
“Seharusnya Anda bersyukur, Tuan Erick yang terhormat, karena Shafira, istri Anda itu, tidak mengajukan gugatan peradilan atas meninggalnya kedua orang tuanya. Dan, beliau juga tidak mengadukan KDRT yang Anda lakukan padanya. Ia hanya ingin bercerai dengan Anda, jadi, jangan mempersulit lagi urusannya!” pesan yang ditulis Essan untuk Erick.
Pada saat yang sama sebuah taxsi menjemput Shafira dan membawanya pergi dari rumah, yang pernah memberinya status sebagai seorang istri.
Erick menatap kepergian mobil yang membawa istrinya pergi, dengan tatapan kosong. Sementara di tangannya ada telepon genggam yang masih menyala, dan menampilkan sebuah pesan padanya. Ia membaca pesan itu berulang-ulang seolah meyakinkan dirinya sendiri bahwa, apa yang ia hadapi bukanlah sekedar mimpi.
Ia telah melepaskan seorang wanita berhati malaikat pergi.
“Ya, aku salah ... seharusnya yang aku pertahankan adalah Shafira dan bukannya Wulan, karena Shafira Lah yang sudah membebaskan aku dari penjara, secara tidak langsung ... betapa bodohnya Aku, maafkan aku Shafira ... maafkan aku ibu dan bapak mertua .... maafkan aku Tuhan ... yang tidak tahu diri ini!” kata Erick sambil menarik rambutnya sendiri.
Ia terduduk di lantai dengan air mata yang masih berurai. Sungguh penyesalan tidak ada gunanya.
Sementara Wulan enggan mendekati suaminya dan hanya berani melihatnya dari balik jendela. Ia takut, apabila ia mendekat saat itu juga, maka Erick justru akan lebih marah kepadanya. Jadi, ia membiarkan keadaan itu berlangsung cukup lama, sampai Erick beranjak dari lantai dan menuju kamarnya untuk beristirahat.
Ia baru tahu kalau kesedihan itu sebenarnya melelahkan.
******
Malam itu, Essan dan Mariana—istrinya tengah mengadakan peringatan tahun ke enam pernikahan mereka. Ardan hadir dalam pesta kecil itu, bersama semua teman dekatnya, yang berjumlah sekitar 20 orang. Semua pria tidak ada yang memakai pakaian formal. Para tamu undangan berpakaian santai, karena mereka membuat tema kebun untuk memeriahkannya. Akan tetapi tetap saja terkesan mewah.
Ardan menengok ke kanan kirinya dengan heran, karena tidak melihat Riyan di antara mereka. Pria itu seperti angin yang rapuh, tidak tahu lagi harus bertanya ke mana lagi tentang Shafira, selain Riyan.
Gadis itu bagaikan lenyap tertelan awan atau hutan. Sudah lebih dari lima bulan sejak terakhir kali mereka bertemu di rumah sakit, waktu ia keguguran dulu. Lalu, sudah sebulan terakhir Riyan juga menghilang tanpa kabar, padahal dari pria itulah Ardan mendapatkan informasi tentang Shafira.
“Siapa yang kamu cari?” tanya Essan sambil meneguk kopinya. Semua teman lain sedang bermain torpeti dan pinata.
“Apa kamu tidak mengundang Riyan?”
“Aku tentu saja mengundangnya, lewat telepon, pesan, juga melalui berita digrup, seperti teman-teman lainnya, tapi hanya dia yang tidak merespon ... kalau tidak salah, sudah sebulan ini nomornya tidak aktif!”
__ADS_1
“Oh, jadi bukan aku saja yang merasakan itu, media sosialnya pun sudah seperti rumah berhantu, dia tidak pernah mengupload sesuatu!”
“Sudahlah, jangan mencari dia masih banyak teman yang lainnya aku juga ada!”
“bukan begitu! Aku hanya mencari informasi soal Shafira!”
“Oh, dia! Aku juga tidak pernah bertemu sejak sidang terakhirnya waktu itu, sayang sekali kamu tidak hadir ... Untung saja Riyan ada bersamanya, dia yang sudah menguatkannya!”
Ardqn mengetahui semua detail tentang perjuangan Shafira dan juga kisah sidang perceraiannya, melalui Riyan. Ia selama tiga bulan itu, fokus pada perusahaannya. Namun, sekarang masalah di perusahaannya sudah selesai. Tiba saatnya ia berusaha mencari Shafira, tapi justru ia tidak bisa menemukannya. Termasuk Riyan, sahabatnya yang tergolong paling dekat dengan perempuan itu juga ikut menghilang.
“Apa yang dia katakan padamu, Essan?”
“Dia hanya mengatakan apa yang akan dilakukannya, untuk sementara dia akan tinggal di rumah kedua orang tuanya, dan mungkin dia akan mengasingkan diri untuk menenangkan hati. Perceraian tidak mudah baginya meski itulah yang ia inginkan. Setelah itu, barulah ia menyusun masa depannya lagi!”
“Oh, pantas saja nomornya tidak bisa dihubungi, mungkin ini adalah salah satu caranya untuk mengasingkan diri!”
“Apa?” Ardan balik bertanya.
“Kalau menurutku, itu artinya dia tidak mengandalkanmu, buktinya setelah bercerai dari suaminya, dia tidak mendatangimu, lalu menangis sepuasnya di pelukanmu, tidak kan?”
Ardan diam memikirkan ucapan Essan yang benar adanya. Semula ia berharap jika Shafira sedih, maka dirinyalah yang akan menjadi tumpuannya. Namun, ternyata pesan terakhir yang dikirimkan Shafira kepadanya, seperti sebuah isyarat.
“Ardan, maafkan aku sudah sering merepotkanmu dan terima kasih atas segala yang sudah kamu lakukan untukku, mungkin aku akan pergi jauh dan aku tidak ingin merepotkanmu lagi, semoga kita bertemu saat semua sudah baik-baik saja. Kita teman selamanya!”
Itulah yang terakhir kali ditulis Shafira sebelum nomor teleponnya tidak bisa dihubungi. Semula, Ardan bingung dengan maksud dari pesannya ini, hingga ia ingin bicara langsung dengannya. Namun, Essan sudah memberinya pencerahan bahwa, itu artinya Shafira tidak membutuhkan dirinya.
Ia tersenyum pada dirinya sendiri. Sebagai seorang laki-laki yang tidak dominan dalam perasaan, ia mulai berpikir dengan cepat. Sudah waktunya ia merubah jalan pikirannya tentang Safira. Mereka bersahabat dengan baik, merasa bahagia saat sahabatnya bahagia. Begitu pula dengan Shafira, ia akan bahagia, jika Shafira juga bahagia, itu saja sudah cukup.
“Ar, Ardan!” panggil Essan yang melihat Ardan termenung.
__ADS_1
“Ya!”
“Jangan putus asa! Masih banyak perempuan lainnya yang bisa kau jadikan pengganti Shafira, istriku punya teman baru, apa kamu mau berkenalan dengannya? Dia gadis bermata biru!”
“Apa dia sekarang ada di sini?” tanya Ardan yang tiba-tiba menjadi antusias.
“Ya, sebentar ... aku akan memperkenalkan mu padanya!”
“Cepatlah! Aku sudah tidak sabar lagi untuk berdansa!”
Essan mengenalkan seorang gadis berkulit eksotis dan bermata biru pada Ardan, mereka akrab dengan cepat. Baik Mariana dan juga Essan, merasa ikut bahagia dengan kedekatan dua sahabat mereka.
Essan sengaja membuat video acara pestanya, termasuk saat Ardan berdansa dengan kenalan barunya. Lalu, ia mengunggahnya di media sosial. Pada saat yang bersamaan, ia melihat video yang diunggah oleh Riyan. Dalam video itu menunjukkan suasana pantai yang sejuk, sedangkan ibu dan anak-anaknya bermain bersama di sana.
“Semoga kamu bahagia di sana, teman!” gumam Essan sekaligus memberi komentar yang sama di video yang baru saja diunggah oleh Riyan.
Setelah itu, Essan menutup teleponnya dan meletakkannya di meja. Lalu, ia menyusul Ardan di lantai dansa dan berdansa dengan istrinya.
Sementara di pantai Anyaman, Riyan melihat-lihat video yang baru saja diunggahnya di media sosial miliknya. Sudah lama sekali ia tidak pernah mengisi akunnya itu dengan sesuatu yang menarik.
Ia berniat membuat video lain guna merekam kesibukan Zian dan Zain bermain istana pasir. Namun, saat ia mengarahkan kameranya, ia menangkap sebuah bayangan manusia di kejauhan. Ia mendekatkan bidikan kamera dan membesarkan fokus lensanya.
“Shafira?” katanya sambil meletakkan telepon genggamnya di dekat Renata. Lalu, ia berlari ke arah di mana matanya hanya tertuju kepadanya.
“Hai! Riyan! Kamu mau ke mana?” teriak Renata saat melihat Riyan berlari menjauh.
“Tunggu sebentar, Bu! Aku akan mengambil berlianku!”
Ucapan Riyan, membuat ibu paruh baya itu berpikir keras, sambil terus memperhatikan ke mana arah anaknya berlari mencari berlian yang ia maksudkan itu.
__ADS_1