Air Mata Shafira

Air Mata Shafira
BAB 32


__ADS_3

“Ke mana Mama sekarang?” Erick mengalihkan pembicaraan.


“Mama pulang, soalnya Papa menyuruhnya pulang, mau ada acara makan malam di tempat relasi bisnisnya malam ini.”


“Oh!” sahut Erick sambil berdiri.


“Sayang, mau ke mana? Kamu belum makan, kan? Ayo makan dulu! Aku sengaja masak semua ini untuk kamu dan Shafira!” Wulan berkata sambil menahan tangan Erick agar mau menuruti ajakannya.


“Kamu masak sendiri hari ini?” tanya Erick seraya mengedarkan pandangan pada tiga menu makanan yang ada di atas meja, dengan tatapan tak percaya.


“Iya, coba saja!” kata Wulan sambil mengambilkan makanan itu ke dalam piring milik Erick yang sudah ia siapkan sebelumnya.


Erick tidak bisa menolak, selain karena memang lapar, ia juga ingin mencicipi seperti apa rasa masakan Wulan. Ia selama ini tidak pernah tahu kalau wanita pandai membuat makanan, apalagi sibuk di dapur pun tidak.


“Nah, kamu makan duluan, ya, Sayang! Aku mau panggil Shafira, dia pasti lapar juga!” kata Wulan seraya berjalan ke kamar yang biasa ditempati Shafira sejak dirinya tinggal di sana.


Ia mengetuk pintu kamar yang tertutup rapat itu, secara berulang-ulang.


“Shafira! Shafira! Ayo makan dulu! Kamu belum makan malam dan pasti lapar, kan? Aku sengaja masak buat kamu!” katanya dengan setengah berteriak, dan kepala yang mendekati daun pintu kamar Shafira.


Dalam hatinya muak, ia ingin sandiwaranya segera berakhir dan Shafira pergi dari rumah itu untuk selamanya. Walaupun, geram setengah mati, tapi ia harus bertahan sesuai saran Essan agar rencananya lancar tanpa perlu melakukan kekerasan. Perbuatan kasarnya dikhawatirkan akan membawa malapetaka yang bisa berujung pada kematian. Kalau itu terjadi dan Shafira tewas di tangannya, maka ia bisa berakhir di penjara. Oleh sebab itu, berpura-pura menjadi teman adalah yang terbaik.


Seandainya ia sudah berbuat baik dan Shafira celaka, maka namanya tidak akan tercoreng karena tidak akan ada orang yang percaya kalau dialah pelakunya.

__ADS_1


“Shafira! Ayolah! Makan dulu, aku sengaja masak sebagai permintaan maaf ... karena sikapku yang dulu padamu! Kamu mau, kan, memaafkan aku?” seru Wulan lagi sambil bersandar di pintu yang terkunci.


Sementara Shafira di atas tempat tidurnya, mulai membuka mata. Tiba-tiba saja kepalanya menjadi berat karena ia baru saja tertidur, tetapi ada suara berisik di pintu yang membuatnya terbangun. Ia mendengar suara Wulan yang mendayu-dayu merayunya untuk makan malam. Ia tidak percaya kalau wanita itu sengaja memasak untuk dirinya.


Namun, ia menjadi penasaran seperti apa rasa masakan Wulan. Ia pikir akan spesial, karena itu sebagai permohonan maaf. Ada keraguan di hati Shafira, apakah Wulan benar-benar berubah atau hanya berpura-pura. Akan tetapi, ia berniat untuk mengikuti permainannya saja, seandainya berpura-pura pun, ia tidak akan rugi. Shafira akan memanfaatkan kebaikan madunya itu agar bisa segera bercerai dari Erick.  


Erick menunjukkan perubahan sikap yang signifikan hingga ia akan sulit bila meminta sebuah perceraian. Apalagi kalau pria itu semakin lama semakin baik pada Shafira, maka wanita yang memiliki hati lembut itu, bisa berubah pendirian dengan mudahnya.


Shafira melihat telepon genggamnya yang sudah terisi daya, dan ia mulai menyalakannya. Iya keluar kamar sambil membawa benda pipih itu di tangannya.


“Shafira!” seru Wulan ketika Shafira sudah membuka pintunya lebar-lebar dan berdiri di sana, menatapnya sambil mengerutkan alisnya.


“Apa yang kamu bilang tadi Wulan, Apa benar kamu mau memasak untukku?” katanya.


“Ya, kamu boleh mencicipinya dengan Erick di sana, ayolah ... kamu pasti lapar, kan?” ujar Wulan lembut.


“Gimana, Shafira? Enak, kan?” tanya Wulan dengan wajah yang berbinar-binar.


“Ya, ini enak sekali, kamu pandai memasak rupanya?” jawab Shafira datar.


“Terima kasih kalau kamu menyukainya! Aku harap bisa terus memasak untuk kita semua!” seru Wulan, hanya ia sendiri yang tidak makan di sana.


“Benarkah kamu akan terus memasak untukku?” tanya Shafira penuh rasa tidak percaya, ia benar-benar akan memanfaatkan kebaikan Wulan ini untuk sementara.

__ADS_1


Jadi, sebenarnya antara dua wanita itu saling memanfaatkan satu sama lain, tapi mereka tidak mengutarakannya.


“Ya, kenapa tidak?” sahut Wulan penuh semangat.


“Baiklah! Kalau begitu, kalian harus bekerja sama mulai sekarang! Aku berjanji akan bersikap adil pada kalian dan aku harap kalian juga bisa saling berbuat baik. Aku ingin hidup dengan damai di rumah ini mulai sekarang!” kata Erick sambil mengusap bibirnya dengan tisu.


Erick sudah selesai makan, ia cukup puas dengan masakan Wulan. Ia tidak terlalu memperhatikan makanan apa yang dimasak oleh Wulan. Ia juga tidak bertanya, apakah istrinya benar-benar memasak atau memesannya di restoran.


Dua hati saling bergejolak mendengar ucapan Erick saat itu. Dua-duanya sama-sama menolak untuk dimadu dan hidup dalam satu rumah. Itu tidak mungkin.


Hidup berumah tangga tidak hanya untuk satu dua hari saja dan tidak mungkin selamanya akan bebas dari masalah keluarga. Terkadang, terpisah dari orang tua atau hidup sebatang kara saja, tetap ada masalah yang terjadi pada manusia. Apalagi, dua rumah tangga yang seharusnya terpisah, hidup dalam satu rumah, tentu masalah yang dihadapi akan lebih rumit lagi.


Erick pergi ke kamarnya meninggalkan Wulan yang membisu dan Shafira yang masih menghabiskan makanannya.  


Shafira terlihat biasa saja karena ia sudah berniat untuk tidak bertahan selamanya di sana.


Sementara Wulan yang tidak mengetahui niat Shafira, merasa gelisah karena sebenarnya ia ingin menyingkirkan wanita itu dari rumah suaminya. Namun, sikap Erick barusan memperlihatkan jika suaminya itu ingin bertahan dengan Shafira.  


Wulan tidak bisa mengutarakan keinginannya sekarang. Biar bagaimanapun juga, ia sangat mencintai Erick dan tidak akan berpisah dengannya. Oleh karena itu, ia akan melihat apa yang bisa dilakukan Safira, setelah mendengar keputusan suaminya.


“Shafira ...! Apa kamu setuju di poligami dan tinggal di sini, untuk selamanya, sampai memiliki anak?” Wulan bertanya, setelah melihat Shafira selesai makan. Ia penasaran dengan tanggapan madunya itu. Wajahnya terlihat pucat, tapi sinar matanya penuh pengharapan.


Safira menoleh pada wanita itu, sambil menyeringai, “Ya, kenapa tidak? Bukankah aku tahu dan membiarkan kamu menikah dengan Erick waktu itu? Kamu juga mau menikah walaupun, tahu Erick sudah memiliki aku? Jadi, kenapa kamu heran dengan pernyataan suami kita itu?” katanya sambil mengangkat kedua bahu.

__ADS_1


Wulan tidak bisa berkata-kata sebab semua yang diucapkan Shafira benar adanya. Pada awalnya ia sendirilah yang salah, karena setuju untuk melanjutkan rencana pernikahannya dengan Erick. Walaupun, suaminya itu sudah memiliki wanita lain dan dinikahinya secara sah.  


“Shafira, apakah kamu mencintai Erick?” Wulan bertanya ketika Shafira sudah beranjak dari tempat duduknya.


__ADS_2