Akhir Pekan Berdarah

Akhir Pekan Berdarah
Bab 40


__ADS_3

Bagi Eloise Hope hanya ada satu hal yang lebih


me­­narik daripada pengamatan terhadap


manusia ­manusia itu, yaitu mencari kebenaran.


Ia bertekad untuk mencari kebenaran atas


ke­matian Peter Hamilton itu.


”Oh, tentu, Inspektur,” kata Karen. ”Saya siap sedia


membantu Anda.”


”Terima kasih, Miss Clark.”


Ternyata Karen Clark tidak seperti yang


di­bayangkan oleh Inspektur Larkspur. Ia telah mempersiapkan diri untuk berhadapan


dengan keglamoran, keadaan yang tak asli, bahkan yang bersifat kepahlawanan. Ia sama sekali tidak akan terkejut bila wanita itu bersandiwara atau semacamnya.


Dan sebenarnya Inspektur Larkspur memang curiga bah­wa ia seddang bersandiwara. Tapi bukan sandiwara seperti yang dibayangkan olehnya.


Tapi ternyata Karen Clark tidak memanfaat­kan daya tarik kewanitaannya secara berlebihan ,­tidak ter­lalu menekankan pada keglamoran.


Larkspur bahkan merasa dirinya sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita yang sangat cantik dan berpakaian mahal, wanita yang juga merupakan seorang pengusaha yang baik dan terkenal. Karen Clark bukan orang bodoh, pikirnya.


”Kami hanya menginginkan pernyataan yang je­las,


Miss Clark. Anda datang ke The Blossom pada malam minggu, bukan?”


”Ya, saya kehabisan lilin. Kita sering lupa, betapa pentingnya barang barang seperti itu di pe­desaan.”


”Jauh jauh anda pergi ke The Blossom? Meng­apa


tidak pergi ke tetangga anda yang terdekat , Miss Hope?”


Veronica tersenyum , suatu senyuman kamera yang sempurna dan penuh percaya diri.


”Saya tak tahu siapa tetangga saya yang ter­dekat.


Kalau saya tahu, tentu saya ke sana. Saya pikir dia sekadar seorang asing biasa, dan saya pikir mungkin dia membosankan , soalnya tinggal­nya begitu dekat.”


Ya, pikir Larkspur, sangat bisa diterima. Pasti jawaban itu sudah disiapkannya untuk kesempatan ini.


”Anda mendapatkan lilin itu,” kata Inspektur Larkspur. ”Lalu saya dengar anda mengenali seorang teman lama , Dr Hamilton?”


Dia mengangguk.


”Kasihan Peter. Ya, sudah tujuh belas tahun saya tidak bertemu dengannya.”


”Begitukah?” Terdengar nada tak percaya yang sopan dalam suara Inspektur Larkspur.


”Sungguh.” Nada Karen tegas membenarkan.

__ADS_1


”Senangkah anda bertemu dengannya?”


”Tentu saja saya amat sangat senang sekali. Bertemu dengan seorang teman lama selalu menyenangkan, bukan, Inspektur?”


”Dalam beberapa hal memang.”


Tanpa menunggu pertanyaan berikutnya, Karen Clark melanjutkan.


”Peter mengantar saya pulang. Barangkali anda ingin tahu apakah dia mengatakan sesuatu yang ada hubungannya dengan tragedi itu, jadi saya mengingat ingat percakapan kami dengan cermat sekali. Tapi benar benar tak ada yang bisa


dijadi­kan petunjuk atau semacam­nya.”


”Tentang apa anda berdua berbincang, Miss


Clark?”


”Tentu saja tentang masa lalu. ‘Ingatkah kau ini, itu, atau yang sesuatu yang lain?’” Ia tersenyum dengan murung. ”Kami berkenalan di Jerman. Peter tak banyak berubah. Lebih tua memang, dan lebih percaya diri. Saya dengar dia cukup terkenal da­lam profesinya. Dia sama sekali tidak berbicara tentang kehidupan pribadinya. Saya jadi


mendapat­kan kesan bahwa kehidupan perkawinannya tidak begitu bahagia , tapi itu hanya kesan yang samar sekali. Saya rasa istrinya adalah seorang wanita licik yang pencemburu. Kasihan dia. Mungkin is­trinya ituselalu ribut tentang para pasien pasien Peter yang jauh lebih cantik dari dirinya.”


”Tidak,” kata Inspektur Larkspur. ”Kelihatannya dia tidak begitu.”


Karen cepat cepat berkata, ”Maksud anda... semua­ itu tersembunyi? Ya, ya, saya mengerti. Kalau begitu keadaannya, jauh lebih berbahaya.”


”Saya rasa anda menduga Nyonya Hamilton lah yang telah menembak suaminya, Miss Clark?”


”Tak sepantasnya saya mengatakan itu! Orang tak


boleh berkata apa apa sebelum perkara itu diadili


begitu, bukan? Saya menyesal sekali, In­spektur. Soalnya pelayan saya mengatakan pada saya bahwa istrinya kedapatan sedang berdiri di dekat mayat Peter, dengan memegang sebuah pistol. Anda tentu maklum bahwa di daerah­ daerah pedesaan yang sepi ini semua dibesarkan orang, dan para pelayan suka mencerita­kan apa apa yang terjadi.”


”Ya, saya rasa kita bisa mendapatkan banyak informasi melalui mereka.”


Dengan gigih Inspektur Larkspur berkata terus.


”Yang menjadi persoalan sekarang tentulah siapa


yang punya motif...”


Ia berhenti sebentar. Dengan tersenyum murung


Karen berkata, ”Dan istri selalu merupakan


ter­tuduh utama, bukan? Ironis sekali! Tapi biasanya memang ada yang disebut ‘wanita ketiga’. Saya rasa wanita ketiga itu juga bisa dipertimbangkan motifnya, bukan?”


”Apakah ada wanita ketiga dalam hidup Dr Hamilton?”


”Ya, saya rasa mungkin ada. Kita hanya


men­dapatkan kesan tentang itu, bukan?”


Kesan kadang kadang memang sangat berguna,”


kata Larkspur.

__ADS_1


”Dari apa yang dikatakan Peter saya menyim­pulkan


bahwa wanita pelukis itu... yah, seorang sahabatnya yang amat dekat. Tapi saya rasa anda sudah tahu semua itu?”


”Kami memang harus menyelidiki semua hal itu.”


Suara Inspektur Larkspur sama sekali tidak


me­mihak. Tapi, tanpa kentara bahwa ia sedang


me­lihat, tampak olehnya suatu pantulan rasa puas yang mensyukuri di mata biru Karen yang be­sar itu.


Dengan nada tegas ia bertanya, ”Anda katakan bahwa Dr Hamilton mengantar Anda pulang. Jam berapa anda berdua berpisah?”


”Saya benar-benar tak ingat! Kami bercakap-­cakap


beberapa lama. Itu saya yakin. Pasti sudah larut sekali jadinya.”


”Apakah dia masuk?”


”Ya, saya memberinya minum.”


”Oh, begitu. Saya kira anda berbincang di...


eh... rumah peristirahatan di dekat kolam ikan itu.”


Dilihatnya kelopak mata wanita itu mengerjap. Dan


terdengar pula suatu keragu raguan sejenak sebelum ia berkata, ”Anda seorang detektif sejati! Ya, kami duduk di situ, merokok dan bercakap cakap cukup lama. Bagaimana anda tahu?”


Wajahnya seperti anak kecil yang ingin sekali diajari suatu kepandaian.


”Mantel bulu Anda tertinggal di sana, Miss Clark.”


Lalu ditambahkannya tanpa tekanan, ”Juga kotak lilin.”


Ya, memang tertinggal.”


”Dr Hamilton kembali ke The Blossom sekitar pukul empat pagi,” kata Inspektur, lagi lagi tanpa tekanan.


”Selarut itukah?” Suara Karen terdengar ter­kejut.


”Ya, benar, Miss Clark.”


”Tentu saja. Soalnya banyak sekali yang kami percakapkan , karena sudah bertahun tahun tak ber­temu.”


”Benarkah memang sudah sekian lama anda tak bertemu dengan Dr.m Hamilton?”


”Baru saja saya katakan bahwa sudah tujuh belas tahun saya tak bertemu dengannya.”


”Apakah anda yakin? Anda tidak keliru? Saya mendapat kesan bahwa anda cukup sering


ber­temu dengannya.”


”Apa yang membuat anda berpikiran begitu?”

__ADS_1


”Yah, surat singkat ini umpamanya.” Inspektur


Larkspur mengeluarkan sepucuk surat dari sakunya. Dilihatnya sekali lagi surat pendek itu. Ia ber­deham, lalu memmbaca, ”‘Datanglah pagi ini. Aku harus berbicara denganmu. Karen.’”


__ADS_2