
Essan tercengang dan mengulurkan tangan, menyambut jabat erat dari Shafira. Lalu, duduk di hadapannya.
Ia merasa wanita itu sangat menarik dan tidak percaya kalau wanita itu telah diperlakukan kasar oleh Erick dan Wulan secara bersamaan.
Di matanya, Shafira begitu lembut dan manis hingga tak seharusnya mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya. Seandainya ia belum menikah, pasti akan menjadikannya sebagai istrinya. Profil wanita itu sesuai dengan yang dikatakan Riyan serta Ardan padanya.
“Saya mendengar Bu Shafira baru saja sembuh dari sakit bagaimana kabar ibu sekarang?” tanya Essan ramah, sebagai awal obrolan mereka.
“Seperti yang Anda lihat saya baik-baik saja!” Shafira menjawab sambil meletakkan smartphone-nya di atas meja.
“Oh, ya, Pak Essan, silakan Anda mau pesan apa?” tanya Shafira sambil menyodorkan buku menu pada lawan bicaranya.
Kata-kata yang keluar dari keduanya begitu formal, karena memang saat ini mereka terlibat, dalam hubungan yang bersifat formal.
Essan menerimanya dan memesan kopi jahe late pada pelayan, yang segera di antar ke mejanya, tak lama kemudian.
Ini sebuah kebetulan yang sangat menantang, entah bagaimana reaksi Wulan jika tahu Essan—sahabatnya, telah mendampingi madunya itu, dalam kasus perceraian dengan suaminya. Ia berharap Wulan menyukainya.
Awalnya, Essan mengira jika Shafira bukan madu yang dikatakan Wulan padanya. Namun, begitu Riyan menyebutkan nama suaminya, maka ia sadar kalau kasus yang dihadapinya itu cukup serius. Ia sebenarnya enggan menerima kasus ringan seperti perceraian. Ia biasa menangani kasus besar dan menantang. Namun, begitu mengetahui siapa wanita yang akan didampingi, seketika ia bersedia.
“Dari mana Anda mendengar kabar tentang saya, Pak Essan? Apakah Ardan atau Riyan yang cerita?” tanya Shafira, sambil menyeruput kopinya.
“Dua-duanya ... sepertinya Anda orang yang sangat kenal baik dengan mereka!” kata Essan, sambil meneguk kopinya.
Shafira mengangguk, “Ya!” katanya.
“Saya kenal baik juga dengan mereka ... saya pernah mendampingi Ardan dalam beberapa kasus perusahaannya, dan saya juga pernah mendampingi Riyan dalam kasusnya, dengan salah satu pasiennya!”
“Oh begitu ... berarti Anda pengacara yang hebat, Pak Essan! Saya bersyukur mengenal Anda dan mau menjadi pendamping saya!”
“Oh, itu biasa saja, sebenarnya Ardan juga sedang menghadapi masalah yang tidak mudah, tapi saya tidak diminta untuk mendampingi, karena dia tidak akan membawa masalahnya ke jalur hukum ... saya pikir dia mampu dan kompeten menanganinya sendiri.”
__ADS_1
“Sebenarnya saya kasihan juga padanya. Jadi, bagaimana menurut Anda tentang kasus saya? Tentu Anda sudah mempelajarinya bukan?”
“Ya, tentu saja, banyak sekali kasus yang serupa dengan Anda, Bu! Tapi ini mudah kalau memang menginginkan bercerai. Riyan sudah menemui saya dan memberikan beberapa bukti medis darinya!”
“Oh ya, bolehkah saya melihat buktinya?” tanya Shafira penasaran, sebab ia belum pernah melihat bukti itu secara langsung dan hanya mendengarnya dari Riyan.
“Tentu!” kata Essan sambil membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah map berwarna coklat.
“Kita seharusnya bertemu dengan dokter juga hari ini, tetapi dia memberitahu saya kalau ada jadwal operasi mendadak yang harus ditangani!”
Essan mengulurkan map itu dan Shafira melihat beberapa foto pad bagian tubuhnya yang dipenuhi luka lebam, bekas goresan dan luka akibat kekerasan lainnya. Termasuk hasil visum tentang penyebab keguguran yang dialaminya juga ada.
Ada beberapa hasil berupa angka-angka dan hanya dokter yang bisa mengerti, itu akan dijelaskan dalam sidang tahap pembuktian nanti.
Essan sebagai pengacara, merupakan seorang pendengar yang baik, sehingga ia mendengar keseluruhan masalah yang di alami Shafira dari awal pertemuan dengan Erik. Lalu, bagaimana penyiksaan dalam pernikahannya terjadi, sampai masalah terakhir yang dihadapinya saat ini.
Essan sedikit tercengang karena cerita yang dituturkan oleh Shafira sangat berlawanan dengan yang dikatakan Wulan padanya. Sahabatnya itu mengakui bahwa, shafira lah yang menjadi sumber masalah dalam pernikahan mereka. Ia terlalu cemburu dengan perubahan sikap Erick pada wanita itu.
Namun, bukan Shafira yang menjadi penyebabnya, melainkan Wulan sendiri yang berbuat di luar batas kewajaran. Waktu itu Wulan bercerita tanpa memberikan bukti apa pun padanya. Sekarang, Shafira memiliki bukti kuat atas semua kekerasan yang ia dapatkan dari suami dan madunya.
Essan menilai betapa buruknya pernikahan dan janji untuk menjaga Shafira yang dilakukan Erick itu terucap, tapi dengan mudahnya ia berkhianat.
Selain itu juga Ardan memberikan beberapa foto Shafira saat ia pingsan. Semuanya ia terima melalui pesan chat, saat pria itu menemukan Shafira tergeletak di jalanan. Hal ini menunjukkan kebenaran Shafira lebih terang daripada apa yang dikatakan Wulan.
Setelah mengetahui semuanya, Essan sedikit kecewa dengan Wulan, karena temannya itu mengatakan hal yang sebaliknya. Ia berpikir jika Wulan sebenarnya mempunyai indikasi untuk berbuat lebih jahat hanya untuk membuat Shafira berpisah dengan Erick. Ternyata Wulan begitu licik.
“Jadi, bagaimana sikap Wulan sekarang, setelah Anda keguguran, apakah dia jauh lebih baik?” tanya Essan mencoba memancing bagaimana reaksi Safira pada sikap Wulan.
“Aku sendiri terkejut, dia begitu baik setelah aku pulang dari rumah sakit! Menurutku aneh, tapi sepertinya dia menemukan cara agar aman!”
Essan kembali mengangguk, ia tahu perubahan itu karena Wulan menuruti nasehatnya, untuk bekerja sama dengan Safira. Ia memilih untuk menjadi baik agar madunya mau bercerai dengan suaminya.
__ADS_1
“Jadi, sepertinya Wulan tidak tahu bahwa, Anda mengajukan perceraian ini?”
Shafira tertawa kecil kemudian ia mengangguk.
“Tentu saja dia tidak tahu, dia akan senang sekali kalau tahu aku akan mendaftarkan perceraian, kalau dia tahu, bagaimana aku bisa melakukan balas dendam kepadanya?”
“Anda akan melakukan balas dendam seperti apa, Bu? Jangan sampai melakukan sesuatu yang melanggar hukum!”
“Ah, ya, tentu, aku bukan wanita yang sama seperti dia, Pak Essan! Tapi aku sudah memulainya tadi pagi dan itu sangat menyenangkan!” Shafira tertawa lagi saat ia membayangkan bagaimana reaksi Wulan.
“Oh, ya? Apa yang Anda lakukan kepadanya?”
“Aku tidak jahat seperti dia, kebetulan aku tidak sengaja menabrak kursi yang dia duduki dan dia sedang minum, lalu airnya tumpah! Dan aku tidak tahu kalau ternyata air tehnya itu masih panas, lucu sekali, kan?”
“Oh, sepertinya Anda senang sekali Bu!”
“Ya, aku senang saat melihat reaksinya! Apalagi, waktu aku memeluk Erick, wajahnya sudah merah padam, padahal aku belum melakukan hal yang lebih dari itu ... bagaimana kalau aku melakukan seperti yang dia lakukan pada Erick di hadapanku? Sebenarnya aku sendiri kasihan!”
Essan semakin paham kalau ternyata Shafira tidak bisa berbuat buruk seperti yang dilakukan Wulan kepadanya. Perbuatan buruk yang dilakukannya tadi pagi, merupakan segala hal yang tidak disengaja.
“Lalu, apa Anda tahu, apa yang menyebabkan sikap Erick berubah hingga membuat Wulan cemburu?”
“Entahlah, aku pernah bertanya padanya apakah dia mencintaiku, tetapi dia tidak menjawab!”
“Mungkin Erick belum yakin dengan perasaannya sendiri!”
“Ya, bisa jadi begitu! Tapi tidak ada orang yang 100% yakin dengan cintanya, iya, kan?”
Essan mengangguk saja, meski ia sendiri tidak tahu pasti jawabannya soal cinta seperti yang dikatakan Shafira.
“Baiklah, Bu Shafira, kita sebaiknya mendaftarkan perceraian ini sekarang juga, setelah itu biar aku yang mengurusnya, untuk pendaftaran ini, tetap Anda yang harus bertanda tangan karena Anda yang melakukan gugatan.”
__ADS_1
“Baiklah, mari!”
Dua pria dan wanita itu akhirnya pergi ke kantor urusan pernikahan sipil, setelah menghabiskan kopi.