Air Mata Shafira

Air Mata Shafira
Bab 42


__ADS_3

Setelah cukup lama mereka berbicara dan pada akhirnya Riyan mengajak Shafira untuk menemui kedua anak nya beserta sang Mama.


Setelah Riyan kembali dan ternyata kedua anaknya sudah kembali ke penginapan, hingga pada akhirnya Shafira mengikuti Riyan untuk kembali ke penginapan.


Setelah beberapa saat mereka berjalan melewati beberapa penginapan, hingga akhirnya sampai di tempat yang di tuju, Riyan membuka pintu dan mempersilahkan Shafira untuk masuk.


Kedua anak kecil yang baru saja berganti pakaian, tercengang melihat perempuan yang datang bersama sang Ayah. Meskipun Shafira sudah lama tidak bertemu dengan mereka akan tetapi dua anak kecil itu masih mampu mengingat Shafira dengan jelas.


Zain langsung berlari ke arah Shafira dan memeluk perempuan yang di anggap sebagai ibunya.


"Ibu, kenapa lama sekali tidak menemui kami" kata Zain dengan wajah sendu.


Shafira berjongkok dan men-sejajarkan tubuh nya dengan anak kecil, lalu menangkup kedua pipinya.


"Sekarang Ibu datang untuk menemui kalian" jawab Shafira sambil tersenyum lalu mengusap lembut pipi Zain.


"Dia itu bukan ibu kita, jangan panggil perempuan lain dengan sebutan ibu. Nanti dia pergi meninggalkan kita seperti ibu" kata Zian dengan suara lantang.


"Kenapa bicara seperti itu? " tanya Riyan, sambil menatap lekat wajah sang Putera yang terlihat cemberut.


"Benar kan, Ayah dia itu bukan ibu kita. Buktinya lama pergi, dia nggak mikirin perasaan kita " anak kecil itu terus berbicara hingga akhirnya Riyan pun diam.


"Apakah kamu tidak merindukan ku? Ayolah peluk aku yang rindu sekali dengan kalian! " ucap Shafira sambil mengulurkan tangan yang satunya agar Zian mendekati nya.


Ia sangat tahu betul perkataan Zian itu bentuk kekecewaan nya terhadap Shafira yang sudah lama pergi tanpa mengunjungi nya. Kedua anak kecil itu sudah terlalu nyaman dengan kehadiran Shafira di antara mereka, dan Zian sangat kecewa terhadap Shafira yang meninggalkan nya begitu saja.


Zian pun dengan malu-malu mendekati Shafira lalu mereka berpelukan, untuk melepaskan rasa rindu mereka terhadap sosok seorang ibu.


Waktu bergulir begitu cepat, siang telah berganti dengan sore. Kedua anak kecil sudah tertidur, mereka kelelahan setelah bermain di pantai di tambah lagi bertemu dengan Shafira.


Renata mengucapkan banyak terimakasih terhadap Shafira yang telah di direpotkan okeh kedua cucunya, akan tetapi sama sekali tidak merasa di direpotkan karena ia sangat suka dengan anak kecil.

__ADS_1


Malam ini acara pesta ulang tahun pernikahan orang terkenal di kota ini, Shafira datang lebih awal dengan tujuan ingin berlibur terlebih dahulu agar tidak terlalu capek juga saat menghadiri acara tersebut.


Acara nya sudah pasti banyak tamu yang datang, secara mereka juga pemilik perusahaan terbesar di kota ini.


Shafira juga merasa minder hadir di acara tersebut, secara dia tidak mengenal siapa pun selain Mira yang mengundang dirinya.


"Nanti malam mau pergi ke mana? " tanya Shafira terhadap Riyan.


"Nggak ke mana-mana, memang nya kenapa? " tanya balik Riyan.


"Nanti malam ada undangan di acara ulang tahun pernikahan dari salah satu pelanggan di boutique, tapi aku malu untuk hadir karena dia itu orang yang sangat terpandang. Sudah pasti banyak tamu yang hadir di acara itu, apakah bersedia pergi ke acara tersebut dengan ku? "


"Dengan senang hati aku bersedia untuk datang ke acara tersebut bersama mu" jawab Riyan dengan wajah yang di penuhi rasa kebahagiaan, ia merasakan bahwa ada sinyal kebaikan untuk hubungan mereka ke depan nya. Bukan hanya sekedar teman saja.


"Terimakasih sudah bersedia ikut bersama ku, kalau begitu aku pamit untuk kembali ke penginapan dan istirahat sebentar. Nanti aku hubungi kamu! " ucap Shafira sambil bangkit dari duduknya.


"Boleh kah aku mengantar mu sampai ke penginapan? "


"Tidak perlu, lagian tidak jauh ko dari sini" jawab Shafira sambil tersenyum tipis.


"Ok! Aku pamit dulu" ucap Shafira, setelah itu ia melangkah kan kakinya dengan perlahan meninggalkan Riyan yang masih berdiri menatap kepergian nya.


Setelah Shafira pergi jauh dan tidak terlihat dari pandangan nya, ia kembali masuk ke dalam penginapan.


"Apakah butuh dokter jantung, untuk memeriksa keadaan jantung mu sekarang. Mama rasa ada masalah" kata Renata sambil melirik ke arah sang Putera yang baru saja masuk dan duduk di sofa yang berhadapan dengan sang Mama.


"Soal itu, Mama jangan khawatir jantung ku masih cukup sehat dan tidak membutuhkan dokter ahli jantung karena dokter ku sudah kembali" jawab Riyan tanpa rasa malu terhadap sang Mama.


"Apakah sekarang kamu bahagia bertemu kembali dengan Shafira? " tanya sang Mama.


"Tentu! aku sangat bahagia"

__ADS_1


"Hati-hati ketika mendekati nya, tidak mudah bagi Shafira untuk sembuh dari trauma yang pernah di alaminya. Terkadang orang seperti Shafira tidak membutuhkan sosok laki-laki atau tidak percaya lagi dengan laki-laki. Karena menganggap bahwa semua laki-laki sama saja, kamu juga harus mempersiapkan diri untuk penolakan dari Shafira nantinya" kata Renata sambil menatap lekat wajah sang Putera.


"Aku akan mendekati nya dengan perlahan, tidak akan memaksakan Shafira juga. Tapi harus ada usaha juga, kali. Ma...! " kata Riyan.


Setelah mendengar perkataan sang Mama, ia jadi ragu. Bagaimana kalau yang di omongkan sang Mama itu benar bahwa Shafira masih belum sembuh dari trauma nya. Kecil harapan nya untuk mendapatkan Shafira, padahal ia sudah menunggu sejak lama.


"Mama hanya menginginkan mu, agar nantinya siap dengan penolakan" kata sang Mama, setelah berbicara seperti itu. Renata bangkit dari duduknya dan meninggalkan Riyan yang masih duduk dengan pandangan lurus ke depan.


...****************...


Waktu bergulir begitu cepat, terlalu singkat jiga di gunakan untuk hal yang tidak penting.


Riyan sudah berada di depan pintu penginapan Shafira, laki-laki itu terlihat sangat gagah meskipun usianya sudah kepala tiga. Tidak kalah dengan opa-opa Korea yang banyak di gemari emak-emak jaman sekarang.


Setelah cukup lama Riyan menunggu, akhirnya Shafira keluar dengan mengenakan dres selutut hasil desain nya sendiri. Sederhana tapi sangat cantik ketika di kenakan oleh orang yang pas. Entah itu kebetulan atau apa, warna kemeja Riyan senada dengan dres nya Shafira sehingga mereka terlihat sangat serasi.


Riyan masih bengong karena terpaku oleh kecantikan Shafira, hingga akhir ia tersadar oleh perkataan Shafira.


"Mau di sini saja atau pergi sekarang? " kata Shafira sehingga berhasil membuyarkan Riyan yang sedang bengong karena terpesona oleh kecantikan Shafira.


"Eh, iya. Pergi sekarang yuk, mungkin acaranya juga sebentar lagi mulai" jawab Riyan.


Akhirnya mereka berdua pergi dengan berjalan kaki, karena tempat acara tidak jauh dari tempat mereka menginap.


Setelah beberapa saat mereka sudah sampai di tempat pesta, dan ternyata benar saja. Para tamu undangan yang hadir sungguh luar biasa, Shafira tidak mengenal siapa pun di tempat ini. Dari penampilan tamu sudah terlihat dengan jelas bahwa yang mengadakan pesta bukanlah orang biasa. Tanpa sadar Shafira menegang tangan Riyan, ia gugup di kala berada di tempat ramai seperti ini.


"Apa yang terjadi? " tanya Riyan saat merasakan tangan nya di pegang kuat oleh Shafira.


"Lebih baik kita pulang lagi, yuk! rasanya tidak pantas berada di antara mereka" kata Shafira dengan nada bicara lembut.


"Kenapa bicara seperti itu, kita semua manusia. Tidak ada yang beda, ayok masuk! " Riyan.

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam gedung, Shafira tidak fokus matanya melihat ke sekeliling ruangan untuk mencari sang pemilik pesta. Akan tetapi tiba-tiba ada perempuan yang menabrak nya.


"Apa kamu tidak punya mata? jalan tuh pakai mata" kata perempuan itu dengan sedikit berteriak.


__ADS_2