
Di sebuah taman tampak seorang gadis tengah duduk di kursi menunggu seseorang. Ya siapa lagi kalo bukan Ayana. Tadi pagi Rion menelpon dan mengajaknya bertemu di taman. Ayana yang sudah lama tidak bertemupun langsung mengiyakan ajakan Rion. Dia begitu senang karena setelah beberapa bulan tidak bertemu, akhirnya Rion mengajaknya untuk bertemu.
Ayana, maaf udah lama nunggunya?. Tanya seserong yang baru saja tiba. Ayana menolehkan kepalanya untuk melihat seseorang yg berbicara padanya. Dengan senyum yang mengembang Ayana berdiri dan langsung memeluknya sang Rion. Ya laki-laki itu adalah Rion kekasih Ayana.
Kak, kakak kemana aja?? Apa sangat sibuk?? Tanya Ayana setelah melepaskan pelukannya.
Maaf ya, aku sibuk banget akhir-akhir ini. Kata Rion seraya mengelus kepala Ayana.
Iya kak, ngga masalah. Aku ngerti kok. Oh iya kak, kita cafe aja yuk, aku juga udah lama ngga ngobrol sama kak Rion. Ajak Ayana kepada Rion.
Ayok. Aku juga kangen ngobrol sama kamu.
Di cafe....
Kak Rion sibuk apa akhir-akhir ini? Rion yang ditanya hanya fokus membalas pesan yang masuk di Hp'nya tanpa menjawab pertanyaan Ayana. Kak Rion. Kakak lagi ngapain si, dari tadi sibuk banget?
Ehh ngga kok, cuma bales chat dari teman aja. Kata Rion lalu melanjutkan kembali kegiatannya.
Ayana merasa Rion benar-benar berubah. Bahkan sedari tadi Ayana terus berbicara tapi tak ada tanggapan dari Rion. Sampai mereka pulangpun Rion tidak mengantar Ayana pulang dengan alasan sibuk. Ayanapun tidak bisa memaksa dan langsung pulang dengan angkutan umum.
Setibanya di rumah, Ayana langsung masuk tanpa memperdulikan orangtua dan kakaknya yang sedang bercanda tawa di ruang tamu.
Darimana saja kamu?? Tanya sang ayah dengan muka marah. Kamu tu kerjaannya cuma keluyuran ngga jelas, main sana sini sama anak-anak nakal itu.
Tadi Ayana hanya ke cafe yah.
Alahhh alasan aja kamu. Semakin lama saya semakin muak lihat muka kamu.
Ayana yang mendengarnya langsung berlari ke kamar dan menghempaskan dirinya ke atas kasur. Muak yaa hh kata Ayana tertawa miris. Aku bahkan lebih muak dengan kalian. Srigala aja sayang sama anaknya, tapi kalian yang ngaku manusia bahkan tega menyiksa fisik dan batin anak kalian sendiri.
Ayana terus memikirkan nasibnya. Mulai dari orang tua yang selalu mencacinya bahkan sering memukulinya. Kakaknya yang selalu menyudutkannya dan melimpahkan semua kesalahan padanya. Bisa di bilang alasan orangtuanya memukulnya sebagian besar adalah karena ulah sang kakak yang selalu memfitnah dirinya. Ayana benar-benar merasa tinggal di dalam neraka. Bahkan sekarang Rion bersikap aneh. Seperti ada yang sedang dia sembunyikan.
Ayana bukannya mau berpikir negatif tentang Rion, tapi selama ini Rion tidak bisa diam di depan Ayana, walaupun dia sibuk atau punya masalah sekalipun. Tapi tadi, Rion selalu diam dan sibuk dengan hp'nya, bahkan senyum sendiri tiap kali ada pesan yang masuk. Apa Rion udah mulai bosan kepadanya, atau Rion udah punya kekasih baru. Memikirkannya saja Ayana sesak. Rion adalah salah satu penyemangatnya selama ini. Rasanya sakit kalo harus berpisah dengannya. Tanpa sadar air mata Ayana menetes dari sudut matanya hingga tak sadar dia sudah terlelap dalam mimpinya.
__ADS_1
Tidurnya tiba-tiba terganggu dengan kedatangan sang kakk yang langsung menarik rambutnya.
Eh lo, gue muak lihat muka lo tiap hari di sini, kenapa loh ngga pergi aja si dari sini. Ganggu kebahagiaan orang aja. Katanya sambil terus menarik rambut Ayana.
Auuu sakit kak. Kakak kenapa? Apa salah Ayana?? Tanya Ayana sambil memegang kepalanya yang sakit karena ulah kakaknya.
Iyaaa loh salah. Lo salah karena hadir di hidup gue, lo salah karena tinggal di sini. Sebenarnya Anya menyukai Rion, dan tanpa sepengetahuan Ayana, Rion dan Anya berhubungan di belakang Ayana. Itu juga yang buat Anya semakin benci kepada Ayana, apalagi tadi Anya melihat Rion dan Ayana di cafe. Anya semakin marah dan rasanya ingin melenyapkan Ayana.
Anya semakin marah, mengingat kejadian tadi membuatnya semakin menarik rambut Ayana dengan sangat keras. Ayana yang kesakitanpun tak sadar mendorong Anya hingga Anya jatuh dan kepalanya membentur sudut kursi dan mengeluarkan sedikit darah.
Auuuuu sakiitt terika Anya.
Orangtuanya yang mendengar teriakan Anya langsung masuk kedalam kamar dan melihat Anya yang masi duduk sambil memegang kepalanya yang sakit. Ada apa ini?? Anya kamu kenapa nak?? Apa yg terjadi?? Tanya ayahnya beruntun sambil menghampiri sang putri dan melihat pelipis Anya yang mengeluarkan sedikit darah.
Ayaahh, bunda, Ayana yang mendorongku, aku ngga tau kenapa dia tiba-tiba saja mendorongku padahal aku hanya bertanya baik-baik padanya. Adu Anya kepada kedua orangtuanya sambil menangis.
Ngga yahh, aku ngga sengaja, sungguh, tadi kak Anya menarik rambutku dan tanpa sengaja aku mendorongnya. Sungguh aku ngga sengaja.
Plaakkk
Plaakkk
Plaakkk
Yah,, kenapa kau menamparku? Tanya Ayana sambil memjamkan matanya menahan air mata yang siap meluncur tapi tetap saja air matanya tetap mengalir dengan derasanya.
Kamu masi bertanya kenap, dasar anak tidak tau diri. Harusnya kamu berterima kasih selama ini kami mau merwatmu anak sialan. Teriak sanda dengan waja merah yg menandakan dia sangat marah saat ini.
Tapi aku juga anak kalian. Kata Ayana lirih.
Oh masi bisa bicara,, ternyata tamparab ngga cukup buat kamu ya, kata ayah sambil membuka ikat pinggang yang ia pakai.
puuukkkk,,, puuukkkkk,
__ADS_1
Sakit yah, ampun... mohon Ayana.
Ampun kamu bilang hah. Ini belum cukup.
pukkkk.... puukkkk.. puukkkkk...
Setelah puasa memukul Ayana dengan ikat pinggang, ayahnya menyeret Ayana ke kamar mandi. Mengisi wastafel lalu menenggelamkan kepala Ayana. Setelah puas dua baru melepaskan Ayana.
Ayana jatuh, kakinya lemas. Ayah, bunda aku juga anak kalian. Kenapa kalian tega padaku. Kata Ayana sesegukan.
Tidak kamu hanya anak pembawa sial. Kau bukan anakku. Bentak sang bunda lagi.
Ayana yang mendengar itu hanya diam dengan air mata yang terus mengalir. Dadanya begitu sesak mendengar ucapan sang bunda. Meski demikian Ayana tidak menganggap serius perkataan sang bunda, pasalnya Ayana sudah sering mendengar perkataan bundanya itu. Menurut Ayana itu hanya bentuk luapan emosi sang bunda.
Yah.. Lirih Ayana memanggil sang ayah. Berharap ayahnya akan meliriknya untuk sekali ini saja.
Plaaakkk
Plaaakkk
Tamparan keras ayahnya mengakibatkan sudut bibirnya lagi-lagi mengeluarkan darah. Ayana hanya bisa memjemkan matanya untuk mengilangkan perih yang dia rasa. Tidak, sakit di pipinya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya saat ini.
Setelah menampar Ayana sang Ayah membantu Anya berdiri dan mengajaknya keluar. Ayoo nak, jangan pernah masuk ke kamar anak sialan ini lagi, dan jangan pernah mengajaknya berbicara. Kata sang ayah.
Tapi yah, dia adik aku.
Diam. Ayah tidak mau mendengar apa-apa lagi. Mendengar perkataan sang ayah, Anya diam-diam tersenyum. Ini yang dia inginkan. Ayana akan menderita dan mati secara perlahan.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
***Hallo guys,,,,
Jangan lupa tinggalkan jejak ya.
__ADS_1
Love you***....