Akhir Pekan Berdarah

Akhir Pekan Berdarah
Bab 26


__ADS_3

Inspektur Larkspur bangkit dari kursi nya . Dia berkata


"Terima kasih atas waktu dan informasi nya Tuan William Cavendish. Akan segera kami laporkan perkembangan nya."


********


Pada waktu makan malam mereka makan daging sapi yang di panggang setengah matang lengkap dengan kentang tumbuk. Setelah itu mereka makan sorbet jeruk yang dingin.


Julia Cavendish mendesah lalu berkata bahwa dia berharap tindakan mereka sudah tepat dengan membiarkan Natasha kembali ke London.


"Aku sangat senang karena William mau mengantar nya ke London. "


Sebelumnya memang William Cavendish sudah mengatakan bahwa dia bersedia mengantarkan Natasha kembali ke London.


"Kurasa Natasha nanti akan kembali lagi ke sini untuk pemanggilan kepolisian." Kata Julia Cavendish sambil menikmati sorbet dingin nya.


"Tapi sayang nya kurasa dia harus menyampaikan berita buruk ini pada anak anaknya. Mungkin pula pengasuh mereka sudah membaca berita nya di koran dan sudah menyampaikan pada anak anak nya Natasha. Tapi aku yakin William bisa membantu Natasha. Dan kurasa pasti keluarga Natasha juga akan datang. Dia pasti memilki satu atau dua kakak atau adik kan. "


"Aduh dasar Julia ini." Kata Amy.


Julia Cavendish memandang sorbet nya lagim rasanya sayang tapi dia kurang bernapsu . Sedangkan Shawn Cavendish menyukai makanan yang enak dan dengan muram melihat piring nya yang sudah kosong.


Julia bangkit dan berkata


"Kurasa semuanya pasti ingin tidur lebih awal. Lagi pula banyak sekali yang terjadi. Lagi pula kalau dulu kita hanya membaca tentang hal seperti ini di surat kanar. Tentu berbeda ketika kita mengalami nya sendiri. Tahukah kalian rasanya aku seperti sudah berlari berpuluh puluh kilometer saja. Rasanya amat sangat melelahkan padahal aku hanya duduk duduk saja. Tapi itu ternyata juga melelahkan. Apakah kalian pernah membaca The Times ? Atau mungkin orang orang muda lebih suka membaca Gossip Times ? Bagaimana menurut mu Shawn ?"


Dengan ketus Shawn berkata dia tidak tertarik untuk membaca surat kabar itu.


"Tapi aku senang membaca nya. Kami memang membeli nya untuk di baca para pelayan juga. Tapi Morris sangat penuh perhatian sekali. Dia selalu membiarkan surat kabar itu sampai waktu minun teh. Sejujurnya surat kabar itu cukup menarik berita berita nya. Pernah ku baca tentang mayat perempuan yang di masukan ke dalam koper dan di buang di rawa. Pernah juga kubaca seorang bayi di bunuh dan di masukan ke dalam oven. Agak kejam sebenarnya tapi cukup menarik."


"Apa yang akan mereka lakukan jika seandainya rumah rumah memakai peralatan serba listrik? " tanya Ryan Cavendish dengan senyuman.


"Mungkin mereka juga bisa melakukan nya."


"Aku tidak suka dengan rumah yang serba menggunakan listrik. Kenaikan tarif listrik akan tinggi serta permintaan menggunakan tenaga listrik akan banyak sekali."


Ryan dengan cepat berkata bahwa dia tidak terlalu tahu tentang hal itu. Shawn kembali muram. Morris masuk membawa teko kopi dan cangkir.


"Ah Morris ," kata Julia Cavendish. " Mengenai telur telur yang baru datang itu , sebenar nya aku berniat untuk menulis sendiri tanggal tanggal nya. Bisakah kau tolong katakan kepada Celia agar dia mengerjakan seperti biasanya."


"Saya yakin semua nya sudah beres Nyonya. Saya sendiri yang mengatur semuanya."

__ADS_1


"Terima kasih Morris. "


Morris undur diri. Julia berkata


"Morris benar benar hebat. Aku tak tahu apa jadinya kalau tidak ada dia. Dia sanggup mengatur pelayan. Dan juga karena kedatangan polisi ke si i tentu akan membuat beberapa pelayan khawatir dan cemas. Oh iya Amy sayang apah masih ada yang tertinggal ?"


"Maksud mu polisi ?"


"Ya . Bukan kah biasanya mereka meninggalkan satu atau dua orang petugas polisi. Mungkin mereka berjaga di intu depan. Atau mungkin di pintu gerbang ?"


"Kenapa mereka harus berjaga di pintu depan ?"


"Entahlah aku tidak tahu. Hanya saja biasanya di buku buku selalu begitu. Juga akan ada lagi yang mati malam ini."


"Julia jangan menakuti kami." Amy berkata dengan cemas.


" Maaf kan aku Amy sayang. Aku yang bodoh sudah berkata seperti itu. Tentu saja tidak akan ada lagi yang terbunuh malam ini. Maksud ku karena Natasha sudah kembali ke London. Aduh Graciela maafkan aku bukan maksyd ku berkata begitu."


Graciela diam saja. Dia tidak menyahut perkataan Julia. Dia sedang berdiri di dekat meja tempat permainan kartu mereka semalam sambil memandang secari kertas yang tertulis angka angka permainan kartu.


Tiba tiba ia tersadar . Dia berkata


"Maaf Julia apa kata mu tadi ?"


"Kurasa tidak. Mereka pasti sudah kembali semua dan menulis laporan tentang kasus ini."


"Apa yang dari tadi kau lihat Graciela ?"


"Bukan apa apa."


Graciela berjalan menuju ke perapian.


"Menurut mu apa yang di lakukan oleh Karen Clark malam ini ?" Tanya nya.


Julia Cavendish berubah muram.


"Apa menurut mu dia akan datang ke sini ? Dia pasti sudah mendengar kabar duka itu."


"Ya" Graciela bergumam.


"Kurasa dia sudah mendengar tentang itu."

__ADS_1


"Aduh gawat , aku lupa aku harus segera menghubungi keluarga Wood. Aku tak bisa mengundang mereka makan siang besok di sini seolah olah tidak terjadi apa pun. "


Ia keluar dari ruang tamu.


Shawn yang memang dari awal tidak begitu menyukai keluarga nya ini pun memilih pergi ke perpustakaan.


Sedang Graciela memutuskan untuk keluar sebentar. Ryan pergi menyusulnya.


Ia mendapati Graciela sedang duduk di teras memandang hutan hutan.


"Cuaca tidak begitu buruk bukan " kata Graciela.


Dengan lembut Ryan berkata


"Ya."


Graciela kembali menatap hutan hutan. Ryan tidak yakin apa yang sedang di pikirkan oleh Graciela. Ryan bangkit dan berkata


"Sebaiknya kita kembali."


Graciela menggelengkan kepalanya. Dia berkata


" Tidak. Aku ingin berjalan jalan sebentar ke rumah peristirahatan. "


"Biar kutemani." Kata Ryan.


"Terima kasih Ryan. Tapi aku ingin sendiri. Aku infin sendiri dan melihat kekasih ku.," tolak Graciela halus.


"Graciela sayang ku. Aku mengerti ..... tapi kau juga tahu kan bahwa aku juga bersedih atas hal ini."


"Bersedih ? Bersedih atas kematian Peter Hamilton?"


Suaranya berubah menjadi tajam.


"Bukan itu maksud ku. Maksud ku atas apa yang sudah menimpa mu. Aku tahu kejafian itu pasti sangat membuat mu terpukul."


"Terpukul ? Kau tidak usah khawatir Ryan sayang. Aku kuat aku tidak shock sama sekali. Kurasa ketika Peter Hamilton mati kau tampak senang ya ?"


"Aku dan dia memang tidak covok." Gumam Ryan Cavendish.


"Kenapa kau tidak jujur saja ? Padahal kalian berdua sama sama menyukai ku. Tapi itu malah membuat kalian makin menjauh."

__ADS_1


Ryan sangat terkejut melihat perubahan pada wajah Graciela. Sejujurnya dalam ingatan dia Graciela adalah gadis riang yang penuh tawa ketika dia mengenal nya dulu di Logdewood. Tapi yang sekarang di hadapannya adalah seorang wanita dingin dengan sorot mata tajam dan sikap bermusuhan.


__ADS_2