
Semua prosedur mendaftar untuk mengajukan perceraian antara Shafira dan Erick, telah selesai dilakukan. Jadwal sidang pertama mereka adalah satu bulan kemudian. Saat hendak pulang, Essan menawarkan tumpangan pada Shafira, mengingat wanita itu tidak memiliki kendaraan.
“Terima kasih atas tawarannya, Pak Essan! Saya bisa naik taksi saja, soalnya saya ingin mampir ke beberapa tempat sebelum pulang!”
“Saya mungkin bisa mengantar hanya satu tujuan saja, bagaimana kalau makan siang?” kata Essan lagi sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
Shafira melihat ke arah yang sama, di mana jam ditangannya menunjukkan waktu makan siang sudah tiba. Akhirnya mereka sepakat untuk makan siang bersama.
“Saya tahu tempat yang enak buat makan siang di sekitar sini!” kata Essan sambil memutar mobilnya dan kemudian meluncur di jalanan, ia menoleh ke kanan dan ke kiri jalan, dari arah gedung perkantoran urusan pemerintahan kota.
“Makanan tradisional seperti enak juga!” kata Shafira saat melihat sebuah rumah makan yang cukup besar dan bersih di samping kirinya.
Essan menoleh dan melambatkan laju kendaraannya, lalu menepi di tempat yang ditunjukkan Shafira.
“Hmm .... Anda benar, Bu. Sepertinya makan di sini enak juga!” katanya, sambil melepaskan sabuk pengaman.
Shafira melakukan hal yang sama, lalu turun dari kendaraan Essan, tanpa menunggu pria itu ia sudah masuk. Betapa terkejutnya ia setuju tiba di dalam, ia hampir saja menabrak dua anak kembar yang berlari hendak ke luar.
“Zain, Zian! Kalian di sini?” pekik Shafira sambil berlutut agar tinggi tubuhnya sama dengan tubuh anak kecil itu.
“Mama!” seru Zian sambil memeluk leher Shafira.
“Dia bukan Mamamu! Dia Tante Fira!” kata Zain. Anak laki-laki itu memiliki ingatan yang kuat tentang Shafira. Meskipun, mereka hanya bertemu sekali, tapi berlangsung sangat lama dan begitu berkesan bagi keduanya.
“Anak baik! Kalian mau ke mana?” tanya Shafira sambil berdiri dengan Zian dalam gendongannya.
“Tante mau ke mana?” Zain balik bertanya.
“Mau makan!” kata Shafira.
Sementara itu, Essan sudah berdiri di belakang Shafira serta, menatap perempuan itu penuh rasa takjub. Ia menggendong Zian dengan luwes dan tidak canggung.
Renata mendekati Shafira dan kedua cucunya sambil tersenyum.
“Hai! Shafira, ini kebetulan sekali, apa kalian mau makan siang?” tanya Renata sambil menggandeng tangan Zain dan berjalan ke mejanya kembali.
“Oh, Tante? Ya, aku datang dengan Essan, kami mau makan siang juga!” kata Shafira sambil berjabat tangan, begitu pula dengan Essan.
__ADS_1
“Kalau begitu, duduklah di meja kami!” sahut Renata, sambil duduk dengan Zain di sampingnya.
“Apa Riyan bersama, Tante?” tanya Essan, sambil ikut duduk di samping Shafira yang memangku Zian, anak itu duduk tenang di atas pahanya.
“Ya, kami masih menunggu pesanan dan Riyan masih ke toilet. Kenapa kalian bisa bersama?” tanya Renata seraya menatap Shafira dan Essan secara bergantian.
“Saya sedang menangani kasusnya!” sahut Essan gamblang.
“Ooh ...!” gumam Renata, ia mengangguk tanda mengerti.
Ia tentu kenal dengan pengacara anaknya itu. Saat Riyan memiliki kasus malpraktek pihak rumah sakit dengan pasien, yang kebetulan ditanganinya untuk melahirkan secara sesar. Esan sering begadang di rumahnya sampai larut malam. Kasus itu kemudian dimenangkan oleh Riyan karena penuntut tidak bisa membuktikan tuduhannya.
“Kalian mau makan apa, biar Tante yang traktir ... sekalian kita makan di sini bersama!”
“Tidak perlu, Tante, biar kami bayar sendiri saja!” kata Shafira dengan cepat, ia merasa tidak enak.
“Tidak boleh, lihat cucuku sudah mengganggumu, anggap saja makan siang kali ini kompensasi dariku!” kata Renata lagi.
Shafira tertawa kecil, “Oh, kalau begitu, baiklah! Bagaimana denganmu, Pak Essan? Apa Anda mau di traktir juga?” katanya.
“Kenapa tidak?” bukan Essan yang menjawab tapi Renata.
“Kebetulan sekali, kalian makan siang di sini? Apa kalian sudah membicarakan semua masalahnya?” tanyanya sambil duduk di samping Essan, ia menatap Shafira dan temannya itu secara bergantian.
“Ya, sudah semuanya!” jawab Essan sambil mengangguk. Ia tetap merahasiakan kepada semua orang, kalau dirinya adalah sahabat lama Wulan.
Pada saat yang sama, pelayan menghidangkan makanan pesanan Renata dan anak-anak, lalu Riyan menambah satu menu. Begitu pula dengan Shafira dan Essan, memilih menu yang sama dengan orang yang akan membayari makan siangnya.
Mereka berbincang dengan obrolan ringan, tanpa menyinggung masalah yang dihadapi Shafira sedikit pun. Mengingat situasi tidak mendukung, apalagi ada anak-anak dan Renata yang tidak perlu tahu, tentang masalah perceraian itu. Meskipun begitu, Riyan tahu jika urusan Shafira pasti lancar di tangan Essan.
Setelah makan siang selesai, Essan berpamitan setelah mengucapkan terima kasih. Ia akan menemui kliennya yang lain.
Sementara Shafira, ia tidak bisa bergerak karena di tengah ia menikmati makan siangnya, Zian justru tertidur pulas di atas pangkuannya.
“Kenapa kamu membiarkan anakmu tidur di pangku orang lain?” tanya Renata pada Riyan.
Pria itu tidak tahu kalau anaknya tertidur karena asyik berbincang dengan Essan dan lebih memperhatikan wajah Shafira, ketimbang anak yang ada di pangkuannya.
__ADS_1
“Maaf, Shafira, Zian sudah merepotkanmu!” kata Riyan sambil mendekati Shafira dan hendak mengambil Zian.
“Jangan, nanti dia bangun, biar saya gendong saja sampai di rumah!” kata Shafira tidak keberatan dengan kondisi, di mana ada seorang anak yang menjadikan paha serta tangannya sebagai tempat tidur.
“Apa tidak mengganggumu? Atau kamu mau pergi ke tempat lain?” tanya Renata.
“Ya, ada, tapi tidak masalah saya antar dulu ke rumah Bu Renata!”
“Baiklah, begitu aku sangat berterima kasih padamu Shafira, ayo, kita pulang!” kata Renata, sementara Riyan pergi ke kasir untuk membayar makanan, yang sudah di santap habis oleh mereka.
“Dasar anak manja!” Zain menggerutu melihat sang adik yang tertidur dalam gendongan Shafira. Ia berjalan digandeng oleh Renata menuju mobil mereka.
Riyan mengendarai mobilnya Setelah semua penumpang naik. Keempat orang itu—Renata, Zain, Shafira yang memangku Zian—memilih duduk di belakang saling berdekatan.
Zain tidak mau dekat dengan ayahnya. Dia lebih memilih duduk di sisi Shafira. Sepanjang perjalanan ia mengganggu adiknya agar terbangun.
“Zain, diamlah nanti adikmu bangun!” kata Renata sambil mengusap kepala cucunya.
“Zain, Apa kamu mau dipangku tante juga?” tanya Shafira.
Zain menatap ke arah Shafira, dengan rasa malu, untuk mengakui kalau ia sebenarnya ingin di pangku juga. Dengan begitu, Shafira menggeser tubuh Zian, agar sang kakak bisa duduk di sebelahnya.
Begitulah ... sesampai di rumah Renata, Riyan membantu membukakan pintu mobil untuk Shafira dan ibunya. Dua wanita itu kerepotan menggendong Zian, sementara Renata juga menggendong Zain. Akhirnya anak-anak tertidur, tak lama setelah di pangku oleh Shafira.
“Maafkan anak-anakku, Shafira!” kata Riyan, Zian dan Zain di kamarnya dan Renata juga melakukan hal yang sama. Kamar anak kembar itu merupakan kamar yang besar dan cukup nyaman. Walaupun, mereka tidur dalam satu ruangan, tetapi pernak-pernik dan peralatan yang digunakan, tetap sesuai dengan ciri khas laki-laki dan perempuan.
“Tidak masalah, Dokter ... ini menyenangkan bagiku dan juga pengalaman pertamaku! Baiklah, karena mereka sudah tidur aku bisa pergi sekarang, sekali lagi terima kasih, Bu, atas traktiran makan siangnya!” ucap Shafira sambil tersenyum puas melihat dua anak kembar, yang sudah tidur di atas tempat tidurnya masing-masing.
“Riyan, kamu sudah mengosongkan jadwal siang ini, kan? Kalau begitu, antarkan Shafira ke mana pun ia pergi!” perintah Renata pada anak laki-lakinya.
“Oh, tidak perlu, Bu Renata, aku hanya ingin berjalan-jalan saja!”
“Ayo! Aku antar, kamu mau jalan ke mana?” kata Riyan seraya mengapit tangan Syafira, lalu berjalan keluar rumah dan mendekati mobilnya.
Ia memaksa Shafira masuk dan memasangkan sabuk pengaman, seolah-olah tidak ingin wanita itu kabur dari dalam mobilnya.
“Kenapa sih, kamu selalu menolak?” kata Riyan, sambil memakai sabuk pengamannya, ketika sudah duduk di belakang kemudi.
__ADS_1
“Menolak Apa maksud dokter?”
“Jangan panggil aku Dokter, karena di sini bukan rumah sakit!” kata Riyan sambil menjalankan mobilnya keluar halaman, menuju jalanan dengan kecepatan sedang.