
Kediaman Andreas...
Mami abang mana? inikan hari Minggu , aku mau ajak abang mancing di sungai. Tanya bocah berumur 13 tahun itu, siapa lagi kalau bukan Fadhil, anak tampan nan manis yang sangat mengagumi sang abang.
Abang masi tidur, coba de, adek bangunin. Mendengar kata maminya, fadhil segera berlari ke kamar abangnya.
Cekelek.. Fadhil masuk ke kamar abangnya yang kebetulan tidak terkunci. Di atas kasur nampak seorang pemuda yang masi asik dalam mimpinya. Fadhil mendekati abangnya dan langsung membangunkannya.
Abangg.. Abang.. Bangunnn ayaokk mancing di sungai.. Fadhil terus menggoyangkan badan abangnya. Fauzan yang mulai terusik dengan tingkah adiknya perlahan membuka matanya. Abang masi ngantuk dek.. katanya
Tapi abang, aku mau mancing. Udah lama ngga mancing sama abang. Abang selalu sibuk ngga ada waktu lagi. Katanya dengan nada sedih.
Fauzan yang mendengar itu merasa bersalah. Baiklah abang mandi dulu. Tunggu abang di bawah. Katanya sambil berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
30 menit kemudian...
Fauzan yang sudah ada di ruang keluarga langsung mengajak sang adik. Ayo dek, katanya mau mancing.
Ayokk bang. Mami, papi, kami mau mancing dulu ya.
Iyaa jangan lama-lama mancingnya. Nasehat maminya karena iya tau betul anak-anaknya suka lupa waktu kalau sudah memancing di sungai itu.
Iyaa bun.. Jawab mereka berdua. Setelah itu mereka langsung menuju sungai menggunakan mobil. Hanya butuh 10 menit mereka sampai.. Mereka bedua berjalan kaki menuju sungai yang tak jauh dari jalan tempat mereka memarkirkan mobil.
Setibanya di sungai mereka langsung menyiapkan alat pancing..
15 menit berlalu tapi mereka belum mendapatkan apa-apa. Fadhil yang jenuh melihat kesana kemari seolah sedang menilai sungai itu. Tanpa sadar matanya melihat sesuatu yang tersangkut di bebatuan.
Abangggg... Abangggg... Lihat itu..
Teriak sang adik sambil menunjuk sesuatu yang tersangkut di batu.
__ADS_1
Furqan yang mendengar teriakan sang adik kaget dan langsung menghapirinya..
Abanggg.. Cepat lihat itu..
Furqan mengikuti arah yang ditunjuk adiknya. Matanya menajam memastikan penglihatannya. Seketika matanya terbelalak saat melihat seorang gadis di sana. Tanpa pikir panjang Furqan menghampirnya, berharap seseorang di sana masi bernafas.
Furqan...
Aku mendekatinya, tanganku ku letakakkan di hidung. Aku merasakan nafasnya. Gadis ini masi hidup. Aku langsung mengangkat tubuhnya dan membawanya ke mobil. Alat pancing tak ku pedulikan, yang penting sekarang keselamatan gadis ini.. Ayokk dek pulang cepat, teriakku kepada fadhil yang dari tadi memandangku.
Bang apa dia masi hidup?? Tanya adikku
Iya. Makanya cepat kita pulang.
Kita bawa ke RS aja bang.. Kata adikku lagi.
Tidak ada waktu. Ambil telpon abang, telpon tante sisi untuk ke rumah sekarang juga. Bukannya aku tidak mau membawanya ke RS, tapi jaraknya lumayan jauh, rumah tante sisi juga dekat dengan rumahku dan lagi peralatan RS lumayan lengkap di ruanganku.
Aku bergegas memasuki rumah, di sana sudah ada tante sisi, mami dan papi. Aku berlalu menuju ruanganku tanpa berkata-kata. Mami, papi dan tante sisi mengikutiku tanpa bertanya apapun. Ini pertama kalinya aku membawa seseorang keruangan ini. Aku langsung membaringkannya di atas tempat tidur. Tante sisi yang mengerti segera memeriksa keadaannya. Dari sini aku melihat tante sisi mulai memasang selang infus. ketangan gadis itu.
Kalian tunggulah di luar, aku akan memeriksanya lagi.
Kami keluar menuju ruang keluarga sambil menunggu tante sisi.
Fuqan, panggil tante sisi yang sudah ada di ruang keluarga.
Hmm..
Dimana kamu menemukan gadis itu? Apa dia temanmu? Tanya tante Sisi
Kami menemukannya saat memancing tadi. Tubuhnya tersangkut di batu, di tengah sungai. Aku bahkan tidak mengenalnya.
__ADS_1
Hanya dua kemungkin. Kata tante sisi
Makudnya apa kk?? Tanya mami. Ya tante sisi adalah kk kandung mami.
Setelah memeriksanya tadi aku menyimpulkan dua hal. Yang pertama, ada yang mencoba membunuhnya dan yang kedua, dia memang berniat mengakhiri hidupnya. Aku bilang begitu bukan karena dia ditemukan di sungai tapi karane hasil pemeriksaanku tadi.
Tante bisa ngga si langsung keintinya, jangan berbelit-belit ngomongnya. Kataku yang tak sabar menunngu penjelasannya.
Dilihat dari penampilannya, mukanya memar dan bengkak, sudut bibirnya robek, memar pada bagian perutnya. Dan...
Dan apa tante, tanyaku lagii..
Ku lihat tante sisi yang diam seolah ragu mengatakannya.
Hhmm sepertinya gadis malang ini adalah korban pemerkosaan.
Degg....
Entah kenapa hatiku sesak mendengarnya, kekerasan dan pemerkosaan. Malang sekali nasib gadis itu.
Ku lihat mami, papi, dan fadhil juga kaget mendengarnya.
Mi, pi, bolehkah aku menjaganya? Tanyaku spontan.
Lagi-lagi semua kaget dengan perkataanku, tapi mereka tetapengizinkanku melakukannya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
***jangan lupa vote ya guys...
love you***.....
__ADS_1