Akhir Pekan Berdarah

Akhir Pekan Berdarah
Bab 51


__ADS_3

”Aku akan kehilangan pekerjaan kalau aku


me­lakukan hal-lhal semacam itu.”


”Tapi apakah kau tak ingin melemparkan apa apa


pada perempuan semacam itu?”


Amy menarik napas dalam dalam.


”Tentu saja aku ingin. Kadang kadang, terutama pada akhir pekan yang panas selama masa jual dalam musim panas, aku takut kalau kalau suatu hari aku lupa diri dan mengatakan persetan pada semua orang dan bukannya cuma berkata, ‘Ya, Madam. Tidak, Madam. Akan saya lihat kalau kalau kami punya yang lain, Madam.’”


”Amy, Amy kecil tersayang, kau tak bisa menanggung semua itu.”


Amy tertawa, agak gemetar.


”Tak usah risau, Ryan. Mengapa kau datang kemari? Mengapa tidak menelepon saja?”


”Aku ingin bertemu langsung denganmu. Aku khawatir...” Ryan diam sebentar, lalu berkata dengan geram, ”Julia sendiri tak mungkin ber­bicara sekasar itu pada pembantu atau bahkan pada juru masak se­kalipun. Aku tak suka melihatmu harus menahan­kan semua sikap kurang sopan dan kasar itu. Demi Tuhan, Amy, ingin rasanya aku


langsung melarikanmu ke Logdewood. Ingin sekali aku men­cegat taksi, mendorongmu masuk ke dalamnya, dan membawamu sekarang juga ke Logdewood, naik kereta api jam tiga lewat seperempat.”


Amy berhenti. Sikapnya yang tak acuh tak tampak


lagi. Sepanjang pagi itu ia harus bekerja keras hingga letih, menghadapi para pembeli yang menjengkelkan dan Tuan Ferguson yang


mem­bentak bentak terus. Ia pun menoleh pada Ryan dengan amat marah.


”Nah, mengapa tidak kaulakukan itu? Banyak taksi


di sini!”


Ryan terbelalak memandangi Amy, terkejut melihat kemarahannya yang mendadak. Masih de­ngan amarah yang menyala, Amy berkata lagi, ”Untuk apa kau datang dan mengucapkan kata ­kata itu? Kau tidak bersungguh sungguh dengan ucapanmu. Apa kaupikir kata-kata itu dapat meng­hiburku? Setelah lelah bekerja sepanjang pagi, dan merasa seperti berada di dalam neraka, lalu diingatkan bahwa ada tempat tempat yang menyenangkan seperti Logdewood? Apa kaupikir aku harus merasa ber­te­rima kasih padamu, yang seenak­nya berce­loteh mengatakan betapa ingin kau


mem­bawa­ku pergi meninggalkan semua itu. Kata katamu manis sekali, tapi tidak tulus. Kau sama sekali tidak bersungguhsungguh dengan kata katamu itu Ryan. Tak tahukah kau bahwa aku bersedia menjual nya­waku untuk bisa mengejar kereta api jam tiga lewat seperempat ke Logdewood, melarikan diri dari segala galanya di sini? Mengingat Logdewood saja aku tak tahan. Mengertikah kau? Maksud­mu memang baik, Ryan. Tapi kau kejam! Kau hanya berbicara dan berbicara saja!”


Mereka berdiri berhadapan, dan sangat


meng­ganggu orang orang yang lalu lalang untuk makan siang di sepanjang Peanuts Avenue. Tapi me­reka tidak menyadari apa apa, kecuali diri mereka masing masing. Ryan masih memandangi Amy de­ngan terbelalak, seperti se­seorang yang tiba tiba dibangunkan dari tidur.


”Baiklah kalau begitu,” katanya. ”Kau pergi ke Logdewood, naik kereta api jam tiga lewat seperem­pat!”


Diangkatnya tongkatnya untuk memanggil se­buah


taksi yang sedang lewat. Taksi itu berhenti di dekat trotoar. Ryan membuka pintunya, dan Amy yang masih agak bingung masuk. ”Stasiun Paddington,” kata Ryan pada pengemudi, lalu ia masuk menyusul Amy.


Mereka duduk berdiam diri. Bibir Amy ter­katup

__ADS_1


rapat. Matanya tampak menantang dan siap melawan.


Ryan hanya menatap lurus ke depan.


Saat menunggu lampu lalu lintas di Albert Street,


Amy berkata dengan perasaan tak enak, ”Rupanya aku sudah menggertakmu.”


”Aku tidak merasa digertak,” kata Ryan sing­kat.


Taksi meluncur lagi dengan mendadak.


Waktu taksi tiba di Abbey Road, lalu mem­belok


ke kiri, masuk ke Dorswt House, Ryan tiba tiba


tersadar.


Katanya, ”Kita tak bisa naik kereta api jam tiga lewat seperempat,” lalu sambil mengetuk kaca


pe­misah, ia berkata pada pengemudi, ”Pergi ke Whitehall.”


Dengan nada dingin Amy berkata, ”Mengapa kita


tak bisa naik kereta api jam tiga lewat seper­empat?


Ryan tersenyum padanya.


”Kau belum membawa barang barang


keperluan­mu, Amy sayang. Tak ada baju tidur, tak ada sikat gigi, dan tak ada sepatu untuk di desa. Masih ada kereta api jam lima lewat seperempat. Se­karang kita makan siang dulu dan merundingkan­nya.”


Amy mendesah.


”Itulah sifat khasmu, Ryan. Kau selalu ingat sisi


praktisnya. Bertindak atas dorongan hati saja tak baik bukan? Yah, bagaimanapun juga, itu merupakan impian yang bagus. Biar saja.”


Diselipkannya tangannya ke tangan Ryan, lalu ia


tersenyum padanya dengan senyumannya yang biasa.


”Maafkan aku berdiri di trotoar tadi, dan marah marah padamu seperti perempuan yang tak tahu sopan santun,” katanya. ”Sebab kau tadi memang menjengkelkan sekali, Ryan.”


”Ya,” kata Ryan, ”kurasa memang begitu.” Mereka


masuk ke restoran Whitehall dengan gembira, dan men­dapat­kan meja di dekat jendela. Ryan memesan maka­nan siang yang enak sekali. Setelah menghabiskan daging mereka, Amy

__ADS_1


men­desah dan berkata, ”Aku harus cepat­ cepat kembali ke toko. Waktuku sudah habis.”


”Hari ini kau harus makan dengan tenang,


mes­kipun untuk itu aku harus kembali ke tokomu dan memborong setengah dari baju baju di situ!”


”Ryan yang baik, kau benar benar sangat manis.”


Mereka makan makanan penutup yang enak, lalu


pelayan membawakan kopi. Ryan mema­sukkan gula ke kopinya, lalu mengaduknya.


Katanya, ”Kau benar-benar mencintai Logdewood,


bukan, Amy?”


”Haruskah kita berbicara tentang Logdewood lagi? Aku sudah maklum kita tak jadi nekat naik kereta api jam tiga lewat seperempat, dan aku mengerti bahwa kita tak perlu mempersoalkan kereta api yang jam lima lewat seperempat, tapi jangan sentuh soal itu lagi.”


Ryan tersenyum.


”Tidak, aku tidak mengusulkan supaya kita naik kereta api yang jam lima lewat seperempat. Tapi aku minta kau pergi ke Logdewood, Amy. Kuminta kau tinggal di sana untuk selamanya dan artinya ka­lau kaupikir kau bisa tahan menghadapi aku.”


Amy terbelalak memandangi Ryan lewat tepi


cangkir kopinya. Lalu diletakkannya cangkir itu


de­ngan tangan yang diusahakannya supaya mantap dan tidak gemetar.


”Apa maksudmu sebenarnya, Ryan?”


”Kuminta kau menikah denganku, Amy. Kuakui,


lamaran ini memang tidak romantis. Aku ini laki laki yang membosankan, aku tahu itu, dan aku juga tak begitu pandai dalam hal apa pun. Aku hanya membaca buku buku dan mengerjakan hal hal yang tak berarti. Tapi, meskipun aku bukan orang yang sangat mendebarkan, kita sudah saling mengenal lama sekali, dan kurasa...yah, kurasa Logdewood sendiri akan bisa menutupi segala


keku­ranganku. Kurasa kau akan berbahagia di Logdewood, Amy. Maukah kau ikut?”


Dua atau tiga kali Amy harus menelan ludah, lalu


ia berkata, ”Tapi kukira... Graciela...” Lalu ia berhenti.


Dengan suara datar dan tanpa emosi, Ryan berkata, ”Ya, tiga kali aku meminta Graciela un­tuk menikah denganku. Tapi setiap kali dia me­nolak. Yah, Graciela yakin benar apa apa yang tak diinginkannya.”


Hening sebentar, lalu Ryan berkata, ”Nah, Amy


sayang, bagaimana?”


Amy mengangkat wajahnya, memandangi Ryan lekat lekat.

__ADS_1


Suaranya seperti tercekat waktu ia berkata, ”Rasanya luar biasa sekali. Aku serasa ditawari surga di atas piring, di Whitehall ini!”


__ADS_2