Air Mata Shafira

Air Mata Shafira
Bab 13


__ADS_3

Shafira saat ini benar-benar merasakan perubahan di dalam tubuhnya, tapi ia bersikap seolah-olah dirinya baik-baik saja. Semua ia niatkan hanya karena ingin tetap berbakti pada suaminya.


Seperti saat Wulan kembali dan melemparkan beberapa pasang sepatu, ke hadapan Shafira. Ia sengaja mengambil sepatu-sepatu itu di gudang rumah orang tuanya untuk di bersihkan oleh Shafira.  


Mirna yang mengetahui hal itu pun diam saja sementara Erick, tidak melakukan apa-apa.


“Cuci semuanya! Awas kalau tidak bersih, aku pasti bilang sama Erick kalau kamu kerjanya cuma malas-malasan saja!”


Dalam hati Shafira memikirkan tentang balasan seperti apa yang akan didapatkan Wulan kelak karena telah berbuat sekejam ini padanya. Memang, ia bisa menjadikan Erick sebagai senjatanya untuk menyiksa Shafira tetapi, hidup tidak akan selalu mulus seperti perkiraan manusia.


Shafira melakukan semua keinginan Wulan dan menyelesaikan pekerjaan itu sampai selesai. Tentu saja Ia tetap menahan mual dan rasa sakit lainnya, dengan sekuat tenaga.


Masih ada harapan untuk kehidupannya menjadi lebih baik. Masih ada cinta dalam hati Shafira untuk suaminya.  


Sementara itu di kamarnya, Mirna dan Wulan sudah bersiap-siap hendak pergi belanja ke mall pusat kota. Acara mereka kali ini sekaligus menghadiri pertemuan sosialita yang sudah mereka sepakati sebelumnya.  


Dahulu, sebelum Wulan menjadi bagian dari keluarga Resno Danu Praja, mereka sudah sering bertemu untuk acara sosialita seperti itu. Setelah menjadi menantunya Mirna lebih membanggakan Wulan dalam berbagai aspek. Ia memang keturunan dari keluarga yang sederajat dengan keluarga Danu Praja.


“Ayo, Ma! Kita berangkat sekarang?” kata Wulan setelah ia memakai sepatu hak tingginya. Begitu cantik dengan balutan busana mewah dan elegan keluaran merk ternama. Rambutnya dibentuk curly dengan riasan wajah yang biasa ia gunakan.


“Ayo! Wah, kamu cantik sekali, tidak salah Mama memilih kamu jadi menantu!”


“Ah, mama bisa aja ... kita berdua ini sama-sama cantik kan Ma?”


“Kamu, ini Wulan! Selalu saja pandai memuji Mama, makanya Mama senang kamu jadi menikah dengan Erick, daripada anak kampungan itu!”


“Iya, aku tahu Ma ... sudahlah ayo! Kita berangkat, buat apa juga mikirin si Upik Abu!”


Dua wanita itu turun dari tangga beriringan sambil membawa tas tangan branded milik mereka. Wulan memakai salah satu koleksi LV kesukaannya. Sangat serasi dengan warna baju dan sepatunya.


Saat tiba di lantai dasar, dua wanita itu melihat Shafira yang sibuk di dapur, ia terlihat sedang sibuk memasak.  


Wulan tersenyum smirk di sudut bibirnya sambil terus melangkah keluar. Dalam benaknya berkata jika Shafira akan selamanya menjadi pembantunya, dan Erick akan selamanya mencintainya.  

__ADS_1


Hari ini Erick sudah pergi ke kantor, tanpa menyapa istri pertamanya itu. Bahkan, setiap malam Erick selalu tidur bersamanya. Wulan merasa puas karena ia berhasil membuat Erick terlena tanpa memikirkan Safira.


Wulan mengendarai sendiri mobilnya dan Mirna bersamanya duduk di samping kursi kemudi. Mereka bercakap-cakap membicarakan rencana setelah selesai arisan dengan teman-teman mereka.


Setelah acara selesai dan mereka sudah puas berbelanja,  Miran kembali ke kediamannya sendiri. Resno—suaminya, menghubunginya dan memintanya untuk pulang saat itu juga. Mau tidak mau ia pun pulang, daripada harus menghadapi kemarahan sang suami. Lagi pula ia sudah cukup lama tinggal bersama putranya.


Wulan pulang dengan mengendarai mobilnya seorang diri. Ia menurunkan semua belanjaannya dari dalam bagasi sebelum masuk ke rumah. Ia ingin sekali agar Shafira keluar dan membawa semua belanjaan itu ke kamarnya.


“Shafira! Sini kamu!” teriaknya.


Sekian lama menunggu ia tidak melihat Shafira keluar juga, akhirnya Wulan pun kembali berteriak.


“Shafira! Kamu ada di dalam, kan? Sini kamu!”


Perempuan itu tidak sabar dan ia pun masuk untuk mencari Shafira, tapi ia terkejut melihat Erick—suaminya, sudah ada di rumah. Rupanya laki-laki itu pulang lebih cepat. Saat ini ia tengah berbicara dengan Shafira berdua, di ruang tamu rumah mereka.


Wulan mendengar dengan jelas pembicaraan Shafira yang meminta izin pada Erick, untuk pergi ke makam kedua orang tuanya.


Tempat itu cukup jauh dari rumah mereka dan lebih dekat ke kampung Shafira. Tiba-tiba Wulan ingat bahwa, Erick pernah marah karena mengetahui istri pertamanya itu sedang berdua dengan seorang pria.  


Akhirnya Wulan mendekat untuk ikut campur dengan urusan dua orang yang saling berbicara di hadapannya.


“Sayang, kamu sudah pulang aku habis belanja banyak, loh!” katanya, seraya melirik Shafira yang duduk berseberangan.


Wulan juga duduk sambil memeluk lengan Erick yang di sampingnya.


Erick menoleh dan bertanya, “Mana Mama?”


“Mama pulang, tadi Papa telepon nyuruh Mama ke sana!” Wulan berkata sambil mencium pipi Erick sekali lagi ia melirik Shafira dengan penuh kemenangan.


Shafira menunduk lalu memalingkan pandangan, ia tidak ingin melihat hal ini terus-menerus dilakukan Wulan dengan sengaja. Biar bagaimanapun juga, ia adalah seorang istri dari Erick. Wanita mana yang kuat jika suami yang sudah ia nikahi, bercumbu di hadapannya dengan wanita lain.  


Shafira akhirnya pergi kembali ke kamarnya sendiri.

__ADS_1


“Oh, ya, Kalau tidak salah aku tadi dengar Shafira mau pergi ke makam orang tuanya?” kata Wulan setelah kepergian Safira.


“Ya, kamu tidak salah memang iya bilang kalau mau pergi ke sana besok!” sahut Erick datar.


“Makam itu kan, jauh ... lebih dekat ke kampung dia, Kalau tidak salah dia punya pacar di kampungnya, kan? Jangan-jangan itu cuman alasan biar dia bisa ketemu sama laki-laki itu!”


Seperti biasa Shafira selalu meminta ijin terlebih dahulu, untuk mengunjungi makam kedua orang tuanya, sebab sudah terlalu lama ia tidak datang ke tempat itu. Sebenarnya saat Wulan pergi tadi, Shafira sudah memasak makanan untuk bisa dimakan sama suami, kalau ia pergi. Selain itu, untuk bekal di perjalanan juga  


Namun, Wulan memprovokasi agar Erick tidak mengizinkan Shafira untuk pergi. Wanita itu juga berkata bahwa, istri pertama suaminya itu hanya mencari kesempatan untuk bertemu dengan selingkuhannya.


Sepertinya Erik cukup terpancing dengan omongan Wulan dan laki-laki itu pun berjalan ke kamar Shafira.  


Wulan mengikuti di belakangnya.


Brak!


Erick membuka paksa pintu kamar Shafira yang sebenarnya tidak terkunci. Saat itu Shafira sedang memasukkan beberapa barang ke dalam tas kecilnya. Seketika ia menoleh dan melihat Erick serta Wulan berdiri, sambil berkacak pinggang di depan pintu kamarnya.


“Ada apa, Mas? Apa kamu mau ikut juga berziarah di makam ibu?” tanya Shafira begitu polosnya matanya tampak bersinar ia berharap Erick akan ikut bersamanya.


“Jangan besar kepala kamu! Siapa yang mau ikut?” tanya Erick seraya bersungut-sungut.


“Aku pikir mas masuk ke sini tadi mau ikut ke makam ibu!” jawab Shafira.


“Jadi, kamu mau pergi juga?” tanya Erick dengan suara keras.


Shafira sudah berdiri dan bersiap melangkah ke pintu sambil membawa tas kecilnya.


“Iya, kan, saya sudah minta izin sama Mas tadi!” kata Shafira sambil terus berjalan ke luar kamar.


“Memangnya siapa yang izinin kamu?” Erick berbicara sambil menyeret tangan Shafira hingga gadis itu terjerembab ke lantai.


Wulan tampak gembira saat ia melihat Erick menyeret Shafira untuk masuk kembali ke dalam kamar.

__ADS_1


Erick terlihat begitu emosi dan mengambil kunci pintu, lalu pria itu membiarkan Shafira di dalam. Ia bertindak sangat cepat menutup pintu kamar serta menguncinya dari luar.  


“Mas! Buka pintunya! Lepaskan aku! Kenapa aku di kunci?”


__ADS_2