Air Mata Shafira

Air Mata Shafira
Bab 17


__ADS_3

“Oh, terima kasih, tapi kenapa kamu membantuku?” tanya Shafira sambil merapatkan selimut sampai di lehernya.


Ardan menatap wanita itu dengan lembut, ia menggeser duduknya lebih dekat ke arah wajah Shafira dan berbisik padanya.


“Karena aku sayang sama kamu, kita ‘kan, teman?”


“Ya, kamu benar ... kita teman.”


Shafira membalas tatapan Ardan sejurus lamanya lalu tersenyum, ia senang temannya itu tidak melewati batas.  


Biar bagaimanapun juga, ia wanita bersuami. Ia tahu bagaimana rasanya disakiti karena sang suami mendua hati. Jadi, ia tidak akan berbuat hal yang sama, dengan memanfaatkan kedekatan Ardan saat ini.


Dahulu Shafira pernah menduga kalau Ardan menyukainya. Mereka berteman akrab. Membuat rancangan dan menawarkannya pada beberapa konveksi adalah idenya. Ia begitu semangat membuat sketsa dan menjahit sendiri rancangannya karena support tulus Ardan sepenuh hatinya.


Namun, nasib mereka bukanlah untuk menjadi pasangan selamanya, karena sekarang Shafira sudah menikah. Wanita itu khawatir jika berpisah dari Erick, itu artinya ia menyalahi wasiat ibunya.


“Oh, ya! Apa kamu lapar, mau makan sekarang?” tanya Ardan sambil mengusap lembut tangan Shafira yang tidak tertutup selimut.


“Sepertinya belum!” Shafira harus meyakinkan dirinya kalau tidak mual dan muntah, baru mau makan. Ia merasa Sayang makanan enak yang sudah tertelan harus kembali keluar. Lagi pula, ia tidak enak dengan Ardan.


“Baiklah kalau begitu! Sekarang tidurlah, nanti sore akan ada dokter ke sini untuk memeriksamu!” kata Ardan sambil berdiri.


“Ardan!” panggil Safira membuat Ardan menoleh kembali.


“Ya!” katanya  


“Eum ... maafkan aku sudah merepotkanmu!” Shafira berkata karena merasa bersalah.


“Aku tidak repot, ada perawat yang menjagamu dan mengurusmu di sini! Kamu tinggal bilang kalau butuh sesuatu.” Ardan berkata sambil tersenyum.


“Tapi tetap saja aku harus berterima kasih!”


“Baiklah, jangan sungkan! Kamu aman dan tidak perlu khawatir pada apa pun di sini!”


Ardan pergi ke ruang kerjanya, sedangkan Shafira mencoba kembali memejamkan mata. Pria itu merasa puas, untuk sementara ini usahanya menyembunyikan Safira berhasil. Dari pengamatannya, Erick belum menunjukkan pergerakan yang berarti untuk bisa menemukan istrinya.

__ADS_1


Vila pribadinya itu jauh dari keramaian yang berada di pinggir pedesaan. Di sana pun jarang ada orang yang melintasi jalanan, hanya penduduk lokal ataupun keluarganya yang kadang-kadang singgah hanya untuk beristirahat di sana.


Meskipun demikian, ia tetap menempatkan beberapa penjaga di sekitar villanya. Hal ini pun berlangsung sampai beberapa hari, hingga waktunya Ardan keluar vila untuk mengurus pekerjaan yang sudah lama ia tinggalkan, demi menemani Shafira.


Di lain tempat, Erik sudah menugaskan seseorang untuk menyelidiki Ardan. Begitu ia keluar untuk bekerja kembali di kantornya, laki-laki tidak menyadari bahwa, ada orang yang selalu menguntit dan mengamatinya dari kejauhan. Orang itu terus memata-matanya sampai Ardan kembali ke villa sore harinya.


Semua urusan di kantornya berjalan dengan sempurna sesuai arahan dan dikerjakan oleh asisten pribadinya. Mereka baru saja menghitung seluruh kekayaan keluarganya, dari berbagai perusahaan yang mereka miliki. Ardan sadar meskipun keluarganya termasuk dalam piramida teratas dari kekayaan konglomerat kota, tapi tetap saja kekayaan yang dimiliki keluarganya masih jauh dari kekayaan keluarga Erick Danu Praja.  


Sementara itu, di kantor Erick tengah mengamati pergerakan fluktuasi saham dan deviden di laptopnya, dengan serius. Tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi. Pria itu segera mengalihkan pandangannya dan melihat nama Hendra tertera di layar.


“Gimana? Apa ada kabar baik?” tanyanya langsung pada intinya.


“Itu, Tuan--!”


“Katakan! Sudah kubilang! Kau jangan meneleponku kalau bukan hal baik yang akan kudengar!” Erik terdengar geram.


“Ya, ini kabar baik Tuan!”


“Apa kau sudah menemukan istriku?”


“Ya, ternyata dugaan Anda benar, dia disembunyikan oleh Ardan!”


“Kurang ajaar!” Erick berkata sambil mengepalkan satu tangannya, ia kesal dengan keadaan dan marah pada Ardan.


“Cepat! Berikan lokasinya padaku!”


“Baik, Tuan!”


Sejenak kemudian Erik menerima pesan dari Hendra tentang lokasi di mana villa Ardan berada. Pria itu segera menyambar jaketnya dan berjalan dengan cepat menuju mobil.


Ia baru saja sampai di depan lobby kantor. Ketika Wulan mendekatinya. Gadis itu baru saja selesai bersantai di cafe dengan beberapa teman sekretarisnya.


“Sayang! Kamu mau ke mana?” tanyanya.


“Aku ada urusan sebentar, kau nanti bisa pulang sendiri dan jangan menungguku, oke?” kata Erick tegas dan langsung masuk ke mobil tanpa berkata dan melakukan apa-apa lagi.

__ADS_1


Wulan merasa heran sebab Erick selama ini tidak pernah berkata setegas itu kepadanya. Pria itu selalu lemah lembut dan manis. Ia pun curiga jika kemungkinan Safira sudah ditemukan.


Wanita itu melihat mobil Erick yang bergerak keluar tempat parkir dan melaju di jalanan dengan kecepatan tinggi. Setelah itu ia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan menghubungi seseorang.


“Hallo!” katanya, setelah telepon tersambung, “Apa perempuan bodoh itu ditemukan? Jemput aku sekarang dan kita ke sana!”


Wulan terlihat diam beberapa saat, kemudian ia berbicara dengan membentak. Wajahnya terlihat kesal. Ya berbicara dengan orang kepercayaannya yang sekaligus menjadi teman akrab selama ini, tanpa diketahui oleh Erick.


“Aku tidak peduli pokoknya jemput aku dan ikuti suamiku! Oke?”


Rupanya, Wulan juga mengirimkan mata-mata bukan untuk mencari di mana keberadaan Safira. Akan tetapi yang ia mata-matai adalah suaminya. Ia mengawasi Erik karena ia tidak ingin kehilangan dan agar laki-laki itu tidak jatuh ke tangan Safira.


“Ya, ya, aku tunggu, cepatlah!” katanya lagi, lalu menutup telepon secara sepihak. Ia menyuruh teman-teman kerjanya yang lain, untuk kembali ke kubikal mereka masing-masing. Sementara dirinya sendiri duduk di lobby kantor untuk menunggu orang itu.  


Wulan pergi setelah jemputannya datang, pada saat yang bersamaan ia menerima pesan dari Miran, yang mengingatkan acara shopping mereka setelah jam kerja usai.


Perempuan itu hanya menjawab pesan ibu mertuanya secara singkat, “Maaf, Ma! Aku sibuk kali ini tidak bisa.”


Wulan berbohong, padahal ia sebenarnya tidak sibuk, sebab sang bos—suaminya sendiri, selalu meringankan pekerjaannya. Ia hanya lupa kalau hari ini ada janji menghabiskan uang dengan ibu mertuanya. Ia lebih memilih mengikuti Erick dan ingin tahu apa yang akan dilakukan pria itu selanjutnya.


Sementara itu, di tempat yang tidak jauh dari Vila milik keluarga Ardan, dua buah mobil Volvo edisi terbaru, terparkir dengan rapi di pinggir jalan. Dalam mobil itu masing-masing ada empat orang bodyguard yang sedang menunggu kedatangan Erik. Totalnya ada  orang anak buah yang siap menunggu perintah bos mereka selanjutnya.  


Mereka sudah melakukan pengintaian dan memperhitungkan, dengan berapa jumlah pengawal yang menjaga villa itu.  Mereka mantap kekuatan mereka sendiri dan yakin bisa mengalahkannya dengan cepat


Tak lama setelah itu roll royce warna hitam berhenti di belakang dua mobil itu. Erick keluar dengan cepat setelah sopirnya membukakan pintu.  


Delapan yang orang yang ada di dalam dua mobil itu pun segera keluar juga.


“Apa ini tempat Ardan menyembunyikan istriku?” tanya Erick setelah berada di hadapan delapan orang anak buahnya.


Para anak buah itu pun mengangguk dengan cepat.


Erick mengusap wajahnya. Iya tidak menyangka kalau orang seperti Ardan. Mampu menyembunyikan istrinya dengan rapi dan bahkan, ia baru mengetahuinya setelah beberapa hari. Erick juga tidak menyangka kalau pria itu memiliki villa yang ada di hadapannya ini.


“Tuan, kami sudah memperhitungkan semua penjaga yang ada di sekitar villa itu!” kata anak buah yang bernama Hendra maju untuk bicara.

__ADS_1


“Bagus kalau begitu!” kata Erick, sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana., “Jadi apa rencanamu sekarang?”  


__ADS_2