Air Mata Shafira

Air Mata Shafira
Bab 21


__ADS_3

“Menurutmu gimana Shafira bisa jatuh?” tanya Miran setelah kepergian anaknya ke rumah sakit.


“Entahlah, Ma, dia kan lagi sakit siapa tahu dia jatuh karena dia lemas!” kata wulan tanpa rasa bersalah.


“Iya juga, ya? Ayo, kita tidur saja! Mudah-mudahan wanita itu tidak bangun lagi!” kata Mirna dan Wulan sangat setuju akan hal ini.


****


Sementara itu di rumah sakit, Erick menunggu di luar ruang operasi dengan gelisah. Ia mondar-mandir ke sana ke sini, tapi ia bersyukur istrinya bisa segera ditangani, padahal malam itu sudah sangat larut.


Setelah lebih dari satu jam, akhirnya Shafira berhasil ditangani dan ia segera dibawa ke keluar dari ruang operasi. Lalu, ia di biarkan tidur di ruang rawat inap kelas VIP sesuai keinginan Erick.  


Sebuah kebetulan kalau dokter Riyan yang kembali menangani Shafira. Tentu saja ia terkejut, karena saat terakhir kali ia melihat di rumah Ardan, wanita itu baik-baik saja. Riyan menemui Erick dan bisa menebak jika laki-laki itu adalah suami Shafira seperti yang diceritakan Ardan padanya.


Riyan menatap Erick penuh selidik.  


“Apa Anda suaminya?” katanya Rian.


“Ya, bagaimana dengan istri saya Dok?” Erick balik bertanya.


“Syukurlah Anda cepat membawanya kemari jadi dia tidak perlu kehabisan banyak darah bagaimana itu bisa terjadi?” tanya Riyan, dia menyimpan kecurigaan.


Sebelumnya ia sudah mendapatkan laporan dari perawat yang membawa Shafira ke dalam ruang UGD, kalau perempuan itu terjatuh dari tangga.


“Entahlah! Saya juga tidak tahu karena saya masih tidur, kemungkinan dia terbangun karena haus, lalu ter-sepeleset ketika sedang membawa gelas air minumnya!”


“Kalau dia haus, kenapa dia tidak langsung minum ke dapur saja? Menurut saya itu aneh!”


Perkataan dokter Ryan membuat Erick juga curiga bahwa, ada unsur kesengajaan dengan jatuhnya Shafira. Namun, siapa yang bisa membuat hal itu terjadi, sedangkan Mama serta Wulan sedang tidur juga.


“Ya sudah, tidak perlu dipermasalahkan karena kita bukan polisi! Saya harap Shafira tidak banyak bergerak, dan Anda bisa menjaganya dengan baik ... karena selain di kepala, ada banyak luka di sekujur tubuhnya!”

__ADS_1


“Benarkah?” tanya Erick sedikit tidak percaya.


“Ya saya juga prihatin melihatnya! Oh, satu halo lagi belum saya sampaikan pada Anda!” kata dokter Riyan yang sebelumnya hendak melangkah pergi.


Ia membelikan badannya lagi menghadap Erick, “Saya turut prihatin juga atas kehilangan calon bayi anda karena kami tidak bisa menyelamatkannya!”


“Apa? Jadi Shafira hamil?” teriak Erick tidak percaya, rasa berdenyut dalam hatinya semakin terasa.


“Ya, istri Anda hamil! Memangnya Anda tidak tahu? Ya Tuhan ... suami macam apa Anda ini? Kami sudah memeriksanya dan usia kehamilannya itu lebih dari 6 minggu!” kata Riyan sambil menggelengkan kepala, lalu ia pergi meninggalkan Erick begitu saja.


Erick langsung terduduk lemas di kursi ruang tunggu di depan kamar Shafira. Ia kecewa pada dirinya sendiri, yang telah menyiksa istrinya secara bertubi-tubi. Ternyata beban berat yang ditanggung Shafira sungguh luar biasa.  


Kalau saja ia tahu Shafira sedang mengandung benihnya, mungkin ia tidak akan membiarkan sang ibu atau Wulan menyiksanya. Namun, sekarang nasi sudah menjadi bubur, ia tidak mungkin lagi memulihkan keadaan.


Erick memutuskan untuk tidur di sofa panjang yang ada di ruang rawat inap istrinya. Ia menunggu hingga Safira sadar kembali.  


Menjelang pagi, Shafira membuka matanya, dan setelah beberapa menit kemudian, barulah ia berhasil mengumpulkan kembali kesadarannya. Secara perlahan ia mulai mengingat kembali kejadian sebelum berbaring di tempat yang sangat asing.  


Ia ingat kalau tadi malam terjatuh dari tangga dan yang membuatnya heran, ia mengalami kejadian itu setelah Wulan memintanya naik ke kamarnya. Ia tidak mungkin terpeleset dengan mudah kalau tidak ada air di sana.  


Hatinya sempat berpikir buruk pada madunya itu. Terlepas dari benar atau tidakny prasangka buruk itu, segala kemungkinan tetap ada, kalau Wulan memang pelakunya.


Namun, hal yang mengharukan adalah, saat ia melihat Erick tertidur di sofa tak jauh dari tempat tidurnya.  


Namun, saat itu juga Shafira mulai bisa berpikir jernih. Ia membenarkan ucapan Ardan waktu itu, selama Erick tidak bisa bercerai dengan Wulan, maka ia tidak akan hidup dengan damai. Wanita itu akan selalu mencoba mencelakainya.


“Uuh ...!” Shafira melenguh pelan seraya menarik nafas panjang sambil memejamkan mata.  


Ia ingin kali ini nasib baik berpihak padanya, ia pulang hanya untuk menaati suami dan menghargai keinginan mendiang ibunya. Namun, yang ia dapatkan justru kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya.


Dalam hati ia berdoa untuk diberi ketetapan yang terbaik. Kali ini ia harus memastikan pada siapa Erick akan menjatuhkan pilihannya sebab bila ia terap bersama dengan Wulan, maka ia harus siap-siap kehilangan nyawa kapan saja.

__ADS_1


“Tidak, tidak, ini tidak boleh!” gumam Shafira lirih, membuat Erick terbangun.


Pria itu segera mendekati Safira Dan duduk di sisi berangkat tempat tidur istrinya.  


“Shafira, kamu sudah sadar, apa kamu baik-baik saja?” katanya sambil membelai pipi Shafira dengan lembut. Ia melihat miris ke arah kepala istrinya, ada perban yang cukup besar menutupi sebagian keningnya.


Shafira mengabaikan Erick, ia yakin kalau suaminya itu pasti akan memihak Wulan dan tidak akan percaya bahwa, Wulan-lah yang telah mencoba membuatnya terjatuh dari tangga.


Shafira membuka kembali matanya saat pintu kamarnya terbuka. Ia melihat Ardan berdiri di sana, yang menatapnya dengan terharu serta sedih.


“Ardan!” lirihnya.


Ardan berjalan dengan cepat ke sisi sebelah lain tempat tidur Shafira, ia membungkuk untuk memeluk wanita itu dan tidak peduli walaupun ada Erick yang menatapnya penuh dengan kebencian.


“Apa yang kamu lakukan? Dia istriku!” kata Erick penuh kemarahan, ia menarik tubuh Ardan dari Shafira.


Namun, saat tubuh Ardan hampir terlepas, justru Shafira yang memeluk pria itu dengan erat. Ia mengabaikan rasa sakit dari tangannya yang terdapat jarum infus.  


Shafira terluka dan sedih, yang membutuhkan kehangatan. Pelukan Ardan membuatnya merasa damai. Ia menangis di bahu laki-laki itu untuk menumpahkan segala kekecewaan dan kesedihannya.


Walaupun ada Erick, tapi ia enggan untuk memeluk suaminya itu. Hatinya seperti menolak untuk disentuh sebab setiap kali berdekatan dengan Erick, bukan kehangatan dan kasih sayang yang didapatkannya, melainkan caci maki dan penyiksaan yang sangat menyakitkan.


“Ardan, terima kasih kamu sudah datang!” kata Shafira di sela-sela tangisannya.


“Iya ... tenanglah! Aku ada Di sini untukmu!”


“Lepaskan istriku! Atau kau akan mendapatkan akibatnya! Ardan, kau tahu sebagian bisnis keluargamu ada di tanganku!” kata Erick yang hatinya telah terbakar oleh cemburu.


Di antara ketiga orang itu, tidak ada yang tahu jika ada sepasang mata yang memperhatikan mereka, dengan saksama dari ambang pintu.


Bersambung! Jangan lupa tinggalkan jejak ya!

__ADS_1


__ADS_2