
”Mengapa Papa ditembak?”
”Itu kecelakaan, Sayang. Mama... Mama tak bisa
berbicara tentang hal itu.”
”Itu bukan kecelakaan. Mengapa Mama mengatakan sesuatu yang tidak benar? Papa dibunuh orang. Begitu yang tertulis di surat surat
kabar.”
”Rudy, bagaimana kau sampai mendapatkan surat
kabar? Sudah kukatakan pada Miss Robert...”
Rudy hanya mengangguk mengangguk berulang kali dengan aneh.
”Aku keluar dan membelinya. Aku tahu pasti ada
sesuatu dalam surat kabar itu yang tidak ingin mama katakan pada kami. Aku penasaran mengapa Miss Robert menyembunyikannya.”
Memang tak ada gunanya menyembunyikan kebenaran dari Rudy. Rasa ingin tahunya yang besar.
”Mengapa Papa dibunuh, Mama?”
Maka pertahanan Natasha pun hancur. Ia menjadi
histeris.
”Jangan tanyakan itu padaku! Jangan bicarakan soal itu. Aku tak bisa berbicara tentang itu.”
”Tapi polisi akan menemukannya, bukan?
Maksudku, mereka harus menyelidikinya. Itu
penting.”
Masuk akal sekali, hingga Natasha jadi
ingin berteriak, tertawa, dan menangis. Pikirnya, ”Dia tak peduli. Tak mungkin dia peduli. Dia hanya ingin bertanya terus. Ya, dia bahkan tidak menangis.”
Lalu Rudy pergi, menghindari Bibi Alice. Wajahnya kurus dan kaku. Ia memang selalu merasa sendirian.
Tapi sebelum kejadian ini, hal itu tak apa-apa.
Kini keadaannya lain, pikirnya. Kalau saja ada seseorang yang bisa menjawab pertanyaan pertanyaannya dengan masuk akal dan dengan cara yang cerdas.
Nora Robert mengetuk pintu kamar tidur, lalu
masuk. Ia tampak pucat, tapi tenang dan tetap efisien.
”Inspektur Larkspur datang,” katanya.
Natasha terkejut sekali dan
melihat padanya dengan pandangan memilukan. Nora cepat cepat berkata lagi, ”Katanya dia tak ingin menyusahkan anda. Dia hanya ingin mengatakan sesuatu pada anda, sebelum pergi. Tapi katanya hanya pertanyaan pertanyaan rutin, mengenai praktik Dr. Hamilton, dan
saya bisa menceritakan segala sesuatu yang ingin diketahuinya.”
”Oh, terima kasih, Nora.”
__ADS_1
Nora cepat-cepat keluar. Natasha mendesah dan berkata, ” Robert benar-benar efisien.”
”Memang,” kata Mrs. Ricardo. ”Aku yakin dia seorang sekretaris yang luar biasa. Tapi wajahnya biasa sekali, ya? Tapi menurutku, itu lebih baik.
Terutama dengan pria setampan Peter.”
Natasha berkata dengan marah, ”Apa maksudmu, Alice? Peter takkan pernah... dia tak pernah... kau berbicara seolah olah Peter mau selingkuh seandainya dia memiliki seorang sekretaris yang cantik. Peter sama sekali tidak begitu.”
”Tentu saja tidak, Sayang,” kata Mrs. Ricardo.
”Tapi, kita tahu, kan, bagaimana laki-laki!”
Di dalam kamar periksa, Inspektur Larkspur berhadapan dengan Nora Robert yang memandanginya dengan tatapan dingin dan tak bersahabat.
Pandangan itu benar benar tidak bersahabat. Ia melihatnya. Yah, mungkin itu wajar.
”Gadis yang tidak cantik,” pikirnya. ”Kurasa tak ada
apa-apa antara dia dan almarhum dokter itu. Tapi mungkin dia yang mencintai dokter itu. Biasanya begitu keadaannya.”
Tapi, ketika ia menyandarkan diri di kursinya setengah jam kemudian, Inspektur Larkspur
menyimpulkan bahwa kali ini tidak demikian keadaannya. Jawaban jawaban yang diberikan Nora Robert padanya sangat jelas sekali. Ia bisa menjawab dengan lancar, dan kelihatannya ia mengerti benar tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan praktik dokter itu, sampai ke soal yang sekecil kecilnya.
Larkspur kemudian mengalihkan arah
pertanyaannya, dan dengan halus mulai mengorek keterangan tentang hubungan antara Peter Hamilton dan istrinya Natasha Hamilton.
Kata Nora, hubungan mereka baik sekali.
”Saya rasa sekali sekali mereka bertengkar juga
”Saya tak ingat adanya pertengkaran seperti yang anda maksud. Nyonya Hamilton sangat mengabdi pada suaminya seperti memuja seseorang.”
Terdengar nada mencemooh samar-samar dalam
suaranya. Inspektur Larkspur mendengarnya.
Tapi ia berkata, ”Apakah dia sama sekali tak pernah melawan untuk membela haknya?”
”Tidak. Segala-galanya berputar di sekitar Dr Hamilton.”
”Semena mena juga, ya?”
Nora berpikir sebentar.
”Tidak juga, saya tak bisa berkata begitu. Tapi dia
boleh disebut pria yang sangat egois. Dianggapnya biasa saja kalau Nyonya Hamilton selalu menerima semua pendapat nya.”
”Apakah ada masalah dengan pasien pasien ? Maksud saya, yang wanita?”
”Oh, soal itu!” suara Norabernada mengejek. ”Dr
Hamilton bersikap sama rata dalam menangani masalah seperti itu. Dia baik sekali pada semua pasiennya.” Ditambahkannya lagi, ”Dia benar-benar seorang dokter yang hebat.”
Terdengar nada kagum yang luar biasa dalam suaranya.
”Apakah dia terlibat dalam hubungan gelap dengan
__ADS_1
seorang wanita?” tanya Larkspur.
”Jangan menutupi rahasia demi kesetiaan, Miss Robert. Ini penting sekali untuk kami ketahui.”
”Ya, saya mengerti itu. Tapi setahu saya, tak ada.”
Jawabannya agak terlalu singkat, pikir Larkspur. Dia tak tahu, tapi mungkin dia menduga.
”Bagaimana dengan Miss West?” tanya Inspektur Larkspur tajam.
Nora mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
”Dia sahabat dekat keluarga ini.”
”Apakah tak ada... kesulitan dengan Nyonya Hamilton, karena dia?”
”Sama sekali tidak.”
Jawaban diberikan dengan tekanan.
Inspektur mengalihkan pertanyaan lagi.
”Bagaimana dengan Miss Karen Clark?”
”Karen Clark?”
Terdengar nada terkejut dalam suaranya.
”Dia teman Dr Hamilton, bukan?”
”Entahlah. Saya tidak tahu. Saya tak pernah mendengar tentang dia. Tapi, rasanya saya tahu nama itu...”
”Dia seorang model.”
”Oh, ya! Saya tadi bertanya-tanya mengapa nama itu rasanya saya kenal. Tapi saya tak tahu bahwa Dr Hamilton kenal padanya.”
Ia kelihatan yakin sekali akan hal itu, hingga membuat inspektur Larkspur segera meninggalkan soal tersebut. Dilanjutkannya pertanyaannya mengenai sikap Dr Hamilton pada hari Sabtu yang lalu.
Di sinilah keyakinan Nora dalam memberikan jawaban-jawaban agak goyah.
Katanya perlahan-lahan, ”Sikapnya memang agak lain dari pada biasanya.”
”Apa bedanya?”
Dia kelihatan agak linglung. Ada selang waktu yang
agak lama sebelum dia menekan bel untuk memanggil pasien terakhir. Padahal biasanya dia selalu terburu buru, bila dia akan pergi. Saya rasa...
ya, saya yakin ada sesuatu yang dipikirkannya.”
Tapi ia tak bisa lebih pasti. Inspektur Larkspur tidak begitu puas dengan hasil penyelidikannya. Ia sama sekali tak berhasil mendapatkan motif yang di inginkan. Padahal motif itu harus didapatkan sebelum suatu perkara bisa diajukan pada jaksa.
Ia mempunyai keyakinan sendiri bahwa Natasha Hamilton yang telah menembak suaminya. Menurut pendapatnya, rasa cemburulah yang merupakan motif. Tapi, sebegitu jauh ia tak bisa menemukan apa-apa sebagai bukti.
Sersan Wood telah menanyai para pelayan,
tapi mereka semua menceritakan hal yang sama. Nyonya Hamilton sangat memuja suaminya.
Apa pun yang terjadi, pikirnya, pasti terjadi di The
__ADS_1
Blossom. Dan ketika ingatannya kembali pada The Blossom ia merasa agak gelisah. Orang-orang yang ada di sana semuanya aneh.