
"Ya.” Karen tersenyum.
”Dr Hamilton datang ke rumah anda besok paginya,
untuk memenuhi panggilan itu. Lalu anda berdua bertengkar. Maukah anda menceritakan tentang pertengkaran itu Miss Clark?”
Inspektur telah memperlihatkan kartunya. Dengan
cepat ia bisa menangkap kilatan marah di mata wanita itu, dan bibirnya yang terkatup rapat karena hati yang panas.
Clark membentak, ”Kami tidak bertengkar.”
”Oh, ya. Anda berdua bertengkar, Miss Clark. Dan kata kata anda yang terakhir adalah, ‘Kurasa aku membencimu, lebih daripada aku bisa membenci siapa pun.’”
Karen terdiam sekarang. Inspektur menduga ia
sedang berpikir pikir dengan cepat dan waspada. Wanita wanita lain pasti langsung terburu buru berbicara, tapi Karen terlalu pandai untuk berbuat begitu.
Ia mengangkat bahu, dan berkata dengan ringan,
”Begitu rupanya. Pasti itu kisah para pelayan lagi. Pelayan kecil saya memang memiliki daya khayal yang luar biasa. Tapi ada bermacam macam cara mengungkapkan hal hal, bukan? Yakinlah bahwa saya tidak bersikap keras waktu itu. Itu benar benar hanya kata kata tanpa maksud apapun juga Inspektur. Sebelum itu, kami memang
berbantahan sedikit.”
”Jadi kata kata itu tak dimaksud untuk ditanggapi
dengan serius?”
”Tentu saja tidak. Dan yakinlah, inspektur, memang
benar benar tujuh belas tahun yang lalu saya terakhir bertemu dengan Peter Hamilton. Anda bisa menyelidiki sendiri hal itu.”
Kini ia sudah tenang lagi, sikapnya menjaga jarak
dan yakin akan dirinya. Larkspur tidak lagi membantah atau mengejar soal itu sekarang.
Ia bangkit. ”Untuk sekarang sekian saja, Miss Clark,” katanya dengan sikap menyenangkan.
Ia keluar dari rumah KarenClark, menuju ke jalan umum, lalu membelok di pintu pagar rumah Eloise Hope.
**********
Eloise Hope menatap Inspektur Larkspur dengan sangat terkejut. Dengan rasa tak percaya diulanginya, ”Jadi pistol yang dipegang oleh Natasha Hamilton, dan yang kemudian dijatuhkan ke dalam kolam, ternyata bukan pistol yang
dipakai untuk menembakkan tembakan mematikan itu? Luar biasa sekali.”
”Benar, Miss Hope. Sepintas lalu itu tak masuk akal.”
Dengan halus Eloise bergumam, ”Memang tak masuk akal. Tapi, bagaimanapun juga, Inspektur, itu harus masuk akal. Begitu, bukan?”
__ADS_1
Dengan berat hati Inspektur berkata, ”Itulah masalahnya, Miss Hope. Kita harus menemukan jalan supaya itu jadi masuk akal, tapi pada saat ini saya belum tahu caranya. Terus terang, kita tak bisa maju sebelum kita menemukan pistol yang telah dipakai itu. Pistol itu memang berasal dari koleksi William Cavendish. Soalnya ada sebuah yang hilang, dan itu berarti seluruh perkara ini masih berkaitan dengan The Blossom.”
”Ya,” gumam Eloise. ”Memang masih berkaitan
dengan The Blossom.”
”Semula kelihatannya seperti suatu perkara
sederhana yang amat mudah diselesaikan,” lanjut Inspektur. ”Ternyata tidak begitu sederhana, dan tidak begitu mudah diselesaikan.”
”Tidak,” kata Eloise, ”memang tidak sederhana.”
”Kita harus mengakui kemungkinan bahwa
perbuatan itu bertujuan untuk melemparkan tuduhan palsu. Artinya, semua diatur untuk menjatuhkan tuduhan palsu pada Natasha Hamilton. Tapi kalau begitu, mengapa pistol itu tidak ditinggalkan saja tergeletak di dekat mayat,
supaya dipungutnya?”
”Mungkin dia tidak memungutnya.”
”Itu benar. Tapi meskipun dia tidak memungutnya,
selama tak ada sidik jari orang lain pada pistol itu
artinya bila sidik jari itu dihapus setelah digunakan dia masih tetap dituduh. Dan itulah yang diinginkan si pembunuh yang sebenarnya, bukan?”
Larkspur memandanginya.
”Yah, bila seseorang telah melakukan suatu pembunuhan, dia ingin secepatnya menuduhkan perbuatan itu pada orang lain, bukan? Itu merupakan reaksi yang wajar dari seorang pembunuh.”
”Ya,” kata Eloise. ”Tapi kalau begitu, kita sekarang
ini menghadapi suatu pembunuhan yang agak luar biasa. Mungkin itulah yang merupakan penyelesaian masalah kita.”
”Apa penyelesaiannya?”
Sambil merenung, Eloise Hope berkata, ”Semacam pembunuhan yang luar biasa.”
Inspektur Larkspur memandanginya dengan rasa ingin tahu yang besar. Katanya, ”Tapi, lalu... bagaimana pikiran si pembunuh? Apa yang diinginkannya?”
Eloiese Hope merentangkan tangan sambil mendesah.
”Saya tak tahu. Saya sama sekali tak tahu. Tapi saya pikir samar samar...”
”Ya ?”
”Bahwa si pembunuh adalah seseorang yang ingin
membunuh Peter Hamilton tapi tak ingin menjatuhkan tuduhan pada Natasha Hamilton ”
__ADS_1
”Hm! Padahal kita sudah langsung menuduh Natasha Hamilton."
”Oh, ya. Tapi itu hanya untuk sementara, sebelum
kenyataan mengenai pistol itu menjadi jelas. Dan itu akan memberikan sudut pandang baru. Sementara itu, sipembunuh sempat...”
Eloise tiba-tiba terhenti.
”Sempat melakukan apa?”
”Ah, begitulah saya. Lagi-lagi saya harus berkata bahwa saya tak tahu.”
Inspektur Larkspur berjalan bolak balik di kamar itu, lalu ia berhenti dan berdiri di depan Eloise Hope.
”Saya mendatangi anda petang ini, Miss Hope, dengan dua alasan. Pertama karena saya tahu dan hal itu sudah diketahui oleh banyak orang di
kalangan Angkatan Kepolisian bahwa anda adalah orang yang sangat berpengalaman luas, yang telah menyelesaikan perkara perkara yang sangat rumit, seperti masalah ini. Itu alasan nomor satu. Tapi ada suatu alasan lain. Anda adalah seorang saksi mata. Anda telah melihat apa yang terjadi.”
Poirot mengangguk.
”Ya, saya melihat apa yang terjadi, tapi mata adalah
saksi yang tak dapat diandalkan, Inspektur.”
”Apa maksud Anda, Miss Hope?”
”Kadang kadang mata hanya melihat apa yang harus diliihatnya.”
”Anda pikir semua itu sudah direncanakan sebelumnya?”
”Saya rasa begitu. Perlu anda ketahui bahwa
kejadian itu sama benar dengan suatu adegan di pentas drama. Apa yang saya lihat memang jelas sekali. Seorang pria yang baru saja ditembak, dan wanita yang telah menembaknya memegang pistol yang baru saja dipakainya. Tapi pistol itu tidak dipakai untuk menembak Peter Hamilton.”
”Hm.” Inspektur menarik kumisnya yang terkulai ke
bawah. ”Anda ingin mengatakan bahwa ada beberapa hal khusus dari gambaran itu yang mungkin salah?”
Eloise Hope mengangguk. Katanya, ”Ada tiga orang lain yang juga hadir tiga orang yang kelihatannya baru tiba ditempat kejadian itu. Tapi itu pun
mungkin tak benar. Rumah peristirahat itu dikelilingi oleh sekelompok pohon bambu muda yang rapat. Dari rumah peristirahatan itu ada lima jalan setapak yang menuju tempat tempat yang berlainan , satu menuju rumah, satu mendaki ke
hutan, satu ke kebun bunga, satu dari kolam menurun ke peternakan, dan satu lagi menuju ke jalan umum ini.
”Dan ketiga orang itu masing masing datang dari
jalan jalan yang berlainan. Ryan Cavendish dari hutan di atas, Julia Cavendish naik dari peternakan, dan Graciela West dari kebun bunga di atas rumah.
Ketiga orang itu tiba di tempat peristiwa kejahatan hampir bersamaan, yaitu beberapa menit setelah Natasha Hamilton.
__ADS_1