
“Shafira?” katanya sambil meletakkan telepon genggamnya di dekat Renata. Lalu, ia berlari ke arah di mana matanya hanya tertuju kepadanya.
“Hai! Riyan! Kamu mau ke mana?” teriak Renata saat melihat Riyan berlari menjauh.
“Tunggu sebentar, Bu! Aku akan mengambil berlian ku!”
Ucapan Riyan, membuat ibu paruh baya itu berpikir keras, sambil terus memperhatikan ke mana arah anaknya berlari mencari berlian yang ia maksudkan itu.
Riyan sudah berdiri di hadapan perempuan yang sudah lama ia rindukan, ternyata sekarang terlihat lebih cantik dan tubuh nya semakin berisi. Tidak seperti terakhir kali mereka bertemu, Riyan semakin terpesona dengan wajah cantik yang di miliki Shafira.
Kecantikan yang berasal dari hati bukan dari tebal nya bedak yang di gunakan.
"Riyan! " Shafira kaget dengan seorang pria yang sekarang berdiri di hadapan nya.
Setelah bercerai dari Erick, Shafira sengaja mengasingkan diri dan menutup diri dari orang-orang yang pernah hadir di masa lalunya. Karena ia tidak mau terus merepotkan mereka semua, ia lebih memilih tinggal sendiri di kota lain untuk bisa menata hatinya kembali yang sempat hancur.
Kali ini ia sudah mulai terbiasa dengan kehidupan baru dan lingkungan baru, ia menjual semua peninggalan kedua orang tuanya kecuali rumah.
Shafira mulai merintis usaha kecil nya yaitu menjual pakaian yang di desain sendiri lalu ia jahit, dan di jual online.
Dalam waktu lima bulan ia sudah berhasil mengembangkan usaha, kali ini ia benar-benar berjuang sendiri.
Rasa sakit dan kecewa yang ia terima di masa lalu, terbayar sudah dengan keberhasilan nya dengan waktu singkat.
Awalnya ia hanya menyewa ruko yang tidak terlalu luas dan menjual semua karya nya dan bisa di lihat secara offline juga, ternyata hasil karya yang di ciptakan oleh Shafira banyak di minati oleh orang-orang kelas menengah ke atas.
__ADS_1
Sehingga kali ini ia di undang ke acara ulang tahun pernikahan salah satu pelanggan yang di adakan di tempat ini.
Sungguh Shafira merasa sangat bahagia bisa datang ke acara orang nomor satu di kota ini, dan ini berkat dari kerja keras dan kesuksesan yang di dapatkan nya.
"Shafira, kamu kemana saja selama ini. Aku hampir putus asa mencari keberadaan mu, bahkan media sosial yang kamu punya pun tidak aktif. Apa kamu sengaja menjauh dari ku? " Riyan berkata sambil menatap lekat wajah perempuan yang sangat ia rindukan.
Awalnya ia melihat sosok sang istri pada diri Shafira, sehingga ia tertarik untuk mendekati akan tetapi seiring berjalan nya waktu. Riyan tertarik pada Shafira bukan karena mirip dengan mending istrinya akan tetapi ada sisi lain yang tidak di temukan dari perempuan manapun.
"Aku tidak ke mana-mana" jawab Shafira dengan senyuman mengembang di bibir nya, sehingga terpancar wajah cantiknya dengan sempurna.
"Kenapa tidak bisa di hubungi? terus sekarang tinggal di mana? terus keadaan mu bagaimana? " banyak pertanyaan yang terlontar dari bibir Riyan, sehingga Shafira bingung harus menjawab pertanyaan yang mana dulu.
"Banyak sekali pertanyaan mu, harus ku jawab apa "
"Maaf untuk semua itu, aku sengaja tidak mengaktifkan nomor ponsel yang lama. Karena ingin fokus dengan kehidupan baru dan menata hati agar lebih siap untuk menghadapi kehidupan. selanjutnya. Kamu juga ngerti kan! keadaan ku pada saat itu" Shafira berkata sambil mengalihkan pandangan nya ke arah lain.
"Kenapa harus menghilang, aku siap menemanimu dalam keadaan apapun. Dan aku juga tidak siap menjawab semua pertanyaan anak-anak soal keberadaan mu, mereka anak kecil yang sangat merindukan sosok seorang ibu. Dan mereka menemukan nya di diri kamu" ucap Riyan sambil menatap lekat wajah Shafira.
"Karena tidak ada pilihan lain, selain pergi jauh"
"Mulai sekarang aku tidak akan membiarkan mu, pergi lagi dari ku. Sudah cukup aku kehilangan mu dan tersiksa oleh rindu yang tidak berkesudahan. Setiap sore aku selalu menatap Senja dengan harapan kamu kembali esok hari seperti Senja yang tak pernah lupa untuk kembali"
Perkataan Riyan sungguh membuat hati Shafira menghangat, selama ini ia tidak pernah merasakan di perlakuan layak nya seorang perempuan yang ingin mendapatkan kata-kata romantis dan perlakuan yang baik.
Baru mendengar Riyan berkata seperti itu saja, air mata nya sudah tidak mampu lagi di tahan.
__ADS_1
"Sungguh kamu merindukan ku? " tanya Shafira dengan mata yang sudah di penuhi cairan bening.
Tanpa di duga ini pertemuan dengan Riyan dengan cara seperti ini, padahal orang yang Shafira hindari selain Ardan.
Bukan karena Shafira tidak tahu terimakasih atas apa yang di lakukan Riyan, akan tetapi ia tidak mau terus bergantung pada siapa pun. Agar ia bisa hidup mandiri dan berdiri di atas kaki sendiri.
Shafira juga tidak lupa atas kebaikan Riyan dan Ardan akan tetapi ia juga ingin terlepas dari bayang-bayang masa lalunya.
Shafira tidak menyangka bahwa Riyan akan merindukan nya seperti ini, padahal mereka hanya sebagai pasien dan dokter yang merawat nya ketika sedang berada di rumah sakit.
Kedua anak kembar juga merasakan sangat kehilangan Shafira, padahal hanya beberapa kali saja mereka bertemu.
Sebelum pergi Shafira ingin sekali bertemu dengan Zain dan juga Zian, akan tetapi niatnya di urungkan ketika mengingat ayah si kembar adalah Riyan.
"Sungguh aku rindu kamu, kenapa menangis? Nanti orang mengira aku yang menyakiti mu" Riyan berkata sambil mengusap air mata Shafira dengan ibu jarinya.
"Terimakasih sudah menjadi orang pertama yang merindukan ku, aku pikir tidak akan ada orang yang rindu akan hadirnya aku"
"Mulai sekarang jangan pernah hilang tanpa kabar, karena di sisi lain akan ada seseorang yang tersiksa rindu" kata Riyan sambil membawa Shafira ke dalam dekapan nya.
Entah mengapa hati dan otak Shafira tidak sejalan, otak waras nya berkata lepaskan dekapan laki-laki yang bukan siapa-siapa mu. Akan tetapi hatinya berkata, ternyata sangat nyaman berada di dalam dekapan sosok seperti Riyan.
Setelah cukup lama, akhirnya otak waras Shafira lebih dominan dan ia berusaha melepaskan tangan kekar milik Riyan yang mendekap tubuh nya.
"Maaf, aku terlalu rindu akan hadir mu" kata Riyan salah tingkah, sungguh ia tidak bisa mengendalikan rasa rindu nya untuk Shafira.
__ADS_1
"Tidak apa-apa" jawab Shafira sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
Setelah cukup lama mereka berbicara dan pada akhirnya Riyan mengajak Shafira untuk menemui kedua anak nya beserta sang Mama.