Akhir Pekan Berdarah

Akhir Pekan Berdarah
Bab 33


__ADS_3

”Mengapa Papa ditembak?”


”Itu kecelakaan, Sayang. Mama... Mama tak bisa


berbicara tentang hal itu.”


”Itu bukan kecelakaan. Mengapa Mama menga­takan sesuatu yang tidak benar? Papa dibunuh orang. Begitu yang tertulis di surat surat


kabar.”


”Rudy, bagaimana kau sampai mendapatkan su­rat


kabar? Sudah kukatakan pada Miss Robert...”


Rudy hanya mengangguk mengangguk berulang kali dengan aneh.


”Aku keluar dan membelinya. Aku tahu pasti ada


sesuatu dalam surat kabar itu yang tidak ingin mama katakan pada kami. Aku penasaran mengapa Miss Robert menyem­­bunyikannya.”


Memang tak ada gunanya menyembunyikan kebenaran dari Rudy. Rasa ingin tahunya yang besar.


”Mengapa Papa dibunuh, Mama?”


Maka pertahanan Natasha pun hancur. Ia menjadi


histeris.


”Jangan tanyakan itu padaku! Jangan bicarakan soal itu. Aku tak bisa berbicara tentang itu.”


”Tapi polisi akan menemukannya, bukan?


Mak­sudku, mereka harus menyelidikinya. Itu


pen­ting.”


Masuk akal sekali, hingga Natasha jadi


ingin berteriak, tertawa, dan menangis. Pikirnya, ”Dia tak peduli. Tak mungkin dia peduli. Dia hanya ingin ber­tanya terus. Ya, dia bahkan tidak menangis.”


Lalu Rudy pergi, menghindari Bibi Alice. Wajahnya kurus dan kaku. Ia memang selalu me­rasa sendirian.


Tapi sebelum kejadian ini, hal itu tak apa-apa.


Kini keadaannya lain, pikirnya. Kalau saja ada seseorang yang bisa menjawab pertanyaan pertanya­annya dengan masuk akal dan dengan cara yang cerdas.


Nora Robert mengetuk pintu kamar tidur, lalu


masuk. Ia tampak pucat, tapi tenang dan tetap efisien.


”Inspektur Larkspur datang,” katanya.


Natasha terkejut sekali dan


melihat padanya dengan pandangan memilukan. Nora cepat cepat berkata lagi, ”Katanya dia tak ingin me­nyusahkan anda. Dia hanya ingin mengatakan se­suatu pada anda, sebelum pergi. Tapi katanya hanya pertanyaan pertanyaan rutin, mengenai praktik Dr. Hamilton, dan


saya bisa menceritakan segala sesuatu yang ingin diketahuinya.”


”Oh, terima kasih, Nora.”

__ADS_1


Nora cepat-cepat keluar. Natasha mendesah dan berkata, ” Robert benar-benar efisien.”


”Memang,” kata Mrs. Ricardo. ”Aku yakin dia seorang sekretaris yang luar biasa. Tapi wajahnya biasa sekali, ya? Tapi menurutku, itu lebih baik.


Terutama dengan pria setampan Peter.”


Natasha berkata dengan marah, ”Apa maksudmu, Alice? Peter takkan pernah... dia tak pernah... kau berbicara seolah olah Peter mau selingkuh seandainya dia memiliki seorang sekretaris yang cantik. Peter sama sekali tidak begitu.”


”Tentu saja tidak, Sayang,” kata Mrs. Ricardo.


”Tapi, kita tahu, kan, bagaimana laki-laki!”


Di dalam kamar periksa, Inspektur Larkspur berhadapan dengan Nora Robert yang memandangi­nya dengan tatapan dingin dan tak bersahabat.


Pan­dangan itu benar benar tidak bersahabat. Ia melihat­nya. Yah, mungkin itu wajar.


”Gadis yang tidak cantik,” pikirnya. ”Kurasa tak ada


apa-apa antara dia dan almarhum dokter itu. Tapi mungkin dia yang mencintai dokter itu. Bia­sanya begitu keadaan­nya.”


Tapi, ketika ia menyandarkan diri di kursinya setengah jam kemudian, Inspektur Larkspur


me­nyimpulkan bahwa kali ini tidak demikian keada­annya. Jawaban jawaban yang diberikan Nora Robert padanya sangat je­las sekali. Ia bisa menjawab dengan lancar, dan kelihatannya ia mengerti benar tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan praktik dokter itu, sampai ke soal yang se­kecil kecilnya.


Larkspur kemudian mengalihkan arah


pertanya­annya, dan dengan halus mulai mengorek keterangan tentang hubungan antara Peter Hamilton dan istrinya Natasha Hamilton.


Kata Nora, hubungan mereka baik sekali.


”Saya rasa sekali sekali mereka bertengkar juga


”Saya tak ingat adanya pertengkaran seperti yang anda maksud. Nyonya Hamilton sangat mengabdi pada suaminya seperti memuja seseorang.”


Terdengar nada mencemooh samar-samar dalam


suara­nya. Inspektur Larkspur mendengarnya.


Tapi ia berkata, ”Apakah dia sama sekali tak pernah melawan untuk membela haknya?”


”Tidak. Segala-galanya berputar di sekitar Dr Hamilton.”


”Semena mena juga, ya?”


Nora berpikir sebentar.


”Tidak juga, saya tak bisa berkata begitu. Tapi dia


boleh disebut pria yang sangat egois. Diang­gapnya biasa saja kalau Nyonya Hamilton selalu me­nerima semua pendapat nya.”


”Apakah ada masalah dengan pasien pasien ? Maksud saya, yang wanita?”


”Oh, soal itu!” suara Norabernada mengejek. ”Dr


Hamilton bersikap sama rata dalam menangani masalah seperti itu. Dia baik sekali pada semua pasiennya.” Ditambahkannya lagi, ”Dia benar-benar seorang dokter yang hebat.”


Terdengar nada kagum yang luar biasa dalam suaranya.


”Apakah dia terlibat dalam hubungan gelap de­ngan

__ADS_1


seorang wanita?” tanya Larkspur.


”Jangan me­nutupi rahasia demi kesetiaan, Miss Robert. Ini penting sekali untuk kami ketahui.”


”Ya, saya mengerti itu. Tapi setahu saya, tak ada.”


Jawabannya agak terlalu singkat, pikir Larkspur. Dia tak tahu, tapi mungkin dia menduga.


”Bagaimana dengan Miss West?” tanya Inspektur Larkspur tajam.


Nora mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


”Dia sahabat dekat keluarga ini.”


”Apakah tak ada... kesulitan dengan Nyonya Hamilton, karena dia?”


”Sama sekali tidak.”


Jawaban diberikan dengan tekanan.


Inspektur mengalihkan pertanyaan lagi.


”Bagaimana dengan Miss Karen Clark?”


”Karen Clark?”


Terdengar nada terkejut dalam suara­nya.


”Dia teman Dr Hamilton, bukan?”


”Entahlah. Saya tidak tahu. Saya tak pernah mendengar tentang dia. Tapi, rasanya saya tahu nama itu...”


”Dia seorang model.”


”Oh, ya! Saya tadi bertanya-tanya mengapa nama itu rasanya saya kenal. Tapi saya tak tahu bahwa Dr Hamilton kenal padanya.”


Ia kelihatan yakin sekali akan hal itu, hingga membuat inspektur Larkspur segera meninggalkan soal tersebut. Di­lanjut­kannya pertanyaannya mengenai sikap Dr Hamilton pada hari Sabtu yang lalu.


Di sinilah keya­kinan Nora dalam memberikan jawab­an-jawaban agak goyah.


Katanya perlahan-lahan, ”Sikapnya memang agak lain dari pada biasanya.”


”Apa bedanya?”


Dia kelihatan agak linglung. Ada selang waktu yang


agak lama sebelum dia menekan bel untuk memanggil pasien terakhir. Padahal biasanya dia selalu terburu buru, bila dia akan pergi. Saya rasa...


ya, saya yakin ada sesuatu yang dipikirkannya.”


Tapi ia tak bisa lebih pasti. Inspektur Larkspur tidak begitu puas dengan hasil penye­lidikannya. Ia sama sekali tak berhasil men­dapatkan motif yang di inginkan. Padahal motif itu harus didapatkan sebelum suatu perkara bisa diajukan pada jaksa.


Ia mempunyai keyakinan sendiri bahwa Natasha Hamilton yang telah menembak suaminya. Me­nurut penda­pat­nya, rasa cemburulah yang merupa­kan motif. Tapi, sebegitu jauh ia tak bisa mene­mukan apa-apa sebagai bukti.


Sersan Wood telah menanyai para pelayan,


tapi mereka semua menceritakan hal yang sama. Nyonya Hamilton sangat memuja suaminya.


Apa pun yang terjadi, pikirnya, pasti terjadi di The

__ADS_1


Blossom. Dan ketika ingatannya kembali pada The Blossom ia merasa agak gelisah. Orang-orang yang ada di sana semuanya aneh.


__ADS_2