
"The Blossom?”
Ryan berpaling padanya dengan wajah terkejut.
”Tempat ini selalu agak mengingatkan aku pada Logdewood,” katanya. ”Bukan dalam arti yang sebenarnya...”
Amy menyela, ”Justru itulah, Ryan. Aku takut
akan apa apa yang bukan sebenarnya. Sebab kita tak tahu apa yang ada di baliknya. Seperti,.. ya, seperti kedok.”
”Jangan terlalu berangan angan, Amy kecil."
Nada bicara Ryan sama persis dengan nada bicara yang biasa dipakainya dulu. Nada bicara yang baik, yang telah digunakannya selama bertahun tahun. Dulu Amy sangat menyukainya, tapi sekarang tidak lagi. Ia berusaha lebih menjelaskan maksudnya , menjelaskan pada Ryan bahwa di balik apa yang disebutnya angan angan, ada suatu kenyataan samar yang bisa dihayati.
”Di London aku bebas dari hal itu, tapi begitu kembali kemari, semua muncul lagi. Kurasa semua orang tahu siapa yang telah membunuh Peter Hamilton. Satu satunya orang yang tidak tahu adalah aku.”
Dengan kesal Ryan berkata, ”Haruskah kita memikirkan dan berbicara tentang Peter Hamilton? Dia sudah meninggal. Sudah meninggal dan sudah tak ada lagi.”
Dipegangnya lengan Ryan. ”Siapa, ya, yang telah membunuhnya? Kita mengira Natasha, tapi ternyata bukan Natasha. Jadi siapa? Ceritakan padaku bagaimana pikiranmu. Apakah seseorang yang tidak kita ketahui menurutmu?”
Ryan berkata dengan kesal, ”Kurasa tak ada untungnya kita menduga duga begini. Bila polisi tak bisa menemukannya, atau tak bisa menemukan cukup bukti, seluruh peristiwa ini boleh dibekukan, dan kita akan bebas dari soal itu.”
Ya, tapi kita tak tahu...”
”Untuk apa kita ingin tahu? Apa hubungan kita
dengan Peter Hamilton?”
Dengan kita, pikir Amy, dengan aku dan Ryan. Tak ada apa apa! Itu pikiran yang menenangkan , dia
dan Ryan, berpadu sebagai suatu kesatuan. Tapi walau Peter telah terbaring di dalam kuburnya pun, dan kata kata pemakaman sudah dibacakan di atasnya, rasanya ia belum cukup dalam terkubur. Ia sudah meninggal dan tiada, tapi Peter Hamilton tidak mati dan tiada yah meski itulah yang diinginkan Ryan. Peter Hamilton masih ada di sini, di The Blossom.
”Akan ke mana kita?” tanya Ryan.
Nada bicaranya mengejutkan Amy. ”Mari kita ke
puncak bukit saja, ya?”
”Kalau kau suka.”
Kelihatannya Ryan agak enggan. Amy ingin
tahu mengapa. Biasanya ia paling suka berjalan jalan di situ. Ia dan Graciela hampir selalu ke situ. Pikirannya terbentur dan terputus. Ryan dan Graciela! ”Pernahkah kau kemari selama musim gugur ini?”
Dengan kaku Ryan menyahut, ”Pada petang hari
pertama itu, aku dan Graciela berjalan jalan kemari.”
Mereka berjalan terus tanpa berbicara.
Akhirnya mereka tiba di puncak bukit, lalu duduk di sebuah pohon tumbang.
Dia dan Graciela mungkin duduk di sini juga, pikir
__ADS_1
Amy. Diputar putarnya cincin di jarinya. Berliannya
memancar dengan dingin padanya. ”Jangan zamrud,” kata Ryan waktu itu.
Dengan suara agak memaksakan, Amy berkata, ”Pasti menyenangkan sekali berada di Logdewood lagi pada hari Natal.”
Ryan agaknya tidak mendengarnya. Pikirannya
menerawang jauh.
”Dia sedang berpikir tentang Graciela dan tentang
Peter Hamilton,” pikir Amy.
Sambil duduk di sini, mungkin ia telah mengatakan
sesuatu pada Graciela, atau mungkin Graciela yang mengatakan sesuatu padanya. Graciela tahu apa yang tak diinginkannya, tapi Ryan masih tetap milik Graciela. Dia akan selalu menjadi milik Graciela, pikir Amy.
Rasa pedih melandanya. Dunia impian yang
dihuninya selama minggu terakhir ini kini perlahan goyah, terancam pecah dan hancur.
Pikirnya, ”Aku tak bisa hidup seperti ini terus
menerus dengan Graciela yang selalu berada dalam pikirannya. Aku tak bisa menghadapinya. Aku takkan bisa tahan.”
Angin bertiup sepoi sepoi melalui pohon pohon kenari kini daun daun berwarna kuning keemasan itu berguguran dengan cepat, hampir tak ada lagi
”Ryan?” katanya.
Mendengar tekanan dalam suara Amy, Ryan tersentak. Ia berpaling.
”Ya?”
”Maafkan aku, Ryan, aku.....” Bibir Amy gemetar, tapi dipaksakannya agar suaranya tenang dan
terkendali.
”Aku harus mengatakannya padamu. Tak ada gunanya lagi aku berpura pura. Aku tak bisa menikah denganmu Ryan. Pernikahan itu takkan bisa berhasil, Ryan.”
”Tapi, mengapa Amy,” kata Ryan dengan terkejut. ”Tentunya Logdewood...”
Amy menyela.
”Aku tak bisa menikah denganmu hanya karena Logdewood, Ryan. Kau... kau harus menyadari itu sekarang.”
Lalu Ryan mendesah, mendesah panjang dan halus. Kedengarannya seperti gema daun daun mati yang perlahan lahan gugur dan kering dari dahan dahan pohon.
”Aku mengerti maksudmu,” katanya berusaha agar suaranya terdengar tenang. ”Ya, kurasa kau benar.”
”Kau baik sekali telah memintaku menikah denganmu Ryan. Kau baik dan manis. Tapi itu tak ada gunanya, Ryan. Tidak akan berhasil selama kau masih berpikir tentang Graciela.”
Amy masih berharap Ryan akan berusaha membantahnya dan mencoba membujuknya. Tapi agaknya Ryan juga merasakan hal yang sama. Di sini, dengan bayangan Graciela yang selalu ada di dekatnya, Ryan agaknya juga menyadari bahwa pernikahan itu takkan berhasil.
__ADS_1
”Tidak,” kata Ryan, mengulangi kata kata Amy,
”memang tidak akan berhasil.”
Amy menanggalkan cincin berlian itu dari jarinya, lalu mengulurkannya pada Ryan.
Ia akan tetap mencintai Ryan, padahal Ryan pun
akan tetap mencintai Graciela. Dan hidup pun akan
merupakan neraka yang penuh kepalsuan.
Dengan suara agak tertahan ia berkata, ”Cincin ini
cantik sekali, Ryan.”
”Aku ingin kau tetap menyimpannya, Amy. Aku
ingin kau memilikinya.”
Tapi Amy menggeleng.
”Aku tak bisa berbuat begitu.”
Dengan bibir dimiringkan, hingga tampak lucu,
Ryan berkata, ”Aku tidak akan memberikannya pada orang lain.”
Semua berlangsung dengan baik. Ryan tak tahu.
Ia takkan pernah tahu bagaimana perasaan Amy dari dulu hingga sekarang. Surga ada di depan mata. Tapi surga itu lenyap kini, lepas dari
tangannya, atau mungkin surga itu memang tak pernah ada untuknya.
*******
Petang itu Eloise Hope menerima tamunya yang ketiga.
Ia telah dikunjungi oleh Graciela West dan Karen Clark. Kali ini tamunya adalah Julia Cavendish.
Wanita itu datang bagaikan meluncur di jalan setapak, seperti biasa penampilannya seperti sosok peri.
Eloise membuka pintu rumahnya, dan tersenyum padanya.
”Saya datang untuk berbicara dengan anda Miss Hope,” katanya.
Mungkin begitulah cara seorang peri memberikan anugerah kepada manusia biasa.
”Saya senang sekali, Nyonya Cavendish.”
Eloise berjalan mendahului Julia Cavendish, masuk ke ruang duduk yang nyaman. Julia Cavendish duduk di sofa berwarna abu abu itu, dan ia tersenyum lagi.
”Dia sudah tua,” pikir Hercule Poirot. ”Rambutnya
__ADS_1