
Erick sudah berada di parkiran, ia tidak memperdulikan istri keduanya yaitu wulan. Saat ini yang ia pikirkan, bagaimana memberi pelajaran terhadap Ardan agar tidak lagi mencampuri urusan dirinya dan Shafira. Meskipun kesepakatan sudah deal bahwa beberapa orang akan menarik saham nya dari perusahaan Ardan, tetap saja ia belum tenang ketika belum mendapatkan kabar bahwa perusahaan Ardan mendapatkan masalah.
Erick menginjak gas dengan kasar, entah mau pergi ke mana lagi padahal masih jam kantor.
Ia melajukan kendaraan nya dengan kecepatan tinggi, tanpa di sadari oleh Erick ternyata kendaraan sudah berhasil terparkir di depan rumah sakit di mana Shafira di rawat.
Setelah beberapa saat ia menetralkan pikiran nya, lalu dengan perlahan ia turun dan langsung menuju ruangan di mana Shafira di rawat.
Hingga akhirnya, ia sudah berada di depan pintu kamar sang istri dan membuka pintu secara tiba-tiba. Hal itu membuat Shafira kaget, baru saja ia memejamkan matanya. Sebab baru saja minum obat dan rasa kantuk sudah menguasai dirinya, namun Erick menghancurkan semua sehingga Shafira terbangun kembali karena suara pintu.
"Bisa nggak sih, kalau buka pintu itu pelan-pelan! bikin orang kaget saja" ketus Shafira, entah mengapa ia punya keberanian untuk berkata seperti itu terhadap Erick. Padahal sebelum nya ia tidak pernah meninggikan suaranya di hadapan Erick, meskipun tidak suka dengan kelakuan Erick.
Bukannya Erick menjawab, malah pandangan nya tertuju pada beberapa makanan yang ada di atas nakas.
"Itu makanan siapa yang bawa? " tanya Erick sambil menatap tajam wajah Shafira.
"Ardan, dia kasihan terhadap ku. Takut mati karena nggak di kasih makan sama suaminya" jawab Shafira dengan nada bicara yang santai, memang betul apa yang di katakan Shafira bahwa Erick tidak memberi makan apapun selain yang di sediakan oleh pihak rumah sakit.
__ADS_1
Meskipun tujuan Ardan baik, akan tetapi ia tidak suka semua makan itu di makan oleh Shafira. Lalu ia mengambil semua makan itu dan di bawa ke luar.
"Mau di bawa ke mana itu semua makanan? " tanya Shafira.
"Di buang, takut di dalam makanan ini sudah di jampi-jampi atau pelet jadi nggak boleh kamu makan! " jawab Erick tanpa melihat ke arah Shafira.
Padahal bukan karena itu, Erick membuang makan itu karena ada rasa kesal untuk Ardan. Mengapa laki-laki itu selalu memperhatikan istrinya, padahal sudah di beri peringatan akan tetapi belum juga kapok.
Setelah cukup lama, akhirnya Erick kembali dengan membawa banyak makanan di tangan nya.
"Sekarang sudah ku ganti semua makanan nya, jadi mulai dari sekarang jangan terima apapun dari orang lain. Ingat itu! kalau tidak kamu akan tahu akibatnya, jangan pernah membantah! " kata Erick dengan tatapan mata yang tajam.
"Kamu itu, ngomong apa sih? udah nggak waras, atau memang betul selama ini kamu selingkuh dengan Ardan. Tiba-tiba kamu minta cerai agar bisa melanjutkan hubungan kalian, tapi jangan harap aku melepaskan mu begitu saja! " jawab Erick dengan sorot mata tajam, ia tidak suka mendengar Shafira minta untuk pisah darinya.
"Terserah kamu mau ngomong apa juga, menuduh ku selingkuh atau apa yang jelas aku sudah tidak mau menjadi istri mu lagi! bukankah selama ini yang kamu inginkan bagaimana caranya untuk mengakhiri semua ini, bahkan membawa perempuan lain untuk tinggal satu rumah dengan ku, padahal kamu punya cukup uang untuk membeli rumah baru untuk tempat tinggal wulan tapi tidak kamu lakukan itu. Karena kamu ingin, aku pergi dari rumah itu dengan suka rela. Sekarang sudah saatnya aku pergi, sebab sudah tidak ada lagi yang di pertahankan. Aku lelah dan sekarang sudah saatnya menyerah, tolong ceraikan aku! " kata Shafira sambil menangkup kedua tangan nya dengan nada bicara penuh permohonan. Ia sudah tidak ingin lagi kembali ke rumah itu, sebab ia pasti akan mendapatkan siksaan kembali dari Wulan dan juga ibu mertua nya.
Erick mendekat ke arah Shafira dengan tatapan tajam, lalu ia memegang rahang Shafira dengan kuat.
__ADS_1
"Coba katakan sekali lagi, apakah kamu masih punya nyali untuk bicara! " kata Erick sambil mencengkram kuat.
Bagaimana bisa Shafira bicara dengan rahang di cengkraman, dia hanya menggelengkan kepala nya.
"Apa ini masih kurang, perlu di tambah lebih keras lagi! " Erick berkata sambil mengeratkan giginya, sungguh ia ingin sekali membuat Shafira ketakutan dan tidak berani untuk meminta pisah darinya. Air mata Shafira mengalir begitu saja, sekarang bukan hanya badan yang sakit tetapi jiwanya juga lebih sakit.
Setelah beberapa saat, akhirnya Erick melepaskan cengkraman itu.
Lalu Shafira mengelus pipinya yang terasa sakit.
"Ini baru peringatan, jika kamu berani berkata seperti itu lagi. Maka akan lebih dari ini yang akan kamu Terima, cam kan itu baik-baik! " kata Erick sambil menunjuk wajah Shafira.
Perempuan itu hanya menunduk, dengan air mata yang mengalir tanpa henti. Sungguh ia sudah tidak sanggup lagi berada di posisi ini, bahkan jika ia bisa memilih maka lebih baik tidak pernah hadir di dunia ini.
Sungguh perasaan nya sangat hancur, kehilangan orang-orang yang sangat di cintai dan masuk terhadap sangkar harimau yang siap menerkam nya kapan saja jika suatu saat ia melakukan kesalahan. Erick yang tidak memiliki perasaan dan tidak merasa bersalah sedikit pun atas kehilangan janin yang di kandung Shafira.
Erick duduk di sofa yang ada di ruangan itu, dadanya masih di kuasai amarah.
__ADS_1
Lalu ia mengambil ponsel nya untuk segera menghubungi Hendra sang asisten, untuk segera mencari bodyguard untuk menjaga kamar Shafira agar tidak melarikan diri dan Ardan di larang masuk untuk menemui Shafira.