
Namun, yang membuat Erick sangat terkejut adalah, saat ia pergi ke dapur. Pria itu melihat Shafira sedang memegang leher Wulan dengan sebilah pisau di tangannya.
Erick segera berlutut dan merebut pisau di tangan Shafira.
“Shafira! Apa yang kamu lakukan?” teriaknya panik.
Shafira menyeringai dan berkata, “Aku ingin membunuhnya!”
Ia berdiri sambil merapikan pakaiannya kembali dan menatap Erick yang juga menyusulnya berdiri.
“Kenapa kamu mau membunuh Wulan? Dia juga istriku Shafira! Kalian seharusnya hidup damai di sini, bilang saja padaku kalau kalian menginginkan sesuatu! Tidak perlu bertengkar! Atau kalian berdua sudah gila? Akh! Kamu sudah berubah sekarang Shafira!” Erick sangat marah dan melemparkan pisau di tangannya ke lantai.
Ia merasa baru tadi pagi hidupnya begitu damai dengan dua istri yang akur dan tinggal bersama. Namun, saat ini seolah-olah dunia terbalik, dalam sekejap mata dan ia bagaikan hidup di neraka.
Erick sengaja pulang cepat karena ingin melihat keadaan dua istrinya. Ia juga ingin tahu apakah Shafira baik-baik saja, setelah pergi berjalan-jalan seharian. Ia berusaha menghubunginya, tapi wanita itu tidak mengaktifkan smartphone-nya, hingga ia susah mencari informasi, di mana keberadaannya. Beberapa pesan yang ia kirimkan pun tidak dibalas.
Ia kesal saat tahu Dokter Riyan yang mengantar Shafira pulang, ia ingin bertanya apa alasannya, tapi yang ia dapatkan justru pemandangan mengerikan dari dua istrinya. Mereka terlihat hendak saling membunuh satu sama lain.
“Ya, aku sudah berubah! Apa itu salah? Kalian berdua yang sudah merubahku bukan? Kalian harus sadar sejak aku kehilangan bayiku, itu karena aku terlalu lemah, tapi sekarang tidak lagi dan kalau dia mau mencoba menghinaku lagi?” kata Shafira sambil menunjuk Wulan, “Atau dia menamparku, mengerjaiku seperti dulu, maka aku tidak akan segan-segan melakukan seperti hal tadi!”
Shafira baru masuk saat diantar oleh Riyan dan Wulan melihatnya.
Lalu, Wulan memberikan sindiran pedas dengan mengatakan bahwa, Shafira selama ini berlagak sok baik, padahal sebenarnya ia hanyalah wanita murahan. Menurutnya, Shafira penjaja cinta, yang tidak tahu diuntung dengan memanfaatkan Erick saja.
“Shafira, aku—“ ucapan Wulan terhenti, wanita itu duduk terpekur di lantai, lalu mendongak menatap Shafira dan Erick.
Wulan sebenarnya tidak berniat kasar, hanya saja emosinya terpancing karena melihat ada laki-laki, yang mengantarkan Shafira ke rumah suaminya. Sementara selama ini Wulan selalu menjaga diri agar terlihat baik. Jadi, apa yang dialami Shafira membuatnya iri.
Wulan tak sengaja menghina hingga memancing kemarahan Shafira, karena kata-kata kasar itu sudah terbiasa terlontar dari mulutnya. Ia berlari ke arah dapur saat Shafira terlihat mengepalkan tinju dan mengejarnya. Sampai di dapur ia tersudut dan tidak menyangka Shafira mampu mengungkungnya sekuat tenaga. Ia pun terpaksa bertekuk lutut. Dan, yang tidak ia duga lagi Shafira berani mengambil sebilah pisau, lalu mengancam akan membunuhnya.
“Aku tadi—“
__ADS_1
“Wulan! Kuharap kamu diam sekarang! Ingat dulu, kamu sering memfitnahku, mengancamku dan menghinaku! Apa kamu pikir sekarang aku mau diperlakukan seperti itu lagi? Ahk, kalian berdua salah!”
Shafira berjalan meninggalkan Erick dan Wulan di sana, ia berniat ke kamar dan mengganti pakaian. Namun, langkahnya terhenti saat Mirna tiba-tiba datang dan menghadangnya masuk ke kamar.
“Mama!” lirihnya.
“Kenapa kamu pucat begitu, apa kamu belum sembuh? Katanya kamu sudah keluar dari rumah sakit? Memangnya sakit apa kamu? Dasar manja?”
Shafira memalingkan muka mendengar ucapan Ibu mertuanya itu.
Mirna tidak tahu rencana Shafira dan Wulan yang sudah sepakat untuk tidak menunjukkan kekerasan. Adapun kejadian di dapur tadi, memang disengaja, karena Wulan memancing amarah Shafira. Namun, hal itu berhasil membuat Erick menilai salah kepada istri pertamanya. Sebenarnya kejadian itu terlihat lebih menguntungkan Wulan, tapi di lain sisi hal itu pula yang diharapkan Shafira.
“Mama, kalau ingin bertanya tentang penyakitku, mama bisa bertanya pada Erick! Maaf, aku ingin istirahat sekarang, aku lelah!” kata Shafira membuat Mirna mengerutkan alisnya. Meskipun Shafira tetap menunjukkan kesopanan, tapi jawaban seperti itu tidak biasanya dilontarkan olehnya. Bahkan, tidak ada rasa takut sama sekali yang terlukis di wajah menantunya.
Shafira masuk ke kamarnya, sementara Mirna pergi ke ruang makan, di mana Erick dan Wulan tengah berjalan beriringan menuju meja makan. Mereka bertiga duduk di sana saling berhadapan.
“Erick, kenapa kamu tidak mengabari Mama tentang apa pun, setelah Shafira masuk rumah sakit? Sebenarnya ada apa?” tanya Mirna langsung pada intinya.
“Sayang apa kamu tidak mau makan malam, apa Kamu tidak lapar?” tanya Wulan memelas. Ia sudah masak dengan sungguh-sungguh demi dinikmati oleh suaminya. Namun, Erick justru tidak mencicipinya sama sekali.
“Tidak! Kamu makan saja sama mama!” jawab Erick, sambil menepis tangannya dari Wulan. Ia masuk ke kamarnya tanpa berbicara apa pun lagi.
Wulan duduk di samping Mirna setelah kepergian Erick. Ia pun menceritakan semuanya kepada wanita itu, sambil berderai air mata. Tidak lupa ia melebih-lebihkan beberapa kejadian saat ia bersama Shafira. Tentu saja ia mengaku jika dirinyalah yang paling menderita.
“Oh, jadi benar dia kehilangan bayinya dan sejak itu dia berubah kenapa kamu tidak membiarkan saja?”
“Tapi, Ma! Dia sekarang kasar sekali padaku!”
“Selama dia tidak melukai tubuh atau wajahmu, tenang saja dan ikuti sandiwaranya, tapi kalau dia sudah berani melukai wajahmu, maka kamu harus bilang sama Mama!”
Wulan senang karena Ibu mertuanya masih berada di pihaknya.
__ADS_1
“Ma, aku heran, sebenarnya apa yang menyebabkan Shafira tidak juga meminta cerai dari Erick?”
“Dia anak kampung yang memegang teguh wasiat, pacar saja kalau dia seperti itu!”
“Oh iya, Mama benar! Baiklah, kalau begitu aku akan bertahan dan mengikuti sandiwaranya!”
“Bagus!”
********
Sebulan setelah kejadian itu, Shafira jarang keluar kamar. Ia seperti bersemadi dan menghindari dunia luar. Wanita itu hanya keluar kalau sangat lapar. Ia memesan makanannya sendiri secara online dan menikmatinya sendiri pula di dalam kamarnya.
Jadi, hanya sedikit sekali ia berinteraksi dengan Wulan ataupun Erick. Itu pun kalau secara kebetulan mereka berpapasan, saat sedang mengambil pesanan makanannya di dekat pintu gerbang. Kalaupun Erick, Wulan ataupun Mirna menegurnya, Shafira tidak menjawab dan kalaupun menjawab, hanya sekedarnya saja, dengan muka masam dan ketus.
Hari itu di kantor, Erick sangat terkejut ketika mendapatkan surat yang dikirimkan melalui seorang resepsionis ke ruangannya.
Erick memanggil wanita petugas resepsionis itu setelah membaca surat yang tertulis atas namanya. Ia terkejut karena ternyata surat itu adalah panggilan sidang pertama perceraiannya dengan Sgafira.
“Siapa yang mengirimkan surat ini kepadamu?” tanya Erick dengan tegas kepada wanita pegawai kantornya yang berdiri gugup di hadapannya.
“Dia seorang pengacara, dia mengaku namanya Essan, dia hanya berpesan kalau surat itu harus langsung diterima oleh Bapak, karena bersifat sangat penting!”
“Lalu, di mana dia sekarang, apa dia tidak berusaha menungguku dan tidak ingin bicara padaku?”
“Maaf, Pak! Dia pergi setelah menyampaikan surat itu pada saya! Saya juga tidak berusaha mencegahnya karena tidak ada pesan apa pun sebelumnya, kalau bapak akan menerima tamu!”
“Seperti apa rupa pengacara itu?”
Sang pegawai berpikir sejenak kemudian ia melukiskan beberapa ciri-ciri yang diingatnya dan tidak begitu yakin, karena ia bertemu dengan Esan hanya sebentar saja.
“Oh, jadi begitu ... laki-laki Itu menurutmu tampan?” tanya Erick setelah pegawainya selesai mengutarakan ciri-ciri Essan, sebagai pengacara istrinya.
__ADS_1