Akhir Pekan Berdarah

Akhir Pekan Berdarah
Bab 36


__ADS_3

”Suatu hasrat besar untuk menemukan kebenar­an,”


ulang Graciela merenung. ”Ya, saya bisa mengerti


mengapa anda jadi begitu berbahaya. Apakah kebenaran itu memberikan kepuasan pada anda?”


Eloise Hope memandanginya dengan rasa ingin tahu.


”Apa maksud Anda, Miss West?”


”Saya bisa mengerti kalau anda ingin tahu. Tapi apakah tahu saja sudah cukup? Atau apakah anda harus me­langkah lebih jauh lagi untuk


me­nerjemahkan sebuah pengetahuan itu menjadi suatu kebenaran?”


Eloise jadi tertarik akan jalan pikiran Graciela.


”Maksud Anda, bila saya tahu keadaan sebenar­nya


mengenai kematian Dr Hamilton, mungkinkah saya


akan puas menyimpan pengetahuan itu untuk diri saya sendiri? Apakah anda tahu kebenaran mengenai kematian­nya itu?”


Henrietta mengangkat bahu.


”Jawaban yang sudah jelas agaknya adalah Natasha. Alangkah ironis bahwa seorang istri atau seorang suamilah yang selalu menjadi terdakwa utama.”


”Tapi Anda tidak setuju?”


”Saya selalu suka membuka banyak kemungkinan.”


Dengan tenang Eloise Hope berkata, ”Untuk apa anda datang kemari, Miss West?”


”Harus saya akui bahwa saya tak punya hasrat sebesar anda terhadap kebenaran, Miss Hope.


Harus anda ketahui, Miss Hope, bahwa saya tidak terlalu bisa dipercaya.”


Terpancar lagi senyum kecil yang cerah itu. Eloise


heran, mengapa ia tiba-tiba merasa betapa menarik senyum itu.


Dengan tenang ia berkata, ”Memang tidak, tapi anda memiliki kejujuran.”


”Mengapa anda berkata begitu?”


Graciela sangat terkejut, dan menurut Eloise ia kelihat­an agak cemas.


"Karena saya merasa bahwa itu benar.”


”Kejujuran,” ulang Graciela sambil merenung.


”Saya ingin tahu apa arti perkataan itu sebenar­nya.”


Graciela duduk diam, sambil merenungi karpet.


Lalu diangkatnya kepalanya, dan dipandanginya Eloise Hope dengan tajam.


”Apakah anda tak ingin tahu mengapa saya datang?”

__ADS_1


”Mungkin anda merasa sulit mengungkapkan­nya


dengan kata-kata?”


”Ya, saya rasa begitu. Besok akan dilangsung­kan


panggilankepolisian, Miss Hope. Orang harus


memutuskan berapa banyak...”


Graciela menghentikan kata katanya. Ia bangkit,


lalu berjalan menyeberang ke arah perapian. Di pindahkannya beberapa buah hiasan di situ, juga sebuah pot berisi bunga mawar yang terletak di


tengah-tengah sebuah meja, ke ujung paling jauh dari perlindung perapian. Lalu mundur untuk melihat perubahan letak itu, dengan memiringkan kepala.


”Sukakah anda melihatnya, Miss Hope?”


”Sama sekali tidak, Miss West.”


”Sudah saya duga anda takkan suka.” Ia ter­tawa, lalu dengan cekatan dikembalikannya semua­ ke tempat semula.


”Yah, kalau orang ingin mengatakan sesuatu, dia ha­rus mengatakannya, bu­kan? Bagaimanapun, anda orang yang bisa diajak bicara. Begini persoalannya. Menu­rut anda, per­lukah polisi tahu bahwa saya adalah kekasih gelap


Peter Hamilton?”


Suaranya datar dan tidak mengandung emosi. Ia


tidak melihat pada Eloise melainkan pada dinding di diatas kepalanya. Dengan jari telunjuknya ia


me­nelusuri lekuk guci yang berisi bunga matahari berwarna kuning.


Dengan tegas dan tanpa emosi pula Eloise Hope ber­kata,


”Oh, begitu. Anda berdua merupakan kekasih gelap?”


”Kalau anda lebih suka mengatakannya begitu.”


Eloise memandanginya dengan rasa heran.


”Bukan soal bagaimana kita menyatakannya, miss West.”


”Memang bukan.”


”Mengapa tidak?”


Graciela mengangkat bahu. Ia menghampiri Eloise,


lalu duduk di sampingnya, di kursi. Per­lahan-lahan ia berkata, ”Orang suka melukiskan sesuatu se... seteliti mungkin.”


Minat Eloise Hope terhadap Graciela West


ber­tambah besar.


”Sudah berapa lama... anda menjadi kekasih gelap Dr Hamilton?” tanyanya.


”Kira-kira satu tahun.”

__ADS_1


”Bisakah saya simpulkan bahwa polisi tidak akan mene­mui kesulitan dalam menemukan kenyataan itu?”


Graciela berpikir.


”Saya rasa tidak. Artinya, kalau mereka me­mang


men­­cari hal semacam itu.”


”Oh, mereka akan mencarinya, itu bisa saya pastikan.”


”Ya, menurut saya juga begitu.”


Graciela diam. Dikembangkannya jari-jarinya di atas lutut, dan dipandanginya. Lalu ia melihat sekilas dengan pan­dangan ramah ke arah Eloise.


”Jadi, Miss Hope, apa yang harus saya lakukan? Apakah saya harus pergi mendatangi Inspektur Larkspur dan berkata... apa yang harus kita


kata­kan pada dia?”


Graciela diam sebentar . Kemudian dia melanjutkannya kembali kata katanya.


”Dan mungkin itulah sebabnya saya berbicara


dengan anda seperti ini. Seandainya polisi


me­mang harus tahu keadaan sebenarnya antara saya dan Peter, apakah itu perlu dinyatakan di depan umum?”


”Itu tergantung,” kata Eloise. ”Bila polisi


meng­anggap itu tak ada hubungannya dengan pembunuhan ini, mere­ka tentu akan merahasiakannya. Apakah anda merasa... khawatir akan hal itu?”


Henrietta mengangguk. Ia memandangi jari jari­nya


lagi beberapa lama, lalu tiba-tiba meng­angkat kepala dan berbicara. Suaranya tidak lagi datar dan ringan.


”Mengapa orang harus memperburuk keadaan bagi


Natasha yang malang? Dia memuja Peter, dan kini Peter sudah meninggal. Dia sudah kehilangan Peter. Mengapa dia masih harus menanggung beban tam­bahan?”


”Jadi anda merasa keberatan karena dia?”


”Apakah menurut anda saya munafik? Saya rasa anda berpikir bahwa bila saya memang


memikir­kan ketenangan pikiran Natasha, saya sebenarnya tak boleh menjadi kekasih gelap Peter. Tapi anda tak mengerti. Bukan begitu soalnya. Saya tidak me­rusak kehidupan perkawinannya. Saya hanya se­orang... dari suatu urutan.”


”Oh, begitukah keadaannya?”


Graciela berpaling dengan tajam ke arahnya.


”Bukan, bukan, bukan! Bukan sebagaimana yang


anda duga. Itulah yang paling tidak saya inginkan!


Citra yang salah, yang akan dibayangkan oleh semua orang mengenai Peter. Sebab itulah saya berbicara dengan anda di sini karena saya punya harapan samar bahwa saya bisa membuat anda mengerti. Maksud saya, agar anda bisa memahami orang macam apa Peter itu! Bisa saya bayangkan dengan jelas apa yang akan terjadi—judul judul berita dalam surat surat kabar, Kehidupan Cinta Se­orang Dokter—Natasha, saya sendiri, dan Karen Clark. Peter tidak seperti itu. Dia sebenarnya bukan pria yang banyak memikirkan wanita. Bu­kan wanita yang penting baginya, melainkan pe­kerjaannya! Pekerjaannya­lah yang merupakan mi­nat dan kesenangannya. Bila Peter sedang dalam keadaan tak sadar, kapan saja, dan dia disuruh menye­butkan nama seorang wanita yang paling banyak memenuhi pikirannya, tahukah anda siapa yang akan di­sebutnya? Mrs. White.”


”Mrs. White?” Eloise merasa heran. ”Siapa pula itu


Mrs. White?”

__ADS_1


Suara Graciela mengandung nada haru waktu menjawab.


”Dia seorang wanita tua jelek, kotor, keriput, sakit sakitan dan sangat keras kepala. Peter amat sangat memikirkannya. Dia seorang pasien di Rumah Sakit St. Carolina. Dia menderita penyakit sejenis kanker. Saya tidak tahu apa namanya. Hanya saja itu adalah penyakit yang sangat langka. Hanya satu orang dari sepuluh ribu juta manusia yang terkena penyakit ini setiap tahun nya.


__ADS_2