Akhir Pekan Berdarah

Akhir Pekan Berdarah
Bab 41


__ADS_3

"Ya.” Karen tersenyum.


”Dr Hamilton datang ke rumah anda besok pagi­nya,


untuk memenuhi panggilan itu. Lalu anda berdua bertengkar. Maukah anda menceritakan tentang perteng­karan itu Miss Clark?”


Inspektur telah memperlihatkan kartunya. De­ngan


cepat ia bisa menangkap kilatan marah di mata wanita itu, dan bibirnya yang terkatup rapat karena hati yang panas.


Clark membentak, ”Kami tidak bertengkar.”


”Oh, ya. Anda  berdua bertengkar, Miss Clark. Dan kata ­kata anda yang terakhir adalah, ‘Kurasa aku membencimu, lebih daripada aku bisa membenci siapa pun.’”


Karen terdiam sekarang. Inspektur menduga ia


sedang berpikir pikir dengan cepat dan waspada. Wanita wanita lain pasti langsung terburu buru berbicara, tapi Karen terlalu pandai untuk ber­buat begitu.


Ia mengangkat bahu, dan berkata dengan ri­ngan,


”Begitu rupanya. Pasti itu kisah para pelayan lagi. Pelayan kecil saya memang memiliki daya khayal yang luar biasa. Tapi ada bermacam macam cara mengungkapkan hal hal, bukan? Yakinlah bahwa saya tidak bersikap keras waktu itu. Itu benar benar hanya kata kata tanpa maksud apapun juga Inspektur. Sebelum itu, kami memang


berbantah­an sedikit.”


”Jadi kata kata itu tak dimaksud untuk ditang­gapi


dengan serius?”


”Tentu saja tidak. Dan yakinlah, inspektur, me­mang


benar benar tujuh belas tahun yang lalu saya terakhir bertemu dengan Peter Hamilton. Anda bisa menyelidiki sendiri hal itu.”


Kini ia sudah tenang lagi, sikapnya menjaga jarak


dan yakin akan dirinya. Larkspur tidak lagi membantah atau mengejar soal itu sekarang.


Ia bangkit. ”Untuk sekarang sekian saja, Miss Clark,” kata­nya dengan sikap menyenangkan.


Ia keluar dari rumah KarenClark, menuju ke jalan umum, lalu membelok di pintu pagar rumah Eloise Hope.


**********


Eloise Hope menatap Inspektur Larkspur dengan sangat terkejut. Dengan rasa tak percaya diulanginya, ”Jadi pistol yang dipegang oleh Natasha Hamilton, dan yang kemu­dian dijatuhkan ke dalam kolam, ternyata bukan pistol yang


dipakai untuk me­nembakkan tembakan memati­kan itu? Luar biasa sekali.”


”Benar, Miss Hope. Sepintas lalu itu tak masuk akal.”


Dengan halus Eloise bergumam, ”Memang tak masuk akal. Tapi, bagaimanapun juga, Inspektur, itu harus masuk akal. Begitu, bukan?”

__ADS_1


Dengan berat hati Inspektur berkata, ”Itulah masalahnya, Miss Hope. Kita harus menemukan jalan supaya itu jadi masuk akal, tapi pada saat ini saya belum tahu caranya. Terus terang, kita tak bisa maju sebelum kita menemukan pistol yang telah di­pakai itu. Pistol itu memang berasal dari kolek­si William Cavendish. Soalnya ada sebuah yang hilang, dan itu berarti seluruh perkara ini masih berkaitan de­ngan The Blossom.”


”Ya,” gumam Eloise. ”Memang masih berkaitan


dengan The Blossom.”


”Semula kelihatannya seperti suatu perkara


se­derhana yang amat mudah diselesaikan,” lanjut Inspek­tur. ”Ternyata tidak begitu sederhana, dan tidak begitu mudah diselesaikan.”


”Tidak,” kata Eloise, ”memang tidak sederhana.”


”Kita harus mengakui kemungkinan bahwa


per­buatan itu bertujuan untuk melemparkan tuduhan palsu. Artinya, semua diatur untuk menjatuh­kan tuduhan palsu pada Natasha Hamilton. Tapi kalau begitu, mengapa pistol itu tidak ditinggalkan saja tergeletak di dekat mayat,


supaya dipungut­nya?”


”Mungkin dia tidak memungutnya.”


”Itu benar. Tapi meskipun dia tidak memungut­nya,


selama tak ada sidik jari orang lain pada pistol itu


artinya bila sidik jari itu dihapus setelah digunakan dia masih tetap dituduh. Dan itulah yang diinginkan si pembunuh yang sebenarnya, bukan?”


Larkspur memandanginya.


”Yah, bila seseorang telah melakukan suatu pembunuhan, dia ingin secepatnya menuduhkan perbuat­an itu pada orang lain, bukan? Itu merupakan reaksi yang wajar dari seorang pembunuh.”


”Ya,” kata Eloise. ”Tapi kalau begitu, kita sekarang


ini menghadapi suatu pembunuhan yang agak luar biasa. Mungkin itulah yang merupakan penyelesaian masalah kita.”


”Apa penyelesaiannya?”


Sambil merenung, Eloise Hope berkata, ”Semacam pembunuhan yang luar biasa.”


Inspektur Larkspur memandanginya dengan rasa ingin tahu yang besar. Katanya, ”Tapi, lalu... bagaimana pikir­an si pembunuh? Apa yang diinginkannya?”


Eloiese Hope merentangkan tangan sambil mendesah.


”Saya tak tahu. Saya sama sekali tak tahu. Tapi saya pikir samar samar...”


”Ya ?”


”Bahwa si pembunuh adalah seseorang yang ingin


membunuh Peter Hamilton tapi tak ingin menjatuhkan tuduhan pada Natasha Hamilton ”

__ADS_1


”Hm! Padahal kita sudah langsung menuduh Natasha Hamilton."


”Oh, ya. Tapi itu hanya untuk sementara, se­belum


kenyataan mengenai pistol itu menjadi jelas. Dan itu akan memberikan sudut pandang baru. Sementara itu, sipembunuh sempat...”


Eloise tiba-tiba terhenti.


”Sempat melakukan apa?”


”Ah,  begitulah saya. Lagi-lagi saya harus berkata bahwa saya tak tahu.”


Inspektur Larkspur berjalan bolak balik di kamar itu, lalu ia berhenti dan berdiri di depan Eloise Hope.


”Saya mendatangi anda petang ini, Miss Hope, dengan dua alasan. Pertama karena saya tahu dan hal itu sudah diketahui oleh banyak orang di


ka­langan Angkatan Kepolisian bahwa anda adalah orang yang sangat berpengalaman luas, yang telah me­nyelesaikan perkara perkara yang sangat rumit, se­perti masalah ini. Itu ala­san nomor satu. Tapi ada suatu alasan lain. Anda adalah seorang saksi mata. Anda telah melihat apa yang ter­jadi.”


Poirot mengangguk.


”Ya, saya melihat apa yang terjadi, tapi mata adalah


saksi yang tak dapat diandalkan, Inspektur.”


”Apa maksud Anda, Miss Hope?”


”Kadang kadang mata hanya melihat apa yang harus diliihatnya.”


”Anda pikir semua itu sudah direncanakan sebelumnya?”


”Saya rasa begitu. Perlu anda ketahui bahwa


keja­dian itu sama benar dengan suatu adegan di pentas drama. Apa yang saya lihat memang jelas sekali. Seorang pria yang baru saja ditembak, dan wanita yang telah menembaknya memegang  pistol yang baru saja dipakainya. Tapi pistol itu tidak di­pakai untuk menembak Peter Hamilton.”


”Hm.” Inspektur menarik kumisnya yang ter­kulai ke


bawah. ”Anda ingin mengatakan bahwa ada beberapa hal khusus dari gambaran itu yang mungkin salah?”


Eloise Hope mengangguk. Katanya, ”Ada tiga orang lain yang juga hadir tiga orang yang kelihatannya baru tiba ditempat kejadian itu. Tapi itu pun


mung­kin tak benar. Rumah peristirahat itu dikelilingi oleh sekelompok pohon bambu muda yang rapat. Dari rumah peristirahatan itu ada lima jalan setapak yang menuju tempat tempat yang berlainan , satu menuju rumah, satu mendaki ke


hu­tan, satu ke kebun bunga, satu dari kolam menurun ke peternakan, dan satu lagi menuju ke jalan umum ini.


”Dan ketiga orang itu masing masing datang dari


jalan jalan yang berlainan. Ryan Cavendish dari hutan di atas, Julia Cavendish naik dari peter­nakan, dan Graciela West dari kebun bunga di atas rumah.


Ke­tiga orang itu tiba di tempat peristiwa kejahatan hampir bersamaan, yaitu bebe­rapa menit setelah Natasha Hamilton.

__ADS_1


__ADS_2