
“Tidak ada, aku hanya bertanya,” kata Shafira menyembunyikan rasa sakit di hatinya seraya merahasiakan gugatan cerai yang akan dilayangkan pada Erick sebagai kejutan darinya.
Dalam hati Erick bertekad, akan mempertahankan dua istrinya itu bagaimana pun caranya. Ia akan menebus kesalahannya pada Shafira, tanpa melupakan jasa Wulan, sebagai wanita yang dicintainya cukup lama. Ia yakin akan bisa berbuat adil pada mereka. Mengingat ia memiliki cukup banyak harta dan bisa menafkahi dua istrinya lebih dari cukup.
Erick juga berpikir bahwa, Shafira tidak akan banyak menuntut karena selama ini ia mengenal istrinya itu sebagai gadis penurut.
Selain lemah lembut, Shafira juga cantik dan berhasil hamil dalam waktu singkat. Apalagi, ia tidak pernah melawan suaminya. Tentu istri seperti itu harus dipertahankan demi kebaikannya juga.
Alasan lainnya adalah, Shafira harus mempertahankan pernikahan mereka sebagai wasiat dari mendiang ibunya. Jadi, tidak mungkin istrinya itu akan menolak poligami yang dilakukannya.
Erick tersenyum tipis untuk dirinya sendiri. Beberapa rencana sudah tersusun di benaknya dan ia yakin pasti berhasil. Ia akan membagi tempat tinggal serta giliran malam-malam secara adil antara Wulan dan Shafira.
“Apa kamu mau makan sesuatu? Ada restoran yang cukup enak di sekitar sini, aku pernah makan di sana dengan Wulan,” kata Erick memecah kesunyian.
Mendengar nama Wulan disebutkan oleh Erick, Shafira tersenyum tipis dan membuang pandangannya ke luar jendela. Ucapan itu menunjukkan bahwa Erick masih mencintai Wulan, tanpa memikirkan perasaan wanita yang ada di sampingnya.
Tiba-tiba saja Shafira kembali mual dan hampir saja ia bersumpah tidak akan makan untuk selamanya.
“Aku tidak lapar!” jawab Shafira pendek.
“Apa kamu yakin?”
“Ya. Oh, iya, apa kamu tidak curiga pada Wulan?” kata Shafira, seraya menoleh pada suaminya.
Erick seketika menoleh sebentar, tatapan mereka sempat bertemu, lalu kembali fokus ke jalanan.
“Kenapa aku harus curiga padanya?” tanyanya heran, Erick sangat tidak peka pada perasaannya.
Shafira merasa suaminya dan Wulan, memang tidak bisa dipisahkan. Seharusnya, pria itu sadar kalau peristiwa yang di alami istrinya, tidak mungkin terjadi kalau bukan karena kesengajaan.
Dokter Riyan juga sudah mengisyaratkan secara eksplisit bahwa, Shafira tidak akan melakukan sesuatu malam itu kalau tidak terpaksa. Sungguh kejadian yang sulit dicerna oleh akal sehat.
“Apa kamu benar-benar mencintainya?” kata Shafira lagi sambil mengepalkan sebelah tangannya yang tidak terlihat oleh Erick.
__ADS_1
Erick diam dan fokus ke jalanan, ia tidak tahu harus menjawab apa sebab ia tidak bisa memilih di antara kedua istrinya. Ia membutuhkan Wulan juga Shafira di saat bersamaan. Ia tidak tahu apakah akan berlanjut untuk selamanya atau tidak. Namun, perasaan aneh pada Shafira yang muncul secara tiba-tiba membuatnya tak ingin berpisah.
Erick menyesali perbuatannya dahulu pada Shafira, dengan penyesalan yang sangat dalam. Bahkan, ia berusaha untuk menebusnya kalau bisa. Namun, ia sedikit gusar saat melihat sikap Shafira justru sedikit berubah dari sebelumnya. Hingga ia harus ekstra hati-hati untuk mendekati
Pria itu mengira karena Shafira mungkin terlalu kecewa setelah kehilangan cakon bayinya. Oleh sebab itu ia akan berusaha membahagiakan Shafira. Ajakan pertamanya untuk makan di restoran gagal, hingga Erick berniat membelokkan kendaraannta ke sebuah butik. Kebetulan, butik itu milik Renata--ibunya Riyan, yang notabene merupakan tempat Shafira bernaung mengirimkan rancangannya.
“Untuk apa kamu membawaku kemari?” tanya Shafira sebelum mesin mobil Erick mati.
“Ya mungkin saja kamu mau membeli pakaian beli saja yang kamu inginkan!”
Shafira termenung, tidak mungkin ia membeli dari beberapa rancangannya sendiri. Kebaikan Erick terasa begitu janggal, kenapa harus memulai memperhatikan dirinya sekarang, ketika ia ingin bercerai, dan setelah ia sudah membunuh calon bayinya sendiri, secara tidak langsung.
“Untuk apa, aku tidak ingin berbelanja, aku masih lelah. Lebih baik kita pulang saja!”
“Aku kira kamu bosan memakai pakaian yang itu-itu saja sejak kamu menikah denganku!”
“Oh, jadi kamu mulai memperhatikan pakaianku sekarang?”
“Ya, apa itu salahnya?”
“Baiklah!” kata Erick sambil menarik napas dalam dan ia kembali memajukan mobilnya ke jalan Raya. Iya kecewa karena Safira sudah kembali menolaknya dan gadis itu tidak lagi memanggil dirinya dengan sebutan ‘mas’ yang merupakan kehormatan baginya.
Akhirnya mereka kembali ke rumah dan Wulan menyambut kedatangan mereka di depan pintu. Ia ke luar setelah mendengar suara mobil suaminya yang memasuki halaman.
“Ah, kalian pulang juga akhirnya!” kata Wulan begitu Erick dan Shafira turun dari kendaraan mereka.
Shafira tidak menjawab, ia melangkah masuk sambil menepis tangan Erick dari pergelangan tangannya.
“Kamu tidak perlu memegang tanganku, aku bisa jalan sendiri! Apalagi ada istrimu di sini?” kata Shafira ia tidak ingin menambah masalah baru, dengan sepasang suami istri yang selalu kompak menyakitinya itu.
“Apa kamu baik-baik saja, Shafira?” Wulan bertanya dengan suara lembut dan terdengar begitu tulus.
“Seperti yang kamu lihat! Jangan kuatir, aku sudah tidak memiliki bayi lagi, seperti yang kamu harapkan! Jadi, kamu bisa bebas dengan Erick sekarang!”
__ADS_1
“Apa maksud kamu, Shafira? Teganya kamu menuduhku seperti itu?” kata Wulan hampir menitikkan air mata. Reaksi yang di luar dugaan Shafira.
Shafira awalnya heran dengan sikap memelas yang ditunjukkan Wulan, tidak arogan seperti biasanya. Akan tetapi ia tahu bahwa itu hanyalah akal-akalan Wulan saja, yang ingin mendapatkan simpati dari suaminya. Ia tidak akan tertipu untuk kedua kalinya.
“Oh, jadi kamu tidak berniat membuatku jatuh malam itu? Kalau begitu, maafkan aku! Aku hanya heran, dari mana asalnya air yang ada di tangga, padahal sebelumnya tidak ada apa-apa di sana!”
“Shafira ...! Aku sungguh-sungguh tidak melakukannya, tapi kalau kamu mengira seperti itu, bisakah kamu memaafkan aku?” kata Wulan lagi, kedua telapak tangannya menangkap di depan dada, memohon maaf dari rivalnya.
Shafira semakin heran saja, tidak biasanya Wulan bersikap lembut dan minta pengampunan darinya. Apa dunia sudah terbalik, pikirnya.
Shafira tersenyum dan menggelengkan kepala, “Tidak! Kamu tidak perlu minta maaf!” katanya sambil berlalu melewati Wulan begitu saja.
“Dasar wanita bermuka dua!” kata Shafira, setelah sampai di kamarnya. Ia merebahkan diri di kasur setelah menutup pintu dan tidak peduli, dengan apa pun yang terjadi di luar sana, antara Wulan dan suaminya.
Shafira mengambil telepon genggamnya yang tergeletak di atas nakas dan tidak tersentuh sejak ia pingsan, lalu tinggal di rumah sakit selama tiga hari. Ia mendapati benda pipih itu tidak menyala karena habis daya. Padahal ia ingin menghubungi dokter Riyan dan juga Ardan, untuk mengabarkan kepulangannya. Ia akan segera mengurus surat perceraiannya kalau sudah ada pengacara yang akan mendampinginya.
Tidak lama setelah Shafira mengusir daya baterai ponselnya, ia pun tertidur.
Sementara itu di ruang makan, Erick sedang menginterogasi Wulan tentang apa yang ia dengar dari Shafira barusan. Mereka duduk berhadapan dan saling bertukar pandangan dengan tegang
“Apa semua yang dikatakan Shafira itu benar? Kamu sengaja menumpahkan air di tangga agar dia keguguran?” tanya Erick, tanpa mempedulikan makan malam yang sengaja dimasak oleh Wulan dengan susah payah.
“Sayang, apa maksud ucapanmu? Apa kamu pikir aku seburuk itu? Aku juga tidak tahu kalau Shafira hamil! Aku saja baru tahu kehamilannya tadi, waktu dia bilang kehilangan calon bayi kalian!”
“Benarkah? Tapi kenapa Shafira seperti yakin sekali kalau tidak ada air di tangga tapi dia tiba-tiba terjatuh di sana?”
“Mana aku tahu, Sayang! Percayalah ... aku memang dulu sering ikut menyiksanya seperti yang kamu lakukan padanya, tapi aku melakukan itu karena aku cemburu dan aku juga tahu batasan serta hukum, aku tidak mungkin membahayakan diriku sendiri dengan mencelakainya hingga dia keguruan. Sayang ... aku dulu melakukan itu karena aku takut kehilanganmu!”
Wulan mengatakan semuanya dengan sungguh-sungguh dan matanya pun berkaca-kaca. Ia menghampiri Erick dan duduk di sampingnya. Lalu, mengusap bahu suaminya itu dengan lembut.
Erick diam saja, ia bersikap acuh tak acuh pada Wulan, sama dinginnya seperti sikapnya dulu pada Shafira.
“Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanyakan saja pada Mama, dialah saksiku satu-satunya kalau aku tidak pernah berbuat jahat pada Shafira di luar batas!” kata Wulan lagi penuh percaya diri.
__ADS_1
“Ke mana Mama sekarang?” Erick mengalihkan pembicaraan.