Air Mata Shafira

Air Mata Shafira
Bab 22


__ADS_3

“Lepaskan istriku! Atau kau akan mendapatkan akibatnya! Ardan, kau tahu sebagian bisnis keluargamu ada di tanganku!” kata Erick yang hatinya telah terbakar oleh cemburu.


Di antara ketiga orang itu, tidak ada yang tahu jika ada sepasang mata yang memperhatikan mereka, dengan saksama dari ambang pintu.


Dokter Riyan pun, melangkahkan kakinya kembali untuk pergi dari depan ruangan Shafira. Niatnya untuk masuk di urungkan dan pergi ke ruangan lain.


Ardan tidak mendengarkan apa yang di katakan oleh Erick, sebab Shafira malah memeluk nya dengan erat.


Hingga pada akhirnya, Erick melepaskan dengan paksa.


"Apa kamu tuli, sehingga tidak mendengar perkataan ku! " Erick berkata dengan nada bicara penuh penekanan.


Ardan yang sudah melepaskan pelukan nya, ia berdiri di sisi ranjang pasien.


"Hentikan! ini bukan salah Ardan, tapi aku yang memeluk nya. Karena aku butuh seseorang yang bisa mengerti perasaan ku" kata Shafira dengan mata yang sudah di penuhi cairan bening.


"Aku ini suamimu, jadi kamu bisa memeluk ku kapan pun kamu menginginkan nya" jawab Erick sambil menatap lekat wajah Shafira yang sudah berderai air mata.


"Silakan kalian berdua pergi dari sini, aku butuh waktu sendiri! " ucap Shafira, lalu memiringkan tubuhnya sehingga membelakangi dua laki-laki yang ada di dekatnya pada saat ini, hati Shafira juga masih sedih dan badan pun akibat benturan masih terasa sakit.


"Kenapa kamu masih berdiri di situ, bukankah Shafira sudah mengusir mu! " kata Erick dengan ketus.


"Aku Mohon, keluar lah kalian berdua aku butuh ketenangan" Shafira berbicara dengan nada lirih.


"Baiklah, aku keluar! jaga dirimu yah" kata Ardan sambil mengusap rambut Shafira, dan hal itu membuat Erick tambah marah.


"Apa-apaan ini, bukan nya cepat keluar! dia itu istri orang jangan sembarangan pegang-pegang. Masih belum ngerti juga! " kata Erick sambil menyingkirkan tangan Ardan dan tatapan mata yang tajam.


"Katanya suami, tapi nggak becus jaga istri. Laki-laki macam apa, sok punya istri dua. Padahal belum mampu! " kata Ardan dengan nada bicara mengejek, laki-laki itu berjalan perlahan keluar sambil masukan tangan ke saku celana nya.

__ADS_1


Erick pun mengepalkan kedua tangannya, ingin rasanya ia menghajar Ardan akan tetapi ia sadar bahwa sekarang sedang berada di rumah sakit dan dia juga nggak mau Shafira semakin marah terhadap nya.


Sekarang saja Shafira sudah tidak mau menatap wajahnya, bahkan selalu menepis tangan Erick ketika hendak menyentuh Shafira.


Akhirnya Erick hanya diam, sambil menatap punggung Shafira. Ia tidak berani berkata apapun, hanya diam.


Setelah cukup lama, akhirnya ia pun keluar ruangan dan akan segera pergi ke kantor karena Hendra menghubungi nya sebab ada pekerjaan yang harus di kerjakan.


Setelah kepergian Erick, akhirnya Shafira pun berusaha untuk duduk karena sudah merasa pegal tiduran terus.


Lalu ia mengusap perutnya sambil berkata " sayang ibu, kamu pasti kuat yah. Kan anak hebat" batin Shafira.


Ia belum tahu bahwa bayinya tidak bisa di selamat kan, karena pas dokter Riyan memberi tahu keadaan janinnya keadaan Shafira belum sadarkan diri. Ia masih yakin bahwa saat ini bayinya masih ada, setelah cukup lama.


Terdengar pintu ruangan terbuka, dan ternyata yang datang adalah dokter Riyan.


Dokter pun berjalan perlahan mendekati Shafira yang masih dalam keadaan duduk, wajahnya masih terlihat sangat pucat.


"Kenapa dia mirip sekali dengan nya" batin dokter Riyan sambil menatap lekat wajah Shafira.


Shafira yang di tatap seperti itu, langsung memanggil dokter Riyan.


"Apa dokter baik-baik saja! "


Akhirnya perkataan Shafira sudah berhasil membuat dokter Riyan tersadar.


"Seharusnya yang bertanya seperti itu aku, bukan kamu" kata dokter Riyan sambil duduk di kursi yang ada di sisi ranjang Shafira.


"Lagian, dokter kenapa bengong? " tanya Shafira.

__ADS_1


"Kamu itu mirip sekali dengan istri ku, tapi sayang sekarang sudah pergi jauh"


"Masa sih, dok. Mana ada orang mirip dengan ku yang jelek ini" Shafira berkata sambil menyentuh wajahnya.


"Senyum mu, mirip sekali dengan nya"


"Suatu kehormatan jika aku mirip istri mu, oh ia dok. Bagaimana keadaan janin yang aku kandung. Apakah baik-baik saja? " tanya Shafira sambil menatap lekat wajah dokter Riyan dengan hadapan jawaban nya sesuai dengan keinginan nya.


"Maafkan, saya? " dokter Riyan berkata dengan nada bicara yang lirih.


"Maksudnya? "


"Aku tidak bisa menyelamatkan bayi yang kamu kandung, dari kemarin saya sudah bilang bahwa kamu harus hati-hati. Karena kondisi kamu juga lemah, untuk kali ini saya tidak bisa menyelesaikan nya" kata dokter Riyan dengan nada bicara penuh permohonan.


Shafira tidak menjawab apapun, ia hanya diam sambil mengusap perutnya. Dengan air mata yang mengalir begitu saja, sungguh ia tidak percaya akan kehilangan calon bayinya. Meskipun janin yang di kandung nya adalah benih dari Erick yang selalu menyiksa dirinya, akan tetapi janin itu hadir hasil dari pernikahan yang sah.


"Aku sangat mengerti perasaan mu pada saat ini, akan tetapi ada satu hal yang perlu kamu ingat. Jika Tuhan mengambil apa yang paling kamu sayangi maka Tuhan juga akan mengganti nya dengan yang lebih indah. Percayalah bahwa akan ada kebahagiaan untuk mu setelah ini" Riyan berkata dengan nada bicara pelan, akan tetapi mampu di dengar jelas oleh Shafira.


"Kenapa Tuhan begitu kejam padaku, pertama mengambil Ayah ku, lalu ibu. Dan sekarang calon bayiku, lalu setelah ini apalagi. Apakah setelah ini nyawaku juga akan di ambil Tuhan, kapan penderitaan ini akan berakhir" jawab Shafira sambil menangis.


"Aku pernah berada di posisi mu, aku juga tidak bisa menerima kenyataan dan selalu menyalahkan keadaan. Padahal ketika aku belajar apa itu ikhlas maka itu jauh lebih baik, karena kita di dunia ini hanya sementara dan semua juga hanya titipan. Aku sangat yakin kamu itu perempuan hebat, pasti bisa melewati ini semua" kata dokter Riyan.


"Mungkin dokter bisa melewati nya, karena banyak orang-orang yang menyanyi dokter akan tetapi bagaimana denganku, bahkan suami saya sendiri pun tidak menginginkan kehadiran ku di rumah nya. Dan mereka juga berusaha untuk menyingkirkan ku dari rumah itu, aku hanyalah perempuan lemah dan tidak sekuat yang orang lain liat" jawab Shafira dengan nada bicara terbata-bata karena menangis.


"Jangan pernah berfikir bahwa kamu sendirian, karena ada Tuhan yang selalu bersama kita"


Seketika Shafira diam, hanya suara tangis nya yang terdengar. Dokter Riyan pun sangat prihatin dengan keadaan Shafira pada saat ini.


Di saat mereka saling diam, pintu ruangan pun terbuka kembali dan orang itu berdiri di ambang pintu dengan membawa beberapa kantong di tangannya.

__ADS_1


Shafira dan dokter Riyan pun menatap ke arah orang tersebut.


__ADS_2