
“Siapa dia, Shafira? Apa dia keluargamu?”
Suara orang itu mengagetkan Shafira dan sontak ia langsung menganggukkan kepala.
“Ya, dia Tanteku!” Shafira menjawab sambil mencolek tangan Renata dan mengedipkan mata padanya.
Renata wanita paruh baya yang sudah banyak menikmati asam garam kehidupan, hingga ia tahu apa maksud dari ucapan Shafira itu. Ia tidak tahu siapa lelaki yang baru masuk dan mengagetkannya. Akan tetapi--apa pun hubungan pria itu dengan Shafira--kedatangannya telah membuat Shafira berbohong tentang siapa Renata sebenarnya.
Renata bisa menyimpulkan dengan mudah kalau ada masalah yang tidak wajar di antara keduanya. Ia berdiri dan menyalami Erick. Pria itu baru saja selesai rapat dan langsung menuju rumah sakit. Ia teringat janjinya yang akan menjemput Shafira agar tidak kecolongan lagi oleh Ardan. Bisa saja laki-laki itu menjemput Shafira dan membawanya pulang ke rumah pribadinya.
“Halo, saya Renata, Tantenya Shafira, apa kabar?” tanya Renata ramah.
“Baik!” jawab Erick singkat, dan membalas jabatan tangan wanita paruh baya di depannya.
Erick merasa canggung, ia memang belum banyak mengenal saudara Shafira--istrinya, jadi wajar kalau ia tidak mengenal siapa Renata. Ia harus menahan malu seandainya Shafira menceritakan bagaimana kelakuannya selama ini pada saudaranya itu.
Selama ini Erick sudah salah, ia mengabaikan keberadaan saudara Shafira yang bisa menuntutnya. Bagaimana kalau mereka tidak rela ibunya tiada karena dirinya. Namun, jangankan soal saudara, apa kesenangan Shafira pun ia tidak tahu.
Erick menajamkan pandangannya dan ia sedikit ragu kalau Renata adalah benar saudara Shafira, karena pakaian dan penampilannya terkesan sangat berbeda. Ia begitu elegan dan gayanya tampak berasal dari kalangan atas seperti keluarganya.
“Apa Tante sudah lama di sini?” tanya Erick, sambil duduk di sofa dan meletakkan HP-nya di atas meja.
“Mas Erick! Kuharap kamu akan membiarkan Tanteku!” kata Shafira. Ia khawatir kalau Erick akan mengusir Renata karena tidak mengenalnya.
Renata tersenyum lembut pada Shafira dan Erick secara bergantian, ia pun berkata, “Aku sudah lumayan lama juga! Tapi, aku sudah mau pulang. Syukurlah Shafira sudah agak baikan. Aku titipkan padamu lagi, ya? Jaga dia baik-baik kali ini, jangan sampai dia sakit lagi!”
Nasihat Renata seolah mengenal baik hubungan Erick dan Shafira, padahal ia tidak mengetahui bagaimana keadaan suami istri itu kalau di rumah mereka. Wanita itu, hanya menggunakan instingnya yang tepat mengenai sasaran.
Erick sangat malu dengan nasihat Renata yang menohok dirinya. Ia tersenyum dan mengangguk.
“Tentu, maafkan aku! Aku akan menjaganya lebih baik kali ini!” sahut Erick membuat Shafira terkejut.
Jawaban Erick sungguh di luar dugaan Shafira, ia menduga perubahan Erick itu mungkin disebabkan oleh keberadaan Renata di antara mereka. Namun, bisa saja sikapnya berubah lagi kalau Renata pergi.
__ADS_1
Renata membawa dua cucunya yang masih asik bermain di pangkuan Shafira.
“Zain, Zian, ayo! Kita pulang sekarang, Sayang!” kata Renata sambil menyimpan tas di pundaknya.
“Ndak mau!” kata Zian, anak perempuan itu bergelayut manja pada Shafira.
Renata tercengang, sebab selama ini Zian tergolong susah beradaptasi dengan sembarang orang. Namun, Shafira terlihat berbeda, ia memberikan kasih sayang yang tulus pada anak-anak itu. Bukankah anak-anak biasanya mempunyai insting yang murni, hingga ia bisa merasakan mana orang baik dan orang yang hanya berpura-pura baik.
“Zian! Apa kamu tidak lihat, Om Erick sudah datang dan Tante Shafira akan pulang!” Renata mencoba membujuk.
Shafira merasakan kehangatan di hati dan tubuhnya karena pelukan Zian di lehernya. Ia merasakan kedamaian dalam sebuah keluarga.
“Tante, biarkan mereka di sini sebentar lagi, ya?” pinta Shafira, “Gimana, bolehkan, Mas? Mereka ini sudah tidak punya Ibu, sepertinya mereka merindukan kasih sayang seorang ibu!”
Shafira berkata seperti itu bukan tanpa alasan, ia tahu sedikit tentang Zain dan Zian, karena Renata sempat menceritakan tentang siapa ibu anak kembar itu padanya. Ia merasa prihatin, kalau dirinya kehilangan anak, sedangkan si kembar kehilangan ibu mereka.
Erick melihat pada dua anak kembar lucu dan istrinya, lalu ia mengangguk dengan rasa berat hatinya. Ia sebenarnya sudah ingin pulang, tapi tidak tega melihat kedekatan dua anak itu jika dipisahkan dari Shafira.
“Maaf, Bu Renata, saya sudah berbohong soal Anda ...!” kata Shafira setelah kepergian Erick dari ruangannya.
“Tidak masalah, apa dia suamimu dan kalian sedang ada masalah?”
Shafira hanya mengangguk lesu dengan wajah tertunduk.
“Sudah kuduga! Aku harap, setelah ini hubungan kalian akan lebih baik-baik saja!”
“Bu, saya di sini karena kehilangan calon bayi yang sudah dua bulan berada di rahim saya!”
“Oh, aku ikut prihatin mendengarnya. Maafkan aku, tidak bisa banyak membantu!”
“Bu, bantuan yang sekarang ibu berikan sudah sangat cukup bagiku!” Shafira berkata sambil memeluk Renata dan tanpa sengaja ia menitikkan air mata.
“Baiklah, aku pergi dulu kalau begitu, aku tidak mau Riyan datang, maka sandiwara kita akan terbongkar!” kata Renata sambil tersenyum, ia menurunkan dua anak kembar dari tempat tidur Shafira.
__ADS_1
“Baiklah, sekali lagi terima kasih! Buat Zian dan Zain, kalian pulang dulu, ya! Tante janji, kalau sudah sehat, akan menemui kalian lagi!”
“Janji?” kata Zian sambil memberikan salah satu kelingkingnya.
“Ya!” kata Shafira memberikan kelingkingnya juga. Begitu pula Zain, anak lelaki itu tidak banyak bicara, tapi ia juga ikut senang bermain dengan Shafira.
Mereka pergi setelah saling mengikat janji dan melambaikan tangan. Renata langsung pergi ke ruang pribadi Riyan dan mengirimkan pesan padanya.
Tak lama setelah itu, Eirck datang dengan membawa obat dari resep dokter dalam sebuah paper bag kecil. Tanpa mengucapkan kata-kata, ia langsung membereskan beberapa barang pribadinya yang sempat ia bawa sejak kemarin.
Sementara itu, Shafira mengganti baju rumah sakit dengan pakaian yang dibawa kan oleh suaminya.
Setelah itu seorang penjaga membantu membawakan barang mereka sampai di parkiran.
Erick mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, tidak ada obrolan yang terjadi di antara mereka. Kecuali saat di lampu merah dan mobil berhenti, saat itu pula Wulan menelepon Erick dan pria itu langsung menerimanya.
Shafira membuang muka ke samping, setelah suaminya itu mulai berbincang dengan lawan bicaranya di telepon.
“Halo—ya, aku pulang sekarang dengan Shafira!” kata Erick.
“Tidak masalah, dia baik-baik saja! Tidak perlu menungguku!” katanya lagi setelah terdiam beberapa saat lamanya.
“Baiklah, aku tahu!”
Telepon kembali di tutup dan Erick melanjutkan mengemudikan kendaraan karena bertepatan dengan lampu hijau yang sudah menyala.
“Apa Wulan masih tinggal di rumahmu?” tanya Shafira tiba-tiba setelah terdiam cukup lama.
Erick menoleh sebentar dan kembali menatap jalanan, melanjutkan berkendara.
“Apa maksudmu bertanya seperti itu? Tentu saja dia masih di sana, itu kan rumah kita juga!” kata Erick datar.
“Tidak ada, aku hanya bertanya,” kata Shafira menyembunyikan rasa sakit di hatinya seraya merahasiakan gugatan cerai yang akan dilayangkan pada Erick sebagai kejutan darinya.
__ADS_1