Air Mata Shafira

Air Mata Shafira
BAB 39


__ADS_3

“Oh, jadi begitu ... laki-laki Itu menurutmu tampan?” tanya Erick setelah pegawainya selesai mengutarakan ciri-ciri Essan, sebagai pengacara istrinya.


“Ya, itu menurut saya, karena saya seorang perempuan, Pak! Maafkan saya!”


“Ya, sudah! Kamu boleh pergi!”


Setelah pegawai perempuan itu pergi, Erick melemparkan berkas panggilan sidang cerai pertamanya, ke tempat sampah dan mengepalkan tangannya.


“Apa itu, Tuan?” tanya Hendra sambil berjalan ke tempat sampah dan mengambilnya. Ia terkejut begitu selesai membaca surat yang dibuang oleh bosnya. Ia tidak mengira kalau Shafira tega menggugat cerai entah karena apa.


Hendra melihat sendiri dan bisa menjadi saksi bagaimana pengorbanan Erick saat wanita itu di rumah sakit. Ia turut mencibir karena menganggap Shafira tidak menghargai Erick sebagai suaminya. Padahal bosnya sangat mencintainya.


“Bagaimana menurutmu?” kata Erick bertanya pada Hendra.


“Apa ini pantas Tuan? Sebaiknya Anda tidak perlu datang!”


Erick tidak mengomentari ucapan Hendra, karena yang ada dalam pikirannya adalah, kecemburuan saat membayangkan Shafira sering bertemu dengan Essan—pengacaranya yang tampan. Kemungkinan itu besar sekali, mengingat ia tidak pernah mengawasinya selama 24 jam. Bahkan, ia tidak tahu ke mana saja Shafira pergi.  


Erick menyadari kesalahannya begitu besar, selain ia tidak peduli, kasar, dan senang menyiksa Shafira, Ia juga tidak memberikan hak-hak istrinya. Ia tidak pernah mendapatkan notifikasi dari kartu kredit yang diberikannya, menunjukkan wanita itu tidak pernah menggunakannya.


Lalu, dari mana wanita itu selama ini mencukupi kebutuhannya. Baru sekarang Erick berpikir untuk mengutus seseorang menyelidiki bagaimana keseharian Shafira selama ini.


Erick pun menghubungi seseorang, dan ia mendapatkan kabar setelah dua jam kemudian. Ia tercengang membaca semua file yang dikirimkan mata-matanya itu. Ternyata kehidupan Shafira luar biasa, dan dialah orang yang telah memutus mata rantai perjalanan karir istrinya.


Erick telah mengurungnya di rumah dan hanya menjadikannya, sebagai pelampiasan hasrat serta kemarahannya.


Erick mengusap wajahnya kasar, lalu ia segera menyambar kunci mobil yang ada di meja kerja.


“Tuan, mau ke mana? Lalu, bagaimana rapat kita dengan Giant Properti hari ini?”


“Batalkan saja!” Erick berkata sambil berjalan keluar. Penampilannya yang necis dan rapi, seolah tertutup oleh kusam di wajahnya yang tampan.


Erick mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia ingin segera sampai di rumah untuk menemui Shafira. Sebenarnya ia rindu setengah mati dan ingin menikmati malam bersamanya. Namun, setiap kali ia mengunjungi kamar istrinya itu, pintu kamar selalu tertutup rapat, Shafira menguncinya dan menolak untuk melayaninya. Ia tidak memiliki kesempatan untuk bermesraan.

__ADS_1


Erick sudah terbiasa memuaskan dirinya dengan Shafira dan Wulan, tapi ketika hanya bisa bermesraan dengan satu istri saja, rasanya tidak puas.


Sesampainya di rumah, dan saat akan membuka pintu, pria itu terkejut melihat Shafira yang berjalan keluar dengan santai, sambil membawa kopernya. Itu satu-satunya koper yang ia bawa dari rumah orang tuanya.


“Shafira! Mau ke mana kamu?” tanya Erick dengan keras dan ia menahan gejolak di hatinya. Tiba-tiba saja hadir rasa takut kehilangan Shafira.


Shafira menatap Erick, wajahnya terlihat teduh dan manis. Bibirnya yang dipoles lipstik warna pink itu begitu menggoda suaminya. Ia tersenyum tipis.


Shafira balik bertanya, “Apa kamu sudah menerima surat gugatan dan panggilan sidang pertama perceraian kita?”  


“Apa maksudmu Shafira? Kita tidak akan pernah bercerai untuk selamanya!” Erick berkata sambil memeluk tubuh Shafira erat.  


Mereka saat itu tengah berdiri di depan pintu.


Itu pelukan penuh kasih sayang yang diberikan Erick untuk pertama dan terakhir kalinya. Pelukan yang sangat dirindukan Shafira sejak lama. Namun, pria itu baru memberikannya setelah ia mantap ingin bercerai darinya.  


Benarkah hidup tidak pernah adil pada siapa pun dan kapan pun di dunia? Sebab keadilan sesungguhnya hanya ada di surga.


“Apa kamu ingin aku berlutut padamu agar kamu mau memaafkan aku? Shafira, aku baru menyadarinya sekarang ... aku mencintaimu, Shafira! Aku mencintaimu dan tidak ingin kita berpisah! Aku sungguh minta maaf dan berikan kesempatan kedua padaku! Kumohon Shafira!”  


Erick berkata sambil melipat satu kakinya ke lantai. Ia benar-benar berlutut pada Shafira, tapi semua sudah terlambat. Wanita itu tidak mau merubah pendiriannya.


Dalam hati Shafira sempat goyah, saat melihat wajah Erick yang penuh dengan air mata dan tatapannya penuh permohonan kepadanya. Akan tetapi, di dalam rumah itu masih ada Wulan yang tetap bertahan untuk menjadi istrinya. Shafira menepis perasaan kasihan itu jauh-jauh.


Sebagian orang memang bisa hidup dengan menduakan cinta, tapi tentu hidupnya akan ditempuh dengan banyak luka di dalamnya. Cinta yang sempurna tidak akan pernah ada, walau menjadi wanita satu-satunya. Apalagi, kalau harus hidup dengan yang kedua atau dengan yang lainnya.  


Wulan, mengintip semua kejadian itu dari balik tirai jendela. Ia cemberut mengetahui Shafira sudah melayangkan surat cerai pada suaminya  


“Kalau tahu dia mau bercerai, aku tidak harus repot-repot memasuk untuknya dan bersikap manis di hadapannya, hanya untuk berpura-pura! Dasar wanita munafik! Kenapa dia tidak bilang padaku kalau mau bercerai dari Erick?” Wulan menggerutu pada dirinya sendiri.


Namun, setelah itu ia tersenyum.


“Kalau mereka bercerai, itu artinya aku akan menjadi istri satu-satunya dari Erick? Oh senangnya! Ahh, aku harus mengabarkan hal ini pada Mama sekarang juga!”

__ADS_1


Wulan segera pergi ke kamar dan mengambil telepon genggamnya, untuk mengirimkan beberapa pesan kepada Ibu mertuanya.


Sementara itu di teras rumah, Erick masih memohon dan menahan tangan Shafira untuk tidak pergi darinya.


“Eruck, bukankah ini yang kau inginkan sejak lama dan kau bisa menjadikan Wulan sebagai istri satu-satunya. Sekarang semua sudah aku wujudkan bukankah seharusnya kau bahagia?”


“Tidak Shafira, kumohon jangan pergi dan jangan bercerai dariku, aku akan bersikap baik padamu, aku janji, melaksanakan semua keinginan kedua orang tuamu yang sudah pergi, aku sungguh-sungguh minta maaf padamu Shafira!”


“Baiklah! Aku sudah memaafkan kesalahanmu, tapi bukan berarti aku membatalkan perceraian kita! Maaf, aku tidak bisa hidup bersama denganmu lagi Erick!”


Dalam hati Shafira melanjutkan ucapannya ‘karena di rumah itu masih ada Wulan yang menjadi istrimu, Erick!'


Namun, ia tidak mau serakah dengan meminta agar Erick mau bercerai dengan Wulan, hingga ia bisa kembali bersamanya. Ia sadar bahwa Wulan dan Erick tidak akan terpisahkan untuk selamanya. Jadi, lebih baik dirinya yang mengalah saja.


“Apa semua karena ada laki-laki lain yang mencintaimu dan kau ingin menikah dengannya?”


Erick tiba-tiba marah dan ia berdiri sambil mencengkeram dagu Shafira dengan keras, tatapannya tajam ke arah istrinya itu.


“Tuduhan macam apa itu? Aku tidak pernah menduakan cintamu, seperti kamu menduakan cintaku Erick!” ucapan Shafira sama kerasnya, ia meletakkan kartu debit milik suami yang akan menjadi mantan itu, di meja yang ada di teras.


“Terima kasih, aku tidak pernah menggunakannya!” katanya.


Shafira mendorong Erick hingga menjauh, dan ia melangkah meninggalkannya. Ia berniat pergi setelah surat gugatannya secara resmi diterima Erick. Lalu, mereka bisa bertemu kembali hanya saat sidang berlangsung. Setelah itu, mereka akan hidup terpisah sampai mendapatkan status baru.


Erick tiba-tiba menjadi lemas dan seluruh tenaganya seolah hilang begitu saja. Ternyata, seperti ini rasanya ditinggalkan oleh orang yang disayang. Akhirnya ia tahu bagaimana sakitnya hati Shafira saat kehilangan kedua orang tuanya. Namun, dirinya justru menyiksa dan memperlakukan wanita itu layaknya budak pemuas belaka.


Erick menunduk malu, rasanya ia memang tak pantas mendampingi Shafira sebesar apa pun rasa cintanya. Ia terlalu naif dan buruk, untuk menjadi suami bagi seorang wanita yang berhati malaikat.


Pria itu menerima pesan dari nomor yang mengaku sebagai pengacara Shafira. Orang itu mengingatkan jadwal sidang dan mengingatkannya untuk bersyukur.


“Seharusnya Anda bersyukur, Tuan Erick yang terhormat, karena Shafira, istri Anda itu, tidak mengajukan gugatan peradilan atas meninggalnya kedua orang tuanya. Ia hanya ingin bercerai dengan Anda, jadi jangan mempersulit lagi urusannya!”  


Pada saat yang sama sebuah taxsi menjemput Shafira dan membawanya pergi dari rumah, yang pernah memberinya status sebagai seorang istri.

__ADS_1


__ADS_2