
Dengan kaku Inspektur Larkspur berkata, ”Apakah saya harus berkesimpulan bahwa anda sendiri lebih tahu tentang revolver itu?”
”Tentu. Morris sama sekali tidak menemukannya
di lorong rumah. Dia menemukannya waktu sedang
mengeluarkan telur telur.”
”Telur?” Inspektur Larkspur menatapnya.
”Mengeluarkannya dari keranjang,” kata Julia Cavendish.
Agaknya Julia Cavendish mengira semua sudah jelas sekarang. William Cavendish berkata dengan halus, ”Kau harus menceritakan lebih jelas, Sayang. Aku dan Inspektur Larkspur masih bingung.”
”Oh!” Julia Cavendish bersiap siap untuk
menjelaskan. ”Revolver itu berada di dalam keranjang, di bawah telur telur.”
”Keranjang apa dan telur apa, Nyonya Cavendish?”
”Keranjang yang saya bawa ke peternakan. Revolver itu berada di dalamnya. Lalu saya masukkan telur telur itu di atas revolver itu, dan saya lupa sama sekali. Waktu kami menemukan Peter Hamilton di teras di rumah peristirahatan itu , dalam keadaan meninggal, saya begitu terkejut, hingga keranjang itu saya lepaskan. Untung Morris masih sempat menangkapnya kalau tidak..... Karena dia ingat akan telur telur itu, maksud saya. Sekiranya keranjang itu jatuh, telur telurnya pasti pecah. Lalu keranjang itu dibawanya masuk ke rumah. Kemudian saya suruh dia menuliskan tanggal pada telur telur itu. Hal itu selalu saya lakukan. Kalau tidak begitu, kita kadang kadang makan telur yang lebih baru, padahal yang lama belum habis. Dan diaa berkata bahwa semua itu sudah diurusnya. Sekarang saya baru ingat bahwa nada bicaranya agak bertekanan waktu itu. Dan itulah maksud saya dengan feodal tadi. Dia menemukan revolver itu, dan menyimpannya kembali disini. Saya rasa karena dia melihat ada polisi di rumah. Pelayan pelayan selalu bingung kalau ada polisi. Baik dan setia sekali dia, tapi juga bodoh, karena anda tentu ingin mendengar yang sebenarnya, bukan, Inspektur Larkspur?”
Julia Cavendish menyudahi keterangannya yang sangat detail itu dengan memberikan sebuah senyum cerah pada Inspektur.
”Kebenaranlah yang ingin saya dapatkan,” kata
Larkspur dengan agak ketus.
Julia Cavendish mendesah.
”Kelihatannya semua kacau, ya,” katanya. ”Maksud
saya, banyak sekali orang yang mencari cari di sini. Saya pikir, siapa pun yang menembak Peter Hamilton sebenarnya tidak bermaksud untuk menembaknya , maksud saya, tidak bersungguh
sungguh. Kalaupun pelakunya Natasha,
saya yakin dia tidak sungguh sungguh ingin menembak Peter. Saya bahkan heran sekali mengapa dia bisa menembak dengan tepat , padahal rasanya tak mungkin. Dia sebenarnya makhluk yang sangat manis dan baik hati. Dan
__ADS_1
bila anda memasukkannya ke penjara atau menggantungnya, apa yang akan terjadi dengan anak anaknya? Kalaupun dia yang menembak Peter, mungkin dia sekarang menyesal sekali. Bagi anak anak, sudah cukup mengerikan ayah mereka dibunuh, dan akan bertambah buruk lagi keadaannya bila ibu mereka digantung gara gara itu. Kadang kadang saya pikir kalian, pihak polisi, tidak memikirkan hal hal seperti itu.”
”Kami belum berniat menangkap siapa siapa sekarang, Nyonya Cavendish.”
”Yah, bagaimanapun juga itu keputusan yang sehat. Tapi selama ini saya memang beranggapan bahwa anda seorang pria yang berakal sehat,
Inspektur Larkspur.”
Lagi lagi muncul senyum manis yang menakjubkan
itu. Inspektur Larkspur agak tersipu. Ia tak berdaya pada peson aneh Julia Cavendish, tapi dengan tegas ia kembali pada pokok persoalan.
”Sebagaimana yang anda katakan tadi, Nyonya Cavendish, kebenaranlah yang ingin saya cari. Nah, anda mengambil revolver itu dari sini. Revolver yang manakah itu?”
Julia Cavendish menganggukkan kepala ke arah rak di dekat pelindung perapian. ”Yang kedua dari ujung. Revolver Ruger .25.” Cara bicaranya yang tegas dan teknis menggetarkan Larkspur. Ia tak menduga bahwa Nyonya Cavendish yang selama ini dicapnya linglung dan agak kurang waras bisa melukiskan suatu senjata api dengan ketepatan yang begitu teknis.
”Anda mengambil revolver itu, lalu memasukkan
nya ke keranjang. Untuk apa?”
"Saya tahu anda pasti akan menanyakan itu,” kata Julia Cavendish. Tanpa diduga, nada bicaranya hampir terdengar sebagai suatu sorak
punya alasan mengambil sepucuk revolver pagi itu?”
”Kupikir tentu begitu, Sayang,” kata William Cavendish dengan kaku.
”Kita melakukan sesuatu,” kata Julia Cavendish,
matanya menerawang jauh ke depan, ”lalu kita tak ingat mengapa kita melakukannya. Tapi saya rasa anda tahu, Inspektur, bahwa selalu ada alasannya, kalau saja kita ingat. Pasti ada pikiran tertentu dalam kepala saya, waktu saya menaruh revolver Ruger itu ke dalam keranjang saya.” Ia lalu meminta bantuan Inspektur. ”Menurut anda, apa kira kira alasannya?”
Larkspur terbelalak memandanginya. Wanita itu tidak memperlihatkan rasa risi. Yang tampak di wajahnya hanya rasa ingin tahu yang kekanak
kanakan. Hal itu membuat Larkspur heran. Belum pernah ia bertemu dengan seseorang seperti Julia Cavendish, dan sesaat lamanya ia tak tahu apa yang harus dilakukannya.
”Istri saya sangat linglung, Inspektur,” kata William Cavendish kemudian.
”Memang begitu kelihatannya, Tuan,” kata Inspektur Larkspur.
__ADS_1
Nada bicaranya agak kasar.
”Menurut anda, untuk apa saya membawa revolver
itu?” tanya Julia Cavendish dengan penuh
kepercayaan.
”Saya tak tahu, Nyonya Cavendish. ”
”Saya masuk kemari,” renung Julia Cavendish. ”Sebelum itu, saya berbicara dengan Alfred
mengenai sarung sarung bantal, dan samar samar saya ingat, saya menyeberang ke perapian sambil berpikir bahwa kami memerlukan alat pengorek api yang baru. Pendeta pembantu, eh, bukan, kepala gereja...”
Inspektur Larkspur terbelalak lagi. Dirasanya kepalanya mulai berputar-putar.
”Dan saya ingat, saya mengambil Ruger itu, revolver itu bagus dan berguna sekali, saya selalu menyukainya. Lalu saya masukkan saja benda itu ke keranjang. Keranjang itu baru saja saya ambil dari kamar bunga. Tapi banyak sekali persoalan yang harus saya pikirkan, seperti si Alfred dan rumput liar yang tumbuh di antara bunga mawar, juga berharap agar Mrs Brown
membuat kue cokelat yang betul betul kental coklat nya dalam kemejanya ..”
”Sebuah kue dalam kemejanya?” Mau tak mau
Inspektur Larkspur menyela.
”Itu, cokelat yang dicampur dengan telur dan tepung , lalu ditutup dengan krim kocok dan buah strawberry. Makanan penutup yang disukai oleh orang asing setelah makan siang.”
Inspektur Larkspur berbicara dengan keras dan tegas. Ia merasa seperti seseorang yang harus
menyapu sarang laba laba halus yang menghalangi pandangannya.
”Apakah anda mengisi revolver itu dengan peluru?”
Ia berharap akan membuat Julia terkejut, bahkan
mungkin agak ketakutan. Tapi Julia Cavendish hanya menunjukkan ekspresi putus asa, karena ia tak ingat.
”Apakah saya isi, ya? Bodoh sekali. Saya tak ingat.
__ADS_1
Tapi saya rasa tentu saya isi, bukan, Inspektur? Maksud saya, apa gunanya sebuah revolver tanpa peluru? Alangkah senangnya kalau saya bisa
betul betul ingat apa yang ada di dalam kepala saya waktu itu.”