Air Mata Shafira

Air Mata Shafira
Bab 9


__ADS_3

“Apa?” Shafira terkejut mendengar usulan yang disampaikan oleh Wulan. Baginya itu sangat tidak masuk akal. Dia tahu baju yang dikenakan wanita itu bukan sembarangan, sedangkan sekarang ia tidak mendapatkan penghasilan. Bagaimana mungkin ia bisa menggantinya.


“Bukankah hanya air teh biasa, itu mudah dibersihkan!” Kata shafira mencoba memberi penjelasan.


“Apa kamu tahu pakaian apa yang dikenakan oleh Tante Lisa? Apa kamu meremehkan beliau, hah?” bentak Wulan, sok berkuasa, karena merasa jika dirinya adalah nyonya rumah di sana.


“Cukup, Wulan! Biar aku saja yang memberinya pelajaran!” kata Erick sambil menarik tangan Shafira secara paksa dan cukup kasar.


Erick menarik tangan Shafira melewati dapur, menuju ruang terbuka di bagian belakang rumahnya.


“Apa kamu sengaja melakukan kecerobohan untuk mencari perhatian, hah?” bentak Erick begitu sampai di sana.


Ia menjambak rambut istrinya dengan kuat hingga kepala wanita itu, mendongak ke belakang. Shafira meringis menahan sakit dan panas di kulit kepalanya.


“Tidak! Bukan aku yang melakukannya tapi istri keduamu-lah pelakunya!” kata Shafira ia memberanikan diri untuk bicara, karena sekarang hanya ada dirinya dan suaminya di tempat itu.


“Apa? Jadi sekarang kamu mau memfitnah Wulan lagi? Sudah jelas-jelas salah masih tidak tahu diri!”


“Erick! Aku benar ... aku tidak melakukannya! Tapi istri keduamu itu yang sudah menyenggol tanganku!”


“Dia bohong!” tiba-tiba sebuah suara menyela ucapan Shafira hingga Erick menoleh padanya. Tampak Wulan sudah berdiri dengan berkacak pinggang, di pintu ruang belakang.


“Kamu yang bohong!” seru Shafira, dengan susah payah ia menoleh ke arah Wulan, karena posisi kepalanya yang tengah dipegang oleh Erik.


“Oh jadi kamu sekarang berani memfitnahku? Lalu, apa buktinya?” teriak Wulan dengan pongah, tapi ia memalingkan muka menyembunyikan wajah dustanya.


“Sudah, cukup! Aku tidak mau berdebat lagi soal ini, buat kamu Shafira ... sebagai hukumannya, kamu tidak boleh makan apa-apa lagi hari ini! Apa kamu mengerti? Wulan, ayo temani ibu dan tanteku lagi!” kata Erick sambil melepaskan pegangannya dari rambut Shafira hingga beberapa helai rontok di tangannya.  


“Keterlaluan sekali kamu Erick! Apa kamu tidak punya hati? Tega-teganya kamu melarang makan istrimu sendiri, aku tidak bersalah!” kata Shafira masih berusaha membela dirinya.


Plak!


Bukan ampunan dan kasih sayang yang Shafira dapatkan, melainkan tamparan untuk ketiga kali di pipinya.


Setelah itu, Erick menggandeng tangan Wulan dan kembali ke ruang tamu.  


Wulan melemparkan senyum sinis ke arah Shafira menunjukkan kemenangannya.

__ADS_1


Tak lama setelah mengobrol dan menyampaikan doa, Lisa--saudara Mirani itu pamit pulang, untuk kembali ke negara tempat tinggalnya selama ini.


Erick, Wulan pun pergi mengantarkan tantenya ke Bandara. Mirna tetap berada di sana, untuk sementara waktu ia memutuskan untuk tetap tinggal di rumah anaknya. Ia enggan pulang, karena masih kesal dengan Resno suaminya.


“Heh! Shafira, ngapain kamu di sana?” Mirna bertanya pada menantunya yang duduk diam seorang diri di halaman belakang, “Ayo! Sini pijitin Mama! Cepat!”


Shafira mendongak sambil mengusap air mata, ia melihat ibu mertuanya berdiri sambil berkacak pinggang dan melotot padanya.


“Ayo cepat! Apa kamu mau ditambah lagi, hah?” tanya Mirna sambil menendang betis Shafira dengan ujung sepatunya yang runcing.


“Baik, Ma!” sahut Shafira sambil berdiri tiba-tiba ia meringis dan melihat ke arah kakinya yang ternyata berdarah. Namun, sekali lagi ia mengabaikan rasa sakitnya.


“Apa tamunya sudah pulang?” Shafira bertanya saat mereka melewati ruang tamu yang kosong.


Shafira berjalan di belakang Ibu mertuanya, menuju ke kamar tamu, di mana Mirna akan beristirahat. Ia menuruti perintah Mirna untuk memijat tubuhnya,  


“Kamu ini, memalukan saja! Jangan ulangi perbuatan seperti itu lagi, kamu harus belajar bagimana memuliakan tamu! Apalagi itu tamuku atau tamunya Erick! Mereka semua orang berkelas, mengerti?”


“Iya, Ma!”


“Apa kamu sudah hamil?” tiba-tiba Mirna bertanya di luar dugaan Shafira. Ia tidak menyangka jika sang ibu mertua bertanya soal kehamilannya, sebab Ia pikir keluarga itu tidak mengharapkan keturunan dari dirinya.


“Apa kamu mandul? Dasar wanita sial! Menyesal aku menuruti ibumu untuk menikahkan anakku, kalau kamu mandul!”


“Nanti, saya akan periksa dulu, Ma!”


“Awas kalau kamu tidak bisa membuktikan untuk memberi keturunan!”


“Ma, bukankah suami istri punya keturunan atau tidak itu juga sudah takdir Tuhan?” Shafira tidak merasa kalau dirinya bisa hamil, karena ia tidak pernah menikmati hubungannya dengan sang suami. Erick selalu saja kasar dan menganggap tubuhnya adalah pelampiasan.


“Memang tahu apa kamu soal takdir?” kata Mirna ketus.


Lalu, ia berkata dalam hati, tidak ada orang yang bisa mendengar kecuali dirinya sendiri, “Kalau kamu bisa melahirkan dan punya anak, itu menjadi bukti kalau anakku Erick menyayangimu sebagai istri, menjadi bukti di depan hukum, dan di hadapan arwah ayah dan ibumu, kami sudah bertanggung jawab padamu sesuai perjanjian dulu!”


Mirna masih terus meminta untuk dipijat Shafira, dan ia tidak berhenti sampai lebih dari satu jam lamanya. Namun, akhirnya Ibu mertuanya pun tertidur.


Kesempatan itu ia gunakan untuk pergi ke rumah sakit, karena luka di kakinya tidak berhenti mengeluarkan darah. Apalagi ia merasakan tubuhnya bermasalah, sedikit pusing dan tidak enak badan. Ia pergi sendiri ke sana.

__ADS_1


“Bu Shafira, sebaiknya Ibu melakukan tes karena saya curiga kalau Ibu ini sedang hamil!” kata dokter yang memeriksa tubuh Safira.


Ia sengaja pergi ke bagian poli umum saja, karena hanya berniat mengobati luka-luka yang ada di tubuhnya saja. Kebetulan obat pereda terasa sakit dan, salep kulit untuk menghilangkan bekas lukanya sudah habis.


“Tapi, apa luka di kaki saya tidak masalah, Dok?”


“Sebenarnya akan jadi masalah kalau tidak segera diobati,  kalau terlambat sedikit saja, maka luka ini bisa jadi infeksi! Bu, kenapa bisa seperti ini? Sepertinya itu luka lama yang belum sembuh tapi sudah terkena luka baru lagi?”


“Iya, benar, Dok! Saya tidak sengaja jatuh tadi!”


Dokter hanya tersenyum menanggapi, sambil menuliskan beberapa resep.  


Lalu, Shafira pamit setelah menerimanya. Ia akan segera menebus resepnya di apotek. Ia berjalan dengan gontai sambil merapatkan jaket tebal yang dikenakannya. Ia sengaja memakai pakaian musim dingin itu untuk menutupi lukanya. Celana panjang pun ia pakai juga, untuk menutupi luka yang baru saja di perban oleh suster, saat pemeriksaan.


“Shafira?” panggil seseorang di belakang Shafira saat wanita itu baru saja keluar dari apotek. Ia pun menoleh ke arah sumber suara.


“Ardan?” sahutnya setelah berhasil mengatasi rasa terkejutnya. Ia tidak menduga kalau akan bertemu dengan pria itu di sana.


“Kenapa kamu di sini? Kamu sakit?” Ardan bertanya penuh perhatian sambil menyentuh kening Shafira dengan punggung tangannya. Ia memang merasakan hangat di sana. Apalagi, melihat kedua pipi Shafira yang tampak kemerahan hingga Ia berpikir wanita itu benar-benar dalam keadaan yang mengkhawatirkan.


Tiba-tiba secara refleks Ardan pun memeluknya, sikapnya itu terdorong oleh rasa kasih sayang yang muncul begitu dalam di hatinya.


Shafira segera melepaskan pelukan itu penuh dengan rasa takut, ia khawatir jika ada orang lain atau suaminya sendiri yang melihatnya dipeluk laki-laki lain di tempat umum. Walaupun kehangatan ia rasakan dari pelukan Ardan, tapi dengan berat hati ia harus menolaknya karena ia harus menjaga harga dirinya.


“Ardan lepaskan aku!”


“Kenapa? Kita teman dan kita hanya berpelukan. Apa itu salah?” kata Ardan mencari pembenaran, seraya melepaskan pelukannya.


“Ardan, pertemanan kita tidak salah, tapi yang salah adalah kamu peluk aku sembarangan, ini tempat umum! Apa kamu tidak malu?”


Sementara waktu, hanya itu alasan yang bisa diungkapkan Shafira kepada Ardan. Ia tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya kalau ia sudah diperlakukan secara kasar oleh sang suami.


“Shafira, aku ingin kamu jujur, kamu sakit apa? Aku peduli padamu, dan tidak bermaksud apa-apa! Menolong sesama teman, apa itu dilarang?”


“Tidak di larang, tapi—“


“Tapi apa, Shafira?”

__ADS_1


“Ardan, aku tahu kamu peduli, tapi Aku tidak tahu, bagaimana harus membalas budi ... kedua orang tuaku sudah tidak ada! Aku sudah tidak punya apa-apa lagi!”


“Kalau begitu, jangan menganggap kebaikan sebagai sesuatu yang harus di balas! Apa itu tidak bisa?”


__ADS_2