
“Shafira! Mau ke mana kamu?”
Saat itu juga Shafira menoleh dan terkejut dengan seseorang yang sekarang berada di hadapannya.
“Erick?” tanya Shafira gugup. Urusannya pergi kali ini adalah karena keperluan pribadi, dan satu orang yang paling ia hindari adalah Erick.
Shafira sengaja menghindari suaminya sebab Ia belum tahu persis, apa yang dirasakan oleh Erick kepada dirinya. Cinta kah ia atau hanya melakukan hubungan karena menuruti ibunya dan terpaksa?
Rasa kekhawatiran Shafira sangat besar apabila Erick mengetahui dirinya hamil, apakah laki-laki itu akan menerimanya atau tidak.
Shafira hanya mencari aman, apabila ia memang dihargai oleh suaminya maka ia akan mempertahankan bayinya dan mengatakan secara jujur kalau dirinya hamil. Namun, seandainya tidak, ia khawatir apabila orang-orang jahat itu justru melampiaskan kemarahannya kepada bayinya kelak.
Oleh karena itu, ia akan tetap merahasiakan apa yang dirasakannya untuk sementara waktu. Meskipun ia yakin jika kemungkinan besar ia hamil. Mengingat masa menstruasinya sudah lewat beberapa hari yang lalu, bahkan, sudah mencapai satu minggu. Itu artinya janin yang ada di dalam rahimnya sudah mencapai satu bulan.
“Ada apa, kamu mau keluar ke mana, ha?” tanya Erick lagi, karena Shafira tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
“Tidak ke mana-mana, Mas! Aku ... aku hanya mau membeli keperluanku saja!”
“Apa keperluan yang tidak aku penuhi di rumah ini? Apa ...? Coba bilang yang tidak ada di rumahku, semua sudah aku penuhi Shafira, kurang apa memangnya?” kata-kata Erick menunjukkan kekesalan karena Shafira seolah menganggapnya menjadi orang yang tidak pengertian.
Erick merasa heran, kalau Shafira butuh sesuatu, karena ia merasa kebutuhan Shafira sudah terpenuhi semuanya. Setiap hari ia selalu menyuruh asistennya, untuk membeli semua kebutuhan rumah. Selain itu juga belanja dapur untuk kebutuhan sehari-hari, karena Ia memang sengaja tidak memberikan Shafira sepeser pun dari penghasilannya.
“Memang tidak ada yang kurang di dalam rumahmu, tapi ini keperluan pribadiku apa aku tidak boleh keluar? Mas, cuma sebentar, kok, jangan khawatir! Aku pasti pulang lagi!”
“Kalau aku bilang tidak boleh, ya tidak boleh! Masuk!” seru Erick sambil menarik tangan Shafira kasar.
“Sakit, Mas! Aku butuh obat, kepalaku sakit!” kata Shafira.
__ADS_1
“Ahk! Bohong! Jangan manja kamu! Sana pergi ke dapur! Buatkan aku kopi!” kata Erick memberikan Shafira pekerjaan agar gadis itu membatalkan niatnya untuk keluar rumah.
Erick tidak ingin gadis itu bertemu dengan seseorang. Ataupun mengadukan masalah rumah tangganya kepada orang lain hingga ada orang yang tahu bagaimana perbuatannya pada Shafira. Hal itu hanya akan menambah masalah pribadi bagi Erick.
Shafira menarik napas beberapa kali untuk menenangkan hati. Setelah itu, ia melangkah gontai ke dapur dengan menahan rasa tak berdaya, marah yang tidak pernah lelah, tapi selalu saja memenuhi benaknya hingga luka hatinya semakin parah.
Namun, ia tetap membuat kopi sesuai permintaan Erick dengan sepenuh hati, karena kebaikan seseorang bukan dinilai dari kecantikan wajahnya, melainkan bagaimana ia bersikap pada sesamanya. Ia hanya berharap suatu saat nanti ada kesempatan bagi dirinya, untuk pergi ataupun memperbaiki segala masalah yang ia hadapi.
Wajah sang Ibu kembali menghangatkan hati dan memenuhi pelupuk matanya. Wanita lembut yang berparas teduh itu tampak tersenyum memberikan kekuatan pada anaknya. Bayangannya seolah memberi semangat pada Shafira untuk tetap tabah hingga ada waktu yang tepat, demi mendapatkan kebahagiaan yang seharusnya ia miliki.
“Ngapain kamu di sini?” kata Wulan, membuyarkan lamunan Shafira. Ia menepuk bahu Shafira dengan keras, karena kerasnya hingga mirip seperti pukulan.
Shafira meringis kesakitan ia tidak menyadari keberadaan Wulan yang tiba-tiba saja berada di dekatnya. Padahal, saat ia ingin pergi ke apotek tadi, semua orang tidak ada.
“Masih, buat kopi!” kata Shafira ketus.
Ia tahu tidak ada orang di rumah itu yang menyukai kopi selain Erick. Ia pun mengambil nampan yang sudah siap, dan dengan cepat membawa kopi itu ke ruang kerja di mana suaminya berada.
Lagi-lagi Wulan tersenyum penuh kemenangan, sambil melirik Shafira yang kini terdiam di dapur sendirian.
Shafira pun memilih menyibukkan diri untuk membersihkan meja makan yang berantakan, lalu mencuci piring dan memasukkan beberapa pakaian kotor ke dalam mesin cuci serta, membereskan pakaian yang sudah kering.
Shafira merasa lebih baik mengisi waktunya dengan hal-hal yang bermanfaat, selain menghibur, ia memang menyukai kebersihan. Selain itu ia akan lebih stress apabila berdiam diri di kamar.
Namun, di sela-sela kegiatannya itu, Shafira terkejut saat tiba-tiba saja Wulan datang dan mengacak semua pakaian yang sudah ia bereskan.
Saat ini mereka berdua tengah berada di sisi lain, ruangan sebelah dapur di mana tempat servis pakaian berada.
__ADS_1
“Wulan! Apa yang kamu lakukan? Bukankah itu baju suamimu dan baju ibumu juga?” Shafira berkata sambil merutuk beberapa kali di dalam hati. Perbuatan Wulan sangat tidak manusiawi.
“Apa kamu pikir aku perduli, hah?” kata Wulan sambil melemparkan beberapa pakaian ke wajah Shafira dengan kasar.
“Dengar, Shafira! Aku tidak pernah rela kamu merebut Erick dariku! Apa alasan yang kamu gunakan untuk mempertahankan Erick? Eum ... wasiat ibumu? Hah? Persetan dengan wasiat seperti itu! Selamanya, aku tidak akan pernah rela Erick punya istri dua! Cuih!” Wulan berkata sambil meludahkan air liurnya di wajah Shafira.
“Wulan, sebenarnya kamu ini kenapa? Tidak ada di sini yang membicarakan soal Erick dan wasiat, apa maksudmu tiba-tiba ngomong begitu?”
“Aku ingin kamu pergi dari sisi Erick, dan jangan bilang kalau kamu hamil anak dia! Awas kau nanti!”
Seketika Shafira tercengang, baru kali ini yang mendengar pengakuan Wulan secara jujur, tentang perasaannya kalau ia tidak pernah rela jika Erick beristri dua.
“Wulan, Aku tidak pernah merebut Erick darimu, kau tetap bisa memiliki dia! Siapa yang seharusnya tidak rela, bukankah itu seharusnya aku? Ya, karena Erick menikahiku lebih dulu!”
“Kamu merebutnya, Shafira! ibumu yang sudah memaksanya, jangan kau pikir aku tidak tahu, Mama dan Papa juga terpaksa untuk menuruti keinginan ibumu itu!”
“Kau harus tahu ... permintaan ibuku juga atas permintaan kedua orang tua Erick yang tidak ingin anaknya di penjara!”
Saat setelah kejadian kecelakaan itu, kedua orang tua Erick ingin sekali agar masalah anaknya berakhir dengan damai dan mereka meminta kepada Ibunya Shafira, apa yang bisa mereka lakukan agar Erick tidak dipenjara.
“Aku akan memberitahu kamu, Wulan, waktu itu ibuku bilang kalau aku harus dinikahi oleh Erick sebagai istri, untuk menjaga agar aku tidak sendiri! Apa kau pikir aku tidak bisa hidup sendiri? Aku bisa hidup sendiri Tapi aku menghargai ibuku dan pernikahan ini sebenarnya bukan untuk menyelamatkan aku,.tapi pernikahan ini menyelamatkan Erick!”
“Omong kosong!” Wulan berkata sambil meninggalkan Shafira begitu saja dan melangkah ke kamarnya.
Satu bulan telah berlalu setelah kejadian itu, hari-hari Shafira di lalui dengan penuh penderitaan.
Shafira tetap melayani Wulan dan Mirna, serta selalu menyiapkan semua keperluan mereka dengan baik. Meskipun, tak jarang Wulan meludahi wajah Shafira, jika telat merespon apa yang ia minta, ia tetap fokus berbakti pada sang suami.
__ADS_1
Shafira saat ini benar-benar merasakan perubahan di dalam tubuhnya, tapi seperti biasa ia akan bersikap seolah dirinya baik-baik saja.