
”Aku akan kehilangan pekerjaan kalau aku
melakukan hal-lhal semacam itu.”
”Tapi apakah kau tak ingin melemparkan apa apa
pada perempuan semacam itu?”
Amy menarik napas dalam dalam.
”Tentu saja aku ingin. Kadang kadang, terutama pada akhir pekan yang panas selama masa jual dalam musim panas, aku takut kalau kalau suatu hari aku lupa diri dan mengatakan persetan pada semua orang dan bukannya cuma berkata, ‘Ya, Madam. Tidak, Madam. Akan saya lihat kalau kalau kami punya yang lain, Madam.’”
”Amy, Amy kecil tersayang, kau tak bisa menanggung semua itu.”
Amy tertawa, agak gemetar.
”Tak usah risau, Ryan. Mengapa kau datang kemari? Mengapa tidak menelepon saja?”
”Aku ingin bertemu langsung denganmu. Aku khawatir...” Ryan diam sebentar, lalu berkata dengan geram, ”Julia sendiri tak mungkin berbicara sekasar itu pada pembantu atau bahkan pada juru masak sekalipun. Aku tak suka melihatmu harus menahankan semua sikap kurang sopan dan kasar itu. Demi Tuhan, Amy, ingin rasanya aku
langsung melarikanmu ke Logdewood. Ingin sekali aku mencegat taksi, mendorongmu masuk ke dalamnya, dan membawamu sekarang juga ke Logdewood, naik kereta api jam tiga lewat seperempat.”
Amy berhenti. Sikapnya yang tak acuh tak tampak
lagi. Sepanjang pagi itu ia harus bekerja keras hingga letih, menghadapi para pembeli yang menjengkelkan dan Tuan Ferguson yang
membentak bentak terus. Ia pun menoleh pada Ryan dengan amat marah.
”Nah, mengapa tidak kaulakukan itu? Banyak taksi
di sini!”
Ryan terbelalak memandangi Amy, terkejut melihat kemarahannya yang mendadak. Masih dengan amarah yang menyala, Amy berkata lagi, ”Untuk apa kau datang dan mengucapkan kata kata itu? Kau tidak bersungguh sungguh dengan ucapanmu. Apa kaupikir kata-kata itu dapat menghiburku? Setelah lelah bekerja sepanjang pagi, dan merasa seperti berada di dalam neraka, lalu diingatkan bahwa ada tempat tempat yang menyenangkan seperti Logdewood? Apa kaupikir aku harus merasa berterima kasih padamu, yang seenaknya berceloteh mengatakan betapa ingin kau
membawaku pergi meninggalkan semua itu. Kata katamu manis sekali, tapi tidak tulus. Kau sama sekali tidak bersungguhsungguh dengan kata katamu itu Ryan. Tak tahukah kau bahwa aku bersedia menjual nyawaku untuk bisa mengejar kereta api jam tiga lewat seperempat ke Logdewood, melarikan diri dari segala galanya di sini? Mengingat Logdewood saja aku tak tahan. Mengertikah kau? Maksudmu memang baik, Ryan. Tapi kau kejam! Kau hanya berbicara dan berbicara saja!”
Mereka berdiri berhadapan, dan sangat
mengganggu orang orang yang lalu lalang untuk makan siang di sepanjang Peanuts Avenue. Tapi mereka tidak menyadari apa apa, kecuali diri mereka masing masing. Ryan masih memandangi Amy dengan terbelalak, seperti seseorang yang tiba tiba dibangunkan dari tidur.
”Baiklah kalau begitu,” katanya. ”Kau pergi ke Logdewood, naik kereta api jam tiga lewat seperempat!”
Diangkatnya tongkatnya untuk memanggil sebuah
taksi yang sedang lewat. Taksi itu berhenti di dekat trotoar. Ryan membuka pintunya, dan Amy yang masih agak bingung masuk. ”Stasiun Paddington,” kata Ryan pada pengemudi, lalu ia masuk menyusul Amy.
Mereka duduk berdiam diri. Bibir Amy terkatup
__ADS_1
rapat. Matanya tampak menantang dan siap melawan.
Ryan hanya menatap lurus ke depan.
Saat menunggu lampu lalu lintas di Albert Street,
Amy berkata dengan perasaan tak enak, ”Rupanya aku sudah menggertakmu.”
”Aku tidak merasa digertak,” kata Ryan singkat.
Taksi meluncur lagi dengan mendadak.
Waktu taksi tiba di Abbey Road, lalu membelok
ke kiri, masuk ke Dorswt House, Ryan tiba tiba
tersadar.
Katanya, ”Kita tak bisa naik kereta api jam tiga lewat seperempat,” lalu sambil mengetuk kaca
pemisah, ia berkata pada pengemudi, ”Pergi ke Whitehall.”
Dengan nada dingin Amy berkata, ”Mengapa kita
tak bisa naik kereta api jam tiga lewat seperempat?
Ryan tersenyum padanya.
”Kau belum membawa barang barang
keperluanmu, Amy sayang. Tak ada baju tidur, tak ada sikat gigi, dan tak ada sepatu untuk di desa. Masih ada kereta api jam lima lewat seperempat. Sekarang kita makan siang dulu dan merundingkannya.”
Amy mendesah.
”Itulah sifat khasmu, Ryan. Kau selalu ingat sisi
praktisnya. Bertindak atas dorongan hati saja tak baik bukan? Yah, bagaimanapun juga, itu merupakan impian yang bagus. Biar saja.”
Diselipkannya tangannya ke tangan Ryan, lalu ia
tersenyum padanya dengan senyumannya yang biasa.
”Maafkan aku berdiri di trotoar tadi, dan marah marah padamu seperti perempuan yang tak tahu sopan santun,” katanya. ”Sebab kau tadi memang menjengkelkan sekali, Ryan.”
”Ya,” kata Ryan, ”kurasa memang begitu.” Mereka
masuk ke restoran Whitehall dengan gembira, dan mendapatkan meja di dekat jendela. Ryan memesan makanan siang yang enak sekali. Setelah menghabiskan daging mereka, Amy
__ADS_1
mendesah dan berkata, ”Aku harus cepat cepat kembali ke toko. Waktuku sudah habis.”
”Hari ini kau harus makan dengan tenang,
meskipun untuk itu aku harus kembali ke tokomu dan memborong setengah dari baju baju di situ!”
”Ryan yang baik, kau benar benar sangat manis.”
Mereka makan makanan penutup yang enak, lalu
pelayan membawakan kopi. Ryan memasukkan gula ke kopinya, lalu mengaduknya.
Katanya, ”Kau benar-benar mencintai Logdewood,
bukan, Amy?”
”Haruskah kita berbicara tentang Logdewood lagi? Aku sudah maklum kita tak jadi nekat naik kereta api jam tiga lewat seperempat, dan aku mengerti bahwa kita tak perlu mempersoalkan kereta api yang jam lima lewat seperempat, tapi jangan sentuh soal itu lagi.”
Ryan tersenyum.
”Tidak, aku tidak mengusulkan supaya kita naik kereta api yang jam lima lewat seperempat. Tapi aku minta kau pergi ke Logdewood, Amy. Kuminta kau tinggal di sana untuk selamanya dan artinya kalau kaupikir kau bisa tahan menghadapi aku.”
Amy terbelalak memandangi Ryan lewat tepi
cangkir kopinya. Lalu diletakkannya cangkir itu
dengan tangan yang diusahakannya supaya mantap dan tidak gemetar.
”Apa maksudmu sebenarnya, Ryan?”
”Kuminta kau menikah denganku, Amy. Kuakui,
lamaran ini memang tidak romantis. Aku ini laki laki yang membosankan, aku tahu itu, dan aku juga tak begitu pandai dalam hal apa pun. Aku hanya membaca buku buku dan mengerjakan hal hal yang tak berarti. Tapi, meskipun aku bukan orang yang sangat mendebarkan, kita sudah saling mengenal lama sekali, dan kurasa...yah, kurasa Logdewood sendiri akan bisa menutupi segala
kekuranganku. Kurasa kau akan berbahagia di Logdewood, Amy. Maukah kau ikut?”
Dua atau tiga kali Amy harus menelan ludah, lalu
ia berkata, ”Tapi kukira... Graciela...” Lalu ia berhenti.
Dengan suara datar dan tanpa emosi, Ryan berkata, ”Ya, tiga kali aku meminta Graciela untuk menikah denganku. Tapi setiap kali dia menolak. Yah, Graciela yakin benar apa apa yang tak diinginkannya.”
Hening sebentar, lalu Ryan berkata, ”Nah, Amy
sayang, bagaimana?”
Amy mengangkat wajahnya, memandangi Ryan lekat lekat.
__ADS_1
Suaranya seperti tercekat waktu ia berkata, ”Rasanya luar biasa sekali. Aku serasa ditawari surga di atas piring, di Whitehall ini!”