tertuju dengan gaun pengantin yang ada di pojok ruang itu, lalu Riyan mendekati nya dan meraba baju itu dan berkata " Kebaya ini sangat cantik apalagi di kenakan oleh desainer nya sendiri, aku sudah lama ingin melihat mu mengenakan ini dan bersanding dengan ku di pelaminan " perkataan Riyan pelan akan tetapi sudah berhasil menghentikan detak jantung Shafira untuk sementara.


Shafira tidak menyangka bahwa kata itu akan terlontar hari ini dari bibir Riyan.


Shafira hanya terdiam dan membeku, lalu Riyan mendekat ke arah Shafira lalu meraih tangan nya.


"Sungguh aku ingin menjadikan mu perempuan satu-satunya yang ada di hatiku, bersedia kah menjadi calon ibu dari anak-anak ku. Dan kita bangun keluarga kecil dengan penuh cinta" Riyan berkata sambil menatap wajah Shafira dengan penuh cinta. Tidak terlihat sedikit pun kebohongan dari wajah Riyan, yang ada hanya ketulusan yang terpancar dari sinar matanya.


"Tapi, a--"


Di saat yang bersamaan, pintu ruangan di ketuk dan Shafira pun mempersilakan untuk masuk.


Setelah beberapa saat, tamu pun sudah datang dan masuk ke dalam ruangan.


Tanpa mereka duga tamu yang di nanti adalah Ardan dan calon istrinya Kinanti.


"Silakan duduk! " Shafira mempersilahkan nya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Astaga, kenapa kamu ada di sini? " tanya Ardan saat melihat Riyan ada di sana.


Sungguh ia tidak menyangka, bahwa boutique yang di maksud Kinanti adalah milik Shafira. Bahkan Ardan tidak tahu bahwa Riyan dekat dengan Shafira, karena setelah bertemu dengan Kinanti ia tidak berusaha lagi untuk mencari tahu apapun tentang Shafira, ia juga selalu mengingat perkataan Essan bahwa Shafira tidak mau ada di dekat Ardan. Makanya perempuan itu lebih memilih menghilang.


"Seharusnya aku yang bertanya, untuk apa kamu datang ke sini? " Riyan balik bertanya.


Sungguh ini pertemuan pertama mereka, setelah beberapa tahun terakhir tidak pernah ada komunikasi apapun.

__ADS_1


"Aku menemani Kirana untuk mencari gaun pengantin, dan menurutnya di sinilah yang paling cocok" jawab Ardan.


"Shafira, kenapa kamu menghilang bagaikan di telen bumi. Aku sempat khawatir dengan keadaan mu, tapi Essan yang meyakinkan ku bahwa kamu itu baik-baik saja. Jadi aku lega jika kamu balik" kata Ardan.


"Owh, jadi kalian sudah saling kenal" Kirana pun menyela pembicaraan di antara mereka.


"Kebetulan kami berteman" jawab Shafira sambil tersenyum tipis.


Akhirnya Shafira menunjukkan beberapa gambar yang telah di buat sesuai dengan permintaan Kinanti, lewat pesan singkat yang di kirimnya beberapa waktu lalu.


Dan Kinanti pun melihat keseluruhan rancangan yang telah di buat oleh Shafira dan ternyata memang sangat bagus, akan tetapi pandangan nya teralihkan oleh salah satu kebaya modern yang ada di sudut ruangan.


"Kalau yang itu punya siapa? " tanya Kinanti sambil menunjuk ke arah kebaya yang terpasang di patung.


"Itu punya ku" jawab Riyan dengan cepat.


"Tapi aku mau yang itu, terlihat sangat cantik" Kirana sangat tertarik dengan kebaya itu.


"Aku bisa buatkan yang lebih bagus dari itu, karena itu tidak di jual. Lagian itu produk gagal hanya saja aku sedikit mengubah nya dari model awal" jawab Shafira.


"Itu lebih bagus dari gambar yang ini" ucap Kirana.


"Sudah lah, pilih yang di jual saja. Pasti kalau sudah jadi baju itu gambar tidak kalah bagusnya dari yang itu" Ardan membujuk Kirana agar tidak kekeh menginginkan kebaya yang tidak di jual oleh Shafira, Ardan sangat yakin bahwa itu sangat berharga bagi Shafira makanya tidak di jual.


Setelah mendengar perkataan dari Ardan, akhirnya Kirana memilih salah satu gambar yang menurut nya sangat cantik. Dan tidak memaksa ingin kebaya yang tidak di jual itu.


Mereka cukup lama, berbincang setelah selesai pembicaraan soal kebaya. Mereka juga saling bertukar cerita.


Ardan pun berpamitan untuk segera pergi dari boutique milik Shafira, tinggal lah Riyan dan Shafira yang masih berada di ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2