
“Carikan penjaga untuk kamar istriku di rumah sakit!” Kata Erick begitu teleponnya tersambung dengan Hendra.
“Tapi, Tuan, bukankah itu akan menambah pengeluaran dari perusahaan?” Tanya Hendra dari seberang.
“Aku tidak meminta pembayaran dari perusahaan aku hanya memintamu mencarikan orang bukankah kau sudah terbiasa dengan hal seperti itu?”
“Baiklah, Tuan, kalau begitu Saya akan mencarikan yang terbaik, seperti yang Anda inginkan!”
“Aku tunggu mereka secepatnya, sebelum malam dan untuk urusan keuangan, gunakan dari rekening pribadiku saja! Pengeluaran perusahaan kita sudah cukup besar, untuk merekrut orang-orang yang membatalkan investasinya dengan perusahaan Ardan corporation!”
“Ya, Tuan Erick, saya mengerti!”
Erick menutup telepon secara sepihak dan semua yang dikatakan pria itu didengar oleh Shafira dari tempat tidurnya. Sebagai seorang istri yang tidak terlibat sama sekali dengan perusahaan ia tidak berdaya untuk melakukan sesuatu demi Ardan. Meskipun ia sangat menyayangi sahabatnya itu, tapi kalau untuk urusan perusahaan ya sama sekali tidak bisa membantu.
Shafira sadar Erick sengaja membicarakan hal itu dengan suara keras agar ia mendengar, dengan begitu ia akan berhati-hati bila ada Ardan mengunjunginya. Kalau ia tetap menjaga hubungan baik mereka, maka justru perusahaan Ardan corporation yang akan menerima akibatnya. Wanita itu kemudian berpikir untuk segera menjauh demi kebaikan sahabatnya sendiri. Bukan karena ia membenci, tetapi kalau ia membuat hati Erik panas atau marah, maka perusahaan Ardan akan semakin hancur.
Erick menatap ke arah istrinya dengan tatapan sinis ia tahu kalau Shafira cukup cerdas, untuk memikirkan tindakan selanjutnya. Makaudnya agar ia tidak berdekatan lagi dengan Ardan.
“Mas! Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanya Shafira yang membalas tatapan suaminya dengan penuh selidik.
“Ya, kamu bertanya soal apa?”
“Kenapa kamu melakukan hal itu pada perusahaan Ardan? Apa salahnya padamu?”
Erick memalingkan wajahnya sambil tersenyum menyeringai lalu kembali menatap Shafira sambil menegakkan tubuhnya.
“Karena dia berusaha untuk menyentuh istriku! Apa kau tidak sadar itu?”
__ADS_1
“Dia tidak menyentuhku sama sekali, Mas! Kalau sebagai sahabat dekat hanya bersalaman dan berpelukan itu wajar bukan?”
“Aku tidak menyangka kalau kau juga murahan! Bagaimana bisa berpelukan dengan laki-laki lain, di depan suaminya sendiri dikatakan wajar?” Erick mulai emosi dan ia berbicara sambil berdiri lalu mendekati bangsal pasien, yang menjadi tempat tidur istrinya.
“Aku tidak punya perasaan apa-apa padanya, kenapa kamu harus cemburu? Apa kamu sudah mencintaiku, Mas?”
Tiba-tiba Erick terdiam mendengar pertanyaan Shafira, tenggorokannya seperti tercekat ketika ia ingin menjawab pertanyaan yang ia sendiri tidak tahu jawabannya. Dalam hati Ia berpikir, apakah benar ia sudah ada rasa cinta pada istrinya.
“Kamu tidak bisa menjawabnya, kan, Mas? Itu artinya kamu tidak mencintaiku ...!” Shafira berkata sambil tertawa kecil dan memalingkan pandangan ke arah jendela.
“Jangan bicara seperti itu! Kamu tidak tahu isi hati manusia!”
“Aku tahu kamu tidak akan bisa meninggalkan Wulan, sudahlah, tidak perlu memaksakan diri, Mas! Aku juga tidak menuntut untuk kamu cintai!”
Seorang yang mencintai tidak mungkin menyiksa, seperti yang dilakukan Erick dan perasaan cinta tidak mungkin berlawanan dengan tindakannya. Kalau itu terjadi, maka Ia seperti seorang munafik yang justru akan merusak harga dirinya sendiri.
Soal kepuasan di atas ranjang itu, Safira sangatlah berbeda dengan Wulan. Shafira lebih banyak diam dan ia memang penurut. Namun, di lain sisi Erik sangat menyukai rintihannya yang kadang disertai dengan air mata. Ada kepuasan tersendiri saat menggaulinya.
Erick hampir tertidur saat pintu kamar rawat inap Safira itu diketuk dari luar. Hendra masuk setelah sang bus membersihkannya.
“Tuan, ini para penjaga sudah datang!” katanya.
“Kau sudah membawanya? Bagus!”
Erick keluar ruangan setelah Hendra mengenalkan dua pria bertubuh kekar dan berpakaian serba hitam berdiri di luar pintu. Ia memberikan instruksi pada dua penjaga, siapa saja yang boleh memasuki kamar Shafira. Semuanya boleh, terkecuali Ardan.
Erick menunjukkan foto orang yang tidak boleh dilarang untuk menemui Safira. Lalu, setelah kedua penjaga itu mengerti, Ia pun meninggalkan kamar dan pergi ke perusahaan kembali. Ia harus mengurus keperluannya bersama Hendra. Pikiran dan hatinya sudah tenang, karena sudah ada penjaga. Ia juga sudah membayar seorang perawat untuk tetap stand by di kamar istrinya.
__ADS_1
Sementara itu, Ardan baru saja selesai menemui seorang pemegang saham, yang tiba-tiba menarik investasi dari perusahaannya. Ia tidak berhasil melakukan negosiasi dan ia tahu, siapa dalang dibalik pembelotan beberapa komisaris tertinggi itu. Ia merasa lelah hingga ingin sekali bertemu dengan Safira hanya sekedar untuk membuang kejenuhannya.
Namun, ia kecewa saat akan memasuki kamar wanita itu, karena dilihatnya dua penjaga yang melarangnya masuk ke sana. Padahal, ia sangat ingin menemui sahabat kecilnya itu. Tentu saja ia berusaha dengan segala cara dan memanggil Shafira dari luar pintu agar menemuinya.
“Shafira! Aku Aku di sini kenapa aku tidak boleh masuk kita kan berteman Safira Apa kau tidak mau menemuiku?” teriak Ardan, sambil mendorong badan dua penjaga itu dengan sekuat tenaga.
“Ardan! Apa kamu di luar?”
“Ya! Mereka melarangku masuk sebenarnya apa salahku kita hanya bersahabat bukan pasti suamimu cemburu!”
“Ya, aku tahu! Coba tunggu sebentar, aku akan menemuimu di luar saja!”
Akan tetapi usaha Shafira yang ingin keluar untuk menemui Ardan, pun di cegah oleh perawat yang menjaganya hingga dua manusia itu tidak berdaya.
“Maafkan, saya Nyonya, Tuan Erick meminta saya untuk menjaga nyonya agar tidak kemana-mana ... Anda masih butuh istirahat dan agar cepat sembuh, bukankah Anda ingin cepat pulang nyonya?” kata perawat itu, sambil menahan tubuh Shafira agar tetap berada di tempat tidurnya.
Shafira berdecak kesal karena perawat itu berusaha keras untuk menahannya. Iya sadar kalau perawat itu juga mengorbankan rasa kasihannya, karena ia juga takut pada Erick.
“Maaf, Ardan! Aku tidak bisa menemuimu kembalilah lain kali saja!” kata Shafira akhirnya dari dalam kamarnya. Ia cukup sedih dengan keadaan mereka yang tidak bisa bertatap muka.
Ardan pun akhirnya menyerah dan tidak lagi berusaha melawan dua penjaga, lalu ia menghubungi Riyan—sahabatnya.
“Halo! Riyan, apa kamu tahu soal penjaga di kamar rawat inap Safira?” tanya Ardan langsung pada intinya, begitu teleponnya tersambung dengan Riyan.
“Apa? Aku tidak tahu kenapa bisa begitu?” jawab Riyan dari ujung telepon.
Ardan semakin gundah, karena ia pikir Riyan pun tahu jika kamar itu, dijaga ketat hingga dirinya tidak bisa menemui Shafira.
__ADS_1
“Kemarilah! Riyan, coba lihat sendiri kalau kamu mungkin bisa masuk dan membawaku ikut serta ke dalam kamar Safira!” katanya.