Akhir Pekan Berdarah

Akhir Pekan Berdarah
Bab 62


__ADS_3

Natasha bersandar di kursinya. Bibirnya biru se­kali.


Ia berkata dengan kaku dan dengan suara yang amat lemah, ”Saya merasa... tidak sehat. Kalau saja Peter... Peter...”


Eloise mengitari meja, menghampirinya, lalu


menyan­dar­kan tubuh Natasha ke samping. Kepala Natasha terkulai ke depan. Eloise membungkuk, lalu mengangkat kelo­pak mata Narasha. Kemudian ia berdiri tegak.


”Suatu kematian yang mudah dan boleh dikata­kan


tanpa rasa sakit sama sekali.”


Graciela memandanginya dengan terbelalak. Dia sangat terkejut sekali.


”Jantungnya? Pasti bukan.”


Pikirannya mulai bekerja.


”Pasti ada sesuatu di dalam teh itu. Sesuatu yang


di­bubuh­kannya sendiri. Dia memilih jalan keluar itu


rupanya?”


Eloise menggeleng dengan halus.


”Oh, bukan , sayang sekali. Itu ditujukan untuk anda Miss West. Itu ada dalam cangkir anda.”


”Untuk saya?” Suara Graciela terdengar tak percaya.


”Tapi bukankah saya mencoba menolong­nya?”


”Itu tak berarti. Pernahkah anda melihat seekor

__ADS_1


anjing yang terjerat? Dia akan menggigit siapa saja yang menyentuhnya walaupun sebenarnya berniat untuk menolongnya. Hanya tahu bahwa anda


tahu rahasianya, dan oleh ka­renanya, anda juga harus disingkirkan.”


Lambat lambat Graciela berkata, ”Dan anda memaksa saya meletakkan kembali cangkir itu ke nampan. Jadi anda tujukan... Anda tujukan pada dia...?”


Dengan tenang Eloise menyela, ”Tidak, tidak, Miss West. Saya tidak tahu bahwa di dalam cangkir anda itu ada apa apanya. Saya hanya menduga mungkin ada sesuatu di sana. Dan bila cangkir itu ada di nampan, ada kemungkinan dia minum dari cangkir itu atau dari yang sebuah lagi dan yah, bagaimana yang terjadi saja. Saya pikir penyelesaian seperti ini lebih baik. Bagi dirinya dan bagi kedua anaknya yang tak berdosa itu.”


Dengan halus ditambahkannya, ”Anda letih se­kali,


bukan?”


Graciella mengangguk.


”Kapan anda mulai menduganya Miss Hope?” tanyanya. .


”Saya tak tahu pasti. Adegan itu sudah diatur. Itu sudah saya rasakan sejak semula. Tapi lama sekali saya tidak menyadari bahwa itu diatur oleh Natasha Hamilton dan bahwa dia memperlihatkan sikap di­buat buat, karena dia sendiri yang memainkan pe­ran itu. Saya heran akan


kesederhanaan dan sekali­gus kerumitan perkara ini. Tapi kemudian saya menyadari bahwa ketulusan anda-lah yang saya lawan, dan bahwa anda dibantu dan didorong oleh keluarga anda sendiri, segera setelah mereka mengerti apa yang anda ingin lakukan!”


”Karena itu merupakan permintaan terakhir Peter! Itulah mak­sud­nya waktu dia mengucapkan, ‘Graciela ’. Perminta­an itulah yang terkandung dalam satu per­kataan itu. Dia minta agar saya melindungi Natasha. Sebab dia sangat mencintai Natasha. Saya rasa bahkan dia mencin­tai Natasha lebih daripada yang disadarinya sendiri. Dia mencintai Natasha bahkan lebih daripada Karen Clark atau lebih daripada saya. Natasha ada­lah miliknya. Dan Peter selalu mencintai apa apa yang dimi­likinya. Dia tahu, satu satunya orang yang bisa melindungi Natasha dari akibat perbuatannya adalah saya. Dan dia tahu pasti bahwa saya mau melakukan apa saja yang diinginkannya, karena saya mencintainya.”


”Dan anda langsung mulai,” kata Eloise Hope dengan suram.


”Ya. Yang pertama terpikir oleh saya adalah merampas pistol itu darinya, lalu menjatuhkan­nya ke dalam kolam ikan. Dengan demikian, sidik


jari­nya akan hilang karena terendam air. Wak­tu


kemudian saya dengar Peter telah ditembak dengan senjata lain, saya per­gi mencari senjata itu. Dan tentu saja saya me­nemukannya, sebab saya tahu betul di tempat yang bagaimana Natasha akan menyembunyikannya. Saya ha­nya satu atau dua menit lebih cepat daripada anak buah Inspektur Larkspur.”


Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan, ”Saya simpan senjata itu di dalam tas besar milik saya, sampai saya bisa membawanya ke London. Lalu saya sembunyikan di studio saya, sampai saya bisa membawanya kembali, dan saya letakkan di tem­pat polisi tak bisa menemukannya.”


”Di dalam ikan tanah liat itu,” gumam Eloise.

__ADS_1


”Bagaimana anda tahu itu? Benar, saya masuk­kan


benda itu ke sebuah kantong busa, lalu saya ikat pembungkusnya itu dengan kawat, dan saya tempelkan tanah liat di sekelilingnya. Sebab, polisi tentu tak bisa merusak hasil karya seorang artis, bukan? Bagaimana anda sampai tahu di mana benda itu?”


”Pilihan anda untuk membuat seekor ikan. Tapi mengenai sidik jari­nya... bagaimana anda mendapatkan sidik jari itu?”


”Dari seorang tua yang buta, dia seorang penjual korek api di sudut jalan dekat studio saya.  Dia tak tahu apa yang saya minta untuk dipegang olehnya sebentar, sementara saya menge­luarkan uang!”


Eloise memandanginya sejenak.


”Luar biasa!” gumamnya. ”Anda salah seorang lawan terbaik yang pernah saya hadapi, Miss West.”


”Tapi bukan main letihnya saya, selalu harus berusaha untuk selangkah lebih cepat daripada anda.”


”Saya tahu. Saya mulai menyadari kebenarannya waktu saya melihat bahwa polanya selalu


diran­cang bukan untuk melibatkan satu orang saja, tapi un­tuk melibatkan semua orang di The Blossom , kecuali Natasha Hamilton. Setiap petunjuk selalu menunjuk ke arah yang berlawanan dengan dia. Anda dengan senga­ja menggambar sebuah pohon sakura untuk menarik perhatian saya, dan menjadikan diri anda sendiri dicurigai. Julia Cavendish, yang tahu betul apa yang sedang


anda lakukan, bersenang senang dengan menyesat­kan Inspektur Larkspur yang malang itu ke berbagai arah. Pada Shawn  Cavendish  , pada Ryan Cavendish, dan bahkan pada dirinya sendiri."


”Ya, hanya ada satu hal yang harus dilakukan bila


kita ingin membebaskan seseorang yang


sebe­narnya bersalah dari kecurigaan. Kita harus mem­berikan kesan bersalah pada orang orang lain, tapi tak pernah mengarah pada satu orang tertentu. Sebab itu, setiap petunjuk kelihatan­nya memberi­kan harapan, yang lalu perlahan lahan meng­hilang, sampai berakhir sama sekali.”


Graciela menatap ke sosok yang meringkuk dengan mengibakan di kursi di depannya. ”Kasih­an kau, Natasha," katanya.


”Begitukah perasaan anda selama ini?” tanya Eloise dengan heran.


”Saya rasa begitu. Natasha amat sangat mencintai Peter. Tapi sayangnya dia tak mau mencintainya sebagaimana adanya. Dia mem­bangun sebuah takhta untuk Peter, dan menggelarinya semua sifat yang hebat, mulia, dan yang tidak mementingkan diri seperti orang suci. Padahal bila seorang idola sudah tercampak, tak ada lagi yang tersisa.”


Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan, ”Tapi Peter jauh lebih baik dari­pada seorang idola di takhta. Dia nyata, hidup, dan bersemangat. Dia pemurah, hangat, dan hidup, dan dia adalah seorang dokter yang hebat , ya, seorang dokter yang hebat! Sekarang dia sudah me­ninggal, dan dunia telah

__ADS_1


kehilangan seorang pria yang sangat besar. Dan saya kehilangan satu satunya pria yang saya cintai.”


__ADS_2