
“Menolak Apa maksud dokter?” tanya Shafira sambil melihat wajah Riyan dari samping. Wanita itu terpaku untuk sejenak, sebelum akhirnya ia kembali menoleh ke depan.
“Jangan panggil aku Dokter, karena di sini bukan rumah sakit!” kata Riyan sambil menjalankan mobilnya keluar halaman, menuju jalanan dengan kecepatan sedang.
Setelah itu hening. Riyan menyalakan lagu yang lembut dari Kane, Somewhere only we know.
“Sekarang mau ke mana kita?” tanya Riyan.
“Tolong antarkan saya ke mall kota!”
Riyan menoleh sejenak dan kembali fokus mengemudi.
“Kamu mau belanja? Apa kamu yakin sudah kuat?” tanya Riyan seraya mengerutkan alisnya cukup dalam.
Shafira mengangguk.
Setelah melewati beberapa lampu merah dan tikungan, akhirnya Riyan menghentikan kendaraannya di halaman parkir mall.
“Nah, turunlah, sudah sam—“ ucapan Riyan terputus, saat ia menoleh, ia justru melihat Shafira yang sedang tertidur.
Pria itu memutuskan untuk ke luar secara perlahan dari mobilnya dan membiarkan wanita itu tertidur di sana. Ia telah mengubah mode kursi yang ditempati Shafira menjadi posisi berbaring. Lalu, mengecilkan AC, dan membiarkan musik tetap mengalun lembut.
Sebagai seorang dokter ia tahu seberapa lama waktu yang diperlukan seorang pasien, untuk pulih dengan baik dari sakitnya. Apalagi Shafira baru saja keguguran belum lama ini, tapi wanita itu sudah memaksakan diri. Seharusnya ia tetap istirahat di rumah, sekurang-kurangnya seminggu setelah ke luar dari rumah sakit.
Hari Semakin sore dan demi membunuh kebosanan, Riyan menelepon Ardan.
Namun, pria itu terlalu sibuk untuk diganggu. Perbuatan Erick pada perusahaan Ardan, membuatnya bekerja dua kali lebih keras dari biasanya. Sebagai seorang pimpinan, ia merasa tertantang dan harus mengembalikan seluruh modal perusahaan yang hilang, dalam waktu tiga bulan. Sesuai target yang diberikan para komisaris pemegang saham. Tentu saja tidak mudah untuk mengembalikan uang ratusan miliar dalam waktu sesingkat itu.
Oleh karena itu, Ardan mengesampingkan masalah lainnya untuk sementara waktu dan lebih memilih fokus pada perusahaannya saja
Akhirnya, rasa bosannya hilang juga, saat Essan menghubunginya. Ia memang ingin tahu bagaimana keputusan Shafira dan kelanjutan kasusnya.
“Hai, Riyan! Apa kamu masih bersama Shafira?” tanya Essan dari balik teleponnya.
“Ya, dia tertidur di mobilku dan aku tidak tega membangunkannya! Yaa, seharusnya dia masih dalam masa pemulihan, tapi sepertinya dia memaksakan diri, karena terlalu bersemangat untuk bercerai!”
“Ya, kamu benar, aku lihat wajahnya masih pucat, seharusnya kamu tidak mengizinkannya keluar dari rumah sakit!”
__ADS_1
“Hei! Essan, semua yang aku lakukan sudah sesuai prosedur rumah sakit!”
“Iya, iya, aku tahu! Apa pendapatmu ...? Eum ... sebenarnya aku bisa membuatkan hukuman berlapis untuk suaminya itu!” kata Essan antusias.
“Lalu, kenapa kamu tidak membuat pengaduan untuk dia? Buat pengaduan juga untuk Wulan, madunya itu! Buat dia terjerat pasal berlapis juga!”
Essan tertawa kecil mendengar permintaan Riyan yang tidak masuk akal.
“Tidak! Shafira tidak mau membuat aduan lain ke polisi, dia hanya fokus untuk perceraian saja, sedangkan masalah tentang meninggalnya orang tuanya, dan kesalahan yang dilakukan Erick di masa lalu, dia tidak memikirkannya lagi! Kamu pikir wanita seperti apa dia, apa dia malaikat?”
Riyan tidak menjawab ia terpaku sambil memikirkan sesuatu.
“Riyan! Apa kamu tidak tertarik padanya?”
“Pertanyaan macam apa itu, dia masih jadi istri orang ... apa aku harus merebutnya dari Erick begitu?” kata Riyan seraya mendengus kesal.
“Kenapa tidak? Lakukan saja kalau kamu bisa! Apa kamu pikir ada orang yang kehilangan kedua orang tuanya karena pembunuhan, tapi ia justru disiksa oleh orang yang membunuh kedua orang tuanya itu, dan dia memaafkannya? Ya Tuhan .... aku pikir dia benar-benar gila!” kata Essan benar-benar kagum dengan pribadi Shafira.
“Sebenarnya kamu ini bingung atau gimana ...? Essan, perbaiki komentarmu yang benar yang mana, dia orang berhati malaikat apa orang yang gila?”
“Dasar sialan! Tapi baiklah, aku akan berusaha membuatnya tertarik padaku, anak-anakku juga menyukainya!”
“Hai, ingat! Jangan lupakan Ardan, oke? Yaa, aku kira dia juga menyukainya. Bukan cuma kamu yang berjasa pada Shafira, tapi Ardan juga!”
“Ya, aku tahu!”
Telepon di tutup setelah itu. Sementara hari sudah menjelang senja dan para pengunjung mall sudah berkurang jumlahnya. Biasanya pengunjung di malam hari, banyak terdapat generasi muda.
Tiba-tiba Riyan mendengar suara pintu mobil terbuka dan Shafira turun sambil mengusap matanya yang masih merah karena ia baru saja bangun dari tidurnya.
Wanita itu menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari Riyan dan setelah ia mendapati pria itu berdiri bersandar di samping mobilnya Ia pun mendekat.
Shafira terlihat salah tingkah dibuatnya, ketika Riyan menatapnya begitu lekat.
“Akhirnya, kamu bangun juga!” katanya.
“Dokter? Kenapa membiarkan aku tidur terlalu lama? Lihat, hari sudah sore, lebih baik aku pulang saja tolong antarkan aku, ya?”
__ADS_1
“Ini bukan sore, sudah hampir malam! Ayo! Naik lagi, aku antar kamu pulang!”
Shafira menurut dan ia kembali duduk di samping kemudi, sambil memakai sabuk pengaman lagi.
“Maafkan aku merepotkan Dokter!”
“Sudah kubilang jangan panggil dokter! Aku tidak repot kalau mengantarkan wanita secantik kamu, Shafira!”
Shafira diam sampai tiba di rumah, ia tidak berani memulai obrolan karena takut salah memanggil nama laki-laki yang ada di sampingnya. ia terlalu canggung untuk mengucap nama saja, karena sejak kali pertama bertemu, ia sudah menyebut pria itu dengan sebutan dokter.
“Dok! Eh, eum ... Riyan, tolong turunkan aku sebelum sampai di pintu gerbang, ya!”
“Kenapa? Apa kamu takut terjadi salah paham dengan Erick, karena kamu pulang bersamaku?”
“Ya, syukurlah kalau kamu tahu!”
“Kalau kamu masih berniat mengikis salah paham antara dirimu dan Erick, untuk apa kamu mengajukan perceraian dengannya? Bukankah lebih baik kalau membuat kesalahpahaman jauh lebih lebar lagi?” kata Riyan mencoba memberi penjelasan pada Shafira yang sikapnya, menurutnya bertolak belakang.
Shafira tidak menjawab, sementara mobil sudah memasuki area pintu gerbang kediaman Erick.
“Jadi kamu perlu menunjukkan siapa dirimu di sini, dan jadilah dirimu sendiri! Kamu tidak perlu takut dengan pria itu lagi, kau sudah punya pengacara, kau sudah punya aku! Kalau terjadi sesuatu ... atau mereka berbuat kasar lagi, segera hubungi Essan atau aku ... kami akan segera datang, apa kamu mengerti?” Riyan masih memberinya nasihat agar Shafira tidak khawatir lagi.
Pintu gerbang di buka oleh penjaga setelah tahu ada Shafira di dalamnya. Wanita itu turun setelah mobil berhenti di dekat teras rumahnya.
“Ya, aku tahu! Terima kasih Riyan!” katanya.
“Jangan sungkan!” jawab Riyan, lalu melambaikan tangan.
Setelah memastikan Shafira aman di pintu masuk dan baik-baik saja, ia pun memutar mobil dan segera keluar dari area halaman rumah Erick. Di saat yang bersamaan, mobil lain melintas, itu mobil Erick dan dua pria itu saling melihat satu sama lain.
Erick segera keluar dengan cepat begitu menghentikan mobilnya. Kendaraan itu terparkir tepat di depan pintu masuk rumahnya sendiri. Ia tergesa-gesa masuk dan memanggil Shafira. Ia mengenal betul wajah dokter itu kemungkinan besar mengantarkan istrinya pulang entah dari mana.
Pria itu sudah berkeliling dari ruang tamu, lalu ke kamar Shafira dan ke ruang makan, semuanya tidak ada.
Namun, yang membuatnya terkejut saat ia pergi ke dapur ... ia melihat Shafira sedang memegang leher Wulan dengan sebilah pisau di tangannya.
“Shafira! Apa yang kamu lakukan?” teriaknya panik.
__ADS_1