
Setelah memarkirkan mobil di halaman rumah aku mengajak mereka untuk masuk.
Gila rumahnya bagus banget,, orang tua lo kayaknya kaya banget de Nay.
Aku yang mendengar ucapan Rena hanya tertawa. Ku akui rumah mereka emang bagus dan besar. Bahkan rumahku yang dulu ngga ada apa-apanya jika di bandingkan dengan rumah ini.
Udah ah ayok masuk aja.
Ruang keluarga...
Assalamualaikum mi, pi.
Eh walaikumsalam sayang. Kamu udah pulang. Kata mami sambil melihatku dan sahabatku
Mereka pasti sahabatmu kan. Ayo sini duduk, jangan malu-malu anggap aja rumah sendiri.
Ehh iya makasih tante. Kata bg Tomo canggung.
Panggil mami aja, kayak Naya. Nah itu suami saya kalian panggil papi aja. Kata mami memperkenalkan papi yang hanya dibalas senyuman.
Kami mulai berbincang, membicarakan banyak hal, suasana yang awalnya canggung kini terasa hangat. Obrolan yang diselingi oleh canda tawa.
Assalamualaikum. Kami menoleh ke arah suara. Waalaikumsalam jawab kami.
Eh udah palng nak. Sini kenalan sama sahabat-sahabat Naya.
Iya kanalin bang sahabat Naya. Ini Nela, Rena, bang Tomo dan bang Ikbal. Kataku memperkenalkan sahabatku.
Oh ia salam kenal ya. Gue Furqan. Ya udah gue ke kamar dulu ya, mau bersih-barsih, kalian lanjut aja ngobrolnya. pamit bang Furqan.
Sebelum ke kamar bang Furqan menyempatkan diri untuk mengelus kepalaku. Aku hanya tersenyum melihatnya..
Kamipun melanjutkan obrolan yang sempat tertunda tadi hinga tiba-tiba aku menyadari sesuatu.
Degg...
Tidak.. Tidak
Ini ngga boleh terjadi.. Batinku cemas.
Kamu kenapa sayang kok kayak panik gitu. Tanya bunda yang melihatku
Hmm ngga kok mi. Jawabku seadaanya.
Hmm Naya kami kayaknya harus pamit dulu de. Takut dicariin. Kata Nala yang diangguki yang lain.
Oh ya udah kalian hati-hati di jalan. Titip salam buat nyokap bokap ya.
Iyaa. Mi, pi kita pamit ya, Assalamualaikum. Pamit mereka
Waalaikumsalam, kalian hati-hat, jangan lupa sering-sering main ke sini ya. Kata mami
Iya mi. Jawab mereka kompak.
Hmmm Naya juga mau izin ke apotik dulu ya.
Loh kamu kenapa? Kamu sakit? Tanya mami panik
Ngga kok mi, Naya cuma mau beli sesuatu doang kok. Ya aku harus memastikannya.
Ya sudah minta dianterin pak Iman aja, atau kamu mau sama abangmu?? Tanya mami
__ADS_1
Ngga mi. Sama pak Iman aja. Abangkan baru pulang kerja. Tolakku. Aku ngga mau kalau bang Furqan tau apa yang aku beli di apotik. Aku mau merahasiakannya dulu sebelum semuanya pasti.
Hm baiklah, kamu hati-hati.
Iya mi, Assalamualaikum.
Waalaikumsalam.
------------------------------------------------------------------------
Setelah dari apotik aku memasuki kamar. Dan disinilah aku sekarang di dalam kamar mandi dengan beberapa benda di tanganku. Merek yang berbede-beda tapi fungsinya sama aja. Aku hanya ingin memastikannya saja. Makanya aku membeli dengan merek yang berbeda-beda.
Aku keluar dari kamar mandi masi dengan memegang benda itu. Aku belum berani melihatnya. Aku takut semua ketakutanku menjadi nyata. Aku terus berkecamuk dengan pikiranku, sampai suara pintu mengalihkan perhatianku.
Ceklek...
Disana ku lihat bang Furqan yang sedang memandangiku. Dia mengernyitkan dahinya saat melihatku.
Kamu kenapa??
Aku hanya menggeleng mendengar perkataannya sambil memegang erat benda yang ada di tanganku, berharap bang Furqan tidak melihatnya. Sampai ku lihat matanya tertuju pada benda yang ada di tanganku. Segera ke sembunyikan tanganku ke belakang agar bang Furqan tidak melihatnya.
Melihat tingkahku, bang furqan semakin mengernyitkan dahinya, melihat itu aku semakin gelisah.
Tak
Tak
Bang furqan berjalan kearahku dan meraiah tanganku. Benda yang tadi kupegang beralih ke tangan bang Furqan.
Apa ini?? Tanya bang Furqan
Tespack.. Kataku lirih
Furqan....
Apa ini??
Kulihat dia hanya diam. Sebenarbya aku tau ini apa.
Tespack... Katanya lirih
Apa kamu sudah melihat hasilnya. Tanyaku.
Dia menggelang, aku takut melihatnya hiks.. Aku takut bang hiks..
Aku menarik nafas panjang, biar abang yang lihat, ingat apapun hasilnya, kamu masi punya kami, mengerti.
Ku alihkan pandanganku pada tespack yang ada di tanganku. 3 tespack dengan merek yang berbeda-beda.
Degg....
2 haris merah. Bukan hanya 1 tespack tapi ketiganya. Mataku memerah, kualihkan pandanganku untuk menatapnya.
Positif.
TIDAKKK... HIKSS.. HIKS....
NAY NGGA MAU BANG..
NAY NGGA MAU.... HIKSS HIKSS..
__ADS_1
Ku tarik dia kedalama pelukanku. Tenanglah Nay, kamu harus kuat. Kamu masi punya kami..
TIDAK BANG.. HIKSS..HIKSS. ..
KENAPA TUHAN BEGITU JAHAT PADAKU...
KENAPA.. HIKS.. HIKS...
INI NGGA ADIL.. AKU BENCI HIKS.. HIKS..
Naya terus meronta-ronta, menangis meraung. Aku harus sekuat tenaga untuk menahannya.
HIKSS.. LEBIH BAIK AKU MATI.. HIKSS. . AKU NGGA MAU HIDUP LAGI. HIKSS..
Aku emosi mendengar perkataannyan. APA YG KAMU KATAKAN HAH?? APA KAMU SADAR? Kataku membentaknya.
Ada apa ini? Mungkin karena mendengar keributan dari kamar Naya mami dan papi bergegas ke kamar Naya.
Aku hanya diam mendengar pertanyaan mami. Dan Naya masi menangis dalam pelukanku. Mami berjalan mendekatiku. Dan tanpa basa basi aku meneyerahkan 3 tespack itu kepada mami. Melihat itu mami syok, tespack yang tadi di tangannya jatuh. Air matanya mulai mengalir.
Nay,, panggil mami dengan suara bergetar.
Nay masi punya mami dan papi, kita hadapi semuanya bareng-bareng ya. Nay ngga boleh putus asa, Nay harus kuat.
Benar kata mamimu Nay, papi bersumpah akan membalas semua yang kamu alami saat ini. Kata papi yang tersirat penuh emosi.
Nay hei, dengerin abang. Apapun yang terjadi kamu harus kuat. Kita akan melewati ini bersama. Abang janji akan selalu di samping kamu. Apa kamu mau menikah dengan abang?? Kataku bersungguh-sungguh.
Kurasakan dia mematung beberapa saat lalu menggeleng. Apa aku baru saja di tolak? Kenapa rasanya sesak. Kenapa Nay, kau tau? Aku menyukaimu, aku sungguh menyayangimu. Kataku lagi
Mami dan papi hanya diam mendengar perkataanku. Aku yakin mereka tidak keberatan dengan keputusanku.
Ayana....
Kenapa Nay, kau tau? Aku menyukaimu, aku sungguh menyayangimu.
Aku mematung mendengar perkataannya. Aku tidak menyangka bang Furqan memiliki perasaan padaku. Tapi aku tidak bisa menerimanya, bukan karena tidak menyukainya, tapi aku merasa tidak pantas untuknya.
Tidak bang.. Nay ngga mau jadi beban. Masa depan abang masi panjang dan lagi abang bisa mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dariku. Aku tidak pantas buat abang. Kataku
Ngga Nay,, kamu bukan beban, dan siapa bilang kamu tidak pantas buatku. Kamu adalah perempuan terbaik yang pernah aku kenal. Mungkin itu juga yang membuatku mulai menyukaimu. Ku mohon menikahlah denganku. Sapaya kita bisa merawat anak ini kelak. Kata bang Furqan sambil mengelus perutku. Aku bisa melihat kesungguhan dimatanya.
Benar kata Furqan Nay, menikahlah dengannya supaya ada yang akan menjagamu. Kata papi yang mendapat persetujuan mami.
Ngga pi, mi,, tolakku.
Tapi kenapa? Apa karena kamu tidak meyukaiku. Kalo itu alasannya kamu bisa belajar untuk menyukai. Akun akan mengunggumu.
Bukan bang. Ku akui aku memang tidak memiliki perasaan kepada abang. Tapi bukan itu alasanku. Aku belum siap untuk memulai hubungan yang baru, aku takut bang.
Tapi Nay...
Bang, mauka kau menungguku untuk siap? Aku akan belajar menyukaimu. Setidaknya setelah anak ini lahir. Aku juga tidak mau keluarga ini menanggung malu karenaku. Jadi kalo abang benar-benar menyukaiku, maka bersabarlah. Kataku pada akhirnya
Baiklah. Tapi mulai sekarang kamu dan anak ini adalah milikku. Aku akan menunggu sampai kau bisa menyukaiku, tidak, tidak, sampai kau mencintaiku. Tidak peduli berapa lama aku menunggu.
Aku hanya mengangguk mendengar perkataannya. Apa itu artinya sekarang aku adalah kekasihnya. Ah ntahlah.
Ya sudah kamu istrahatlah dulu. Besok abang akan mengantarmu ke dokter kandungan. Kami keluar dulu. Ingat jangan terlalu banyak pikiran.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
__ADS_1