Akhir Pekan Berdarah

Akhir Pekan Berdarah
Bab 11


__ADS_3

Dengan kesal Peter berkata


"Lupakan saja. Itu sudah tidak penting lagi sekarang. "


Kemudian dia bertanya


"Apakah mobilnya sudah siap?"


"Sudah."


"Kalau begitu setelah makan siang kita akan langsung berangkat. "


Akhirnya bisa keluar dari hiruk pikuk kota London melewati bukit bukit , hutan pinus dan lembah. Melihat pemandangan gunung gunung dan hutan yang berubah warna menjadi merah dan jingga , tanah yang basah karena terkena air hujan. Melihat The Blossom bertemu dengan William , Julia dan Graciela.


Sudah hampir seminggu dia tidak bertemu dengan Graciela. Terakhir kali mereka bertemu , dia marah . Dan Graciela hanya menatapnya dengan tatapan aneh. Tatapan itu tidak dapat di artikan. Dia sendiri tidak tahu apa arti tatapan itu. Semua makin mengesalkan dan menjengkelkan.


Aku tahu dia seorang designer terkenal. Tapi bisakah dia memperhatikan diriku. Hanya diri ku untuk sementara. Ia tahu dia tidak adil. Graciela tidak seperti dirinya. Setiap kali mereka bertemu Peter hanya membahas pekerjaan nya saja berbeda dari dia.


Graciela tidak pernah membahas pekerjaan nya setiap mereka bertemu. Hanya kalau Peter bertanya maka dia akan menjawab. Tapi itu justru membuat Peter makin kesal dan marah. Pernah satu kali dia bertanya


"Apakah kau bersedia mengorbankan segala sesuatu apa bila kuminta ?


"Maksudnya ?" Suara Graciela berubah menjadi dingin.


"Ini semua ."


Tapi dengan cepat dia merutuki dirinya sendiri karena dengan bodoh menanyakan hal itu kepada Graciela. Pasti dia akan menjawab tidak.


Tapi Graciela hanya diam membisu . Matanya menerawang menatap Peter. Kemudia dia berkata


"Mungkin jika aku merasa perlu."


"Apa maksud mu ?" Entah mengapa mendengar kata kata perlu keluar dari mulut Graciela membuat hatinya panas.


"Ya maksud ku jika memang benar benar di perlukan . Mungkin ketika aku tidak bisa melukis lagi. Seperti itu."


"Bukan seperti itu maksud ku ?"


"Kenapa kau menjadi sangat marah. ? Dengan nada heran Graciela bertanya


"Memang nya kau ingin aku menjawab apa?"


"Kau tahu pasti jawabannya apa yang kuinginkan. Mengapa kau tidak bisa mengatakan nya kepada ku. Kenapa Graciela?"

__ADS_1


Dengan nada malas Graciela menjawab


"Aku tidak tahu Peter. Aku hanya merasa tidak perlu mengatakan nya."


Peter hampir berteriak ketika dia berkata


"Kau sungguh sungguh membuat ku kacau Graciela. Kau tahu betul. Aku menginginkan nya."


"Mengapa ?"


Peter menjatuhkan dirinya di sofa. Dia berkata


"Entahlah aku hanya menginginkan nya."


Peter menghela napas . Dia melanjutkan


"Mungkin aku ingin menjadi nomor satu untuk mu."


Dengan mata penuh keheranan Graciela berkata


"Kau memang nomor satu bagi ku Peter."


"Bohong. Aku yakin jika aku meninggal nanti yang pertama akan kau lakukan adalah membuat lukisan wanita yang berkabung."


Dengan sedikit senyuman di wajahnya Graciela berkata


"Benarkan."


Lalu ia duduk termenung. Menatap lantai yang kosong. Kemudian pandangan nya berubah menjadi sepiring potongan daging ayam yang terlalu banyak saus.


Peter Hamilton memandang piring berisi potongan daging dengan saus yang banyak itu. Dengan cepat Natasha meminta maaf.


"Maafkan aku sayang. I i semua salahku. Aku tak tahu bagaimana bisa dengan ceroboh aku menuangkan saus berlebihan di piring mu"


Padahal itu bukan salah Natasha. Itu adalah kesalahanya. Karena dia terlalu larut dalam pikirannya sehingga dia tidak menyadari bahwa dia sudah menuang terlalu banyak saus di dagingnya sehingga membuat rasanya menjadi sangat asin.


Kenapa dengan bodohnya Natasha mengatakan itu adalah kesalahan nya. Padahal jelas Peter lah yang bersalah , kalau saja dia tidak teringan pada masa lalunya di San Luis. Kenapa dia selalu berkorban untuknya. Dan kenapa pula Rudy memandang nya dengan aneh. Dan kenapa juga Lilian terus menerus menyedot ingus nya. Mereka semua sungguh menjengkelkan.


"Mengapa kau tidak menggunakan tisu untuk menyedot hidung mu. Ini meja makan itu menyedit ingus di sini sangat tidak sopan. Tidak bisakah kau pergi ke kamar mandi dan melakukan nya. "


"Kurasa dia hanya flu."


"Tidak. Itu hanya sebuah kebiasaan. Kau selalu saja mau di bohongi oleh mereka."

__ADS_1


Natasha memilih diam . Dia tidak lagi berkata apa apa. Hanya pikirannya yang sibuk. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa seorang dokter yang semangat menyembuhkan penyakit orang lain tapi bisa begitu acuh pada penyakit di keluarga nya.


Dengan mulut penuh makanan Lilian berkata


"Aku sudah bersin bersin sebanyak sepuluh kali sebelum makan siang."


"Itu hanya karena alergi cuaca."


Rudy berkata dengan nada sok penting


"Tapi cuaca tidak ada masalah. "


Peter tidak menghiraukan jawaban anak laki lakinya. Dia berkata


"Sudah selesai kan. Kita berangkat sekarang"


"Sebentar Peter ada beberapa barang yang belum selesai kumasukan ke dalam koper."


"Apa yang kau lakukan saja dari tadi?"


Dengan kesal dia memukul kaki meja yang membuat kedua anaknya terkejut. Lalu dia keluar dari ruang makan dengan wajah kesal. Natasha segera berlari menuju kamar tidur nya. Dengan terburu buru memasukan beberapa barang ke koper nya. Tapi malah membuat beberapa barang keluar dari koper dan semakin berantakan.


Dengan lesu dia berpikir kenapa dia lambat sekali membereskan koper nya. Padahal koper Peter sendiri sudah siap dari tadi. Mengapa hanya dia yang lambat. Mengapa...


Dengan hati hati Lilian mendekati ayahnya. Tangan nya memegang beberapa kartu tarot. Dia berkata


"Papa bolehkah aku meramal nasib mu. Aku pandai sekali meramal. Aku sudah meramal Rudy ,John dan mama. Tinggal papa saja."


"Baiklah."


Ia masih sangat kesal karena harus menunggu Natasha yang tidak tahu akan memakan waktu berapa jam lagi. Dia sudah sangat i gin pergi dari sini. Dari rumah yang membuat dia jengkel. Anak anaknya yang mengesalkan. Dari kota yang penuh asap dan mobil . Dati para wanita tua yang penyakitan. Ia sudah ingin sekali tiba di rumah Julia. Rumah besar bergaya kuno . Hutan hutan dan tanah yang basah. Daun daun yang berubah warna menjadi merah dan jingga.


Lilian mulai mengocok kartu dan membaginya di atas meja. Dia berkata


"Ini adalah kartu The Emperor. Ini berarti papa."


Lalu ia membalikan kedua kartu di sebelah kiri dan kanan.


"Ini adalah The Empress dan sebelah kiri adalah The High Priest . Di atas papa itu The Lovers berarti ia menguasai papa. Di bawah kaki papa itu yang papa kuasai The Fool."


Peter merasa geli sendiri melihat putri kecilnya sangat serius meramal nasibnya.


"Jadi The Lovers ini yang ada di atas kepala papa."

__ADS_1


"Karen" pikir nya. Nama itu kembali lagi terngiang ngiang di kepalanya. Kenapa aku masih memikirkan dia.


Tiba tiba Natasha muncul dengan membawa dua koper besar nya


__ADS_2