Akhir Pekan Berdarah

Akhir Pekan Berdarah
Bab 57


__ADS_3

"The Blossom?”


Ryan berpaling padanya dengan wajah ter­kejut.


”Tempat ini selalu agak mengingatkan aku pada Logdewood,” katanya. ”Bukan dalam arti yang sebe­nar­nya...”


Amy menyela, ”Justru itulah, Ryan. Aku takut 


akan apa apa yang bukan sebenarnya. Sebab kita tak tahu apa yang ada di baliknya. Seperti,.. ya, seperti kedok.”


”Jangan terlalu berangan angan, Amy kecil."


Nada bicara Ryan sama persis dengan nada bicara yang biasa dipakainya dulu. Nada bicara yang baik, yang telah digunakannya selama bertahun tahun. Dulu Amy sangat menyukainya, tapi sekarang tidak lagi. Ia ber­usaha lebih menjelaskan maksudnya , menjelaskan pada Ryan bahwa di balik apa yang disebutnya angan angan, ada suatu ke­nyataan samar yang bisa dihayati.


”Di London aku bebas dari hal itu, tapi begitu kembali kemari, semua muncul lagi. Kurasa semua orang tahu siapa yang telah membunuh Peter Hamilton. Satu satunya orang yang tidak tahu adalah aku.” 


Dengan kesal Ryan berkata, ”Haruskah kita memikirkan dan berbicara tentang Peter Hamilton? Dia sudah meninggal. Sudah meninggal dan sudah tak ada lagi.”


Dipegangnya lengan Ryan. ”Siapa, ya, yang telah membunuhnya? Kita mengira Natasha, tapi ternyata bukan Natasha. Jadi siapa? Ceritakan padaku bagai­mana pikiranmu. Apakah seseorang yang tidak kita ketahui menurutmu?”


Ryan berkata dengan kesal, ”Kurasa tak ada untung­nya kita menduga duga begini. Bila polisi tak bisa menemukannya, atau tak bisa menemukan cukup bukti, seluruh peristiwa ini boleh dibekukan, dan kita akan bebas dari soal itu.”


Ya, tapi kita tak tahu...”


”Untuk apa kita ingin tahu? Apa hubungan kita


dengan Peter Hamilton?”


Dengan kita, pikir Amy, dengan aku dan Ryan. Tak ada apa apa! Itu pikiran yang mene­nangkan , dia


dan Ryan, berpadu sebagai suatu kesatuan. Tapi walau Peter telah terbaring di dalam kuburnya pun, dan kata kata pemakaman sudah dibaca­kan di atasnya, rasanya ia belum cukup dalam terkubur. Ia sudah meninggal dan tiada, tapi Peter Hamilton tidak mati dan tiada yah meski itulah yang diinginkan Ryan. Peter Hamilton masih ada di sini, di The Blossom.


”Akan ke mana kita?” tanya Ryan.


Nada bicaranya mengejutkan Amy. ”Mari kita ke


puncak bukit saja, ya?”


”Kalau kau suka.”


Kelihatannya Ryan agak enggan. Amy ingin


tahu mengapa. Biasanya ia paling suka berjalan jalan di situ. Ia dan Graciela hampir selalu ke situ. Pikirannya ter­bentur dan terputus. Ryan dan Graciela! ”Pernahkah kau kemari selama mu­sim gugur ini?”


Dengan kaku Ryan menyahut, ”Pada petang hari


pertama itu, aku dan Graciela berjalan jalan kemari.”


Mereka berjalan terus tanpa berbicara.


Akhirnya mereka tiba di puncak bukit, lalu duduk di sebuah pohon tumbang.


Dia dan Graciela mungkin duduk di sini juga, pikir

__ADS_1


Amy. Diputar putarnya cincin di jarinya. Berliannya


memancar dengan dingin padanya. ”Ja­ngan zamrud,” kata Ryan waktu itu.


Dengan suara agak memaksakan, Amy berkata, ”Pasti menyenangkan sekali berada di Logdewood lagi pada hari Natal.”


Ryan agaknya tidak mendengarnya. Pikiran­nya


me­nerawang jauh.


”Dia sedang berpikir tentang Graciela dan ten­tang


Peter Hamilton,” pikir Amy.


Sambil duduk di sini, mungkin ia telah menga­takan


sesuatu pada Graciela, atau mungkin Graciela yang mengatakan sesuatu padanya. Graciela tahu apa yang tak diinginkan­nya, tapi Ryan masih tetap milik Graciela. Dia akan selalu menjadi milik Graciela, pikir Amy.


Rasa pedih melandanya. Dunia impian yang


di­huninya selama minggu terakhir ini kini perlahan goyah, ter­ancam pecah dan hancur.


Pikirnya, ”Aku tak bisa hidup seperti ini terus­


menerus dengan Graciela yang selalu berada dalam pikir­annya. Aku tak bisa menghadapinya. Aku takkan bisa tahan.”


Angin bertiup sepoi sepoi melalui pohon pohon kenari kini daun daun berwarna kuning keemasan itu berguguran dengan cepat, hampir tak ada lagi


”Ryan?” katanya.


Mendengar tekanan dalam suara Amy, Ryan tersentak. Ia berpaling.


”Ya?”


”Maafkan aku, Ryan, aku.....” Bibir Amy gemetar, tapi dipaksakannya agar suaranya tenang dan


ter­kendali.


”Aku harus mengatakannya padamu. Tak ada gunanya lagi aku berpura pura. Aku tak bisa menikah denganmu Ryan. Pernikahan itu takkan bisa berhasil, Ryan.”


”Tapi, mengapa Amy,” kata Ryan dengan terkejut. ”Tentunya Logdewood...”


Amy menyela.


”Aku tak bisa menikah denganmu hanya karena Logdewood, Ryan. Kau... kau harus menyadari itu sekarang.”


Lalu Ryan mendesah, mendesah panjang dan halus. Kedengarannya seperti gema daun daun mati yang perlahan lahan gugur dan kering dari dahan dahan pohon.


”Aku mengerti maksudmu,” katanya berusaha agar suaranya terdengar tenang. ”Ya, ku­rasa kau benar.”


”Kau baik sekali telah memintaku menikah denganmu Ryan. Kau baik dan manis. Tapi itu tak ada gunanya, Ryan. Tidak akan berhasil selama kau masih berpikir tentang Graciela.”


Amy masih berharap Ryan akan berusaha memban­tahnya dan mencoba membujuknya. Tapi agaknya Ryan juga merasakan hal yang sama. Di sini, dengan bayangan Graciela yang selalu ada di dekatnya, Ryan agaknya juga menyadari bahwa pernikahan itu takkan berhasil.

__ADS_1


”Tidak,” kata Ryan, mengulangi kata kata Amy,


”memang tidak akan berhasil.”


Amy menanggalkan cincin berlian itu dari jarinya, lalu mengulur­­kan­nya pada Ryan.


Ia akan tetap mencintai Ryan, padahal Ryan pun


akan tetap mencintai Graciela. Dan hidup pun akan


merupakan neraka yang penuh kepalsuan.


Dengan suara agak tertahan ia berkata, ”Cincin ini


cantik sekali, Ryan.”


”Aku ingin kau tetap menyimpannya, Amy. Aku


ingin kau memilikinya.”


Tapi Amy meng­geleng.


”Aku tak bisa berbuat begitu.”


Dengan bibir dimiringkan, hingga tampak lucu,


Ryan berkata, ”Aku tidak akan memberikannya pada orang lain.”


Semua berlangsung dengan baik. Ryan tak tahu.


Ia takkan pernah tahu bagaimana perasaan Amy dari dulu hingga sekarang. Surga ada di depan mata. Tapi surga itu lenyap kini, lepas dari


tangannya, atau mungkin surga itu memang tak pernah ada untuknya.


*******


Petang itu Eloise Hope menerima tamunya yang ke­tiga.


Ia telah dikunjungi oleh Graciela West dan Karen Clark. Kali ini tamunya adalah Julia Cavendish.


Wanita itu datang bagaikan meluncur di jalan setapak, seperti biasa penampilannya seperti sosok peri.


Eloise membuka pintu rumahnya, dan  tersenyum padanya.


”Saya datang untuk berbicara dengan anda Miss Hope,” katanya.


Mungkin begitulah cara seorang peri memberikan anuge­rah kepada manusia biasa.


”Saya senang sekali, Nyonya Cavendish.”


Eloise berjalan mendahului Julia Cavendish, ma­suk ke ruang duduk yang nyaman. Julia Cavendish duduk di sofa berwarna abu abu itu, dan ia tersenyum lagi.


”Dia sudah tua,” pikir Hercule Poirot. ”Rambutnya

__ADS_1


__ADS_2